
Dhira menarik paksa tangan Meli dari rambutnya "Hahaha...dasar pembun*h! Lihat bagaimana aku membun*h satu persatu anak anakmu! Akan ku mulai dari Ara anakmu yang manis itu!" Dipegangnya kuat tahan Meli dan menghempaskan dengan kasar.
Mata Meli membeliak. "Kau hanya bermimpi! Dia aman bersama pengasuhnya!"
"Oh benarkah? Kau mau melihatnya?" Dhira membuka ponselnya dan melakukan panggilan video. Lalu terlihat di layar seorang perempuan yang terikat dengan mata dan mulut tertutup.
"Araaa!" Meli menjerit. Kedua matanya berair menyaksikan putrinya yang berusaha berontak meloloskan diri. Di dinding ruangan itu terlihat ada beberapa benda tajam bergelantungan. Dari parang, cambuk, kapak, paku berukuran besar dan gergaji.
"Setiap hari satu dari alat itu akan mengir*s kulitnya selama ibuku belum kembali." Ancam Dhira sekalian mematikan panggilan.
"Kau telah melakukan kesalahan besar! Sangat salah! Ayah angkatnya akan membun*hmu!"
"Oh iya?!" Dhira terkekeh kecil penuh keyakinan. "Ayah angkat Ara akan membun*hmu! Bukan aku. Kalian semua yang akan dihab*si papinya. Siapa lagi yang menjadi tersangka pelaku, selain keluargamu!" Ucapan Dhira sangat ampuh! Meli gemetaran dengan mulut menganga.
"Berani kau mengatakan aku yang menyekapnya, maka putrimu tidak akan hidup lagi!"
Meli bagai tertimpa benda berat, sangat berat hingga seluruh tubuhnya kaku. "Ku katakan sekali lagi, ibumu tidak bersamaku. Sumpah! Aku tidak mengenalnya! Makanya tunjukkan fotonya!"
"Oh, benarkah? Kau tidak mungkin lupa dengan seorang gadis yang kau bun*h pada malam tiga Maret dua puluh dua tahun yang lalu! Kau dan suamimu melukainya dan membuangnya!"
Meli memegangi kepalanya yang berdenyut. Matanya membulat dengan wajah bingung campur takut. "Siapa kau sebenarnya?"
"Aku anak dari wanita itu!!"
"Apa??? Hah! Ti-tidak mungkin." Ketakutan hebat menyelimuti wajah Meli. Matanya yang besar bergetar risau "Nama wanita itu bukan Amelia. Dan dia ti-tidak mungkin hidup." Gumamnya tapi bisa di dengar Dhira.
"Katakan dimana ibuku! Begitu kau melihat ibuku kau langsung menyekapnya dan ingin membun*hnya agar kejahatan kalian tidak terbongkar!"
"Ara...!! Oh tidak! Arayasa...!!" Meli termundur hingga ke meja rias dengan wajah pucat pasi. Ke dua tangannya bergetar hebat.
"Makanya bebaskan ibuku. Araysa putrimu akan selamat!"
"Ibumu, bukan aku yang melakukannya. Aku tidak menyekap siapapun. Tolong bebaskan putriku! Sumpah aku tidak menyekap ibumu."
"Banyak sekali kebohongan di mulut mu itu. Hari itu kau mengaku akan meny*ksa ibuku. Sekarang wajahmu memelas mengatakan itu, tidak benar. Aku tidak percaya padamu! Kembalikan ibuku!" Teriak Dhira.
Meli menghela nafas panjang setelah beberapa saat berpikir. "Dengar! Yang menghamili ibumu bukan suamiku Rudy. Hanya ibumu sendiri yang tahu siapa pelakunya." Meli mencoba tenang dan berusaha meyakinkan Dhira.
"Siapapun tidak akan mempercayaimu! Aku tidak mau tahu, sebaiknya kembalikan ibuku dengan keadaan selamat! hanya dengan begitu Ara anak malang itu bisa selamat."
"Kau itu tuli atau apa? aku tidak tahu dimana ibumu! Jangan memaksaku berbuat hal diluar nalar! Aku bisa sekarang juga membun*hmu dan membu*ng jasad mu ke laut!" Meli meraih leher Dhira, dan mencek*knya.
