Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Gara-gara Jus


__ADS_3

"Tolong jalankan mobilnya." Ujarnya dengan nada dingin.


Jhon cukup terpengarah dengan cara bicara Dhira. Itu sangat menarik di telinganya dan membuatnya terpukau. 'gadis ini sungguh berkharisma. Siapa sebenarnya kau?' Jhon menjalankan mobil sesuai permintaan Dhira.


Mereka meninggalkan Leo yang berdiri dengan tampang marah.


Tapi sesaat kemudian ia tersadar telah memuji wanita yang seharusnya di waspadai nya. Diliriknya ke samping dan melihat wajah Dhira yang sedang buram. Buka buram dibuat-buat tapi sungguh terlihat marah dan sedih.


Leo tidak berusaha mengejar Dhira atau mobil Jhon meski dalam hati ia sangat kesal dan ingin menghajar Jhon. Ia memilih menunggu Dhira di rumah saja. Ia tahu, tidak tidak akan bisa membujuk Dhira dengan cepat.


Di mobil Dhira duduk sedikit miring ke arah jendela. Sedangkan wajahnya selalu ke arah jendela.


"Kalian tidak terlihat seperti orang yang sudah putus. Kau hanya sedang merajuk atau menghindarinya." Celetuk Jhon, meminta kebenaran ucapan Dhira.


Dhira tidak menjawab. Ia masih setia degan posisi kepalanya kesamping.


"Apakah karena ada aku, kau tidak mengikuti Leo?" Tanya Jhon lagi.


"Tidak. Seandainya kau tidak ada pun aku akan tetap meninggalkan dia."


"Hm ku kira kau tidak serius mengatakan kau sudah putus dengannya."


Dhira tidak menyahut.


"Kenapa kau memutuskannya? Apa ada masalah serius?" Tanya Jhon lagi.


"Kau tidak perlu tahu. Itu urusan pribadiku."


"Dendam apa yang kau miliki pada Meli?"


Dhira menoleh ke arah Jhon. Mereka saling menatap sebentar tapi Jhon memutusnya karena ia harus fokus ke jalan.


"Haruskah aku menjawabnya?"


"Kalau kau tidak keberatan. Aku mau mendengarnya." Jawab Jhon dengan gamblang. Terdengar iseng tapi aslinya ia sedang mengorek apa yang terjadi diantara keluarga Atmaja dengan Dhira. Kenapa gadis belia ini bisa terkait dengan keluarga itu.


"Bukan dendam seperti yang kau bayangkan. Meli wanita sombong itu selalu menghinaku. Dia tidak suka melihatku karena putranya menyukaiku. Terlalu sering dimaki dan direndahkan membuatku sakit hati. Itu saja. Aku benci pada wanita itu. Itu pula alasannya kenapa aku putus dengan Leo. Meli punya calon menantu yang sudah dipilih untuk Leo."


'ini murni soal perasaan dan cinta. Kenapa Meli bisa beranggapan, Dhira adalah kiriman kami.' Jhon menggabungkan alasan Dhira dengan ucapan Meli tentang Dhira.


"Bila hanya karena pandangan orang tuanya kamu mundur dari kisah asmara itu, menurutku kau tidak tulus pada Leo. Kata orang, bila cinta sudah bicara maka hambatan laut, angin pun bisa dilewati."


Dhira menoleh "entah, tapi aku sakit hati selalu direndahkan."


"Atau sebenarnya kau ada niat lain pada mereka?"


Pertanyaan Jhon membuat Dhira memutar tubuhnya hingga menghadap Jhon. "Kau seperti seorang detektif saja. Bertanya ini itu akhirnya menuduhku. Sebenarnya apa maumu?"


"Aku tidak ada kemauan. Aku hanya sedikit tertarik dengan profil dari salah satu sahabat Ara yang selalu dipuja-pujanya. Hingga rela menjual perhiasan hadiah dari kami semua demi memberimu uang. Wajar kan, aku sebagai kakaknya penasaran?!"


Dhira terdiam seribu bahasa. Ia tidak bisa mengelak berbicara soal uang itu.


"Dan saat ini aku sedang mengerahkan kemampuanku untuk mencari Ara yang sudah hilang dari kemarin siang. Kau pencari uang, bisa jadi kau pelakunya dengan tebusan yang banyak atas nama Ara."


"Aku tidak mungkin melakukannya." Protes Dhira.


"Tidak ada yang tahu isi hati manusia. Siapapun itu pelakunya ku harap segera melepaskannya. Atau kematian lah yang akan terjadi."


"Aku akan membantu mencari." Tawar Dhira. "Dia sahabatku mana mungkin aku berdiam saja."


"Benarkah?"


"Iya. Bisa ceritakan awal mula hilangnya dia? Atau masalah apa yang terjadi atau sebagainya yang mungkin bisa membuat Ara sebagai tawanan."

