Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Belenggu Hutang


__ADS_3

Sebuah harapan terbuka. Jika benar berkaitan dengan Amelia, Dhira tidak akan menyia-nyiakan pertemuan ini. Ia akan bekerja keras agar masalah ini terungkap. Ia sudah sangat tidak sabar ingin tahu siapa yang membuat ibunya terancam.


Tanpa membuang waktu, ia langsung bergerak dari tempatnya menuju tempat yang di sebut.


Hanya sepuluh menit, Dhira sudah sampai. Tempatnya ternyata sebuah cafe mewah yang biasa dikunjungi orang dari kalangan atas.


Dhira memasuki cafe dengan pandangan menyapu semua tempat memastikan si pengirim pesan memberi kode.


Sambil berjalan ia memeriksa tiap meja yang berisi yang mayoritas pengunjungnya adalah wanita cantik dengan komplotannya masing masing.


Sepuluh menit Dhira berdiri mencari petunjuk siapa yang mengundangnya datang. Namun tidak ada diantara mereka yang menunjukkan diri padanya.


Ponselnya bergetar, cepat cepat dilihatnya. Pesan dari nomor yang sama menyuruhnya naik ke roof top. Ia bertanya ke pelayan lewat mana jika naik ke atas.


Setelah mendapat petunjuk, ia naik dengan perasaan tidak enak. Ia takut ini jebakan atau hal lain bertujuan buruk. namun meski begitu, ia tetap naik dengan hati-hati.


Tibalah ia di lantai paling atas. Tempat luas tanpa atap. Ada pagar besi sebatas dada di sekeliling bangunan. Kemudian beberapa tower air juga jemuran pakaian.


Sekitar dua puluh meter dari tempatnya, ada seorang wanita berdiri membelakanginya. Rambut dan ujung dress-nya melambai lambai tertiup angin. Dilihat dari bagian belakang, wanita bukanlah wanita biasa. Terlihat jelas dengan tas tangan yang menggantung ditangannya.


Dhira mendekat tanpa suara. Aroma wangi parfum dari wanita di depannya memasuki hidungnya. Setelah sekitar tiga meter ia berhenti.


"khem!" Dhira berdehem pelan.


Wanita itu memutar tubuhnya.


Dhira sangat terkejut melihat wajah wanita di depannya.


"Ibu direktur?" Ucapnya pelan. Hatinya langsung menciut begitu tahu siapa wanita itu.


Wanita itu adalah Meli, yang memandang Dhira dengan tatapan angkuh dan marah.


Dhira menunduk. Tiba tiba ia tidak tahan melawan tatapan Meli. Rasanya semua keberaniannya hilang meninggalkan dirinya. Ada rasa tidak percaya diri mengingat wanita dihadapannya adalah ibu dari kekasihnya.


"Bagaimana rasanya memiliki uang banyak? Menyenangkan bukan?" Pertanyaan yang sengaja dilemparkan Meli untuk memastikan apakah tebakannya benar, atas uang yang telah dikeluarkan Leo.


Deg...jantung Dhira berdetak keras. Seketika darahnya seperti berhenti mengalir. Membuatnya kaku hingga tidak bisa berkata-kata.


Ia mengangkat wajahnya pelan . Pikirannya langsung ke beberapa hari lalu saat operasi ibunya. Biaya yang telah dikeluarkan Leo. Inilah yang ditakutkannya, dirinya akan merasa bersalah karena memiliki hutang.


Meli berjalan mengelilingi Dhira. "Kau sungguh wanita hebat. Sanggup menipu kami dengan jumlah uang yang sangat besar. Padahal kau bukan siapa siapa kami. Jangan kau kira kami bodoh! Kau anggap Leo apa, hah!" Teriak Meli. Terlihat wajah wanita itu memerah. Melihat reaksi wajah Dhira ia sudah tahu jawabannya. Dugaannya tidak salah. umah sebanyak dua miliar itu, di Erika putranya pada Dhira.


Dhira tidak bisa bicara. Ia hanya bisa menunduk lebih dalam. Ia tahu posisinya saat ini adalah orang yang harus merendah.


"Model wanita begini yang akan menjadi pendamping hidup putraku?! Cihhh aku tak sudi menerimamu! Wanita ganjen yang menginginkan harta orang lain hanyalah sampah!" Tuding Meli ke wajah Dhira.


Dhira merasa terpental jauh hingga terbentur dan merasa jiwanya terkungkung dalam kepedihan. Sakit juga malu itulah yang dirasakannya.


"Ilmu apa yang kau perbuat sehingga Leo menjadi bodoh begitu! Kami akan membiarkan penipu sepertimu!"

__ADS_1


Tidak tahan lagi mengemban tekanan yang dirasakannya, Dhira memberanikan diri mengangkat wajahnya dan mencoba membela harga dirinya.


"Bu, maaf sekali. Saya tidak menipu. Soal uang yang telah saya pakai, saya janji akan membayarnya kembali. Beri saya waktu." Itulah mengapa ia tak pernah menganggap uang yang telah dikeluarkan Leo sebagai bantuan.


