Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Ibu Hilang Lagi


__ADS_3

Di tempat tidur Dhira tidak bisa tidur. Pikirannya melayang memikirkan dari mana datangnya uang itu.


"Hah, seandainya aku dan ayah saling kenal bisa jadi dia yang bayar. Tapi ini siapa? Leo bukan, Vanya bukan, paman Bali bukan, mereka tidak tahu menahu soal Meli meminta uang itu. Lalu siapa? Ohhh astaga kepalaku pusing." Dhira memukul pelan pelan kepalanya.


"Entah siapapun itu terserahlah. Mungkin ini jalan bagiku .agar bisa lepas dari hujatan Meli. Ada lebihnya pula. Dua ratus juta bisalah ku gunakan menyewa dan membeli obat lanjutan untuk ibu. Soal itu uang siapa belakangan." Akhirnya Dhira memutuskan tidak ambil pusing soal uang itu. Meski dalam hati kecilnya sedikit ada ketakutan terlibat masalah besar karena uang tersebut.


Esok harinya sepulang kerja, Dhira bersiap dengan penyamarannya. Ia harus menemukan rumah baru untuk ibunya. Ia akan memeriksa rumah yang informasinya didapatnya dari iklan.


Lagi asyik menatap pinggiran jalan dari dalam taksi, tiba tiba ponsel Dhira berdering nyaring.


Nampak nomor perawat ibunya di layar ponselnya.


"Halo..."


"Mbak Dhira, tolong cepat ke rumah sakit!" Teriakan panik terdengar dari seberang.


"Ada apa Sus?"


"Ini Mbak, ibu...ibu..."


"Kenapa dengan ibuku?" Teriak Dhira. Dadanya terasa nyeri ketakutan. Baru semalam ia bermimpi jalan jalan dengan ibunya. Tapi tiba tiba di persimpangan, ibunya menaiki kereta api meninggalkan dirinya di pinggir jalan. Ia berteriak menyuruh ibunya turun tapi ibunya justru tersenyum melambaikan tangan padanya.


Sedari pagi ia sudah was-was akan sesuatu yang buruk. Apalagi mendapat telepon seperti ini membuat pikirannya macem macem.


Detak jantungnya menghentak keras, sedangkan dengkul dan kedua tangannya gemetar. Tanpa disadarinya, wajahnya sudah bersimbah air mata. Apakah mimpinya pertanda buruk.


"Ibu..." Suara perawat tercekat dan tidak bisa keluar dari tenggorokannya di pendengaran Dhira.


"Iya. Ibu kenapa. Ini saya akan ke rumah sakit. Saya sudah diperjalanan. Sekarang katakan ada apa?" Setelah menarik nafas dalam Dhira menyuruh perawat itu tenang.


"Ibu menghilang. Tiba tiba saat aku keluar dari kamar mandi, ibu sudah tidak ada di kamar!"


Dummm...


Jantung Dhira bagai meledak di peraduannya. Namun ada sedikit kelegaan bukan kabar yang dipikirannya yang di dengarnya. Ia sempat terbayang kabar duka yang akan diterimanya.


"Aku akan segera ke sana. Tolong cari di sekitar rumah sakit." Dhira tidak jadi ke arah perumahan tapi menyuruh sopir putar balik arah.


"Tolong cepat Pak. Ini genting!"


"Bapak minggir! Biar aku yang menyetir!" Dhira tidak sabar lagi dengan pak sopir yang tidak bisa ngebut.


"Iya Neng, ini sudah ngebut. Lebih dari ini takut terjadi kecelakaan."


"Minggir! Aku yang bawa." Dhira menarik kemeja lelaki itu menyuruh berhenti. Wajahnya sudah memerah, karena panik campur marah.


Tidak berani melihat wajah Dhira yang beringas, si sopir berhenti dan pindah duduk di samping. Dhira maju ke depan tanpa turun dari pintu. Ia meringkuk melangkah ke depan dan sudah berhasil duduk. Langsung tancap gas bagai angin.