__ADS_1


"Hahaha....kau ternyata sangat pintar." Tawa Jhon membahana. "Tidak ada cerita yang perlu kau dengar. Jika ingin mencarinya silahkan saja."


Dhira mengangguk pasti. Dalam hati mati-matian membuat ekspresinya sepolos mungkin untuk mengelabui Jhon. Ia tahu, walau sekarang Jhon terlihat santai pada dirinya, lelaki itu tidak lah sebaik itu. Ia tetap waspada dan bersiap dengan kemungkinan yang terjadi.


"Ini simpang ke rumah kami. Apakah kamu berniat untuk mampir?" Jhon menawari Dhira.


"Kalau kau tidak keberatan tentu saja aku mau. Selama ini Ara tidak pernah mengajak ku mampir ke rumah kalian."


"Baiklah." Jhon mengarahkan mobilnya ke arah simpang rumah.


'Ya ikuti arahan ku, aku ingin tahu siapa kau sebenarnya. Kau berada di pihak Meli atau kubu lainnya.'


Dhira sangat terkagum kagum dengan rumah Ara. Baginya itu seperti penampakan istana yang sering dibacanya dulu atau dilihatnya di tv. Rumah bertingkat tiga dengan bangunan yang sangat luas. Ia tidak bisa mengira-ngira berapa luas semua lingkungan rumah itu.


"Kenapa berdiri saja? Apa kau tidak ingin masuk?"


Dhira kaget dengan suara bariton Jhon. Lelaki itu sudah berdiri di depan pintu. Beberapa pelayan dan scurity yang kebetulan ada di sana menyapa Jhon dan Dhira dengan ramah.


"Bi siapkan makam malam. Kita kedatang tamu."


Wanita paruh baya yang sedang menata bunga di teras mengangguk dengan sopan. "Iya Den."


Dhira bisa melihat kalau Jhon bukan orang yang dingin dan angkuh seperti yang selama ini dilihatnya. Kepada pelayan saja ia bisa bicara pelan dan sopan.


"Silahkan masuk!" Jhon membuka pintu dengan lebar.


Dhira maju hingga kakinya mencapai pintu.


Dag dug dag dug


Jantung Dhira berdebar secara tiba tiba. Ia terbayang saat kepalanya ditutup oleh Jhon waktu dirinya ditolong beberapa bulan yang lalu. Ia tak menyangka jika rumah ini sudah dua kali di datanginya. Sedikit cemas apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Kenapa? Apa kau takut?"


"Hm aku takut kau menutupi kepalaku lagi."


Dhira tersadar, ternyata ini bukan tempat yang sama. Kini ia tahu kalau Jhon memiliki markas.


"Silahkan duduk. Aku mau naik sebentar." Jhon menaiki tangga dengan cepat.


Dhira duduk sendirian. Matanya memeriksa seluruh ruangan yang sangat lebar itu dan mengetahui ada beberapa kamera pengawas di sana. Lagi lagi matanya memeriksa apa saja yang ada di ruangan itu. Ia tak menemukan apapun. Sekedar foto atau gambar apapun. Hanya ada perabot mahal dan beberapa set sofa.


"Non, silahkan di minum." Wanita yang tadi berada di depan membawa dua buah gelas berisi jus berwarna kekuning-kuningan.


"Eh iya," Dhira tersenyum.


"Temannya non Ara ya? Atau pacarnya Den Jhon?" Ternyata ibu itu orangnya kepoan. Dan itu membuktikan orang rumah itu tidak semenakutkan bayangannya.


"Bawahannya Jhon." Jawab Dhira.


"Oh karyawan di perusahaan. Saya kira pacarnya aden Jhon. Bibi tadi sempat senang, dia bawa pacar. Dia sudah tua tapi belum juga mau menikah."


"Oh, bukan Bi. Aku temannya Ara juga."


"Ohhhh. Silahkan dinikmati. Bibi mau lanjut masak."


"Iya Bi. Oh iya, Ara nya apa masih di kampus?"


"Sepertinya dia sedang kemping gitu sejak kemarin."


"Oh. Terimakasih Bi." Dhira memangut mengerti.


'Hilangnya Ara sepertinya dirahasiakan oleh Jhon dari penghuni rumah ini.' batin Dhira.

__ADS_1


Jhon mengganti pakaiannya. Setelah itu keluar dari kamar dan memeriksa apakah Ara sudah pulang. Kamar itu masih seperti itu. Tidak ada perubahan, sepi. Harapan pulangnya Ara hanya khayalan belaka.


Ia turun setengah berlari. Dan duduk di sofa lainnya di sekitar Dhira. Diambilnya jus diatas meja dan meminumnya hingga habis separuh.


"Apa kau takut jus itu diracuni?" Tanya Jhon melihat minuman Dhira masih utuh.


"E...tidak, aku hanya sedikit bingung. Katamu Dhira menghilang tapi kata pelayan tadi dia sedang kemping."


Jhon tidak menjawab.


"Kamu membohongi siapa? Aku atau penghuni rumah ini?" Tanya Dhira dengan tatapan menuduh.


