Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Putriku Mata Hatiku dan Pelita Jiwaku


__ADS_3

"I-iya Non." Satpam itu terbirit-birit membuka pagar.


Dhira menarik gas ditangannya dan mengarahkan motor masuk ke pekarangan rumah. Mereka berdua pun turun.


Ara berjalan mendekati pintu diikuti Dhira. Ia membuka handel pintu tapi terkunci. Ia pun menekan bel. Berdiri selama tiga menit, pintu pun terbuka.


"Non Ara...!!! Non Ara sudah pulang!!!" Bi Aira berseru dengan wajah berseri dengan mata berkaca kaca. Ia memeluk Ara dengan erat.


"Bibi, aku merindukanmu." Ara membalas pelukan Aira. Wanita yang telah menjaganya semenjak bayi. Bahkan lewat wanita itulah ia bisa merasakan disayangi seorang wanita layaknya seorang ibu.


"Bibi juga merindukanmu. Kenapa begitu lama perginya? Bahkan tidak pernah mengirim kabar sekalipun." Bi Aira terisak. Ia memeriksa seluruh tubuh Ara. Memastikan gadis yang sudah dianggapnya anaknya itu baik baik saja.


"Nona jadi kurus. Apakah selama berada di luar negeri, tidak makan teratur?" Bi Aira menatap wajah Ara yang masih agak tirus.


"Ah, Bi...ada siapa dia rumah?"


"Ada Den Jhon."


"Pak Robert hanya sekali pulang ke rumah semenjak Non Ara pergi."


"Kapan?" Tanya Ara.


"Sekitar seminggu yang lalu. Naiklah ke atas, Den Jhon pasti sedang di kamarnya. Banyak yang tejadi pada Den Jhon selama beberapa Minggu ini. Dua kali mengalami luka-luka hingga sakit parah. Tulang kaki, tangan dan pinggangnya sempat patah."


Ara tidak terlalu tertarik dengan laporan bi Aira. Ia menatap ke arah tangga, Keinginannya menilai tangga itu hilang. Kakinya tidak tertarik. Padahal biasanya ia paling suka naik ke atas dan langsung masuk ke kamarnya.


"Ara?"


Suara di ujung tangga menarik perhatian tiga wanita itu. Jhon dengan langkah perlahan menuruni tangga dengan wajah tegang. Hingga pemuda itu turun, tidak ada suara yang terdengar. Mereka semua bungkam dengan pikiran masing masing.


"Kamu sudah pulang? A-apa kamu baik baik saja?" Suara Jhon sedikit bergetar. Entah itu karena ragu atau hal lainnya.


"Hem." Meski ruangan itu terdiri dari empat orang tapi suasana begitu mencekam. Terdapat batas yang dalam diantara mereka.


Jhon berdiri tepat dihadapan Ara. Ia memperhatikan wajah gadis yang sejak kecil sudah di asuh nya itu menjadi lebih tirus dan terdapat banyak jerawat kecil kecil di dahinya. "Bi, siapkan makanan." Jhon mengalihkan pandangannya pada Aira. Kemudian pada Dhira. Mereka bersitatap cukup lama tanpa suara.


"Berikan hpmu! Aku ingin bicara dengan Robert." Sentak Ara. Rasanya lidahnya kelu menyebut Robert dengan sebutan papi.


"Papi tidak bisa dihubungi. Sudah sebulan papi pergi ke luar negeri."


"Berikan hpmu!" Bentak Ara. Ia tidak perduli dengan perkataan Jhon.


Jhon mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya. Dan memberikannya.


Ara langsung mencari nama P. Robert, seperti yang sudah dilihatnya sebelumnyam Tapi tidak ketemu. Lalu ia menatap Jhon setelah membaca nama 'papi' di bagian riwayat telepon.


"Papi sangat sibuk. Bahkan telepon dariku pun diabaikannya."


Wajah Ara dipenuhi tanda tanya. Tapi ia tidak berniat mengatakan apapun. Ia melanjutkan menghubungi Robert. Kekecewaan memenuhi hatinya karena suara Robert tidak pernah terdengar dari ponsel tersebut.


