
Rendra hanya meringis dan berusaha bangun dari tanah.
Kim beralih ke Dhira yang sudah duduk dan sibuk menepuk-nepuk kepalanya. kemudian meraih tas miliknya yang sudah terbuka. Cepat-cepat ditutupnya dan ditaruhnya di bahunya.
"Butuh bantuan Pak?" Kim mengulurkan tangannya menolong Dhira.
Dhira belum ingin Leo tahu soal Rendra, juga tidak ingin ada yang tahu soal ibunya selain dirinya dan Leo. Ia berpikir keras cara mengusir Kim dari tempat itu.
Dhira menggunakan tangannya memberi syarat mengusir Kim dengan kasar.
Bahkan ia mengambil batu dari tanah dan mengancam Kim. Diancungkannya batu itu ke arah wajah Kim.
"Oh, oke. Aku akan pergi ya...aku pergi." Kim mengangkat kedua tangannya menyerah sambil mundur. Dari pada kena timpuk batu, lebih baik ia pergi mundur. Toh ini bukan urusannya.
Begitu Kim pergi jauh dengan mobilnya, Dhira melompat menerjang Rendra.
Begitu juga dengan Rendra ia tidak mau kalah ia membalas setiap pukulan Dhira. Bukan hanya saling memukul, tapi mereka juga bergulat. Rendra ternyata jago gulat. Buktinya ia bisa menggulung Dhira dan berada dibawah kungkungannya.
"Pada akhirnya kau menyerah!" Ejek Rendra memandang Dhira penuh kemenangan. "Aku tidak akan melakukan apapun selama kau baik dan penurut. Tinggal katakan dimana ibumu!"
"Ciihh..." Dhira meludahi Rendra. "Dasar penjahat. Katakan kenapa kau mengincar ibuku!"
"Arrrggghh...wanita brengsek! Berani sekali kau meludahi ku!" Rendra mengangkat tangannya hendak memukul wajah Dhira.
"Ke sini mendekat. Akan ku katakan dimana ibuku berada."
Dhira membuat wajah dan tubuhnya mengalah.
Rendra mendekatkan wajahnya setelah menurunkan tanganya.
Tuukkkkk
Baru saja wajahnya mendekat, Dhira menghantam hidung Rendra dengan sangat keras menggunakan dahinya. Sangat kuat hingga darah mengucur dari kedua lobang hidung Rendra.
Dhira menggunakan saat itu menarik tangannya dan meninju rusuk Rendra.
Jeritan tertahan keluar dari mulut Rendra. Nampak wajahnya memerah menahan nafas karena sakit luar biasa di bagian rusuk hingga perutnya. Lalu ditambah di bagian lehernya. Rasanya tubuhnya melemas dan tak bertenaga.
Kini posisi mereka berganti. Dhira yang menduduki perut Rendra. Di tariknya kulit leher Rendra bahkan hingga ujung kukunya menancap sempurna menembus kulitnya. Ditatapnya Rendra dengan sangat buas, lalu mata itu berair menahan tangis.
"Kenapa? Apa kau ingin memohon dengan air mata?" Rendra masih sanggup mengejek walau rasa panas seperti terbakar mengelilingi lehernya.
Dada Dhira turun naik disertai berjatuhannya air matanya.
"Aku sedang tidak ada waktu meladeni mu! Haruskah ku patahkan leher mu ini agar kau mati saja? Haruskah aku membuatmu menemui istrimu Nayla dengan cara seperti ini! Haruskah aku menjadi pembunuh?!" Teriak Dhira hingga air ludahnya muncrat, menyatu dengan air matanya.
Kedua tangannya yang mencengkram leher Rendra bergetar hebat. Wajahnya juga sangat menyeramkan apalagi dengan matanya yang merah dan melotot tapi dibanjiri air mata.
Bisa saja ia melakukan ancamannya. Membuat Rendra mati saat ini juga. Hanya sekali pukul ia bisa mematahkan leher Rendra.
