
"Iya. Dari pusat kota ke pegunungan kampung kami butuh waktu lima jam."
"Memangnya ada bis atau kendaraan malam hari?"
"Naik travel biar nggak sambung mobil. Juga lebih menyingkat waktu."
"Aku mau menemanimu saat pulang."
Dhira menatap wajah Leo. "Haha kamu pikir enak pulang ke sana? Capek. Di sana juga sangat dingin."
"Makin penasaran ingin ke sana. Kita bawa mobil sendiri. Dan kita ajak ibu kamu jalan jalan."
"Di sana tidak ada tempat jalan jalan. Adanya hanya perkebunan."
"Tapi di internet di Liwa ada pantai Krui dan Lombok juga lembah letusan gunung Merapi."
"Itu jauh dari tempat kami. Butuh waktu seharian lagi ke sana."
"Oh. Yah kapan kapan lah pas ada waktu." Leo tersenyum.
"Aku mau tidur lagi. Sebaiknya kamu pulang aja. Ini hampir subuh."
"Aku mau di sini aja. Aku bisa tidur di situ." Leo menunjuk sofa sederhana di ruangan itu.
"Terserahlah. Aku mau tidur." Dhira menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Hei, tidak bagus tidur dengan kepala ditutupi. Kamu bisa kekurangan oksigen." Leo menarik selimut pelan hingga menampilkan bagian kepala Dhira. Kemudian jemarinya merapikan rambut Dhira yang acak-acakan. Dan mengelus lembut kepalanya. "Tidurlah."
Dhira tidak bereaksi. Ia hanya berdiam dengan mata terpejam. 'kenapa dia baik sekali. Suka sekali mengelus kepala lagi. Bikin hati makin nyaman.' batin Dhira sembari hampir lelap.
***
"Ara! Kamu sudah dewasa. Jangan susah diomongi!" Bentak Jhon ketika Ara mau keluar dari rumah.
"Apa? Kakak membentak ku?" Ara melotot tidak percaya pada Jhon.
"Dari kamu kecil sudah dipercayakan papimu padaku. Jika kamu selalu melanggar perintah pak Robert aku yang dimintai pertanggung jawaban. Kamu merusak kinerjaku di hadapan papimu."
"Masalahnya apa?" Bentak Ara. Ia tidak terima dikatai merusak kinerja asisten papinya.
"Caramu bergaul dengan dua gadis bernama Dhira dan Vanya itu tidak di sukai papimu. Kamu tahu artinya? Sebaiknya jangan lagi bertemu mereka! Aku dan papimu selalu was-was setiap kamu bersama mereka. Jangan kamu pikir mereka sebaik yang terlihat."
"Di mana papi? Aku harus membicarakan ini di hadapanmu. Papi aja tidak keberatan kami berteman. Baru beberapa hari yang lalu kami membahas itu. Kenapa sekarang Kakak begitu emosi?"
"Siapa yang tidak emosi. Kamu sangat sulit dikendalikan."
"Aku bukan hewan peliharaan yang harus dikendalikan. Aku punya perasaan butuh teman butuh perhatian butuh hiburan. Aku tidak pernah berbuat hal memalukan yang bisa mencoreng nama baik kalian. Aku tidak pernah bikin masalah. Lalu masalahnya dimana? Kenapa dua sahabatku itu menjadi masalah bagi kalian?"
"Kamu tidak tahu latar belakang mereka seperti apa. Motif mereka apa. Kamu ini masih labil. Belum bisa memahami hal dengan lebih baik."
"Apa? Kamu mengatai ku labil? Masih kecil begitu? Belum bisa berpikir matang? Lihat baik baik!" Ara maju mendekati Jhon yang berdiri di daun pintu. Maju terus hingga ia menempel pada Jhon.
"Ara. Apaan kamu ini?" Jhon mendorong bahu Ara pelan.
"Aku seorang gadis berusia dua puluh tahun. Aku tidak labil??" Matanya menatap tajam ke mata Jhon.
Jhon tidak bisa menjawab. Ia justru tidak enak dengan himpitan tubuh Ara.
"Waktu itu aku masih usia lima belas tahun. Kamu bilang aku masih remaja yang labil saat aku mengatakan aku menyukaimu. Yah aku memang mengakui itu. Tapi di usia ku yang sekarang aku menentang itu. Lihat baik baik. Sampai sekarang mata ini masih suka padamu. Hati ini juga masih suka padamu. Apakah aku masih labil? Jika kamu ragu aku sudah dewasa apa belum, kamu bisa membuktikannya. Bahkan mengandung anak sekalipun aku sudah layak." Ucap Ara dengan nada tertahan. Ya, saat usia nya lima belas tahun ia sudah menyukai Jhon hingga pernah mengutarakan perasaannya. Cinta yang selalu memenuhi hatinya semakin besar pada pria yang terpaut usia lima belas tahun dengannya itu.
