Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Kisah Robert dan Araysa 7


__ADS_3

Tokkk tokkk


"Meli, apa kamu baik baik aja? Kenapa lama?" Terdengar suara Araysa dari luar.


"Iya. Ini aku udah mau keluar kok."


Beberapa detik kemudian, Meli membuka pintu. Ia berdiri dengan lemas dan hampir ambruk kalau Araysa tidak menolongnya.


Dengan perlahan Araysa membopong Meli kembali ke ruang tamu. Dibaringkannya gadis itu dengan pelan pelan. "Kalau sakitnya masih parah, sebaiknya kamu ke rumah sakit."


"Ah sudah mendingan kok. Nanti juga baikan setelah aku tidur."


"Yah udah. Aku pulang ya, takut Robert keburu pulang."


"Iya. Tapi bisa nggak aku minta tolong, buatkan aku segelas teh. Kalau minum teh mungkin perutku akan lebih baik." Pinta Meli memelas.


"Tunggu bentar akan ku buatkan." Araysa pergi ke dapur. Ia membuat teh permintaan Meli. Dalam hati ia sangat dongkol sebenarnya. Sama sekali ia tidak ikhlas membantu Meli. Ingin mengelak, tapi merasa tidak enak. Takut Meli kenapa kenapa.


"Udah ya, aku pergi. Ku rasa perutmu sudah baik. Wajah mu sudah membaik kelihatannya."


"Makasih ya. Hati hati pulangnya."


"Hem." Sahut Araysa pelan.


Ia turun dari rumah Meli. Ia harus jalan kaki ke arah jalan raya untuk menanti taksi atau angkot. Kakinya buru buru melangkah berharap ia bisa lebih cepat.


"Heiii stoppp! Taksi...!" Teriak Araysa saat sebuah taksi lewat. Taksi itu datang dari belakangnya. Kebetulan taksi itu kosong dan ia pun naik. Ia segera menyuruh sang sopir memacu mobil ke cafe. Dalam hati ia berdoa agar bisa bertemu dengan Robert. Setelah dipikirkannya, sebaiknya ia memberitahu lelaki itu soal kandungannya. Setidaknya ia tidak selamanya penasaran seperti apa jawabannya. Hari ini adalah ketentuan akan hidupnya. Apakah akan menjadi pendamping Robert seperti janjinya atau malah sebaliknya mengusirnya, tidak mengakui perbuatannya demi kekasih barunya.


"Tolong lebih cepat pak. Aku terburu buru nih!"


"Oh iya Neng." Jawab sang sopir.


Tiba tiba dari belakang sebuah tangan membekap mulut Araysa dengan sebuah kain. Seorang pria bertopeng keluar dari bagasi dan melangkahi sandaran kursi untuk pindah ke samping Araysa.


Lelaki itu adalah Jason orang suruhan Meli. Ia disuruh menculik Araysa dengan membius gadis itu. "Cepat! Kita harus segera sampai. Pekerjaan ini harus beres dalam waktu dua puluh menit." Ujar Jason pada sopir itu, yang tak lain adalah suruhan Meli juga.


"Iya. Ini juga sudah ngebut." Sahut sang sopir yang biasa dipanggil Omeng.


"Dia cantik sekali. Kulit nya halus dan kenyal." Celoteh Jason sambil meraba-raba pipi Araysa.


"Benarkah? Mungkin karena dia cantik makanya Neng bos misterius menjebaknya. Sepertinya ini perkara cinta persegi. Karena keadaan sudah tidak terkendali maka salah satu dari wanita ini harus dimundurkan."


"Halah...sok tahu kamu. Cepetan! Entah kenapa wanita itu menyuruh menggunakan bius hanya sedikit. Coba bisa agak banyak waktu kita bisa lebih lama." Keluh Jason. Ia dapat perintah dari seorang wanita misterius untuk menangkap gadis yang akan akan ada di jalan Pramuka dengan gambar yang dikirim lewat ponsel.