Tapi otaknya masih sanggup menyadarkannya. Jika ia melakukannya maka apa yang akan terjadi bila dirinya berada di balik jeruji besi? Bagaimana dengan ibunya?
Rendra tak bisa menggambarkan perasaannya melihat mata Dhira yang sangat marah dan bersimbah air mata. Seluruh tubuhnya merinding, ditambah mendengar nama istrinya hingga membuatnya bergetar.
"Nyawa ibuku sedang diambang kematian! Tidak bisakah kau menyingkir? Aku mohon pergi dariku! Aku sedang ditunggu! Nyawa ibuku sedang diujung tanduk..." Dhira mengguncang leher Rendra dengan cengkeramannya. Tetesan air matanya berjatuhan ke dada dan leher Rendra hingga basah. "Jangan membuatku menyesal karena tidak bisa menyelamatkan nyawa ibuku!" Kali ini nada Dhira lebih mirip pemintaan.
"Aku mohon...aku hanya punya ibuku. Jika terjadi sesuatu padanya, aku akan menyesal tidak membunuhmu!!!" Teriak Dhira. Lagi-lagi air mata dan ludahnya memuncrat kemana mana.
Rendra bagai tertarik ke alam lain. Rasa sakit menusuk ulu hatinya melihat keadaan Dhira. Tiba tiba saja ia bisa mengerti dengan tangisan Dhira. Ia melemas dan menatap Dhira dengan mata berkabut.
Ia sangat memahami arti menyesal. Dirinya yang dipenuhi penyesalan atas meninggalnya istrinya. Setelah meninggal tidak ada apapun lagi yang bisa dilakukannya. Hanya tinggal penyesalan yang bercokol dihatinya sepanjang sisa hidupnya.
Apakah sebenarnya yang dikerjakannya. Apa tindakannya sungguh membuat nyawa seseorang melayang? Diantara kebingungannya, hantaman di pipinya membuat darah makin banyak mengucur dari hidungnya.
__ADS_1
"Pergilah! Selamatkan ibumu." Suara Rendra bergetar tanpa melihat ke wajah Dhira. Ia menyembunyikan matanya yang berair.
"Satu lagi, kenapa kau mencari ibuku?" Satu pukulan menyusul lagi.
"Maafkan aku. Aku tidak akan melakukannya lagi." Rendra menyesal telah membuat hidup Dhira dan ibunya begitu susah.
"Katakan! Untuk apa kau mencarinya!"
"Aku hanya menerima imbalan dari orang lain. Aku tidak tahu untuk apa."
"Katakan siapa orangnya!"
"Aku tidak bisa mengatakannya. Maaf."
"Katakan!!!" Teriak Dhira. Ini adalah kesempatannya mengetahui alasan ibunya di buru.
"Aku akan dibunuh bila buka mulut." Rendra masih menjauhkan pandangannya dari Dhira. Karena air matanya sudah merembes. "Lebih baik mati ditangan mu dari pada ditangan orang itu." Dengan berani dialihkannya matanya ke mata Dhira. "Karena aku yakin kau bukan seorang pembunuh."
"Aaaaaa...!" Dhira menjerit. Ia sangat kesal. Dikiranya inilah waktunya ia tahu semuanya. Tapi ternyata belum.
Tiba tiba Dhira teringat ibunya yang sedang menunggu dirinya di rumah sakit. Entah sudah berapa waktu yang dilewatkannya. "Hentikan semuanya. Jangan mencari ibuku lagi. Atau tidak ada ampun bagimu!" Ia bangun dari perut Rendra. Berlari mengambil tas miliknya.
Disampirkannya tali tas ke pundaknya dan berlari dari tempat itu.
"Tunggu!"
Kaki Dhira berhenti. Ia menoleh ke belakang di mana Rendra masih terbaring di tanah.
"Di tasmu ada pelacak. Jika tidak membuangnya aku akan tetap bisa mengikuti mu."
Dhira membongkar tasnya sambil mengumpat. Di lemparkannya alat pelacak yang ditemukannya ke tanah dan menginjak injaknya.
