Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Benci Tapi Cinta


__ADS_3

Setelah selesai ia kembali di ikat ke kursi. Ia melamun dan menangis terisak.


"Hiks hiks apa salahku? Kenapa aku harus mengalami ini? Aku merasa seperti orang buta. Entah sudah berapa lama aku tidak bisa melihat."


"Papi, kak Jhon...tolong aku. Aku bisa mati di sini. Tolong aku....aku nggak tahan lagi. Tangan kakiku sakit. Seluruh tubuhku gatal. Aku juga lapar." Ara terus saja menangis dan mengadukan penderitaannya.


Ayunda yang mendengar rengekan Ara tersentuh. Sebenarnya ia sangat kasihan pada Ara. Gadis cantik yang tidak tahu apa-apa harus menjadi tahanan demi membantu Dhira.


Ia keluar dari kamar itu dan membuat makan enak untuk Ara. Emang gadis itu sudah sangat kurus dan pucat. Ia juga memberikan teh padanya.


'cepatlah Dhira temukan Amelia, aku takut anak ini sakit.'


Batinnya sambil menyuapi Ara.


Ara tidak mengatakan atau berteriak lagi. Ia melamun sambil mengunyah makanan di mulutnya pelan pelan.


'Siapa sebenarnya mereka ini? Bila ingin aku mati pasti mereka sudah melakukannya sejak awal.'


'apa mereka saingan papi? Musuh kami?'


'Atau...hah, entahlah aku pribadi tidak punya musuh. Paling ini bersangkutan dengan Papi.'


'Tapi kenapa papi juga kak Jhon belum juga menemukanku? Apa aku sangat jauh dari rumah? Apa mungkin aku ada diluar kota?'


Segala pertanyaan ada di dalam hati Ara. Menurutnya Robert dan Jhon tidak terlalu sulit menemukan dirinya. Tapi kenapa sudah berhari-hari mereka belum datang?


Tanpa terasa air mata Ara berjatuhan lagi. Ia menangis kenapa nasib yang menimpanya seburuk ini.


Ayu terenyuh melihat raut wajah Ara. Gadis itu tidak banyak bicara lagi, tapi menangis sambil mengunyah makanannya.


"Mau nambah?"


Ara menggeleng.


"ini ada teh, minumlah. Kalau kau mau sesuatu katakan saja. Aku akan memberikannya padamu."


Ara berhenti minum. "Kenapa kalian menyekap ku? Apa salahku? Jika mau uang, katakan berapa yang kalian inginkan. Aku akan memberikan nomor Papi dan kakakku. Silahkan hubungi mereka dan minta berapa yang kalian mau. Aku jamin, uang itu akan segera di kirimkan."


"Tidak ada yang butuh uangmu!".


"Lalu apa alasannya menyekap ku?"


"Tidak perlu kau tahu! Cukup kau diam dan tenang."


"Papi ku akan membayar mu berapa pun yang kalian minta. Cobalah hubungi."


Ayunda tidak lagi bicara. Ia sudah keluar dari kamar itu.


"Aku tidak bohong! Mintalah uang tebusan ku."


Hening


"Heiii...Kau masih di situ kan? Heiii...!!" Ara berteriak merasa dirinya hanya seorang diri kembali.


"Tolong...! Tolonggg!" Ia berteriak sekerasnya berharap ada orang di luar sana yang mendengar suaranya.


Tapi hingga suaranya serak, tak pertolongan apapun. Ia kembali menangis dan kali ini ia meraung-raung minta di bebaskan.


***


Jhon masuki loby perusahaan. Ia langsung menuju resepsionis mencari Dhira.

__ADS_1


"Kemana Andhira?" Tanyanya dengan aura dingin pada Zahra juga teman kerja baru yang menemaninya berdiri.


"Dia sudah dipecat Pak."


"Apa? Siapa yang melakukannya?"


"Kemarin Dhira masuk, tapi diusir oleh pak Heru bagian kepala personalia. Katanya Dhira tidak perlu masuk lagi, tinggal menunggu surat pemecatan."


