
#Flashback on#
Robert berusia dua puluh tahun saat itu. Meski ia masih kuliah tapi ayahnya yang berdarah campuran Indo-Jepang sudah melatihnya berbisnis mengembangkan usaha milik mereka. Ia pemuda berbakat dan penuh semangat. Banyak relasi bisnis ayahnya juga teman lainnya yang menyukainya dan berusaha menjodohkannya dengan putri mereka. Tapi saat itu, Robert tidak pernah memandang para gadis itu dengan perasaan khusus. Semua ditolaknya dengan terus terang.
Satu satunya yang telah mengisi hatinya adalah seorang gadis biasa yang masih duduk di bangku SMK. Gadis imut berwajah oval dengan bentuk tubuh ramping dengan perangai lembut. Ia sangat mencintainya. Mulai dari wajah tubuh juga perangainya. Araysa Akhsara gadis berdarah Bali yang mempunyai kulit sawo matang berambut hitam halus dengan hidung kecil yang mancung.
Araysa sedang melakukan PKL di perusahaan ayahnya dan saat itulah mereka bertemu. Robert tidak bisa mengentikan perasaannya terhadapnya. Segala upaya dilakukannya demi mendapatkannya. Lumayan sulit baginya, karena Araysa tidak mempercayai ketulusan Robert mengingat dirinya hanyalah seorang gadis miskin dan hanya mempunyai seorang ayah tukang kebun di rumah orang kaya. Sedangkan ibunya sudah lama meninggal karena sakit.
Usaha Robert akhirnya berhasil setelah melalui beberapa tahap pendekatan. Perlahan ia memasuki kehidupan gadis itu lewat sahabatnya Meli Fatin. Meli adalah putri seorang pengusaha di mana, Abirama ayah Araysa bekerja.
Araysa sering datang ke rumah Meli melakukan pekerjaan rumah. Dan dari jerih payahnya ia akan mendapat upah dari ibunya Meli. Dari sana jugalah persahabatan Meli dan Araysa terbentuk.
Begitu tahu Araysa dan Meli adalah berteman, Robert makin sering datang ke rumah Meli demi bisa bertemu dengan Araysa. Jadilah ketiga orang itu saling dekat.
Hubungan manis penuh semangat dilalui dua insan itu. Tak ada yang bisa menghentikan Robert meski itu orang tuanya sendiri. Ayah ibunya kurang menyetujui pilihan putranya. Namun mereka tidak terlalu keras, mungkin karena Robert adalah anak tunggal mereka. Sehingga mau tidak mau mereka hanya bisa menerima apapun keputusan Robert. Mereka tidak mau putra satu satunya memilih meninggalkan mereka.
Tapi siapa yang tahu seorang yang menjadi saksi bagaimana cinta mereka, menjadi pedang pemisah keduanya. Meli sudah lama mencintai Robert apalagi sempat ada rencana orang tua mereka untuk menjodohkannya dengan Robert. Hatinya berontak tidak menerima kekalahan. Dirinya yang lebih dari segalanya dibanding Araysa bisa luput dan kalah dari mata Robert.
Dari pikiran yang tidak mau kalah timbullah perbuatan berlebihan. Rasa iri, dengki dan cemburu membuat Meli semakin membenci Araysa.
"Aaaaaa..! Dia hanya gadis miskin! Dia tidak memiliki apapun! Kenapa Robert lebih memilihnya? Kenapa? Hahhhh...?" Meli melempar botol minumannya ke dinding ruangan. Ia minum hingga mabuk.
"Sudahlah! Kamu lebih baik merelakannya. Sudah tidak mungkin lagi bagimu memisahkan mereka. Dari informasi yang ku dengar, mereka bahkan sudah 'tidur' waktu kita liburan ke Ancol." Ardi temannya menasehatinya.
"Apa??? Tidak! Tidak bisa! Dasar anak babu! Tidak punya akhlak! Entah pelet apa yang dipakainya sampai Robert tergila gila padanya!" Seluruh wajah Meli memerah karena geram.
"Kamu sih sok baik menawarkan persahabatan pada Araysa. Lihat sekarang, pria yang kamu cintai malah berbelok padanya."
"Aku harus memisahkan mereka. Aku akan melakukan sesuatu agar Robert tidak bisa berkutik. Aku rela melakukan apapun, asal Robert menjadi milikku."
"Robert bukan lelaki yang mudah dipengaruhi. Dia itu orang yang paling keras kepala dan teguh pendirian. Jangan bertindak bodoh hingga semakin menyakiti dirimu sendiri."
"Aku tidak peduli! Aku yang sudah menyukai Robert sejak kecil, aku berhak memperjuangkan cintaku. Tidak ada yang bisa melarang ku!"
"Ck Meli...Meli, banyak pria lainnya yang mengejar mu. Kenapa harus menjebak dirimu diantara mereka? Jangan bilang karena dia putra pengusaha kaya. Untuk apa kekayaannya bila hatinya bukan untukmu?"
