Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Memohon


__ADS_3

"Apa belum jelas? Rudy papimu berpacaran dengan ibuku dulu. Setelah ibuku hamil, Rudy tidak mengakui kandungan ibuku. Lalu dengan jahatnya Rudy dan Meli berselingkuh dan berencana membunuh ibuku. Itulah sebabnya Meli memburu ibuku dan ingin membun*hnya. Agar kejahatannya dulu tidak terbongkar!" Setengah menangis Dhira menjelaskan pada Leo.


"Aku jamin Papi ku tidak seperti itu!" Leo memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Dhira. "Kau memfitnah orang yang tak bersalah. Apa bukti dari tuduhan mu?"


Bola mata Dhira menyala dan dipenuhi amarah. "Meli sendiri yang mengatakannya padaku saat kalian datang ke rumahku pada malam itu. Dia mengaku telah menyekap ibuku. Mengancam akan menyakiti ibuku bila aku berani melawannya!"


"Hah? Bagaimana mungkin?" Leo hampir oleng. Tangannya meraih pintu untuk berpegangan. Kepalanya rasanya mau pecah.


"Aku mengancamnya akan mengumbar siapa Ara sebenarnya untuk membuatnya melepaskan ibuku."


"Mamiku mengakuinya?" Tanya Leo pelan. Kedua matanya meredup sangat tidak mengerti dengan semua yang terjadi.


"Ya! Dia bilang akan mengir"s sedikit demi sedikit bagian tubuh ibuku bila aku berani melakukannya." Tangis Dhira pecah.


Leo termangu, apa yang barusan didengarnya sungguh tidak masuk diakal. Mana mungkin maminya yang mudah syok dan terbilang lemah itu punya nyali sekejam itu?


"Ohhh...!!" Leo memegangi kepalanya. "Aku bisa gila mendengar kalian semua. Pergilah sebelum aku benar benar gila!" Leo mengibas tangannya menyuruh Dhira pergi. Sekarang otaknya berhenti bekerja. Terlalu banyak hal mengejutkan yang dialaminya sehingga kepalanya benar benar buntu.


"Terserah! Kau berhak mempercayai siapa pun. Tapi ingat urusan ku dengan mamimu belum selesai. Jika ibuku terluka aku tidak peduli siapapun itu, akan ku hancurkan hidupnya!" Selesai bicara seperti itu, Dhira pergi dengan langkah cepat. Meninggalkan Leo yang frustasi.


Leo menengadah ke langit-langit rumah sembari membuang nafas kasar. Sungguh saat ini kepalanya sangat berat dan sakit. Apalagi kata-kata Dhira terngiang terus di telinganya mengatakan soal maminya.


"Ada apa sebenarnya ini?"


"Kenapa menjadi begini?"


Malam itu Leo sedikitpun tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya berusaha memecahkan permasalahan dengan segala pertimbangan. Ia mempercayai papinya. Tidak mungkin papinya pernah melakukan hal keji seperti itu.


Ditambah keyakinan papinya saat menjawab pertanyaannya tentang Andhira. Mata Rudy tidak ragu atau takut sedikitpun. Ia tidak meragukan mata itu. Iya yakin Papinya tidak berbohong


Lalu soal maminya menyekap Amelia. Ia juga tidak yakin. Sangat mustahil maminya bisa melakukan itu. Apalagi mengancam orang.


Tapi ia juga tidak meragukan Dhira. Tidak mungkin Dhira mengarang cerita. Apalagi memfitnah maminya.


"Aaakkh...pusing!!" Sampai tidak sadar Leo berteriak keras.


Hingga fajar menyingsing, Leo tak kunjung bisa tidur. Dirinya makin gelisah, takut memikirkan tindakan papinya terhadap Dhira. Bagiamana kalau papinya nekad melaporkan kekasihnya itu ke pihak berwajib, menuntut keadilan atas terlukanya maminya.


Memikirkan itulah, ia segera mandi dan pergi ke rumah sakit. Bagaimana pun ia harus mencegah papi dan maminya melakukan pengaduan.


"Selamat pagi Mi, bagaimana keadaan Mami?" Tanya Leo. Ia duduk di samping papinya yang terlihat kusut dan masih mengenakan piyama yang sama dari semalam.


Rudy hanya melirik putranya sedikit. Lelaki itu sangat cuek. Ia masih kesal dengan kejadian semalam dan harus berada di rumah sakit.