__ADS_1


Dhira berlari memasuki pintu masuk rumah sakit. Biasanya ia naik menggunakan lift ke lantai delapan. Tapi sekarang ia masuk lewat UGD dan menyusuri tiap lorong dan tiap lantai ruang sakit.


Tidak dipedulikannya tatapan orang terhadapnya yang terheran melihatnya berlarian kesana kemari sambil memeriksa tirai dan pintu bahkan kolong bangsal. Berharap ibunya ditemukannya disana.


Namun hingga ia sudah berada di lantai delapan, tidak menghasilkan apapun. Justru ia bertemu dengan perawat, dokter dan Leo yang sama ngos-ngosan dengannya.


"Bagaimana dengan cctv?" Tanya Dhira pada seorang petugas scurity yang ikut mencari Amelia.


"Tunggu biar ku telepon." Diantara nafasnya yang memburu Leo mengambil ponselnya dan menghubungi bagian petugas yang bersangkutan dengan cctv.


"Iya. Seseorang membawa ibu. Terlihat di rekaman, jam sepuluh lewat lima seseorang memasuki ruangan ini. Tidak jelas wajahnya karena memakai cadar. Di lihat dari gesturnya dia adalah seorang wanita."


Dhira terhuyung beberapa langkah. Wajahnya memutih bagai tak dialiri darah. Untung Leo segera menangkapnya agar tidak terjatuh ke lantai. "Tolong ambilkan air."


Perawat mengambil air dan Leo membatu Dhira meminumkan air. "Kita akan mencari ibu. Ini harus ditangani polisi. Kita ada bukti kalau ibu diculik."


"Berikan nomor Rendra!" Teriak Dhira.


"Rendra?"


"Iya. Tolong cepat!"


Leo membuka ponselnya dengan wajah tanda tanya. Kemudian membacakan nomor Rendra.


Dhira menghubungi nomor Rendra. Tapi tidak aktif. "Aarrrggghhh...sudah tidak aktif. Awas kau Rendra!!!" Dhira memencet layar ponselnya dengan keras menghubungi Rendra kembali.


"Ini masih ada nomornya." Leo membacakan nomor Rendra lagi. "Bisa beritahu kenapa mencari Rendra?" Tanya Leo.


Nomor kedua yang diberikan Leo pun tidak aktif. Dhira yakin Rendra sengaja melakukannya karena takut ketahuan.


"Bawa aku ke rumah Rendra." Nafas Dhira memburu. Saat ini ia sangat ingin menemukan Rendra.


"Dia sudah pindah. Sudah dua Minggu yang lalu. Apartemennya sudah dikembalikan pada kami. Aku dengar dari Mami, dia pindah ke pedesaan."


Dhira termangu. Jika bukan Rendra lalu siapa pelakunya? Kini ia menyesal tidak memaksa Rendra buka mulut siapa yang memerintahkannya waktu itu.


Tak henti hentinya Dhira dan Leo mencari keberadaan Amelia. Seluruh rumah sakit dan lingkungan sekitarnya mereka periksa.


Dua hari sudah lewat, namun keberadaan Amelia belum ada titik temu. Wanita itu bagai ditelan bumi. Tak ada tanda apapun. Hanya satu petunjuk yaitu rekaman saat ibunya dibawa menjauh dari depan kamarnya. Lalu rekaman kabur seperti sengaja di rusak. Dari postur tubuhnya Dhira yakin itu bukan Rendra. Ukuran tubuh yang di rekaman terlihat lebih pendek dan seperti wanita.


Selama itu pun, Dhira tidak masuk kantor. Ia tidak perduli harus dipecat. Toh memang dirinya sudah dipecat oleh Meli walau tanpa adanya surat apapun. Yang di pentingkannya saat ini adalah menemukan ibunya. Leo dan Vanya juga turut membantu namun hasilnya nihil.


Malam harinya di depan rumah sakit, Dhira menantikan datangan perawat yang mengurus ibunya. Ia di suruh perawat itu datang dan ada yang ingin ditunjukkannya.