Terus saja dipanggilnya, lagi dan lagi hingga kedua tangannya gemetar dan terdengar isak tangis dari hidungnya.


Jhon meraih tangan Ara.


"Jangan sentuh aku!!" Tiba-tiba Ara berteriak campur tangisan. Wajahnya sudah banjir air mata. Di hentakkannya tangan Jhon dari tangannya.


"Tenangkan dirimu... beristirahatlah dulu. Besok kita ak..."


"Kau siapa mengatur-atur ku, hah?!" Pekik Ara. Meski suara tangisnya sudah tidak terdengar, tapi air matanya masih mengalir.


"Ara...aku tahu kau marah dan kecewa. Tapi papi punya alasan untuk semua yang telah terjadi. Sebaiknya tenangkan lebih dulu dirimu baru kita bahas semuanya." Jhon berusaha membujuk Ara.

__ADS_1


"Tak perlu penjelasan apapun darimu! Aku akan menyusul ke Belanda. Tolong siapkan semua keperluan yang dibutuhkan ke sana." Ara menyerahkan ponsel Jhon. Kali ini suaranya terdengar sedikit pelan.


"Belum tentu papi ada di sana. Sebaiknya kita tunggu hingga beliau pulang. Sia sia kamu ke Belanda kalau ternyata papi sedang berada di negara yang lain."


"Jangan ikut campur urusanku! Berikan aku sejumlah uang atau kartu. Aku akan mengurus semuanya." Emosi Ara langsung terpancing. Wajahnya memerah menahan segala yang ingin meledak di dadanya. Ingin meluapkan pada Jhon namun ditahannya. Ia pasti tidak akan puas dengan jawaban tentang segala pertanyaannya.


"Papi sudah berpesan, sebaiknya kamu tunggu beliau pulang. Kalian perlu bicara."


"Kapan? Aku butuh penjelasan secepatnya!" Teriak Ara.


Jhon tidak menyahut. Ia justru menatap Dhira dengan tatapan tidak suka. "Di rumah ini sedang ada masalah. Kamu sebagai orang luar harusnya tahu adat. Yang bukan anggota keluarga kami keluar sekarang juga!"


"Masalah Ara, merupakan masalah ku juga. Lagian apa kau tidak ragu menyebut Ara sebagai anggota keluargamu? Jelas jelas dia keturunan keluarga Atmaja. Huh, dasar tidak tahu malu!" Damprat Dhira.


"Mulutmu seperti mulut bebek! Kuak...koek..! Asal bunyi! Sekarang pergi dari sini!" Usir Jhon.


"Kami akan pergi. Berikan aku ponsel atau uang kalau kartu sudah tidak bisa ku dapatkan lagi." Ujar Ara melerai Jhon dan Dhira. Bagaimanapun ia butuh uang.


"Selama kamu mau tinggallah di rumah ini. Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu kapanpun dan sampai kapanpun." Sahut Jhon sesuai pesan Robert. "Dan semua fasilitas yang kau inginkan silahkan gunakan. Tidak ada larangan."


"Makanya aku mau bicara dengan Robert. L Aku ingin semuanya jelas! Aku ingin dengar sendiri darinya siapa sebenarnya aku ini! Apakah aku anaknya atau bukan!" Suara Ara bergetar disertai bulir air yang menetes lagi dari matanya. Hatinya sakit mengucapkan kalimat itu.


Jhon tidak bisa berkata. Ia hanya berdiam dengan jakun turun naik karena menelan saliva nya sendiri beberapa kali. Wajahnya menunjukkan kelemahan seakan menggambarkan penyesalan.


"Aku ijin ke kamar, aku butuh pakaian dan beberapa peralatan ku."


Tidak ada jawaban dari Jhon, membuat Ara tidak jadi melangkah naik.


Melihat itu Jhon menggaruk kepalanya dengan kasar. "Naiklah. Bagaimanapun itu adakah kamarmu."


Ara naik tanpa mengajak Dhira.


Jhon masih berdiri bersama Dhira. Mereka saling melirik dan berbarengan mendengus kasar.