Dhira menarik tangan Meli dari batang lehernya. Tapi genggaman Meli sangat kuat dan tidak mau lepas.
Dhira mengangkat kedua tangannya dan melakukan hal yang sama. Dicek*knya juga leher Meli dengan sangat kuat. Tidak mau kehabisan nafas, Dhira mengangkat kakinya dan mendorong perut Meli dengan dengkulnya.
Alhasil, kedua tangan Meli terlepas. Tapi tidak dengannya. Ia masih mencek*k leher Meli dengan kuat.
Wajah Meli sangat memerah dan sudah mulai membiru. Ia merasa kedua telinganya berdengung hebat disertai dadanya yang serasa mau meledak. Sudut matanya berair dengan pandangan berkunang-kunang.
'Oh apakah waktuku telah habis. Apa ini? Bagaimana mungkin orang yang telah mati hidup kembali bahkan kandungannya pun selamat. Haruskah aku menyerahkan diri ke polisi agar semua ini berakhir? Aku juga hampir tidak kuat menanggungnya selama ini. Tidak ada artinya aku bertahan. Semua sudah berakhir. Dan bagaimana nasibku jika suamiku dan Leo tahu tentang masa kelam itu? Tapi sungguh tidak mungkin. Gadis ini pasti suruhan Robert untuk meneror ku. Lelaki itu tidak puas puas membuatku menderita.'
Diantara kesadarannya, Meli masih sempat berunding pada hatinya sendiri. Rasa putus asa dengan semua pilihannya selama ini telah membuatnya begitu menderita. Tidak ada lagi yang perlu dipertahankannya. Jika dirinya menyerah, semua mungkin akan kembali normal. Hanya dirinya yang rugi dan dihukum.
Tapi membayangkan dirinya berada dibalik jeruji besi membuatnya berubah pikiran.
__ADS_1
'Ah tidak. Aku tidak mau dipenjara. Leo dan Ara juga suamiku akan malu seumur hidupnya. Bukan hanya malu tapi mereka akan mengalami goncangan hebat dan membenciku. Lebih baik aku mati. Dengan mati Robert akan berhenti menyiks*ku.'
Meli berkompromi dengan otaknya
lagi. Ia mengira Dhira adalah kiriman Robert untuk menghukum keluarganya karena Leo telah mengetahui soal Ara. Menduga semua itu, membuatnya memilih mati saja. Dirabanya tepat dibawah cermin besar itu, dengan pelan pelan. Yang dicarinya ketemu. Yaitu sebuah gunting besar yang selalu ditaruhnya di sana.
Sekali hentakan diarahkannya gunt*ng itu ke bagian pinggang nya.
Mendengar sesuatu di bagian perut Meli, Dhira melepas leher Meli. Dilihatnya bagian pinggang wanita itu berlumuran darah.
Dhira mundur bingung dengan kelakuan Meli.
Lalu dengan gemetaran Meli maju, dipaksa nya tangan Dhira memegang gunting dan menus*kkannya lagi ke bagian perutnya.
Dhira makin panik. Ada apa dengan wanita ini? Mungkinkah Meli memang gila? Karena kebingungan ia tidak sempat menolak, dan luka diperut Meli menjadi dua lobang.
Sekuat tenaga Dhira menahan tangan Meli pada tus*kan ke tiga. Dua tangannya memegang gunting agar tidak sampai ke perut Meli.
"Bun*h saja aku! Aku tidak tahu dimana ibumu. Dari pada putriku mati lebih baik aku yang mati." Meli masih memaksa tangan Dhira terdorong ke perutnya. Padahal ia sudah lemas dan bergetar menahan sakit.
"Kau benar benar gila!" Dhira merebut gunting itu dan melemparnya ke lantai.
"Sampaikan padanya aku tidak takut mati. Kalian telah meny*ksaku dan putriku selama dua puluh tahun. Jika memang kemati*n ku yang kalian inginkan aku tidak takut sedikitpun. Bilang padanya, apa yang telah kulakukan sudah impas selama dua puluh tahun ini. Ditambah nyawaku ini." Ujar Meli dengan berlinangan air mata.
Saat itulah pintu terbuka, Rudy dan Leo berdiri di pintu.