"Yang penting kita dapat bayaran Boy. Asal pekerjaan beres uang akan mengalirrrr..."


"Makanya lebih cepat! Keburu bangun ini gadis."


"Nah, kita sampai. Ayo bawa dia ke dalam." Si sopir turun dan membuka pintu mobil. Sedangkan Jason membopong Araysa dan membawanya lari ke dalam rumah Omeng.


"Hayo Omeng, bantu aku!" Jason terburu buru membuka pakaiannya hingga meninggalkan celana pendek yang mirip bokser.


Mereka berdua bekerja serba cepat hingga Araysa tidak lagi memakai baju atasannya. Jack naik ke tempat tidur dan membuat posisi mereka seromantis mungkin.


Sementara temannya membidik dengan kamera. Mereka lega setelah mendapat beberapa foto.

__ADS_1


"Jason, sepertinya gadis ini sedang hamil. Lihat perutnya buncit dan keras."


"Iya. Aku juga dari tadi heran kok perutnya besar gitu. Pantesan Neng bos memerintahkan membiusnya sedikit aja. Mungkin perutnya itu alasannya." Jason mengelus perut Araysa. "Foto beberapa kali lagi. Aku akan memuat foto yang paling indah."


Jason menaruh tangannya di atas perut Araysa sembari menciumnya dengan sengaja menutupi wajahnya dibalik puncak perut yang buncit itu. Dipastikan foto yang terakhir akan sangat memuaskan. Pose mereka sangat indah dan terlihat seperti suami istri sungguhan.


"Hei! Kenapa kamu? Bengong kayak kebelet. Jangan bilang kamu NN karena melihat wanita itu!" Omeng mengetok kepala Jason.


Jason menggeleng-gelengkan kepalanya agar tersadar. Dirinya memang terseret hawa. Tiba tiba saja hasratnya bangkit.


"Ingat waktu kita hanya sedikit. Bila kita kerjain wanita ini, kita bakal ketahuan!"


"Sebentar saja Meng. Dia indah sekali."


"Ck. Jangan! Dia sedang hamil. Apa kau tega memperk*sanya? Kamu tahu betapa terguncangnya dia setelah tahu besok yang terjadi padanya? Dia bisa bunuh diri kemudian menjadi kuntilanak. Lalu kamu akan diseret hidup hidup ke liang kubur."


"Iihhh..." Jason mengkidik. Ia bangkit cepat cepat memakai pakaiannya.


Mereka berdua kembali mengenakan kaos Araysa yang kebesaran. Lalu membawa gadis itu, kembali ke mobil. Mereka berkendara ke taman yang sudah diberitahu Meli sebelumnya yaitu taman yang sering dikunjungi Araysa.


Dua lelaki itu menidurkan Araysa di bawah sebuah pohon yang sedikit rimbun. Lalu segera pergi dari tempat itu.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Araysa terbangun. Ia kebingungan dengan penampakan disekitarnya yang gelap. Tidak terlalu gelap, karena ia bisa melihat bayangan pepohonan. Dirasakannya punggungnya agak basah. Tangannya merasa tempatnya tidur basah, lalu sadar jika dirinya terbaring di atas rerumputan yang berembun.


"Astagaaaa...kenapa aku ada di sini? Ini dimana?" Ia duduk dan berdiri. Kepalanya terasa sedikit pusing. "Ah di sana seperti ada lampu." Ia melihat cahaya lampu tidak jauh dari tempatnya. Ia berjalan pelan pelan diantara kegelapan hingga mencapai lampu.