Sedangkan Jhon, bisa tahu apa yang sedang dipikirkan Dhira. Ingin bertanya sebenarnya kenapa ia mencari dan mengincar Robert. Tapi di tahannya demi keamanan identitas papinya itu. Sebenarnya Robert bilang, tidak ada hal rahasia lagi yang perlu disembunyikan menyangkut persoalan Ara. Tapi Robert berpesan, jangan dulu untuk sementara waktu mengekspos papinya itu kepada siapapun. Ada beberapa hal lagi yang harus diurus oleh lelaki itu dan tak ingin terganggu oleh siapapun. Itu sebabnya ia belum bisa menemui Ara.


Ara pun muncul dan sudah ada bersama mereka. Gadis itu membawa sebuah tas ransel di punggungnya. "Segera sampaikan pada Robert untuk menyisakan waktunya sebentar untukku. Dua hari lagi aku akan ke sini untuk mendengar semua penjelasannya." Setelah selesai bicara Ara berbalik dan mengajak Dhira pergi.


"Tunggu!" Panggil Jhon.


Ara dan Dhira berhenti. Mereka berputar bersama.


"Ini gunakanlah!" Jhon memberikan sebuah kartu pada Ara.


"Aku tidak butuh itu. Berikan aku uang tunai! Jika memang benar aku bukan anak dari Robert, aku akan berjanji mengembalikannya."


Tangan Jhon menggantung di udara dengan kartu di jemarinya. Sungguh ia tidak mau Ara terlantar. Ia tahu gadis itu tidak pergi ke rumah Atmaja. Setelah beberapa detik, ia menarik tangannya dan membuka dompetnya. Menarik semua uang yang ada di dalam dompetnya itu dan memberikannya pada Ara.


Tanpa mengatakan apapun, Ara mengambil uang itu. Lalu menarik tangan Dhira keluar dari rumah itu.


Dari tempatnya, Jhon hanya bisa melihat kepergian Ara. Sekalipun ia ingin menjelaskan segalanya, agar Ara mengerti dengan semua yang terjadi, tapi ia tidak berani tanpa persetujuan Robert.


Sepanjang perjalanan pulang, Ara memeluk Dhira erat sambil menangis di punggungnya. Meski ia sangat ingin tahu kebenaran dirinya, tetap membuatnya sedih betapa selama ini hubungan papinya dengan dirinya adalah palsu. Sungguh sedikitpun ia tidak pernah terpikirkan akan hal itu. Ia hanya memandang Robert sebagai ayahnya yang paling sempurna. Paling dipujanya, paling disayanginya, satu satunya yang dimilikinya di dunia ini.


Jujur saja, dari dalam hatinya berharap semua yang terjadi hanyalah kesalahpahaman. Jika dirinya bisa memilih, ia ingin tetap menjadi anak dari Robert. Bagaimanapun, lelaki itulah satu-satunya yang kenalnya dan dimilikinya dalam hidupnya.


***


Menunggu dua hari yang telah diucapkannya pada Jhon membuat Ara gelisah sendiri. Sudah berlalu sehari membuatnya makin gugup. Ia tidak tahu apakah dirinya bisa menerima kenyataan yang diucapkan Robert nantinya.


Dengan kejelasan yang ditunggunya, pasti akan membuat dirinya tidak akan lagi berhubungan dengan Robert. Ia akan meninggalkan segalanya. Memutuskan apa yang sudah terjalin sepanjang usianya dengan lelaki itu.

__ADS_1


Dengan langkah tak bersemangat, ia berjalan pelan pelan ke supermarket berbelanja sesuatu. Suasana sore merupakan jam pulang para pekerja membuat jalan bising oleh kendaraan yang lalu lalang. Namun suara berisik itu tidak menggugah pikiran Ara dari lamunannya.


Tiba tiba sebuah mobil mewah berwarna hitam menghampirinya. Beberapa detik pintu mobil terbuka, dan Robert muncul.


"Ara..."


Gadis itu mengerjap. "Papi?" Spontan saja mulutnya memanggil Robert dengan papi.


Robert tersenyum sembari merentang kan kedua tangannya.