"Semua serba di larang, berteman dilarang, ini dilarang itu dilarang. Coba bagaimana kesepiannya aku. Kamu aja menolak ku!"
"Ara, ini tidak benar. Kamu masih muda dan cantik. Siapapun bisa kamu dapatkan untuk menjadi pendamping mu nantinya. Aku hanya seorang laki laki biasa yang hanya menjadi penjaga mu." Dengan hati hati Jhon menjelaskan.
__ADS_1
Ia sama sekali tidak menyangka Ara yang selama ini terlihat biasa ternyata masih menyimpan rasa padanya. Dulu ia hanya mengartikan tembakan Ara sebagai gurauan belaka. Yang terjadi karena hanya dirinya yang selalu ada di dekatnya.
"Aku tidak peduli kamu siapa. Yang aku tahu hati ku ini menyukaimu."
"Hentikan kata itu Ara. Itu bisa membuat papimu marah besar. Sedangkan soal teman saja papi mu memilih yang cocok padamu apalagi soal pendamping mu."
"Aku yang menyukai seseorang bukan papi. Bila perlu aku bisa membujuk papi."
"Jangan! Dengar, ini hanya akan menyakitimu. Bagaimana pun aku tidak akan menerimamu. Kamu itu hanya seorang adik bahkan anak bagiku. Aku tidak menyukaimu sedikitpun."
"Hiks hiks hiks" tiba tiba Ara menangis dan memeluk Jhon. "Aku menyesal mengatakan ini. Lebih baik menyimpannya di tempat tersembunyi asal aku bisa berhubungan biasa denganmu. Dengan pengakuan ku ini pasti membuat mu menjaga jarak denganku."
"Ara. Dengar...aku akan tetap menjadi penjaga mu. Tapi ku mohon jangan menyukaiku. Itu sangat sulit bagiku."
Ara menegakkan kepalanya tapi masih bersender sepenuhnya di perut dan dada Jhon. "Benarkah sedikitpun kamu tidak ada rasa suka padaku?"
"Aku menyukaimu sebagai adik. Makanya aku selalu cerewet dan melarang mu ini itu. Itu karena aku sayang padamu."
"Bohong! Itu hanya karena tanggung jawab yang diberikan papi."
"Tolong berdiri tegak. Bagaimana kalau ada yang melihat kita?"
"Biarkan. Kapan lagi aku bisa memelukmu." Ara justru mengecup pipi Jhon. Dan itu membuat Jhon sontak melempar Ara hingga terjatuh ke lantai.
Ara merasa harga dirinya sangat terluka. Ia bangkit dan berlari keluar sambil menghapus air matanya.
Jhon menggusak rambutnya dengan kasar. "anak ini sungguh nakal. Dia kira perasaan itu hanya mainan belaka. Main asal cium aja." Ia pun ikut berlari mengejar Ara. Namun gadis itu sudah hilang bersama mobilnya.
Dilacaknya melalui ponsel yang diam diam ia hubungkan dengan ponsel Ara. "Untunglah dia tidak kemana-mana." Jhon lega saat tahu Ara menuju kampus dan sudah tiba di sana.
Sementara Ara ke kampus tidak ada keperluan apa-apa. Mata kuliahnya kosong hari ini. Ia hanya asal pergi asal jangan berada di dekat Jhon. Ia terlalu malu dan rasanya sangat menyedihkan. Dengan langkah panjang ia menuju toilet dan masuk ke kamar mandi dan memuaskan tangisnya di sana. Rasanya sangat sesak dan sakit di bagian dadanya. Ia menangis hingga lama di sana tanpa ada yang mengganggu.
Setelah merasa agak baikan ia menelepon Robert untuk minta penjelasan atas larangan pertemanannya dengan Dhira dan Vanya. Lagi lagi ia menitikkan air mata, nomor papinya tidak bisa dihubungi. Dan itu sudah sejak tiga hari. Kemarin saat bertanya ke pada Jhon katanya Robert pergi lagi ke Belanda. Sempat galau karena papinya pergi tanpa memberitahukannya. Memang jika Robert ada di LN maka Jhon lah yang berkuasa atasnya. Mengatur segalanya dan terasa justru lebih ketat dari pada papinya.
"Hai Ara. Lama nggak jumpa." Sang manager menyapanya.
"Hem. Sibuk. Berikan aku minuman yang enak dan mahal."
"Sendirian? Mana yang lainnya?"
"Emangnya nggak boleh ke sini tanpa mereka?"
"Ya enggaklah. Tumben aja sendiri. Sepertinya lagi ada masalah?"
"Nggak. Hanya ingin minum aja."
