
Hanya sekedip mata, Leo sudah memeluk Dhira dengan sangat erat. Sejak dari tadi ia sudah sangat menantikan kekasihnya itu.
Dhira berontak melepas diri. "Lepaskan! Kau mabuk!" Di dorongnya dada Leo dengan kuat sembari menjauhkan wajahnya.
"Hanya sedikit." Leo memundurkan wajahnya dan mencoba menatap wajah Dhira di yang tidak terlihat jelas karena gelap. "Kamu dari mana? Kenapa pulang malam begini?"
"Apa urusanmu!" Dhira mendorong Leo sekuatnya tapi pemuda itu justru makin erat memeluknya. Bahkan Leo mengangkat tubuh Dhira dan dibawa masuk ke dalam rumah yang masih gelap.
"Aku merindukanmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu." Leo mendorong Dhira hingga ke dinding.
"Dengar Leo, aku tidak mencintaimu lagi. Apa kau tidak mendengar kata kataku? Rudy Atmaja yang merupakan papimu itu, kemungkinan besar adalah ayahku!"
"Tidak mungkin! Aku mempercayai papi sama seperti aku mempercayaimu. Dia bukan ayahmu. Apakah kita perlu melakukan tes DNA lagi?" Leo mengendus rambut Dhira, dan menciumnya dalam-dalam.
"Benarkah kau mempercayaiku?" Tanya Dhira.
Leo mengangkat wajahnya dari kepala Dhira. "Iya. Aku mempercayaimu. Kamu tidak mungkin melakukan hal itu pada mami." Ia menggosokkan ujung hidungnya ke pipi Dhira. Lalu mengecup hidung Dhira pelan dan turun ke bib*rnya. Mengecup dua kali lalu mengul*mnya.
Dhira terbelalak menyadari gerakan Leo. "Hentikan! Kau tidak bisa lagi melakukannya. Kita putus dan jangan pernah menemuiku lagi. Aku membenci kalian semua." Dhira menjauhkan kepala Leo darinya. Tapi tangan pemuda itu masih saja lengket, makin erat di pinggangnya.
"Itu tidak mungkin. Kita saling mencintai. Kenapa harus menghindarinya. Aku tahu kau mencintaiku sebesar aku mencintaimu." Leo menangkap ke dua tangan Dhira dan menahannya di punggungnya. Kini dengan bebas ia menciumi wajah dan bib*r Dhira. Bahkan Leo sudah turun ke leher jenjang putih mulus yang selalu menggodanya. Dengan rakus ia menci*minya.
Tidak rela diperlakukan seperti itu, Dhira menggeleng-gelengkan kepalanya menghindari ulah Leo. Ia sangat kesal dan makin marah. "Jangan memaksaku menyakitimu Leo!"
"Bila itu membuatmu lega silahkan. Mau memukulku? Menggigitku? Atau meninju ku? Aku terima asal kamu jangan menjauhiku."
"Kau akan menyesal Leo. Aku tidak akan membiarkan Meli. Dia hampir membunuh ibuku dulu. Dan sekarang ia mengulanginya lagi. Kamu pikir aku sebaik apa, bisa diam aja. Aku akan membalasnya. Tunggu saja ibuku kembali. Aku ku tunjukkan seperti apa kejam nya aku."
"Entahlah. Aku tidak bisa berkomentar. Kalau memang begitu kenyataannya terserah padamu. Jika orang tuaku adalah penjahat maka penjarakan mereka. Aku bisa apa kalau itu yang kau inginkan." Entah asal menjawab, agar Dhira bisa tenang, atau murni dari hatinya, itulah yang keluar dari otak Leo.
Dhira tergugu. Ia tidak menyangka Leo akan berkata begitu pasrah. Tapi ia sadar saat ini Leo hanya sedang mabuk. Apa yang dikatakannya bukan karena sadar.
"Lepaskan! Jangan mendekatiku lagi. Kita tidak ada hubungan lagi."
"Dengar, malam itu aku marah padamu karena kaget. Aku akui aku sempat membentak dan memarahi mu. Tapi bukan berarti aku tidak sayang padamu."
"Bukan hanya soal itu. Aku memang sudah tidak suka padamu. Jangan halangi jalanku. Tujuanku saat ini hanya menemukan ibu dan membalas yang sudah dialami ibuku. Jangan kau kira karena kita pernah menjalin hubungan, aku bisa kendor. Kau sekalipun akan ku hancurkan jika menentang ku!"
"Kenapa kamu sekejam itu? Kemana Andhira yang lembut dan dewasa yang ku kenal?" Leo meraba pipi Leo dengan sedih. Ia bingung dengan keadaan yang menimpa orang tuanya dan juga hubungannya dengan Dhira.
"Kau bilang aku kejam? Kau tidak tahu apa yang sudah dialami ibuku!" Bentak Dhira.
"Ibuku mengalami trauma hebat. Bahkan mendengar suara mesin aja ibuku masih takut sampai sekarang. Entah seperti apa orang tuamu menyiksa ibuku sampai mengalami guncangan hebat. Kalau traumanya kambuh ibu bisa koma! Koma Leo! Kamu sendiri sudah lihat, ibuku koma hanya karena ketakutan di kejar."