"Apa yang terjadi?" Rudy yang melihat darah berceceran di lantai, ia berlari ke arah Meli yang sudah terjatuh ke lantai.
"Mi, ada apa ini?" Rudy mengangkat Meli dan membawanya berlari keluar kamar.
Praangg
Gelas ditangan Leo jatuh hingga berkeping keping.
"Leo aku tidak melakukan apapun. Itu dilakukan oleh Mami mu sendiri." Dhira berlari ke arah Leo. Ia tidak mau Leo mempercayai perkataan Meli.
"Ada apa ini? Dan itu...?" Leo menatap gunting dilantai yang berlumur darah juga tangan Dhira.
"Mami mu yang sendiri yang menusukk*nnya pada dirinya. Aku tidak melakukan apapun. Aku hanya bertanya padanya dimana ibuku disekap nya. Tapi emosinya sungguh membingungkan."
"Apa kamu kira mami ku gila? Dan apa? Kenapa kamu menuduh Mamiku yang bertanggung jawab atas hilangnya ibumu?" Suara Leo menggelegar. Ia marah atas apa yang terjadi. Di matanya Dhira seperti bukan Dhira yang selama ini dikenalnya.
"Iya. Meli adalah dalang dari hilangnya ibuku. Selama kita menyembunyikan ibu di rumah sakit, Meli adalah orang yang menyerangnya! Aku bahkan menangkap Rendra sebagai suruhannya! Kalau kamu tidak percaya, bisa tanya pada Rendra!"
"Stop Andhira. Sekarang ini aku tidak bisa mendengar mu!" Bentak Leo. Matanya menunjukkan kemarahan besar. Bagaimanapun ia sakit hati dengan perlakuan Dhira sejak dari tadi.
"Leo!!! Segera turun! Kita bawa Mami ke rumah sakit!" Teriak Rudy dari bawah.
Leo berlari menuruni tangga. Meninggalkan Dhira begitu saja.
Dhira berteriak frustasi. Niatnya adalah membuat Meli buka mulut soal ibunya. Tapi justru sisi lain yang lebih menyeramkan ditemukannya dari Meli. "Kenapa kejadiannya harus di kamar? Di sana kemungkinan tidak ada kamera pengawas. Astaga dia sungguh merencanakannya. Wanita itu seperti ular. Yang dikatakan Rendra ternyata benar. Meli wanita gila."
Dhira turun dan berniat pergi menyusul ke rumah sakit. Ia tidak akan lari karena ia tidak bersalah. Ia justru akan memaksa Meli buka mulut.
"Anda tidak diperbolehkan pergi! Kami disuruh pak Rudy menahan anda." Dua orang penjaga rumah menahannya.
__ADS_1
"Aku tidak akan melarikan diri. Aku ingin ke rumah sakit."
"Apapun alasannya kami tidak akan membiarkan Anda."
Dhira terdiam. Jika ia memaksa harus pergi akan membuat Leo dan Rudy yakin atas dugaan mereka. Ia pun akhirnya duduk dan menunggu di ruangan itu.
Di rumah sakit, Rudy dan Leo sedang kalang kabut menunggu operasi Meli. Dari tadi mereka berdua hanya diam tidak ada yang berniat membuka pembicaraan apapun.
Setelah setengah jam, operasi Meli selesai dengan lancar. Tidak ada yang perlu ditakuti karena luka tusukan itu tidak sampai melukai organ dalam tubuhnya.
"Urus gadis itu! Entah apa yang dibicarakannya! Memangnya siapa ibunya? Sembarangan nuduh orang! Jadi, maksudnya aku ini ayah biologisnya? Ada ada aja! Tak ku sangka gadis yang kelihatan bijak itu, ternyata sangat bodoh dan urakan! Dasar kriminal!" Kini Rudy memarahi Leo.
Leo bergeming. Ia baru terpikir sesuatu. "Pi, aku ini sungguh anak kandungmu kan?! Maksudku benar Mami mengandung dengan Papi?"
Plak...! Rudy memukul kepala Leo dengan telapak tangannya. "Pertanyaan macam apa itu?" Bentak Rudy.
"Siapa tahu aja. Soalnya aku sudah melakukan tes DNA terhadap Andhira, golongan kami berbeda."