"Jangan lupa ganti ganti penyamaran mu. Aku yakin orang itu sudah tahu siapa di balik penampilanmu yang sekarang." Rendra juga mengingatkan, agar Dhira berhati hati.
Dhira tiba di rumah sakit dengan penampilan berbeda. Sambil melangkah memasuki loby tak sedikitpun matanya melewatkan sekitarnya. "Hah ini terlalu berbahaya. Semoga setelah ibu operasi tidak ada masalah lagi. Aku tidak bisa terus menerus mengandalkan penyamaran ini. Siapapun itu musuh ibu pasti tidak akan menyerah."
Dhira bernafas lega setelah berada di lantai delapan dimana ibunya berada. Tidak ada hal mencurigakan. Semua aman.
Tapi ia cukup terkejut saat melihat Leo sudah ada di sana. Apalagi mereka semua terlihat cemas dan mondar mandir di ruangan itu. Terlebih ibunya sudah tidak ada di sana. Ranjang pasien sudah kosong.
"Ibu kemana?" Tanya Dhira dengan wajah pucat.
"Ibu Amelia sudah di ruang operasi. Kami menunggu anda untuk persetujuan." Perawat menyodorkan kertas ke hadapan Dhira.
"Ayo tanda tangani. Ibu hampir tidak kuat lagi Andhira." Ujar Leo.
Dhira mengangguk. Ia membubuhkan tanda tangan di kertas. Setelah itu, mereka pergi ke area tempat operasi.
Dhira dan Leo dengan penampilan serta wajah orang lain duduk menunggu di luar ruangan operasi. Dhira terus terus memanjatkan doa agar ibunya selamat. Bahkan beberapa kali ia terisak.
"Ibu pasti kuat." Leo menepuk bahu Dhira memberi semangat.
"Masih banyak yang ingin kulakukan bersama ibu. Aku belum melakukan apapun untuk berbakti padanya. Beliau selama ini hanya berada dalam kesusahan. Dari aku kecil tak pernah merasakan hidup senang. Sepanjang hari hanya bekerja agar aku bisa sekolah. Sekarang aku sudah bisa cari uang. Aku ingin membuat ibu menikmati hidup. Untuk itu ibu harus kembali sehat. Aku sudah bisa diandalkan. Aku akan membahagiakan ibu." Ungkap Dhira berderai air mata.
"Iya. Keinginanmu itulah yang akan membuat ibu kuat." Leo tak bosan bosan mendengar keluhan Dhira.
Sudah empat jam tapi proses operasi Amelia belum selesai. Membuat Dhira makin takut. Tiga kali perawat keluar masuk dengan berlarian membawa sesuatu di tangan disertai wajah cemas. Jantung Dhira tidak bisa tenang. Deg degan selama setengah hari ini.
Akhirnya jam tujuh malam, operasi selesai. Wajah para dokter yang menangani terlihat letih dan lesu.
"Bagaimana keadaan ibu saya Dok?" Tanya Dhira dengan lemas. Mimik para medis di depannya sangat mempengaruhi pikirannya.
"Operasinya berhasil. Sempat terjadi sedikit masalah. Tapi berkat kegigihan pasien dan para teman di sini bisa terkendali. Tinggal observasi ketat kemudian pemulihan. Ingat walau sudah di katakan sembuh ibu Amelia masih dalam pengawasan dokter setidaknya selama setahun ke depan. Rutin cek dan menerapkan hidup sehat."
__ADS_1
Bagai lepas dari ikatan rantai berat perasaan Dhira dan Leo. Mereka bernafas lega. Wajah mereka kembali berseri dengan asa kehidupan.
Begitu para dokter pergi, Dhira melompat memeluk Leo sambil menangis haru. Mereka berpelukan erat melebur segala rasa berat hingga lega.
"Terimakasih. Tanpamu kami tidak bisa melewati semuanya. Tanpamu entah seperti apa nasib ibuku." Bisik Dhira di sela tangisnya.
