
"Dek mau kemana?" Sang pemilik mobil yang merupakan wanita paruh baya bertanya.
"Di depan turunin saya Bu."
"Oh iya. Habis ziarah ya?"
"Iya Bu." Jawab Ara singkat. Merasa tidak perlu banyak bicara.
Tidak lama kemudian, Ara turun. Ia segera berlari ke arah gang menghindari pinggiran jalan raya. Ia tidak mau ditemukan oleh siapapun. Hatinya sakit dan marah pada mereka semua. Ia terus berjalan tanpa tujuan. Entah kemana ia akan pergi. Sementara ia tidak memegang uang sedikitpun.
Begitu Dhira melihat Ara berlari meninggalkan area pemakaman, ia langsung mengirim pesan Rendra. Menyuruhnya untuk mengikuti dan mengurus Ara. Ia yakin Rendra masih ada di sekitar area pemakaman. Karena barusan ia melihatnya berdiri tidak jauh dari tempat Jhon berdiri.
Ara terus saja berjalan menyusuri jalan yang dirinya sendiri tidak tahu itu ke arah mana. Sementara hujan makin lebat, membasahi tubuhnya.
"Hiks...hikss...kenapa Papi tega sama aku? Kak Jhon juga begitu! Kalian semua mempermainkan ku!" Tangisannya begitu kuat. Tapi tidak terlalu terdengar karena suara hujan deras.
"Katanya mami ku telah meninggal sejak aku lahir! Tapi apa ini? wanita itu adalah mamiku? Hah...benar-benar kejutan!" Teriaknya sambil mengusap wajahnya yang banjir air hujan dan Ari mata.
"Mereka membohongiku! Kenapa? Dan selama dua Minggu aku di culik! Pelakunya adalah sahabat ku sendiri yang sudah ku anggap saudara! Sungguh menyedihkan!!" Teriaknya lagi.
Rasa sakit dan kesal di hatinya yang menumpuk tidak terkatakan lagi. Dengan menangis sambil berteriak adalah salah satu cara meringankan hatinya saat ini.
"Aaaaa!!!! Robert!!!! Jhon!!!! kalian adalah penipu! Kalian menipu diriku selama ini!"
Ia berteriak sekuatnya.
"Kalau kalian mengadopsi ku, bukankah kalian bisa mengatakannya padaku kalau aku ini adalah darah dari Rudy dan Meli."
Ia terus berteriak marah. Pada pada Robert, pada Jhon, pada Dhira juga pada Rudy.
Merasa lelah, ia berhenti dan mengusap wajahnya lagi. Menyingkirkan air hujan yang masih saja menerpa wajahnya. Tidak juga kering dengan menggunakan telapak tangannya, di usapnya matanya dengan lengannya agar bisa melihat dengan jelas.
"Hai adik, mau kemana?"
Ara mengangkat kepalanya melihat siapa yang menyapanya. Hanya melihat sekilas lalu kembali menundukkan kepalanya. Melanjutkan kakinya melangkah lagi.
"Ini hujan lho. Lihat rambut dan pakaianmu basah. Ikut Abang aja yuk!"
Ara tetap diam. Kakinya makin cepat melangkah berusaha menjauhi pria yang sok akrab itu.
"Hei...jangan berlari. Kamu bisa jatuh. Banyak batu batu, ntar kamu tersandung." Pria itu menarik pergelangan tangan Ara.
"Akh...! Lepasin!!!" Teriak Ara. Ia mulai ketakutan. Apalagi pria itu terus menariknya dengan mata menyeramkan. Ia berontak sekuatnya. Tapi apalah dayanya. Tubuhnya yang sangat ringan dan tak bertenaga karena sangat lapar tidak bisa sama sekali melawan tangan pria itu.
"Jangan berteriak! Atau ku bun*h kau sekarang juga!" Pria itu membisikkan kata yang membuat sekujur tubuh Ara bergetar. Apalagi nafas pria itu bau alkohol. Pria itu mulai menggeret tangannya memasuki gang yang lebih kecil lagi. Jalan sempit yang makin sepi. Ada banyak rumah tapi terlihat pada tutup mungkin karena hujan.