Ia tahu jika sudah menyangkut uang akan sangat sensitif. Dan saat ini ia bisa menerima kemarahan Meli. Karena memang benar ia telah meminjam sejumlah uang dari Leo.


Namun dikatai penipu, membuat hatinya makin perih dan sakit. Semiskin-miskinnya ia tidak pernah berniat menjadi penipu. Kalau saja bukan menyangkut nyawa ibunya, ia tidak akan pernah mau menerima uang dari siapapun.


"Hah! Bukan hanya otakmu yang matre tapi mulutmu juga besar! Apa katamu? Membayarnya? Dari mana kau mendapatkan uang sebanyak itu! Katakan! Sombong sekali kau ini!" Meli menunjuk-nunjuk wajah Dhira dengan wajah murka.


"Saya bersungguh sungguh Bu, saya pasti akan membayar semuanya. Bukan tipe saya meminta minta. Tapi keadaanlah yang harus membuat saya seperti sekarang." Ucap Dhira pelan.


"Dasar gadis kampung bodoh! Sampai matipun kau tidak akan mampu membayarnya. Apa yang bisa kau lakukan untuk mendapatkan uang dua miliar? Dua miliar!!! Apakah uang segitu hanya seujung kuku bagimu? Bila benar, katakan siapa dirimu! Anak seorang miliarder?" Cerca Meli.


Seketika kaki Dhira bergetar mendengar angka yang keluar dari mulut Meli. Dua miliar? Benarkah sebanyak itu? Kepala Dhira serasa dihantam benda keras hingga rasanya seperti gelap dan berputar putar.


"Huh! Lihat wajahmu itu! Kau seperti mayat. Kau takut mendengar jumlah itu! Kau tahu, Leo mengorbankan perusahaan yang baru dirintisnya demi memberimu uang itu! Ia menjual saham nya tanpa pertimbangan dari orang tuanya. Dia telah menghancurkan masa depannya sendiri. Dimana pikiranmu? Otakmu bagai sebuah beling tajam yang bisa membuat putraku terluka!" Meli menjerit.


Dhira hanya berdiri dengan dengung di telinganya. Seperti ada yang menyumbat telinganya sehingga udara saja seperti tidak bisa masuk. Bayangan jumlah uang yang bagai dongeng baginya membuatnya bagai tak bernyawa.


"Setelah dua milliar, berapa lagi yang kau inginkan hah? Berapa lagi?" Meli mendorong Dhira dengan kasar hingga terduduk di lantai. "Jangan harap kau bisa hidup tenang! Kembalikan semua uang kami!"


Dhira menarik nafas panjang. Dengan lesu ia berdiri.


"Kenapa? Kemana kesombongan mu itu? Apa sekarang kau sudah sadar diri? Itu sebabnya aku tidak menyukaimu! Orang sepertimu hanya menimbulkan masalah dan penyakit bagi ketentraman orang! Sudah miskin tidak tahu diri pula. Mencoba menipu kami? Coba sajalah! Kau akan menyesal! Ingat kembalikan uang kami!" Setelah membuat Dhira tidak bisa berkutik sedikitpun, Meli beranjak dari tempatnya. Dengan angkuh ia melangkah dan sengaja menyenggol Dhira hingga gadis itu terjatuh lagi.


Ancaman serius begitu tegas dari nada nya. Usahanya memindahkan Leo ke LN tidak berhasil. Kini usahanya adalah memisahkan Leo dan Dhira.


Dhira masih dengan posisinya terduduk di lantai. Wajahnya pucat disertai bulir bening mulai berjatuhan dari matanya. Tapi tak dibiarkannya air itu semakin banyak. Diusapnya kedua belah pipi dan matanya kemudian bangkit. Dengan terburu buru ia menuruni tangga.


Setelah di dalam taksi, ia menelpon dokter yang merawat ibunya dan bertanya biaya sebenarnya yang sudah dihabiskan ibunya. Setelah mendengar semua dari dokter itu, ia tidak bisa berkata kata lagi. Tubuh dan otaknya melemas. Bagiamana ia akan melunasi semua itu?


Ia masih ingat seminggu yang lalu Leo mengatakan paling sekitar seratus juta biaya yang dikeluarkannya. Lalu apa ini? Leo membohongi dirinya. Tak bisa menahan diri lagi ia terisak tertahan. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Kemana ia harus mencari uang sebanyak itu?


Dhira tidak kembali ke kantor. Ia malah ke sebuah tempat yang lumayan jauh dari perkotaan. Baru baru ini ia punya tempat yang bisa dikunjunginya saat ingin sendiri. Dipuaskannya menangis di tempat itu. Tak akan ada yang melihat atau mendengarnya.


"Haaaaa...haaaa...aaaaa...." Ia menangis keras. Dorongan rasa sedih dari hatinya membuatnya tak malu meraung seperti anak kecil.


Cukup lama ia menangis hingga terasa lebih lega sedikit. Meski keadaan sudah mulai gelap ia masih betah duduk bersender di bebatuan dengan kedua kaki menekuk. Sedangkan wajahnya ditelengkupkannya di atas kedua lututnya.