"Ini taman. Iya, ini taman yang sering ku datangi. Kenapa aku tiba tiba di sini?" Ia mengingat beberapa waktu lalu dirinya diculik. "Ah aku barusan di culik!" Ia berlari pelan sambil memegangi perutnya. Ia bersembunyi di balik pohon yang tempatnya gelap dan jauh dari tempatnya semula. Kakinya gemetaran karena ketakutan. Beberapa kali ia meraba tubuhnya dan lega saat merasa semua baik baik saja. Bahkan tasnya pun masih ada padanya. Hanya saja belum bisa memeriksa apakah isinya ada yang hilang.


Ia menunggu lumayan lama di sana. Bersembunyi dari orang yang menculiknya. Tapi setelah lama tidak ada siapa pun disana selain dirinya sendiri. Setelah yakin dirinya aman, ia berjalan keluar dari taman.


***


Rencana busuk Meli telah berhasil. Beberapa foto ditangannya akan menjadi senjatanya untuk membuat Araysa selamanya hilang dari hadapan Robert. Ia sangat yakin, kali ini Robert tidak akan sudi lagi melihat Araysa. Ia hanya tinggal menunggu momen yang tepat untuk menunjukkan foto foto itu.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Yang ditunggu tunggu Meli akhirnya tiba. Hanya butuh beberapa jam dari semalam, Robert sudah datang menemuinya ke rumah.


"Mel, Angkasa bilang semalam Araysa mencari ku. Tapi kamu yang ke luar menemuinya. Kenapa kamu tidak mempertemukan kami?" Wajah Robert sangat kaku dan siap meluapkan amarah. Selama dua bulan dirinya bagai orang gila mencari kekasihnya tapi tak kunjung ketemu. Ia sampai menyogok kepala sekolah tempat Araysa sebelumnya agar membocorkan kemana Araysa pindah. Tapi kepala sekolah itu mengatakan jika Araysa tidak pernah mengajukan surat pindah, tiba-tiba saja gadis itu tidak pernah masuk sekolah lagi.


"Iya. Aku mengajaknya masuk tapi..." Wajah Meli terlihat menyesal.


"Tapi kenapa?" Bentak Robert. Keinginannya bertemu Araysa sudah tidak terbendung lagi.


"Dia hendak masuk, tapi seseorang mencegahnya dan membawanya pergi."


"Siapa? Laki laki atau wanita?"


"La-laki laki."


"Aaaaa...! Siapa dia?" Teriak Robert.


"A-aku nggak tahu. Tapi saat Araysa sudah masuk ke mobil, pria itu mendatangiku dan memberikan beberapa foto padaku."


"Foto apa? Seperti apa laki laki itu?"


"Dia pakai topi. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, apalagi keadaan remang remang."

__ADS_1


"Berikan foto itu!" Wajah Robert sudah memerah.


"E...tapi...gimana ya? Itu...sebaiknya kamu tidak usah lihat." Meli berakting begitu hebatnya.


"Apa maksudmu? Berikan!"


"Tidak bagus untukmu melihat foto itu. Demi kebaikanmu abaikan aja. Lupakan Araysa."


Mata Robert melotot. Wajahnya yang galak terlihat hidup seperti api yang siap berkobar. Ia paling tidak suka dibantah.


"I-iya. Yang penting aku sudah mengingatkanmu. Jangan sesali aku nanti!" Meli ke kamarnya dan keluar dengan sebuah amplop tangannya. Di sodorkannya amplop itu ke hadapan Robert.


Tidak sabar lagi, Robert merobek ujung amplop dan menggoyangkan kertas itu dengan posisi terbalik. Seketika kertas kertas kaku bertebaran dilantai. Sebagian tertelungkup sebagian lagi menampakkan gambar.


Ia memungut beberapa lembar dan melihatnya. Seketika wajah Robert berubah angker. Seluruh wajahnya merah padam. Matanya juga memerah dengan bola mata yang hendak keluar. "Akhhh...ini..." Kedua tangan Robert bergetar disertai dengan jatuhnya air matanya.


"Haaaaa....kenapa???" Teriakan Robert menggelegar di seluruh rumah Meli. Untung hanya mereka berdua yang ada sehingga tidak menimbulkan kegemparan.