Ara menutup mulutnya. Matanya yang berkunang kunang membuat penglihatannya kabur. Ditambah air hujan yang makin lebat. 'Ya Tuhan, apakah hari ini hari terakhirku? Jika aku masih diberi kehidupan, tolong aku. Jangan biarkan aku celaka.' Dalam tangisnya Ara berdoa. Ia sudah sangat lelah dan tidak bertenaga lagi.
Lelaki itu berhenti di depan sebuah rumah yang agak jauh dari rumah yang lainnya. Rumah sederhana dengan setengah bangunan terbuat dari papan. Lelaki itu merogoh kantong celananya, mungkin mencari kunci rumah.
Melihat pria itu sibuk dengan celananya, Ara menggigit tangan pria itu sekuatnya hingga tangan pria itu lepas dari lengannya.
__ADS_1
"Aaaaa...! Bereng*ek!" Pria itu berteriak. Ia berlari mengejar Ara.
Ara berlari tak tentu arah. Ia merasa tubuhnya sangat berat dan susah dibawa. Kakinya terseok melangkahi bebatuan yang terkadang membuatnya tersandung.
"Mau lari kemana kau hah?! Kembali!" Pria itu berlari lebih cepat sehingga menangkap Ara. Direngkuhnya tubuh kecil Ara dan mengangkat ke bahunya. "Kau milikku. Kau harus melayaniku!"
"Aaaaa! Tolong!!! Tolonggg!" Ara menangis sambil berteriak. Ia sudah mengeluarkan suaranya sekuatnya tapi nyatanya suaranya tidaklah besar. Hanya pria itulah yang mendengarnya. Kaki panjang pria itu berjalan lebih cepat. Ia sudah tiba di rumah yang di datanginya tadi.
Begitu pintu terbuka, dilemparkannya tubuh Ara ke lantai lalu pria itu mengungkungnya dengan tubuhnya. Dengan tatapan haus akan pemuasan, lelaki itu menyeruduk leher Ara dengan beringas.
"Aaaa...! Aaaaa..." Ara masih berjuang melepaskan diri. Kakinya menyepak tak karuan. Tangannya menarik rambut pria itu agar menjauh darinya. "Tolongggg...aaaa!!! Tolonggg...!!!" Teriaknya semampunya dengan suara serak.
Wajah dan lehernya sudah dilahap pria itu. Dan dengan tidak sabar pria itu menarik kerah baju Ara hingga robek. Kini kulit Ara yang seharusnya tertutup sudah terbuka.
Melihat itu pria itu makin kalap, dengan tak sabar ia ingin segera menguasai dan menuntaskan keinginannya.
Ara berteriak makin tak karuan. Suaranya bahkan sudah habis. Kaki dan tangannya terasa kebas dan sangat lelah. Hanya air matanya yang tidak lelah. Air bening yang tak akan bisa menolongnya itu makin deras membasahi susut matanya hingga mengalir ke telinganya.
Buuukkk...plakkkk...bummmm...
Tiba tiba pria itu berhenti dan tubunya melayang terlempar jauh. Ia terbanting ke lantai dengan keras.
Merasa tubuhnya tidak lagi berat, Ara bangkit dengan menutupi bagian atas tubuhnya yang sempat terbuka. Kedua tangannya gemetaran memeluk dirinya sendiri dengan posisi setengah membungkuk. Matanya memerah dengan bibir bergetar karena masih menangis.
Kakinya yang lemah melangkah ingin berlari, tapi keinginannya tidak terjadi karena seorang pria lainnya sedang berdiri di hadapannya. Ia terduduk kembali ke lantai dan terus mundur hingga mentok ke dinding.
Tangannya semakin erat memeluk dirinya. Niat hatinya ingin maju, malah memilih mundur menjauh dari lelaki yang baru datang.