"Bukan hanya keluarga inti yang menyayangi Ara. Mereka semua menganggap Dhira seperti anak sendiri. Mereka akan histeris dan sedih bila aku jujur mengatakan Ara hilang."


"Oh..." Dhira baru mengerti. Diangkatnya gelas jus miliknya dan meminumnya dengan permohonan tidak ada apa apa didalam minuman itu. Ia takut dijebak Jhon demi mencari Ara.


Ternyata aman. hingga habis semua isi gelas tidak terjadi apa-apa.


Ia dan Jhon lanjut saling bertanya dan menjawab. Jhon lebih banyak bertanya tentang identitas Dhira.


Tik tik tik tik Satu menit, dua menit hingga tujuh menit berlalu kepala Dhira mulai terasa pusing setelah meminum jus. Ia mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya takut ia tertidur.


"Hahaha...kau terlalu berimajinasi. Itu bukan obat tidur tapi..."


"Kau...! Dasar penipu! Kau bilang tidak ada apa apa didalam jus itu. Tapi apa ini? Kepalaku mulai pusing dan...ahhh..." Dhira memegangi kepalanya yang pusing disertai perutnya yang mual. Matanya mulai berair ketakutan, Jhon nekad melakukan hal buruk padanya.


"Tenanglah...kau akan baik baik saja. Kau sangat pintar berakting."


"Brengs*k kau! Orang jahat memang tidak akan mungkin berbuat baik. Itu hal mustahil!"


"Oh ya! Lanjutkan, kenapa kau menyebut ku orang jahat." Tantang Jhon. Ia ingin mendengar apa saja yang ada dipikiran Dhira tentang dirinya.


Dhira tidak menjawab. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdiri. Rasa pusingnya makin berat, kepalanya teras dipukuli dengan sangat keras hingga rasanya kepalanya serasa mau pecah, sementara perutnya makin sakit.


Jhon berdiri. Ia mendekat dan mengulurkan tangannya ke kepala Dhira.


"Jangan mendekat! Jauhkan tanganmu!" Dhira berteriak dan berusaha berjalan untuk keluar dari rumah itu.


"Tenanglah. Duduk dengan benar! Jangan berjalan seperti itu. Kau bisa jatuh." Jhon memaksa Dhira kembali ke sofa dan mendudukkannya.


"Awas kau! Aku akan membalas mu!" Dhira masih bisa berteriak tapi sudah memejamkan matanya dengan tubuh bersender. Rasa pusingnya makin hebat.


"Ada apa Den? Kenapa ribut ribut?" Bi Aira pengasuh Ara datang.


"Kalian semua brengs*k!" Masih sempat Dhira memaki.


"Aduhh. Itu mungkin karena jusnya. Apakah Nona alergi jus jeruk?"Bi Aira tergopoh-gopoh mendekati Dhira. "Atau Nona sakit asam lambung?"


"J-ja-jangan!" Dhira masih bisa merasakan ada orang yang mendekat padanya. "Akan ku bun*h kalian!"


"Bi biarkan saja. Biar aku yang mengurusnya. Bibi pergi aja!" Jhon mengusir Bi Aira. Ia mendekati Dhira dan menuntunnya tiduran. Bahkan ia melepas sepatu pantofel di kaki Dhira dan menaikkan ke atas sofa. Diangkatnya tubuh gadis itu agar bisa terlentang. Ia berjongkok di samping kepala Dhira dan memijit kepala gadis itu pelan pelan.


"Mulutmu sangat pedas! Brengs*k, penjahat, membun*h, kata kata kasar itu sayang sekali keluar dari mulutmu!" Jhon mengomel sambil menggosok minyak angin ke kepala Dhira.


Mata tajam Jhon memperhatikan wajah Dhira yang terpejam. Betapa indah dan betah ia terus menatap wajah itu. Tapi ia tersadar dan membuang muka. "Apa-apaan itu? Setiap wanita memang cantik. Mereka suka menggoda dengan wajah polos."


"Haeessss...dia malah jadi nambah urusanku. Pake pusing sampai tertidur pula. Dasar aneh! Minum jus jeruk aja bisa pingsan. Boro boro mau membun*h orang!"


Ada lima menit Jhon menggosok terus kepala Dhira hingga rambut gadis itu acak-acakan dari sanggulnya.


"Ahh...hmmm..." Dhira menggeliat kecil sambil membuka mata.


"Aaaaaa...!!!" Dhira berteriak kaget melihat wajah Jhon sangat dekat padanya. Bahkan lengan pemuda mampir di bawah lehernya dan sedang meraba raba kepalanya. "Jahan*m kau!" Dhira melompat setelah meninju wajah Jhon.

__ADS_1


"Akh...kau ini kayak induk ayam yang baru beranak. Senangnya berteriak dan menyerang!"


"Kau ngapain pegang pegang aku? Sepertinya kau harus dihajar hingga babak belur!"


__ADS_2