"Kenapa semua orang sok pintar! Apa haknya memutuskan itu? Dia yang mengatur perusahaan ini atau aku?!"


Zahra tersentak mendengar omelan direktur itu. 'Haess...masa udah dipukulin seperti itu, Jhon tidak berniat memecat Dhira? Nampak sekali dia menyukainya. Masih memaafkannya walau sudah berselisih parah.'


'Dhira, kau direbutkan dua lelaki. Beruntungnya dirimu. Dan dua duanya orang hebat.' sempat sempatnya Zahra berbicara dalam hati meski wajahnya sudah pucat karena takut.


"Ku tunggu kedatangan mu Dhira...' Zahra malah mengagumi Dhira.


Sementara Jhon sudah masuk ke lift dengan raut wajah makin kusut.


Ia menuju lantai dimana bagian personalia berada.


"Heru, siapa yang memberimu izin memecat Andhira?"


"A...itu Pak, dia sudah sangat kurang ajar membuat masalah dengan Pak Direktur. Pekerja sepertinya tidak dibutuhkan perusahan ini." Dengan pedenya Heru mengungkapkan pandangannya.


"Kau yang harus dipecat!"


Heru terhenyak diteriaki pemecatan.


"Panggil dia kembali ke perusahan ini. Jika besok pagi dia tidak masuk kau angkat kaki dari tempat ini!" Ujar Jhon dengan aura yang sangat menyeramkan. Bola matanya membesar terlihat seperti hendak memakan Heru.


"I-iya Pak. Akan saya usahakan!"


Jhon sudah tidak mendengar jawaban Heru. Ia sudah pergi meninggalkannya ketika baru buka mulut.


Ia berencana akan menceritakan kenapa Ara bisa sama mereka dan kenapa mereka membenci keluarga Atmaja. Tapi kini rencana sudah gagal.


Semalaman ia memikirkan apakah keputusannya menceritakan masa lalu Robert pada Dhira sudah benar. Kadang otaknya melarangnya tapi hatinya mengatakan berlawanan. Entah kenapa hatinya ingin sekali berbagi cerita masa lalu itu padanya.


Selama lima belas tahun ia mengetahui cerita itu belum pernah ia menceritakannya pada siapapun karena larangan Robert. Tapi kali ini ia ingin membaginya dengan seseorang. Tapi haruskah dengan Dhira? Sempat ada pertanyaan seperti itu, tapi ia sendiri tidak memiliki menjawabnya.


Berkali kali ia menghubungi nomor Dhira, tapi ponsel gadis itu tidak aktif. Tidak kunjung tersambung, ia memutuskan untuk mendatangi rumah Dhira.


Tapi setibanya disana, lagi lagi kekecewaan yang dirasakannya. Rumah itu terkunci dan terlihat tidak berpenghuni.


***


Dhira sedang makan disebuah warung makan. Semenjak hilangnya Amelia ibunya, ia tidak pernah memasak. Waktunya habis kesana-kemari melakukan pencarian.


Setelah selesai makan ia membersihkan mulutnya dengan tisu. Lalu mengaktifkan ponselnya memeriksa panggilan dan pesan masuk. Sengaja ketika di rumah Rendra ia mematikan ponselnya agar tidak bisa dilacak oleh siapapun.


Bunyi notifikasi pesan beruntun masuk. Satu persatu dibacanya. Kebanyakan pesan dari Vanya, Arga, paman Bali, dan nomor baru yang paling banyak mengiriminya pesan.


Dibacanya pesan dari nomor baru itu, barulah ia mengerti itu nomor Heru yang memintanya datang ke kantor dan bekerja kembali. Lelaki itu meminta maaf atas kelancangannya kemarin. Dan mengatakan bila ia tidak datang besok bekerja, dirinya akan dipecat.


"Huh, sudah dibuat babak belur begitu masih menerimaku bekerja? Aku tahu, ini bukan demi pekerjaan tapi berhubungan dengan Ara." Dhira berbicara dengan ponselnya.