Ia kenal dengan gadis itu. Beberapa kali dulu saat masih menjadi menantu keluarga Atmaja, ia melihat Meli diam-diam mengikuti Ara dan menatapnya dari kejauhan. Ia pun tahu kalau gadis itu adalah anak Meli dan Rudy dari salah satu pelayan di rumah itu. Tapi sayangnya, pelayan itu ketahuan mengetahui rahasia besar itu. Yaitu bahwa Ara adalah darah daging dari Rudy. Malam harinya, Meli meracuni pelayan itu hingga meningal. Lalu membawa jenazah pelayan itu keluar dan membuangnya ke laut. Saat itu Rudy dan Leo sedang bekerja di luar kota. Melihat kegilaan Meli, Rendra memilih tutup mulut dan pura-pura tidak tahu tentang kejadian itu. Dari sejak itulah ia memilih keluar dari rumah Atmaja. Membawa Nayla keluar dari rumah itu.
Ia yakin Ara belum akan jauh. Karena begitu Dhira meneleponnya, ia langsung mendatangi gang yang di sebut Dhira. Ia berjalan kaki berputar-putar memeriksa gang itu, tapi tidak menemukan Ara. Ditelusurinya lagi, tapi tetap tidak menemukannya.
Setelah berlari mengikuti gang yang lurus, Rendra balik lagi dan memeriksa tiap anak gang lagi. Semua sepi dan tak ada seorang pun di sana. Hingga tibalah ia di sebuah gang kecil yang jarang rumah. Ia berjalan dengan hati-hati karena adanya bebatuan yang tidak diam saat diinjak.
Samar-samar ia mendengar suara jeritan dari seseorang perempuan. Ia langsung berlari ke arah suara dan menuntunnya ke sebuah rumah yang pintunya tidak tertutup rapat.
Alangkah terkejutnya dirinya melihat seorang pria sedang mencum*u seorang wanita yang berusaha berontak dan berteriak dengan tangan menggapai-gapai tak menentu di lantai dekat pintu.
Tanpa ragu ia masuk setelah menendang pintu, lalu memukul pria itu secara beruntun, lalu menariknya dan melemparnya dengan kedua tangannya.
Matanya terbelalak melihat seorang wanita yang sedang berusaha menutupi bagian dadanya dengan kain yang terlihat sobek dan tangannya sendiri. Sedangkan wajahnya tidak terlihat jelas karena rambutnya yang basah dan acak-acakan menutupi wajah hingga lehernya
Menyadari itu, segera ditariknya jaketnya sendiri dan memberikannya pada wanita itu.
Ara memeluk jaket itu dengan erat. Ia mundur ketakutan saat Rendra mendekat, berusaha memeriksa wajahnya.
Jari Rendra menyibak rambut Ara yang menutupi wajahnya. Lalu mengangkat dagunya untuk memastikan apakah itu wanita yang sedang dicarinya."Jangan takut. Aku akan menolongmu." Ujarnya setelah tahu itu adalah Ara.
Ara makin memeluk dirinya dengan kuat. Rendra makin mendekatinya dan berusaha menggapai bahunya.
"Aku utusan Andhira. Aku disuruh mencari..."
__ADS_1
Belum selesai Rendra berbicara, Ara tiba tiba berhambur padanya. Gadis yang sejak tadi menangis tanpa suara itu, kini meraung keras sambil memeluk Rendra. "Tolong akuuu huhuuu! Aku takuttt." Ujarnya dengan tangisan hebat.
"Tenanglah. Kau sudah aman. Sekarang lepasin dulu tanganmu. Pakai jaket ini degan bagus. Aku akan membawamu pergi dari sini." Rendra menenangkan Ara. "Tapi tunggu sebentar di sini. Kamu duduk dulu. Aku akan memberi pelajaran pada lelaki itu!"
Rendra mencari lelaki yang dilemparnya barusan di sekitarnya, namun pria itu sudah tidak ada. Ia bahkan berlari ke luar memeriksa keberadaan lelaki itu. Tapi sudah tidak menemukannya. Sepertinya ia langsung melarikan diri.
Setelah memakai jaket, Ara berdiri dengan pelan-pelan. Ia sungguh lelah dan tidak bertenaga. Kakinya bahkan tidak sanggup berpijak lagi. Ia terhuyung jatuh ke lantai. Untung Rendra segera menangkapnya. Sehingga ia tidak sampai terjatuh membentur lantai.