Ia minum perlahan dengan pikiran kacau. Tidak ada niat untuk mabuk hanya sekedar meringankan pikiran. Tapi seteguk dua teguk terus berlanjut hingga habis lebih sebotol. Rasanya kepalanya sudah ringan dan terasa mengawang.
Tiba tiba ia teringat Dhira. Di ambilnya ponselnya dan menghubunginya.
"Dhi, temani aku. Aku sendirian. Sepi dan gelap rasanya."
"Lho kamu dimana?"
"Bar biasa."
"Kamu mabuk? Suaramu kok aneh?"
"Hahaha hanya sedikit. Sedikitttt sekali. Tapi ternyata bisa membuatku melayang begini."
"Asataga Ara. Apa yang kamu lakukan? Bersama siapa kamu di sana?"
"Udah kubilang aku sendiri. Makanya sepi. Datanglah temani aku. Hanya kamu dan Vanya yang paling setia padaku."
__ADS_1
"Tunggulah di sana! Jangan kemana mana dulu!"
"Iya teman. Coba semua orang sebaik kamu. Aku pasti baik baik saja."
"Kamu udah makin ngelantur. Tutup teleponnya. Aku akan ke sana."
"Iya. Jangan lama lama. Vanya mah tidak mungkin datang. Dia sibuk kencannn muluuuu."
"Iya."
***
Di mobil Leo Dhira mengomel pada Ara.
"Tapi kakimu baru sembuh. Tempat itu juga terlalu jauh. Bagaimana kalau nanti sakit lagi?"
"Nggak bakalan. Maaf ya, aku harus ke sana. Makan malamnya besok besok aja." Rencana makan malam pun terpaksa gagal.
"Nggak. Kita tetap makan malam bersama. Aku akan mengantarmu ke sana. Setelah itu kita makan."
"Tapi..."
"Nggak ada tapi." Leo mendekati Dhira dan memasang sabuk di pundak gadis itu.
Debaran jantung Dhira makin hari makin menggila setiap Leo dekat padanya. Ia menoleh ke samping kaca untuk menyembunyikan wajahnya yang rasanya makin lebar dan berubah warna.
Telapak tangan Leo menempel di pipi kiri Dhira. Membuat wajah itu menghadap padanya. "Kenapa? Kok buang muka begitu?"
"Eh a...tidak. Anu...aku...hanya..."
Cup
Leo mengecup pipi Dhira. "Rugi rasanya kalau tidak mencium mu."
Rona merah di wajah Dhira makin jadi. Ia mengerjap tak menentu. Leo selalu berhasil membuatnya melambung dan merasakan keindahan. Setiap Leo menciumnya rasanya dunianya penuh warna dengan bunga bunga indah.
"Kamu sekalipun belum pernah mencium ku. Selalu aku yang melakukannya. Aku ingin merasakan dicium."
"Ihhh kamu ini genit banget sih. Awaslah. Kalau mau pergi ayo jalan." Dhira mengalihkan pembicaraan.
"Sekali aja cium dong."
"Nggak mau. Kamu sudah sering mencuri cium dariku. Sekarang tuntanmu tidak masuk akal." Dhira memilin jemarinya. Gugup karena Leo semakin mendekatkan wajahnya.
Leo menempelkan pipinya ke bibir Dhira. "Begini pun jadilah." Ucapnya tanpa berniat menarik pipinya.
"Leo...awas..." Dhira mendorong bahu Leo.
"Oke." Leo mundur. Tapi saat itu juga tiba tiba Dhira memajukan wajahnya dan mencium pelan pipi Leo.
"Wah...em...senangnya hatiku. Coba sekali lagi."
Dhira pun melakukannya, ia memajukan bibirnya untuk mencium pipi Leo.
Tapi Leo dengan curang memberikan bibirnya. Dan tidak melepaskan Dhira. Di lakukannya dengan sepenuh hati membuat mereka berdua bagai terbang. Untuk pertama kali Leo men*kmati bibir indah itu untuk lebih lama.
Tanpa sadar Dhira mencengkram lengan Leo. Ia bagai tersengat listrik tapi tidak merasakan sakit. Yang ada malah keindahan yang belum pernah sama sekali dirasakannya. Malah untuk membalas pag*utan Leo ia tidak bisa. Ia hanya berdiam dengan perasaan tak tergambarkan.
Leo berhenti. Ia tersenyum bahagia. Dengan ibu jarinya di lapnya bibir basah Dhira akibat perbuatannya. "Manis..." Ucapnya.
Dhira lagi lagi merona. "Ayo kita pergi."
"Oke." Dengan senyum yang tak bisa hilang dari bibirnya, Leo mulai menyetir. Sepanjang jalan ia begitu bahagia dan berbinar. Tangannya tak melepas tangan Dhira. Selalu di genggamnya dengan erat.
__ADS_1