Tanpa membalas pesan itu, ia kembali menonaktifkan ponselnya. Memasukkan ke dalam tas dan membayar biaya makanannya lalu pergi dari tempat itu dengan motor milik Rendra.


Tiba di rumah Rendra, Dhira masuk tanpa menyapa Rendra dan yang lainnya yang sedang bekerja membuat roti. Tokonya sudah mulai buka dan ramai pengunjung. Dan tiga anak preman yang tugaskan nya mencari Rendra waktu itu menjadi karyawan Rendra.


Dhira berlari naik ke lantai dua. Merasa haus ia mengambil air yang di meja dan meminumnya. Melihat tudung makanan yang tertutup rapi, Dhira memeriksa isinya.

__ADS_1


"Bubur ini masih disini?" Tanya Dhira melihat bubur pesanannya tadi pagi yang masih utuh. Bahkan kini ada dua mangkok bubur dan dua duanya sudah sangat dingin.


"Dia tidak makan. Bahkan melewatkan dua kali jam makan." Gumamnya pada dirinya sendiri.


Tiba tiba ia membayangkan Leo sudah pergi meninggalkan tepat itu. Darahnya memanas dan segera berlari menaiki lantai tiga dimana Leo berada. Memeriksa apakah pemuda itu sungguh pergi.


Dibukanya pintu dengan kasar dan memeriksa kamar. Ranjang kosong dan pemuda itu tidak terlihat ada dikamar itu. Diperiksanya kamar mandi ternyata juga kosong. "Kemana dia?" Gerahamnya mengeras karena saling mengadu.


Dhira menutup kamar mandi dengan marah. Ia tidak mengira Leo akan pergi. Padahal pria itu sendiri bilang tidak akan pergi. Mau jadi tawanannya.


"Aaarrrgghh...dia membodohi ku!" Geram Dhira.


"Siapa yang membodohi mu?"


Dhira terkejut tiba tiba suara Leo sangat dekat ke telinganya. Dirasakannya aroma wangi sabun dan sampo serta nafas segar di dekat lehernya. Ia berbalik karena kaget.


Di hadapannya Leo berdiri dengan bertelanjang dada, ia hanya menggunakan bokser berwarna hitam. Sebuah handuk kecil tersampir di lengannya. Rupanya ia baru mandi dan terlihat masih ada bintik air yang jatuh dari rambutnya.


"Oh ku kira..." Dhira tidak melanjutkan ucapannya. Ia malah mengerjap kebingungan saat tangan dingin Leo menarik pinggangnya hingga ia menempel sempurna ke dada dan perut keras milik Leo.


"Kau kira apa, hem?" Leo mendekatkan wajahnya ke wajah Dhira. "Mengira kira aku pergi? Aku sudah bilang tanpa izin mu aku tidak akan pergi."


"I-iya. Lepaskan tanganmu!" Dhira mundur dan mencoba melepaskan diri dari pelukan Leo.


"Kamu dari mana?" Tanya Leo. Ia mengikuti langkah Dhira yang mundur hingga punggung Dhira bersandar ke pintu kamar mandi.


"Apa urusanmu! Awasss! Lepaskan aku!" Dhira mendorong dada Leo. Tapi Leo tidak bergerak sedikitpun. Ia memegangi tangan Dhira yang menempel di dadanya. Menggerakkan tangan Dhira untuk menggosok gosok dadanya. Sehingga telapak tangan Dhira meraba dada Leo yang liat.


Dentuman dada Dhira menggila. Ia tidak bisa mengatakan apapun, merasa aneh pada dirinya merasakan dada Leo yang tanpa di lapisi kain. Darahnya mengalir lebih deras, hingga membuat otaknya tak bisa berpikir jernih.


Melihat Dhira bengong, Leo menyerobot bibir gadis itu. Ia sungguh tidak tahan membiarkan bibir indah itu begitu saja. Ia sungguh menikmatinya dan tak rela melepasnya. Terus dilakukannya berulang ulang.