"Diam! Kamu tidak akan mengerti perasaanku. Di sini hanya ada Robert!" Meli memukul dadanya.
"Ah terserah! Itu urusanmu. Sebagai teman, aku hanya memberi saran." Ardi sudah bosan menasehati Meli. Ia hanya kasihan padanya karena sudah sangat jelas Robert menolaknya. Tapi entah dimana pikiran Meli, tidak terima dengan pilihan Robert. Ia tidak merelakan Robert sampai kapan pun.
Memang, Robert benar benar seorang pria idaman. Selain tampan, ia anak orang kaya, baik dan rendah hati. Hanya satu kekurangannya yaitu galak, sangat mudah emosi, ia tidak segan memukul siapa saja yang dianggapnya bersalah.
__ADS_1
Entah bagaimana cara Araysa menaklukkan yang disebut serigala itu. Bila sudah dihadapan Araysa, Robert bisa lembut dan bersabar. Meski sesekali meraung saat marah tapi tidak separah terhadap orang lain.
Disembunyikannya perasaannya terhadap Robert. Sangat rapat agar dirinya selalu bisa berdekatan dengan lelaki itu. Walau api membara membakar hatinya, ditahannya asal bisa muncul dihadapan Robert.
Semua berjalan sesuai harapan Meli. Diantara Robert dan Araysa dirinya masih bisa leluasa berbicara dan bersikap.
Bukan tak disadari Araysa, ia tahu sebenarnya apa yang dialami Meli. Namun, ia hanya gadis polos yang tidak bisa mengungkapkan kebusukan Meli. Dirinya yang selalu merendah tidak mampu melewati batas untuk menghadapi Meli.
Sering merasa takut akan sikap Meli yang suka kasar padanya saat dibelakang Robert, membuatnya beberapa kali mundur meminta Robert agar mengakhiri hubungan mereka. Dari pada mengalami situasi rumit, ia memilih mundur saja.
"Apa masalahmu? Apa aku kurang terhadapmu? Sudah lima kali ini kamu minta mengakhiri hubungan ini." Suara Robert begitu keras. Bahkan mata dan wajahnya memerah menunjukkan ciri khas Robert saat marah besar.
"E, bukan. Kamu tidak kurang. Tapi, aku...aku takut. Aku tidak cocok untukmu." Jawab Araysa tergagap. Ia paling takut melihat air muka Robert saat marah.
"Sshhh...! Sudah berapa kali ku bilang, aku tidak suka kamu bicara seperti itu! Aku tidak pintar basa-basi, mengatakan rayuan ini itu. Inilah aku apa adanya."
"Aku tahu itu." Jawab Araysa pelan.
"Lalu apa lagi? Aku sudah bilang aku mencintaimu. Hanya kamu dan selamanya kamu. I love you. Aku sayang kamu. Aku suka kamu. Aku...hah entah apalagi. Aku tidak pintar merayu." Robert menarik Araysa ke pelukannya. "Apa yang harus kukatakan agar kamu percaya?"
Araysa malah menjadi gugup. Pegangan Robert ditangannya begitu kuat sehingga terasa sakit. Ia menundukkan kepalanya dalam dalam menghindari tatapan tajam Robert.
"Ti-tidak. Bukan begi-gitu. Ju-justru wa -wanita la-lain yang banyak suka padamu. Mereka tidak menyukaiku. Aku takut pada mereka." Tergagap-gagap ia menjelaskannya.
"Heh...alasan itu lagi. Kamu pikir kita tidak sama? Kamu juga banyak lelaki lain menyukaimu. Tapi aku yakin kamu hanya cinta padaku. Kamu juga harus bisa berpikiran seperti itu. Aku tidak pernah suka pada mereka. Aku jamin itu. Atau haruskah aku bersumpah agar kamu percaya padaku?"
"Bukan aku meragukan mu."
"Hem? Lalu apalagi?" Suara Robert sudah berubah lembut. Wajahnya juga sudah enak dipandang.
Araysa diam. Ia bingung harus mengatakan apa. Ingin mengungkap perilaku Meli tapi ia takut Robert tidak percaya. Karena pernah sekali ia menyinggung Meli, justru Robert marah mengatakan dirinya cemburu buta. Ia malah dimarahi dianggap berhati jelek.
"Jawab. Mumpung kita lagi membahas ini. Besok besok aku malas bahas ini lagi. Hanya bikin kepalaku pusing."
Araysa tidak sanggup menjawab. Ia tidak bisa mengatakan apapun tanpa bukti. Meli bukan tandingannya soal berargumen.
"Aku tidak suka dengan diam mu. Otakku malah memikirkan hal lain. Aku malah mengira kamu hanya beralasan saja karena sebenarnya kamu sudah bosan denganku." Nada Robert kembali sedingin es padahal barusan bisa lembut.
Araysa menggeleng cepat cepat. Dengan berani ia menatap ke mata Robert. "Tidak mungkin bagiku mencintai pria lain. Sama sepertimu, aku hanya menyukaimu dan menyayangimu." Ia mengangkat wajahnya agar lebih dekat dengan Robert.