Di sela ucapannya Dhira menangis. "Sekarang entah seperti apa kondisi ibuku. Apakah sadar atau terbaring koma lagi. Atau sudah di buang, mungkin dikira Meli sudah tak bernyawa!"
Leo terdiam dalam ketegangan. Ucapan Dhira membuatnya merinding hingga membuat dadanya berdegup keras. "Iya itu yang ku takutkan. Aku juga kepikiran begitu." Ujar Leo lemah bahkan menahan tangis. Saat di rumah sakit dokter memperingatkan dirinya harus segera menemukan Amelia. Takut wanita itu koma tiba tiba seperti yang sudah terjadi.
"Jangan harap aku bisa melembut! Kau harus menyaksikan balasanku! Maka hentikan perasaanmu itu. Lebih baik kau membenciku mulai sekarang!"
"Bersabarlah, aku akan membujuk ibuku. Tapi aku mau tahu dari mana kamu tahu soal masa lalu orang tua kita?"
"Yang menolong dan menyelamatkan ibu menceritakan semuanya padaku!"
"Siapa dia?" Tanya Leo.
__ADS_1
"Itu bukan urusanmu. Tidak perlu kau tahu."
"Kamu yakin dengan ucapannya?" Tanya Leo.
Plakkk
Dhira menampar Leo. Ia sangat marah dengan pertanyaan itu. "Pergi kau sekarang!"
Leo menundukkan kepalanya. Ia hanya ingin tahu apakah cerita itu benar.
"Heaahh...keluar kau!" Dhira mendorong Leo hingga keluar dari rumah. Cepat cepat ditutupnya pintu dan menguncinya. Ia tidak akan memberi kesempatan pada Leo lagi.
Di balik pintu Dhira menangis. Kekacauan ini sungguh menguras seluruh tenaga dan pikirannya.
***
Semalaman Jhon tidak bisa tidur. Ia sangat pusing dengan hilangnya Ara. Belum lagi bosnya yang tidak bisa dihubungi. Pagi ini seperti biasa ia bersiap ke kantor. Rasanya sepi tanpa adanya Ara. Biasanya gadis cerewet itu sudah berisik dengan segala permintaannya saat jam seperti ini. Kadang merengek harus diantar ke kampus tapi kadang justru marah marah bila diantar.
Di cobanya lagi menghubungi Robert tapi masih tidak aktif. Semua pesan yang dikirimnya tidak ada yang masuk semua hanya conteng satu.
"Kemana ini si Bos! Lagi gawat begini malah tidak bisa dihubungi. Orang yang biasa bertemu dengannya juga mengatakan tidak bertemu selama dua Minggu terakhir. Lalu kemana dia?" Jhon ngedumel sendiri.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Mulai mengganggu perusahaan Atmaja, atau bagaimana? Atau menyakiti Meli?" Jhon bingung harus bertindak apa karena tidak ada perintah dari Robert.
"Lalu Ara kira kira kemana?"
"Apakah bersama Meli?"
"Atau ini ulah Leo? Atau Andhira?"
Jhon berpikir lagi, lalu menelepon seseorang dan berbicara serius dengan orang diseberang. Setelah itu, ia berangkat ke kantor sembari menunggu kabar atas perintahnya. Ia tak sabar melihat kegemparan yang terjadi di perusahan Atmaja. Diputuskannya untuk mulai dari perusahaannya saja.
Saat melewati jalan masuk ke lift, Jhon mundur beberapa langkah hingga tiba di meja resepsionis. Ia melihat wajah Dhira dengan tajam. Sorot mata kecurigaan memancar dari matanya. "Jika seseorang menculik anggota keluargamu apa yang akan kau lakukan?" Tanyanya dengan pandangan ke arah Dhira.
"E...pak Jhon ingin jawaban dari saya?" Tanya Dhira. Sementara Zahra di sampingnya sudah berkeringat dan gugup. Ia takut melihat tampang Jhon yang menyeramkan.
"Hm...!" Jawab Jhon tanpa sedikitpun menggeser tatapannya dari Dhira.
"Melapor ke polisi, menghubungi siapa yang biasa dekat padanya." Jawab Dhira dengan santai.
"Bagaimana cara menghubungi mereka jika yang menculik adalah adalah musuh?"
"Musuh? Saya kurang tahu Pak. Saya tidak punya musuh. Jadi, soal itu saya kurang paham." Dhira masih tetap tenang.
'jika dia pelakunya pasti terlihat dari mata dan wajahnya. Tapi dia biasa aja.' Jhon membaca air muka Dhira.
Jhon menyuruh Dhira mendekat padanya dengan isyarat jari telunjuknya.
Dhira yang merasa itu adalah untuknya, mencondongkan tubuhnya ke depan.
Jhon menggeser mulutnya tepat di dekat teling Dhira. "Ara menghilang. Sepertinya ada yang menculiknya."
"Apa??" Dhira berteriak saking terkejutnya. "Terus, bagaimana?" Tanyanya dengan kedua telapak tangannya menutupi mulutnya. Sedangkan kedua bola matanya membulat sempurna. Akting yang sangat bagus.