Dhira bagai tersengat tegangan listrik bertegangan tinggi. Tak bisa disangkalnya ia terhanyut dengan permainan Leo hingga tanpa sadar ia mencengkram dada Leo dengan kedua tangannya. Bahkan tak sadar ia menggenggam dada Leo yang sedikit berbetuk buah dad* dengan kuat.


Cukup lama mereka terhanyut arus memabukkan itu. Bahkan hingga nafas Dhira tersengal dan tanpa sadar ia menggigit lidah Leo. Untung tidak kuat sehingga tidak sampai membuat lidah itu berdarah.


Plokkk...plokkkk


Dhira memukul pelan dada Leo dengan seluruh wajah bersemu kemerahan. Ditariknya kedua tangannya dari dada Leo yang baru disadarinya masih menempel disana. "Apaan sih kamu?" Sungutnya tapi dengan suara pelan.


"Hehehe...aku butuh vitamin. Aku merasa seperti hilang tenaga dan kekuatan. Sekarang setelah memadu dengan cintaku ini, rasanya sudah lebih baik." Leo mengelus kelapa Dhira.


"Kesempatan kamu! Lagian kita sudah putus! Kamu tidak berhak melakukan itu." Wajah Dhira memerah marah. "Kamu nggak tahu sekarang ini aku lagi..."


Kalimat Dhira terpotong karena Leo menariknya dan memeluknya erat.


Tiba tiba saja Dhira merasa sedih dan tak bisa menahan tangisnya. Ia tersedu dan air matanya sangat cepat membanjiri pipinya.


"Sssttt...kamu terlalu banyak menangis. Aku berjanji akan membereskan masalah ini. Ini sudah terlalu lama. Aku tidak tahan melihatmu tersiksa begini."


Tangis Dhira makin jadi. Ia malah membenarkan wajahnya ke dada Leo. Ia meraung seperti anak kecil sambil memukul mukul punggung Leo. Ia tidak mengerti perasaanya terhadap Leo. Ia marah, dan berencana tidak lagi memandang Leo dengan cinta. Tapi ternyata sulit juga baginya.


Leo membiarkan Dhira seperti itu. Ia tahu gadis itu butuh pelampiasan amarah. Justru ia sedih melihat Dhira seperti orang asing yang memusuhinya dan mendiamkannya. Lebih baik merasakan sakitnya pukulannya agar pikirannya tenang.


Setelah merasa baikan Dhira mendorong Leo. "Aku membencimu!" Ucapnya dengan kepala tertunduk dalam dalam.


Leo menelan ludahnya beberapa kali meredakan sesuatu yang sempat bangkit dari dalam dirinya. Sungguh hampir saja ia tidak bisa menguasai dirinya. Biasanya memang selalu membuatnya melayang dan ingin lebih lama tapi tidak semendesak seperti barusan. Apa mungkin karena sudah lama tidak melakukannya atau pengaruh emosional yang sebenarnya menghantuinya akan ditinggal oleh Dhira.


Perlahan ia bernafas teratur dan sudah bisa mengendalikan diri. Ia bergerak mundur baru menyadari tubuhnya yang hanya mengenakan bokser. Tanpa mengatakan apa-apa ia berbalik dan menuju lemari. Membuka pintu, lalu memilih pakaian yang akan dipakainya. Tinggi badannya yang lebih panjang sekitar sepuluh senti dari Rendra membuatnya kesulitan menemukan yang pas.


Dhira yang masih menunduk, merasa tambah sedih. Sebenarnya ia tidak sebenci kata-katanya pada Leo. Namun, untuk menjalani hubungan mereka seperti semula rasanya berat dan merasa seperti seorang penghianat atas apa yang terjadi pada ibunya.

__ADS_1


Sekarang melihat Leo berdiam, dirinya merasa tidak enak juga.


'Melihatnya marah seperti ini tetap membuatku tidak senang. Dia terlihat sangat kecewa dengan ucapan terakhirku.' batin Dhira. Ia masih setia menonton Leo yang memakai kaos dan terkesan mengabaikannya.


__ADS_2