Rendra menggendong Ara dan membawanya keluar dari gang itu sembari diguyur hujan yang amat deras. Mereka menaiki taksi, karena motornya di pakai oleh Dhira.
***
Jhon masuk ke rumah dengan wajah suram. Ia sudah berkendara mengelilingi kota namun tidak menemukan Ara. Tempat ramai bahkan hotel diperiksanya. Tapi hasilnya nihil. Entah kemana gadis itu menghilang. Kekhawatirannya makin jadi, saat melihat kondisi Ara yang sangat berbeda. Menjadi lebih kurus dan kumal. Ditambah wajahnya yang pucat seperti orang sakit.
"Aaaaaa...bagaimana harus bertindak? Tanpa arahan dari papi menjadi sangat membingungkan!" Ia berteriak keras sambil bersender di pintu.
"Kenapa kau begitu frustasi? Apa masalahnya terlalu berat?"
Jhon melompat dengan mata terbelalak. Suara Robert memenuhi ruangan dan berharap itu bukan halusinasinya. Ia berkedip beberapa kali memastikan penglihatannya.
"Papi akhirnya pulang. Banyak yang sudah terjadi, kenapa papi mendiamkan semua kabar dari ku?" Ia memburu Robert berbagai pertanyaan.
"Tenanglah. Kau seperti orang kebakaran jenggot." Robert hanya santai malah bercanda.
Jhon berdiri dengan wajah bodoh. Tidak percaya dengan ekspresi yang ditunjukkan Robert. Begitu tenang dan tanpa beban. Bahkan terlihat senang dan puas.
"Sudah tiga Minggu Ara hilang."
"Aku sudah tahu. Semua yang kau laporkan aku pahami." Robert duduk di sofa dengan santai. "Tidak usah panik begitu, tadi saat di pemakaman aku melihatnya baik baik saja." Ia juga tidak pernah ketinggalan dengan kabar Meli. Mulai dari setengah gila karena terluka tusukan gunting diperutnya, masuk rumah sakit jiwa dan bunuh diri melompat dari atap. Semua yang dilaporkan Jhon diketahuinya hingga Meli meninggal.
"Hah? Papi ada di pemakaman? Kenapa aku tidak tahu?"
"Aku sengaja tidak menampakkan diri." Sahut Robert dengan wajah tenang.
Mulut Jhon hanya mengaga tak mengerti kenapa dengan Robert. Kenapa tidak membalasnya sekalipun, kenapa tidak memberitahunya kalau papinya datang dan sudah berada di pemakaman.
"Okelah, mumpung papi masih ada di sini. Perintahkan apa pun untuk menindak kejadian ini. Aku bingung harus seperti apa. Takut salah. Terutama soal Ara."
"Tidak perlu melakukan apapun."
Jhon membulatkan matanya mendengar jawaban Robert. Setelah berpikir sejenak barulah wajahnya kembali normal. "Apakah papi sudah merelakan segalanya?"
Robert tidak menyahut. Ia hanya duduk tenang dengan kaki bersilang. Ada yang berbeda darinya dari biasanya. Ia tidak di penuhi asap rokok. Biasanya ia selalu menyalakan rokok saat duduk dan bisa menghabiskan beberapa batang dalam waktu singkat. Asap yang mengebul mengelilinginya seakan sesuatu magic yang bisa menenangkannya.
"Apa dengan meninggalnya Meli, Papi melepas Ara?"
"Sudah saatnya baginya tahu tentang dirinya yang sebenarnya. Walau kurang tepat, tapi sudah terbongkar."
"Artinya kita tidak perlu mencari Ara lagi?" Tanya Jhon.
Robert mengangguk. "Biarkan dia pulang ke tempatnya yang sebenarnya."
__ADS_1
Jhon kini mengerti. Robert tidak lagi menginginkan Ara. Ada rasa getir di hatinya. Sungguh tidak masuk akal cara Robert melepas Ara. Selama ini ia sendiri melihat bagaimana Robert menyayangi Ara. Tiba tiba sekarang semua sirna bagai tak pernah terjadi sesuatu. 'Begini kah hubungan tanpa darah? Tidak ada beban sedih saat mereka pergi.' Jhon hanya berani bicara dalam hati.