"Mami udah mendingan. Tinggal pedih sedikit."


"Syukurlah." Jawab Leo dengan wajah sedikit berbinar.


"Papi pasti lelah. Beristirahatlah di rumah. Biar aku yang menjaga Mami." Leo melihat papinya yang menunduk melihat layar ponselnya.


Rudy tidak mengindahkan Leo. Ia menutup rapat mulutnya. Terlihat kesal diajak bicara terus.


"Iya Pi, kalau papi mau pulang pulanglah dulu. Mumpung Leo ada di sini." Ujar Meli.


Barulah Rudy mengangkat wajahnya. menatap istrinya dengan tatapan iba.


"Tidak apa-apa. Aku baik-baik aja kok." Meli seperti mengerti yang dipikirkan suaminya.


Rudy menghela nafas panjang. "Kalau ada apa-apa telepon aku. Aku akan mengurus gadis itu!"

__ADS_1


"Pi, kita selesaikan secara kekeluargaan aja. Dia tidak mungkin melakukan itu. Ini pasti terjadi salah paham. Tidak mungkin Dhira berbuat seperti itu." Leo berusaha menjelaskan pada papinya.


"Apa kau bilang? Salah paham? maksud mu apa?" Mami mu nyaris kehilangan nyawa dan kau masih membelanya? Otaku sudah rusak sepertinya!" Bentak Rudy.


"Tapi dia tidak mungkin berbohong. Dia tidak melakukannya. Mungkin, Mami yang terlalu emosi sampai tidak sadar-"


"Dasar bodoh! Sekarang ku tanya, apakah kau percaya dengan tuduhannya, aku ini ayahnya? Dan aku dan mami mu telah menculik ibunya? Itu tidak masuk akal! Dia sepertinya memang sengaja masuk ke dalam keluarga kita untuk merusak kedamaian rumah tangga kita!" Potong Rudy. Kedua matanya terlihat makin marah.


"Dia punya alasan Pi. Mami dicurigai menyekap ibunya. Dan Mami sudah mengakuinya."


"Hah? Mengakui gimana? Gadis itu memang berbahaya! Kau Leo, diberikan apa sama gadis itu? Orang tuamu sendiri kau abaikan. Dia hampir merenggut nyawaku! Kalau kalian tidak masuk tepat waktu ke kamar, mungkin aku sudah berada di dalam kubur saat ini. Tapi kau masih membela gadis jahat itu?" Meli langsung menampilkan wajahnya yang teraniaya.


"Bukan begitu Mi. Oke, sekarang gini aja. Coba jelaskan apa sebenarnya yang terjadi. Biar kita tahu duduk permasalahannya."


"Leo! Mami itu masih sakit. Gunakan otakmu! Nggak nyangka ya, kau sebodoh ini!" Rudy berteriak.


"Papi jangan langsung marah. Apa salahnya dibicarain dulu. Aku bukan belain Andhira, tapi mustahil dia menus*k mami dengan sengaja."


"Kau menjadi durhaka gara-gara gadis itu! Kau percaya kalau aku yang menyekap ibunya? Ibunya aja aku tidak tahu siapa? Jika putraku tidak mempercayaiku lagi, lalu kenapa tidak kau suruh aja dia membunuhku sampai mati!" Teriak Meli. Ia sampai memegangi perutnya sabil meringis.


"Tenangkan diri mu Meli! Jangan bergerak dulu. Jahitan luka mu bisa terbuka lagi." Rudy memegangi istrinya.


"Kau Leo! Pergi dari sini! Kalau kau tidak sayang pada keluarga ini lagi, setidaknya jangan membuat kami seperti orang tua tidak bermoral. Kau lebih sadis dari gadis itu. Kau tidak mempercayai kami? Pergilah! Cari kebenaran tentang kami. Caramu mencurigai kami sangat keterlaluan!" Rudy mengusir Leo.


"Aku bukan mencurigai Mami ataupun Papi. Aku hanya meluruskan kejadian ini. Kalau memang Andhira yang salah, aku akan memperingatkannya."


"Diamlah!!! Aku tidak mau mendengar namanya lagi!" Meli histeris hingga menangis. "Kalau kau masih ingin melihat Mami, jangan sebut namanya! Kalau tidak, pergilah kau selamanya dan jangan pernah menemui kami lagi!"