"Hm. Sekarang kita sudah tenang. Tinggal pemulihan ibu." Jawab Leo mengeratkan pelukannya. Betapa hatinya bahagia dengan apa yang bisa dilakukannya. Walau telah mengeluarkan biaya yang sangat besar tidak menjadi beban sedikitpun baginya. Justru ada rasa kemenangan dan lega. Inilah mungkin yang dinamakan cinta tulus. Ia tidak perhitungan dengan segala yang dilakukannya. Semampunya dilakukannya demi cintanya.
***
Pagi harinya, Leo bersiap berangkat kerja. Sebenarnya ia masih ingin menemani Dhira menjaga Amelia. Tapi tuntutan tanggung jawabnya di perusahaan juga penting. Apalagi ia sudah sering tidak masuk. Untung ada Rudy dan Kim yang selalu menggantikan dirinya di saat diperlukan.
Bell rumah membuatnya urung memakai dasi. Ia ke depan dan membuka pintu.
"Mami?"
"Kenapa? Setiap mami datang ke sini kamu selalu terkejut. Apa kamu tidak menginginkan mami datang?" Entah kapan ibu dan anak ini bisa bicara lembut. Selalu tegang.
"Aku mau ke kantor."
"Itu yang mau Mami tanyakan! Kenapa kamu sering tidak masuk kantor. Apa yang terjadi? Apa kamu ada masalah serius?"
"Tidak ada masalah. Hanya banyak urusan." Leo melanjutkan memasang dasinya.
Sementara Meli dari belakang menatap putranya dengan tajam. Seakan ada yang ingin ia katakan.
"Kalau nggak ada yang penting, Aku mau berangkat Mi."
"Kita semobil. Mami juga ingin ke kantor."
"Lho mobil Mami kemana?"
"Aku ingin bersama putraku, apa salah?" Meli tak senang dengan penolakan Leo.
"Bukan begitu. Aneh aja Mami tiba tiba mau bareng."
"Sambil ada yang mau Mami katakan padamu."
Leo tidak membantah. Ia mengunci rumah dan berangkat.
"Kalau Mami mau membicarakan kencan buta atau semacamnya, mending nggak usah. Aku tidak tertarik." Leo memulai pembicaraan sambil menyetir.
Meli menoleh ke samping. Menatap putranya dengan intens. Iris coklat muda dipelupuk Amelia mengawasi wajah putranya begitu lama. Seakan menyampaikan sesuatu namun ragu mengungkapkannya.
"Apa Mi? Apa mami hampir lupa wajah ini. Sehingga berusaha menghafalnya?" Leo malah menyindir.
"Jujur padaku. Untuk apa kamu membutuhkan uang sebanyak itu?"
Leo bagai terketok. Ia tidak menyangka maminya akan membahas soal uang. Ia mendesah pelan lalu membalas tatapan maminya. "Untuk investasi di perusahaan lain."
"Sebanyak itu? Ku rasa dengan jumlah hampir dua milyar bukan lagi bentuk investasi. Tapi pembelian. Perusahaan mana?"
"Mami nggak usah repot repot memikirkan soal pekerjaanku. Ini usaha ku sendiri."
"Apa papimu tahu?"
Leo menggeleng.
"Jika hanya demi usaha, untuk apa menarik saham dari PT Anugrah? Perusahaan itu cukup bonafit dan memberi hasil memuaskan. Apa alasanmu melakukannya."
"Investasi ditempat baru lebih menguntungkan." Jawab Leo asal.
Meli masih menatap Leo yang melihat lurus ke jalan. Ia tidak percaya dengan Leo. Selama sebulan lebih ia mencari tahu tentang kesibukan Leo. Suaminya jika ditanyai atau diajak mengobrol soal Leo tidak pernah di sambut. Kim juga sama. Asisten putranya itu tidak tahu apapun. Ia tidak percaya dengan pangakuan Leo. Ia tahu betul putranya bukan orang yang mudah mengambil keputusan. Apalagi soal investasi. Ia sangat penasaran tapi tidak ada celah baginya untuk tahu.
__ADS_1