"Maksudmu dia anak kandungku dan kau bukan? Sungguh kalian semua tidak waras. Gadis itu telah mempengaruhi mu!"
"Entahlah, rasanya semakin sulit mempercayai siapapun saat ini. Itu akibat dari rahasia Papi dan Mami."
"Tidak ada hubungannya cerita itu dengan pertanyaan mu. Jika gadis bernama Dhira itu tidak waras tinggalkan dia. Dari pada kau juga ikutan tidak waras!"
Leo menatap papinya dengan tatapan tidak suka. "Dia sehat Pi. Dia sedang mencari ibunya yang hilang. Tepatnya bukan hilang tapi diculik. Dia mencurigai Mami dan Papi."
"Akhhhh...masalah hidup kita sudah berat. Ditambahi dengan fitnah penculikan lagi. Apa kau dungu, mempercayai omongannya?"
"Benarkah papi tidak mengenal ibu Amelia. Coba papi lihat dulu. Ini ada fotonya di hp ku." Leo membuka galery foto dan memberikannya pada papinya. Saat terakhir kali ia bersama Dhira, ia mengambil foto Amelia secara diam-diam.
Rudy merebut ponsel itu lalu membantingnya ke lantai hingga pecah. Tidak cukup hanya di situ ia juga menginjak injak remukan ponsel itu. "Aku yang tahu apa yang telah kulakukan. Aku tidak pernah bergaul dengan siapapun selain pada ibumu!"
Leo mendengus kesal. "Seandainya benar, aku tidak akan marah. Andhira hanya butuh pengakuan dari ayahnya saja."
"Hahhhh! Tutup mulutmu itu! Jangan menyebut namanya lagi! Dia harus dipenjara atas apa yang telah dilakukannya pada Mamimu! Kau malah sibuk membelanya!"
"Tapi Andhira bilang dia tidak melakukan itu."
"Maksudmu mami mu sengaja melukai dirinya? Kau keterlaluan! Matamu telah dibuatkan cinta. Mami mu terluka parah bahkan nyaris mati. Tapi apa yang ada di otakmu itu!" Rudy menuding wajah Leo dengan mata memerah.
"Hah entahlah! Aku benar benar pusing!!" Leo memungut kartu SIM miliknya dari lantai dan membiarkan benda lainnya yang sudah hancur. Ia pergi meninggalkan Rudy yang masih bernafas ngos-ngosan karena masih marah.
Leo pulang ke rumah orang tuanya. Ia terkejut melihat Dhira yang masih duduk dengan kepala tertunduk si ujung sofa. Ia menghela nafas panjang baru mendekati Dhira.
"Kenapa kamu masih di sini?" Tanya Leo dingin.
"Kalian menahan ku. Aku tidak mau dianggap melarikan diri karena kejadian barusan. Aku sungguh tidak melakukanya. Wanita itu pembohong ulung! Setelah menusuk dirinya sendiri ia menuduhku menusuknya."
Leo tidak mengatakan apapun. Ia berdiri di samping Dhira dengan wajah kusut.
"Kalau aku tidak berusaha menghentikannya mungkin dia sudah tewas menusuk hatinya sendiri." Lanjut Dhira dengan mata berkaca kaca. Ia menangis bukan sedih atas apapun tapi kesal kenapa harus bertemu dengan orang macam Meli. Ditambah nada dan tatapan Leo yang penuh tuduhan pada dirinya.
"Pulanglah. Aku lelah dan rasanya kepalaku mau pecah!"
Dhira berdiri. "Tolong bujuk mamimu mengatakan di mana ibuku. Bagimu mamimu penting, bagiku juga ibuku sama pentingnya. Mungkin aku lebih menyayangi ibuku dari pada kamu pada mamimu. Karena aku hanya punya ibuku." Ujarnya sebelum pergi.
__ADS_1
"Tunggu!" Seru Leo saat Dhira sudah menjauh lima langkah. "Kenapa tiba tiba kau menduga Papi telah melakukan sesuatu pada ibumu. Dan kenapa kau menuduh Mami ku menyekap Ibumu." Tanya Leo berapi-api. Jika biasanya ia selalu menyebut Amelia dengan 'ibu' kali ini ia menyebutnya sebagai 'ibumu'.