Tak digubrisnya suara ponselnya yang entah sudah berapa kali berbunyi. Tidak ada keinginan untuk berbicara dengan siapapun. Sekarang yang dibutuhkannya adalah sendirian. Karena terlalu bising, dinonaktifkan nya ponsel itu dan kembali menelungkupkan wajahnya ke lututnya.


Tanpa sadar, ia telah tertidur tanpa merubah posisi tubuhnya. Melupakan sejenak yang berkutat di otaknya yang sempat panas memikirkan yang sudah terjadi.


***


Di rumah Dhira, Leo, Vanya Arga kebingungan mencari Dhira. Mereka bertiga sibuk melakukan panggilan tapi tak kunjung ada sahutan.


Leo sudah menelepon ke rumah sakit memastikan Dhira ada di sana. Namun jawaban yang didengarnya makin membuatnya khawatir. Kekasihnya tidak ada ke sana. Lalu kemana Dhira?

__ADS_1


"Van, apa nggak ada kira kira teman atau kenalan Andhira yang mungkin dikunjunginya?" Tanya Leo.


Vanya menggeleng. "Dia bukan tipe orang yang suka mendatangi rumah orang. Ia hanya terbiasa datang ke rumahku."


"Lalu kemana dia? Tidak mungkin tidak ada sesuatu, sampai tasnya ditinggalkannya begitu saja di kantor. Pasti ada hal yang mendesak." Leo menggusak ujung rambutnya dengan kasar. Betapa ia sangat bingung kemana Dhira pergi.


Vanya menggigit ujung kukunya dengan wajah gugup. Pikirannya menduga, situasi Dhira saat ini ada hubungannya dengan Rendra. Ingin mengungkapkannya tapi takut salah. Apalagi Dhira pernah bilang tidak boleh mengatakan soal Rendra pada Leo.


"Kenapa wajahmu begitu? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?" Arga memperhatikan gelagat Vanya.


"Nggak. Aku sedang mencoba memikirkan kemana Dhira pergi." Vanya menggaruk kepalanya lalu mondar mandir.


"Apa mungkin ia bersama Ara?" Tiba tiba Arga mengingat nama Ara.


"Ngapain? Kami sudah lama tidak berhubungan dengan nya."


"Siapa tahu. Soalnya hanya kalian berdua yang menjadi teman dekatnya." Arga mengutak-atik ponselnya mencari nama Ara. Namun tidak ditemukannya. Karena Vanya telah menghapusnya.


"Coba telpon deh! Nih ku bacain nomornya." Meski Vanya sudah menghapus nomor Ara namun, ia masih hafal.


Setelah mencatat beberapa nomor di ponselnya, Arga meneleponnya.


"Hallo Ara..."


"Hallo iya. Ada apa kak Arga? Tumben meneleponku?" Sahut Ara.


"Begini, apakah Dhira ada bersamamu? Atau menemui mu hari ini?"


"Tidak ada Kak. Kami sudah lama tidak bertemu atau berkomunikasi. Emang ada apa Kak?"


"Ah Dhira menghilang."


"Hilang gimana?"


"Iya. Dhira tidak terlihat juga tidak bisa dihubungi sejak siang tadi. Kami khawatir padanya."


"Vanya di mana?" Tanya Ara.


"Ada di sini. Kami sudah kehabisan akal mencarinya. Makanya menelepon mu. Maaf ya, telah mengganggumu."


Arga mematikan sambungan telepon. Mereka saling memandang dengan wajah bingung.


Sementara di rumah Ara, gadis itu mengambil jaketnya dan berlari keluar menuju garasi. Ia mengeluarkan mobilnya dan dalam waktu singkat ia sudah melesat pergi membelah malam menuju suatu tempat.


Ia yakin Dhira sedang berada di suatu tempat. Saat sahabatnya itu bermasalah biasanya ia lebih suka mengasingkan diri. Diputarnya otaknya kira kira di mana Dhira berada. Tak lupa ia mengunjungi taman yang ada di belakang kampus tempat Dhira kuliah beberapa bulan lalu. Dulu tempat itu adalah tempat favorit Dhira jika ingin sendiri.


Namun setibanya di sana Ara kecewa. Tidak ada siapa siapa di sana. Sempat berkeliling disekitarnya berharap menemukan Dhira. Tapi gadis itu tidak ada. Tidak habis akal, Ara ke cafe yang sering mereka kunjungi, siapa tahu Dhira ada di sana sedang berkaraoke sendirian. Dan usahanya pun gagal. Tidak ada tanda tanda Dhira mengunjungi tempat itu.


Sebenarnya semenjak kejadian di bar waktu Jhon menghina Dhira, hingga hari ini ia mengambek pada papinya. Ia keras kepala tetap ingin berteman dengan Dhira dan Vanya. Tapi Robert tetap tidak memperbolehkannya. Bahkan larangan tetap berlaku meski ia mogok kuliah.

__ADS_1


__ADS_2