Leo menunduk. Ia bingung harus mengatakan apa lagi untuk bisa tahu kejadian yang sebenarnya.


Sekitar sepuluh menit ia terdiam dengan kepala menunduk. Tanpa mengatakan apapun dan tanpa bergerak. Sebenarnya ingin memohon pada kedua orang tuanya agar tidak membawa kasus ini ke pihak kepolisian. Bagaimanapun, ia tidak tega bila Andhira harus mendekam di penjara. Karena dilihat dari posisi Meli sebagai korban, kemungkinan Dhira tidak akan bisa lolos dari jerat hukum. Kasus ini sudah menjurus ke percobaan pembunuhan.


Selama setengah jam mereka berdiam diri. Bungkam dan larut dalam pikiran masing-masing.


Hingga, akhirnya Meli menyerah dan tertidur. Wanita itu sudah mendengkur halus.


"Keluar!" ucap Rudy dengan pelan. "Kita bicara di luar."


Leo segera bangkit dan mengikuti papinya keluar. Leo terus mengikuti papinya yang berjalan menyusuri lorong rumah sakit hingga mereka tiba di kantin.


Rudy memesan dua gelas kopi untuk dirinya dan Leo.


"Katakan apa maumu!" Rudy tahu Leo sedang menahan sesuatu sehingga betah duduk begitu lama di kamar Meli.


"Maafkan aku Pi, harus mengatakan ini." Leo mengangkat wajahnya dan menatap papinya. "Aku minta papi jangan laporin Andhira. Dia hanya terbawa emosi saking bingungnya mencari ibunya. Ibunya itu baru menjalani operasi besar. Amelia mengalami gagal ginjal. Bahkan ibunya itu, masih dirawat di rumah sakit, saat seseorang menculiknya. Aku dan Andhira sudah berusaha mencarinya tapi tidak menemukan apapun."


Rudy tidak mengatakan apapun, tapi raut wajahnya sedikit berubah dari tegang menjadi lebih rileks.


"Dari pengakuan Rendra, memang mami lah yang mengincar Amelia. Dan mami juga mengakuinya saat Andhira mengancam mami akan membeberkan tentang Ara. Jadi menurut ku belum pasti Andhira yang bersalah. Yah, aku juga tidak mencurigai mami. Tapi seperti itulah yang terjadi."


"Rendra? Anak itukan sudah pindah semenjak menyerahkan apartemen yang ditempatinya. Atau jangan-jangan Rendra hanya mengadu domba."


"Tidak Pi, Rendra ada bersama Andhira sekarang. Dan aku yakin, Rendra tidak akan mungkin berbohong pada Andhira. Karena Andhira tidak mudah dikecoh. Dia pasti telah membuat Rendra tidak bisa berkutik, sehingga Rendra tidak berani berbohong. Andhira ahli bela diri. Dan aku sangat hafal dengannya. Dia bukan gadis plin-plan yang asal bertindak kalau tidak ada sebabnya."


"Huhhhh..." Rudy membuang nafas kasar.


"Tolonglah Pi. Dia hanya punya ibunya. Selain Andhira menjadi narapidana bagiamana dengan ibunya? Tolong, sekali ini lepaskan dia. Dia sedang ketiban masalah pelik."


Rudy menatap mata putranya lekat. Ia tahu putranya adalah seorang lelaki bijak yang penuh pertimbangan. Ia sendiri melihat itu selama putranya bekerja.

__ADS_1


Melihat mata Leo yang penuh permohonan membuat hatinya luluh dan tidak bisa berkeras. Putra satu-satunya, yang menjadi penerus dirinya. Putra yang dibesarkannya dengan penuh lika-liku, Putra yang diperjuangkannya sejak lahir. Pertahanan dinding hatinya luruh mengingat semua perjalanannya membesarkan putranya itu.


Dari sejak memiliki anak, satu-satunya impiannya adalah membahagiakan putranya semampunya.


"Baiklah. Kali ini aja. Jadi ingatkan gadis itu. Soal dugaannya, biarkan dulu mami mu sembuh baru bahas itu lagi. Ku harap kau bisa menyelesaikan persoalan ini dengan bijak."


Leo mengangguk. Pancaran wajahnya langsung ceria. Kini ia bisa menyelamatkan Dhira dari ketegasan papinya. Tinggal menunggu maminya sembuh untuk meluruskan yang dikatakan oleh Rendra.