"Ada apa Suster? Kenapa menyuruhku datang?" Tanya Dhira. Ia sedikit memicingkan mata memeriksa wajah perawat itu.


"Sebenarnya ada yang hendak saya beritahukan pada mu. Tapi aku takut." Suster itu terlihat ketakutan dan mengawasi sekitarnya dengan tatapannya yang bimbang

__ADS_1


"Jangan takut. Di sini tidak ada siapapun. Kau boleh mengatakannya." Dhira meyakinkan perawat itu.


"Entah aku benar atau salah, sebelum ibu menghilang, aku sempat mengambil foto seseorang."


"Foto siapa?"


"Tapi jangan memberitahukan siapapun, aku yang mengatakannya. Aku tidak mau kehilangan pekerjaan." Pinta perawat itu.


"Iya. Aku jamin aman. Namamu tidak akan disebut."


Perawat itu menyodorkan ponselnya. "Ibu sangat ketakutan saat bertemu dua wanita ini. Kami sedang jalan jalan tidak jauh dari kamar. Aku turuti permintaan ibu karena beliau sering mengeluh kakinya pegal dan merasa sangat bosan."


"Ibu direktur?" Dhira menatap foto di ponsel dengan mata terbelalak. Salah satu dari foto itu adalah Meli.


"Iya. Aku nggak enak sebenarnya. Dia ibunya pak Leo. Aku takut terjadi salah paham diantara kalian."


"Katakan apa yang terjadi!" Suara Dhira begitu dingin. Hingga membuat perawat itu merinding.


Waktu itu, suster bernama Bunga, yang selalu merawat Amelia sedang menggandeng tangan Amelia menuntunnya berjalan santai.


"Rumah sakit ini besar ya. Cukup nyaman dan jauh dari kebisingan." Celoteh Amelia sembari memandang ke sekitarnya.


"Iya Bu. Ini salah satu rumah sakit bagus di kota ini. Apalagi Ibu di rawat di ruangan VVIP."


"Tak kusangka aku bisa berobat di sini. Apalagi sampai bisa mendapat donor." Kedua mata Amelia berkaca-kaca.


"Ibu sangat beruntung. Anak dan calon menantu ibu sangat baik. Menyayangi Ibu dan rela melakukan apapun demi Ibu."


Amelia tersenyum "Iya. Dia satu satunya yang ku miliki di dunia ini. Demi nya aku telah melewati maut dan hidup kembali."


"Hm. Aku siap mendengar kisah Ibu. Mendengar kisah hidup selalu membuatku bersemangat."


"Hah, kapan kapan aja. Saat ini aku hanya ingin menikmati kehidupan ini. Aku selalu berusaha melupakan yang sudah terjadi. Dengan menceritakannya akan membuatku sedih harus mengingat kejadian itu." Raut wajah Amelia berubah sendu.


"Ah. Kita lupakan soal itu. Kita bicara tentang masa depan saja." Bunga begitu pintar mengubah suasana dengan senyum nya yang manis dan tulus.


"Kamu cantik." Puji Amelia.


"Masih kalah cantik dengan Ibu dan Andhira. Sampai Pak Leo bertekuk lutut padanya."


"Doakan ya, agar putriku bahagia bersama Leo. Aku akui, Leo pria baik dan penuh tanggung jawab."


"Bukan hanya itu Bu, pak Leo juga tampan dan kaya." Bunga tertawa sambil menggoyang goyangkan tangan Amelia.


"Kamu juga carilah pria baik. Jangan menilai pria dari uang dan wajahnya. Tapi dari hatinya."


"Iya...doakan agar saya bisa mendapat yang seperti Andhira dapat."

__ADS_1


Amelia mengangguk sambil tertawa pelan.


Tapi tiba tiba tawanya berhenti. Secara refleks wanita itu menarik Bunga dan menyembunyikan wajahnya di dada perawat itu. Terasa sekujur tubuh Amelia bergetar. Bahkan ia hampir melorot kalau tidak ditahan oleh kedua tangan Bunga.


__ADS_2