"Kenapaaa...! Apa yang kamu lakukan?" Tatapnya pada foto itu. Seakan foto yang dipegangnya adalah Araysa.


Tidak sanggup melihat foto itu, dilemparkannya ke lantai sekuat tenaga lalu menginjak injaknya sambil terus berteriak histeris. Hatinya sangat sakit melihat dan membayangkan isi foto itu. Tidak merasa puas, ia menendang lantai hingga berlutut. Kemudian tangannya meninju lantai keramik. Bercak darah menyiprat akibat luka ditangannya. Belum juga puas, diulang nya lagi menghantam kepalannya beberapa kali lagi.


"Robert...! Stop! Kamu melukai dirimu sendiri! Lihat tangan mu, sudah berdarah banyak. Kalau tanganmu cacat kamu sendiri yang rugi!" Meli menarik tangan Robert dan merangkulnya.


"Apa salahku? Kenapa dia tega? Kenapaaa! Apa kekuranganku! Kenapa dia memilih lelaki itu?" Air mata Robert mengalir deras. Nafasnya tersengal dengan dadanya yang terasa panas dan sakit.


"Jangan merusak dirimu karena wanita itu. Lupakan dia. Selama ini kamu sudah belajar tanpanya. Kamu baik baik aja. Berterima kasihlah, kebusukannya terbongkar lebih awal. Coba kalau kalian sampai menikah. Itu pasti akan lebih sakit. Jalan mu masih panjang. Banyak wanita baik baik, bahkan berebutan memilikimu. Tidak usah menangisi hal sial seperti itu."


Robert masih tegang. Matanya yang merah masih berair. Ia menyingkirkan air itu dengan lengannya. Ia benci kenapa air itu keluar sia-sia. Air bening itu tidak pantas keluar demi wanita seperti itu.


"Katakan seperti apa ciri ciri lelaki itu?" Tanya Robert setelah beberapa saat.


"Tidak banyak yang bisa ku katakan. Tubuhnya agak besar. Dagunya sedikit panjang dengan tinggi yang hampir sama denganmu." Jawab Meli asal asalan.


"Apa ada yang dikatakannya saat memberikan semua itu?" Tunjuk Robert ke foto yang berada di lantai dengan dagunya.


"Eeee...aku takut kamu makin marah." Meli membuat wajahnya ketakutan.


"Katakan!"


"Dia bilang mereka berdua akan menjadi orang tua. Araysa lagi hamil dua bulan."


Lagi lagi wajah Robert mengeras dengan giginya yang saling beradu.


"Se-sepertinya, ada foto mereka tentang itu." Meli bergerak mencari dua lembar foto yang belum terlihat. Tapi sengaja membuat dirinya tertahan karena takut, tidak jadi mengambil foto itu.


"Yang mana?" Bentak Robert.


Barulah Meli bergerak. Ia mencari lembaran foto itu. Ternyata masih berada di dalam amplop. "I-ini." Meli menyodorkan foto itu dengan ragu ragu.


"Bere*gsek! Dasar wanita sundal! Ku bun*h kalian!!!" Foto perut Araysa yang telanjang sedang dicium lelaki yang wajahnya tidak kelihatan, sungguh membuat Robert bagai kesetanan. Ia meremas foto itu lalu diinjak injaknya sambil terus berteriak.


Dalam hati Meli bersorak. Ia sangat senang menyaksikan adegan di depannya. Ia yakin tidak ada lagi selah buat Araysa bisa didekat Robert. Mungkin sekali mereka bertemu, Robert akan mencekiknya. 'Cobalah datang Araysa. Kamu pasti akan hancur.' Ujarnya dalam hati.


"Bakar semua foto ini!" Robert berdiri. Matanya masih basah dan wajahnya masih sangat angker.

__ADS_1


__ADS_2