Kedua mata Ara berbinar, serasa segala beban berat yang menggeluti dirinya terbang seketika. Ia hendak berlari menyongsong papinya yang sudah sangat dirindukannya. Tapi mendadak kakinya tidak bisa bergerak mengingat lelaki yang disebutnya papi selama ini ternyata orang lain. Ia malah mundur dengan derai air mata. Satu satunya yang ia rasakan saat ini hanya ingin menangis sejadi-jadinya.


"Anakku, kau tetap anakku." Robert mendekat dan meraih kepala Ara.


Namun, justru itulah yang membuat tangis Ara makin keras. Ucapan Robert bukannya membuatnya tenang.


"Kemari Nak, kita perlu bicara." Robert menarik tangan Ara dan memeluknya.


Ara tidak berusaha melepaskan diri. Ia berdiam dan sesegukan di dalam kurungan lengan kekar Robert.


Setelah beberapa saat Robert mengajak Ara masuk ke mobil. Tidak ada perlawanan dari Ara. Waktu yang dimintanya dua hari kini lebih singkat. Hanya selama delapan belas jam ia sudah bertemu dengan Robert.


"Kenapa kita ke hotel?" Tanya Ara saat mobil diarahkan Robert ke sebuah hotel miliknya.


"Kita perlu waktu untuk membicarakan semuanya. Papi tidak akan menyembunyikan apapun lagi. Sudah waktunya kamu tahu segalanya."


Ara menatap Robert dengan tatapan tak biasa. Tersirat keraguan juga ketakutan di matanya.


"Jangan takut. Bagaimanapun kau sudah menjadi anakku. Dari bayi akulah yang telah mengurus mu."


"Kenapa? Kenapa aku menjadi anakmu?" Tanya Ara ragu ragu.


"Ceritanya panjang. Makanya papi menyempatkan diri untuk bertemu denganmu. Papi akan mengatakan semuanya." Robert sengaja datang dari Bali sebelum waktu yang telah diucapkan Ara, untuk mengecoh Dhira yang selalu mengintainya.


Ara hanya menatap Robert dengan mulut tertutup.


"Setelah kau tahu ceritanya, papi tidak berhak memaksamu. Ingin tetap bersamaku atau kembali pada orang tua aslimu tergantung pilihanmu sendiri. Namun bagiku, kau tetap adalah putriku yang cantik. Mata hatiku dan pelita jiwaku. Berkatmu aku merasakan rasanya memiliki kasih sayang. Selamanya kau adalah putriku." Mata tajam yang selalu menyemangati dan melindungi itu berkaca kaca.


Untuk pertama kalinya mata itu menunjukkan kelemahan di hadapan Ara, membuat gadis itu kembali terisak.


"Pertama Papi minta maaf. Telah membuatmu mengalami semua ini."


Ara masih menutup mulutnya.


"Tidak bagus kita duduk lama di mobil ini. Kita masuk ke dalam dan dengarkan apa yang ingin Papi bagi ini denganmu. Selama dua puluh tahun Papi menanggung dan menyimpan sendirian. Kini saatnya kamu mengetahuinya."


Akhirnya Ara menuruti Robert. Mereka ke kamar khusus yang sudah tersedia setiap Robert datang berkunjung ke hotel.


"Sebaiknya kita makan malam. Ini sudah waktunya makan." Baru selesai bicara seorang pelayan hotel sudah datang dengan troli makanan.


Ara tidak mengatakan apapun. Ia menuruti Robert. Mereka makan bersama dengan hening.


Robert membersihkan mulutnya lalu pindah ke sofa.


Ara juga menyelesaikan makannya. Padahal baru sekitar lima suap nasi yang dimakannya.


"Aku sudah menuruti semuanya. Sekarang apakah sudah bisa dimulai?" Tanya Ara. Ia sudah tidak sabar lagi.


"Baiklah." Robert menghela nafas panjang.


Ara sedikit heran dengan tampilan Robert. Lelaki ini terlibat sedikit lebih gemuk dan segar. Setelah beberapa saat barulah di disadarinya, Robert tidak lagi merokok. Pantaslah lelaki itu terlihat lebih segar.

__ADS_1


"Yang kau dengar tentang hubunganku denganmu adalah benar. Kau adalah anak angkat ku. Semua bermula karena hubungan antara aku dengan kekasihku dan Meli ibumu."


__ADS_2