"Tunggu! Diam!" Jhon menatap ke bagian dahi Dhira. Pindah ke bagian matanya lalu ke bagian dahinya lagi.
__ADS_1
Dada Dhira berdegup kencang takut Jhon mencurigainya. Ia menarik tubuhnya mundur saat tangan Jhon mendekati kepalanya.
"Diam! Aku hanya memeriksa itu." Jhon menunjuk kepala Dhira.
Dhira melebarkan matanya apa maksud Jhon. "Ada apa Pak?"
"Itu dahi mu bekas luka?" Ternyata Jhon melihat garis halus di atas dahi kirinya. Biasanya bekas luka sayatan itu tidak kentara. Tapi karena rambutnya di gulung dan diikat, bekas itu nampak di pangkal rambutnya.
"I-iya Pak. Ini bekas operasi waktu saya masih kecil."
"Oh, ku kira itu bekas luka akibat kebrutalan mu. Kau seperti preman yang suka bertarung. Tapi sekilas itu terlihat seperti uyeng-uyeng."
Dhira mengangkat wajahnya menatap tajam ke wajah Jhon. Manik matanya menatap tepat ke mata pemuda itu. Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan dekan pernah mengenal mata itu.
'Dimana kau pernah melihatku berantem? Hum, selama ini dia pasti mematai ku karena berteman dengan Ara.' Batin Dhira.
Mata mereka bersiborok beberapa detik. Otak Dhira berputar singkat dan langsung bisa mengingat sorot mata dihadapannya. 'Iya mata ini pernah ku lihat saat sedang bertarung. Ini...sorot mata...' Dhira berusaha mengingat dimana ia pernah melihat mata yang sama dengan Jhon.
'Ah di kuburan Nayla. Iya. Aku ingat. Juga di area kost lamaku. Dua orang pria berkumis itu salah satu adalah milik Jhon. Ternyata dia sudah cukup lama memataiku. Bagaimana kalau dia tahu aku yang menculik Ara?'
"Kenapa? Matamu seperti berpikir keras." Jhon menyadarkan lamunan Dhira.
"Ah, tidak Pak. Saya hanya terbayang saat masih menderita penyakit yang meninggalkan bekas ini." Dalih Dhira.
"Sekilas itu terlihat seperti uyeng uyeng yang sangat mirip..." Jhon berhenti bicara. Tiba tiba mulutnya tertutup rapat. Tanpa mengatakan apapun lagi, ia pergi meninggalkan Dhira dan Zahra yang menanti kelanjutan kalimatnya.
Dhira dan Zahra menarik nafas panjang secara bersamaan. Seperti baru saja lepas dari cengkraman menyesakkan dan menyeramkan.
"Dhi, apa kamu sama pak Jhon saling kenal? Kenapa beliau sering mampir dan selalu menatapmu setiap lewat."
"Tidak. Baru kenal saat hari pertama masuk ke sini."
"Tapi tadi kalian membicarakan apa? Dari bahasa kalian sepertinya kalian berteman, bersaudara, atau jangan jangan kalian mantan pacar?"
"Ngaco! Sana geser!" Dhira mendorong pelan Zahra agar menjauh darinya. Ia sendiri sedang berusaha menata jantungnya yang berdegup keras. Sangat takut dirinya akan ketahuan telah menyekap Ara.
Sore harinya saat pulang, Dhira berdiri di pinggir jalan dekat halte menunggu bus yang biasa dinaikinya. Sembari menunggu ia bermain ponsel berkirim pesan dengan Vanya. Ia melarang keras Vanya menemuinya karena kondisi sekarang. Ia takut Vanya dan keluarganya terbawa-bawa masalahnya.
Tinn tinnn
Bunyi klakson mobil di depannya menyita perhatiannya. Di dalam mobil Jhon melihat ke arahnya dan menyuruhnya masuk dengan jarinya.
Dhira tidak bergerak. Ia merasa tidak perlu menuruti perintah ambigu Jhon.
Lalu sebuah mobil putih yang sangat dikenal Dhira berhenti dibelakang mobil Jhon. Itu mobil Leo. Pintu terbuka dengan lebar, keluarlah Leo dari mobil dan berjalan ke arahnya.
Dhira membuang muka. Ia tidak bergurau dengan perkataannya semalam. Ia tidak ingin berhubungan apapun lagi dengan Leo.
"Andhira, ayo masuk!" Ujar Leo sambil memegang tangannya.
Dhira berontak. "Lepaskan! Jangan menemuiku lagi!" Dhira melepaskan tangan Leo dari pergelangan tangannya.
"Tidak bisa. Kalau mau marah, marahlah! Jangan bertindak seperti anak kecil begini." Nada Leo masih datar.
"Ku bilang lepas!" Dhira mengkarate lengan Leo hingga tangannya lepas. Tidak memperdulikan apapun lagi, Dhira beranjak dari tempatnya pergi ke mobil Jhon. Ia membuka pintu bagian depan dan masuk ke dalam.
__ADS_1