Mata Robert menatap manik bulat berwarna coklat di telaga bening mata Araysa. Tidak ada keraguan di sana. Iris coklat itu menantangnya dengan yakin. "Jika begitu, jangan membahas ini lagi. Kamu tahu sendiri, bahkan kedua orang tuaku ku lawan demi bersamamu." Suara Robert begitu lembut bahkan berupa bisikan. Ia menggapai pipi Araysa dengan tangannya penuh kelembutan. Mengelus dengan penuh kasih sayang dan perlahan ia mencium bibir kesukaannya dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
Tak bisa dipungkiri Araysa, ia juga sangat mencintai Robert. Dengan senang hati ia menyambut aksi Robert dengan fasih. Selama berpacaran enam bulan, ia sudah belajar banyak dari kekasihnya itu.
Selama bibir mereka bertautan, tangan Robert tidak bisa diam. Ia meraba punggung hingga tengkuk Araysa dengan sentuhan sen*ual. Lama lama tangannya pindah kemana-mana.
Bibir Robert berpindah bagian leher hingga bagian pundak Araysa.
Rasa melambung dan terbang membuat Araysa tidak sadar akan suaranya yang bagai penyemangat bagi Robert.
Dua anak muda itu lupa daratan. Saling memadu dan mereguk kasih yang lebih seru dari sebelumnya.
"Robert, hentikan! Ini tidak benar." Otak Araysa masih menemui kesadaran.
Kegiatan Robert terhenti. Ia mengangkat wajahnya dari perut Araysa. Matanya sudah berkabut ditutup gairah yang sudah memenuhi kepalanya. Nafasnya tersengal dengan seluruh tubuh bergetar. Rasanya panas seluruh tubuhnya dan kepalanya terasa berat.
"Sayang, maafkan aku. Aku takut kehilanganmu. Kita harus melakukan ini. Aku harus memilikimu seutuhnya."
"Hiks jangan! Aku takut! Aku masih sekolah. Bagaimana kalau aku hamil?Araysa sudah menangis. Ia sungguh takut dan tidak berani melakukannya.
"Tenang aja. Kalau memang itu terjadi malah bagus, kita bisa langsung menikah. Dan kamu menjadi milikku selamanya." Entah itu bentuk rayuan karena desakan bira*inya atau memang niat tulusnya, Robert tidak mendengarkan Araysa. Ia melanjutkan kegiatannya. Memaksa dengan sentuhan sentuhan mautnya.
Awalnya Araysa berontak tapi ia tidak berdaya. Tenaganya kalah jauh belum lagi desakan perbuatan Robert yang mampu membuatnya makin melayang bahkan menerima setiap sentuhan memabukkan Robert. Desahannya makin gencar dengan keahlian Robert yang ternyata tidak main main.
Malam itu mereka berdua melebur jadi satu hingga berulang kali. Terjadi sudah, yang seharusnya tidak terjadi. Nasi sudah menjadi bubur keadaan tidak bisa dikembalikan lagi.
"Hiks hiks hiks bagiamana ini?" Araysa memeluk erat selimut di tubuhnya sambil menangis.
Robert memeluknya dari belakang. Diciuminya kepala gadis itu dengan penuh kasih sayang. "Jangan takut, aku bertanggung jawab. Sepenuh hati aku mencintaimu. Aku akan bicara dengan orang tuaku. Agar kita segera menikah."
"Bagaimana aku bisa menikah? Aku masih mau sekolah!" Bentak Araysa ia menyikut perut Robert.
"Iya. Kamu tetap sekolah. Walau kita sudah berumahtangga kamu harus menyelesaikan sekolahmu. Aku janji."
"Ini semua gara gara kamu! Coba kau mendengarkan ku. Ini tidak sampai fatal begini!" Teriak Araysa.
"Maafkan aku. Aku mengaku salah." Robert menarik Araysa ke dalam pelukannya. "Tenanglah. Tidak akan terjadi apa-apa. Aku malah senang kita begini agar kamu tidak pernah berniat pergi dariku."
Araysa menoleh. Ia menatap wajah dan mata Robert. "Kalau ayah tahu, aku bisa dibunuhnya." Ketakutan semakin menyelimutinya.
"Aku akan bicara dengan ayahmu. Bila aku bilang kita akan menikah maka itu akan terjadi. Tenanglah." Bujuk Robert. Pria ini memang tidak pernah terlihat bermain main. Apa yang dikatakannya akan dilakukannya. Araysa tahu itu.
"Jangan terlalu buru buru. Bagaimanapun ayah pasti syok. Anak gadisnya yang masih tujuh belas tahun sudah bertindak asusila. Kalau memang dalam sebulan ini tidak terjadi apa apa dengan perutku maka tidak perlu mengatakannya. Biar sampai aku lulus dulu baru kita izin menikah."
__ADS_1