***


Di Depok, di sebuah rumah yang saat ini ada paman Bali dan Ayunda sedang berjaga di rumah itu bersama tiga pria anak buah Dhira. Sementara di ruang rahasia Ara masih terikat dengan mata tertutup.


"Lepaskan aku! Kalian tidak tahu siapa papi ku! Kalian akan dibunuhnya begitu menemukanku." Ara berteriak teriak namun tidak ada yang menjawabnya. Ia tahu ada beberapa orang di rumah itu. Tapi diantara mereka tak ada yang buka suara. Semua mereka lakukan dengan mulut tertutup.


"Apa kalian bisu? Jawab aku kalian siapa?"


Tetap hening. Justru sekarang iaerasa sesuatu mendekati bibirnya. Terasa basah dan terus dipaksa masuk ke dalam mulutnya. Ia diberikan minum oleh ayunda.


A


"Hubbbrrrrssss..." Ara menyebutkan air dimulutnya. Tidak mau minum. "Aku tahu kau wanita. Katakan siapa kau!"


Hening. Dan lagi lagi ada sesuatu yang mendekati bibirnya. Tercium dari aromanya itu adalah makanan. "Kalian maunya apa? Uang?"


"Jangan diam aja! Jawab aku!" Ara memaksa menggerakkan tubuhnya hingga terjatuh dari kursi.


Lalu dirasakannya ada dua orang dengan aroma pria membantunya kembali duduk dengan bagus.


"Hiks hiks aku mohon jangan diam aja. Bicaralah apa mau kalian?"


"Papi...tolong aku. Aku takut..." Ara menangis terus sambil memanggil papinya dan Jhon.


Tapi lagi lagi mulutnya tertutup karena sudah diikat lagi. Kini ia hanya duduk lemas dan pasrah. Hanya bisa berharap papi dan Jhon segera menemukanya.


"Kasihan gadis itu. Harus mengalami ini." Paman Bali duduk di atas ranjang dan sedang menatap istrinya yang sedang tiduran.


"Sama. Tapi mau gimana lagi. Demi Dhira kita harus melakukannya. Hanya dengan begitu si Meli itu bisa ditundukkan."


"Sebenarnya terlalu berbahaya juga. Orang tau angkatnya pasti tidak akan diam saja. Sekali ketahuan Dhira pelakunya, gadis itu bisa dalam bahaya."


"Tapi ada bagusnya juga. Dengan begini Meli akan menjadi tersangka telah merebut kembali putrinya. Papi Ara pasti akan mendesak Meli bahkan akan mengacaukan keluarga mereka. Apalagi dari cerita Dhira, papi angkat Ara melarang keras keluarga Meli mendekati Ara." Beda dengan pemikiran Ayunda.


"Iya semoga aja Dhira aman hingga ibunya ditemukan."


"Iya. Itu benar."


Itulah rencana Dhira. Ia akan memperalat Ara dan papinya untuk menghancurkan Meli. Jika hanya dengan kekuatannya sendiri, ia tidak akan mampu menangani kejahatan Meli.


***


Di rumah Rabiga terjadi kegemparan hilangnya Ara. Ponsel dan tas gadis itu berada di mobil. Sedangkan mobilnya tertinggal di parkiran kampus. Ara sudah dua belas jam tidak pulang semenjak kemarin sore.


Jhon sudah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencari Ara namun tidak juga menemukan petunjuk. Selama itu juga ia menghubungi Robert namun ponsel tuannya itu tidak aktif. Sehingga perkara hilangnya Ara belum juga bisa tersampaikan.


Ketakutan meliputi hatinya. Saat ini sedang berpikir keras haruskah mendatangi rumah Atmaja. Hanya mereka yang bersangkutan dengan hilangnya Ara. Sementara untuk meminta petunjuk dari Robert pun tidak bisa.


"Bagaimana? Sudah ada perkembangannya?" Tanya nya pada anak buahnya.


"Belum Bos. Kami sudah memeriksa CCTV di setiap titik jalan dan depan kampus tidak ada petunjuk apapun."

__ADS_1


"Aaakkkhh...seandainya ponselnya ikut bersamanya tidak akan pusing mencarinya. Saat genting begini, pak Robert malah tidak bisa dihubungi lagi!" Jhon berteriak. Ia pusing bagaimana menangani masalah ini.


__ADS_2