
sudah beberapa hari, semenjak Dhira mengetahui bahwa Meli adalah dalang hilangnya ibunya. Tapi untuk menegaskan itu pada Meli ia tidak punya bukti. Membuatnya pusing dan terasa buntu.
Ia selalu mencari kesempatan untuk bertemu dengan Meli. Tapi sepertinya wanita itu sudah mawas diri. Meli tidak terlihat dimana pun.
Wanita itu hilang tanpa jejak. Sementara Meli tidak bisa menjadi tersangka karena tidak kuatnya bukti. Akhirnya Dhira menuruti anjuran Leo untuk melapor ke polisi.
Namun meski itu sudah diserahkan pada pihak berwajib, tetap saja tidak ada titik temu yang bisa ditindak lanjuti. Kamera SCTV yang hanya berdurasi sepuluh detik itu tidak bisa mengenali orang yang terekam karena hanya menunjukkan bagian mata saja. Benar benar buntu. Ia hanya disuruh menunggu kabar dari pencarian pihak polisi.
Dhira tidak menyebut Meli. Ia berniat menangani Meli dengan tangannya sendiri. Ia yakin meski wanita itu dijadikan tersangka, tidak akan mudah menyelesaikan masalah ini. Apalagi setelah mendengar penjelasan dari Rendra.
Sudah empat hari Dhira tidak masuk kerja. Ia benar benar tidak berniat masuk lagi ke perusahaan itu. Bila ibunya sudah kembali ia berencana melamar ke perusahaan lain. Sudah tidak ada kenyamanan baginya di kantor itu.
Tanpa tujuan Dhira menarik gas motor pelan pelan menyusuri jalanan sembari memeriksa setiap pinggir jalan berharap ia melihat ibunya. Ia makai motor salah satu dari preman yang masih bekerja untuknya.
Ternyata yang diharapkannya bertemu Meli tidak terjadi. Tapi yang terlihat adalah Jhon dan Ara.
Dua orang itu, baru saja keluar dari mobil kemudian memasuki sebuah toko roti bakery. Tumbuh niat di hati Dhira untuk mendekati mereka. Ia parkir dan tidak lupa dengan topi di kepalanya.
Cukup aman baginya mengikuti mereka dengan rak rak tinggi dan tersamar dari susuan roti. Terdapat dibagian tengah beberapa set tempat duduk dan meja yang disiapkan untuk tamu yang ingin langsung menikmati roti.
Dhira berdiri tidak jauh dari tempat Ara dan Jhon duduk. Mereka sudah berhasil memilih roti dan sepertinya akan dinikmati saat itu juga.
"Oke, sekarang jawab pertanyaan ku. Atau harus ku laporkan pada papimu?"
"Isss dikit dikit ngadu. Papi aja nggak sewot soal uang yang ku pakai. Kenapa kamu yang keberatan?" Ara menggerutu.
"Makanya ceritakan padaku. Pada siapa kamu serahkan uang sebanyak itu? Jangan kamu pikir aku tidak tahu berapa jumlah yang kau keluarkan." Kalimat Jhon berhasil membuat wajah Ara terkejut.
"Udah kubilang ada bisnis. Kenapa sih pertanyaan mu kayak polisi aja. Serasa aku jadi pencuri." Ara cemberut.
"Itu satu milyar Ara. Siapa yang memeras mu? Siapa yang kamu temui di cafe itu?" Jhon ternyata melihat Ara saat ke cafe. Tapi Tidak sempat melihat Meli.
"Kok kak Jhon tahu aku ke cafe?"
"Udah kubilang, kamu tidak bisa membohongiku. Sekarang katakan, atau aku sendiri akan turun tangan memeriksa perkara ini."
"Iya deh! Tapi kakak belum cerita pada papi kan?!"
"Belum, tapi kalau kamu tidak bisa mengatakannya padaku sekarang juga akan ku beritahu papimu." Jhon mengambil ponselnya dan membuka kuncinya.
"Eh tunggu! Iya akan ku beritahu. Simpan hape Kakak biar aku cerita." Ara merebut ponsel Jhon hingga tangan mereka saling bersentuhan.
Ara sempat terdiam bagai terhipnotis dengan sentuhan ditangannya. Getaran hebat menderanya dari ujung jemarinya hingga ke bagian dadanya. Jantungnya berpacu lebih cepat. Tapi anehnya, ia selalu senang setiap mengalami hal mendebarkan ini.
"Baiklah. Hanya sekali kesempatan. Jadi ku harap kamu tidak berbohong."
Tapi semua itu langsung buyar setelah Jhon menarik tangannya disertai suaranya yang agak sedikit keras.
"Uangnya aku pinjamkan pada Dhira. Puas?"
"Apa? Sebanyak itu? Lagian kamu sudah berjanji pada papimu tidak akan berhubungan lagi dengannya. Tapi apa yang kamu lakukan?" Jhon melotot marah.
"Sudah kubilang, mereka adalah teman sejati ku. Melihatnya kesulitan, aku sungguh tidak tega."
"Haufffff...bagaimana caranya membuatmu mengerti? Sekarang aku menjadi bingung. Harus mengatakan ini pada pak Robert atau tidak."
Ara menajamkan sorot matanya. "Jangan! Selama Kakak diam papi tidak akan tahu."
"Tapi aku menjadi penghianat di hadapan papimu. Jelas jelas ini kesalahan bagaimana aku bisa diam?"
"Aku mohon Kak, pokoknya aku janji akan membeli kembali semua perhiasan yang sudah terjual. Uang jajan ku dalam tiga bulan ini sudah cukup."
"Tetap saja ini tidak bisa didiamkan. Uang segitu bukan sedikit. Berani sekali kamu bermain pinjam uang. Apalagi pada orang yang tak jelas seperti wanita itu!"
"Hah Kakak berlebihan. Uang segitu hanya sedikit bagi Papi. Tenang aja. Itu uang Kakak akan ku kembalikan."
"Masalahnya bukan karena uangnya Ara! Tapi hubunga mu dengan si Dhira itu. Jangan paksa papimu menyakiti perasaanmu!"
__ADS_1
"Hah!! Kalian sama saja. Nggak usah bahas ini lagi. Aku capek, mau pulang!" Ara menarik tasnya secara kasar dari meja dan pergi dari sana.
"Anak ini keras kepala kayak batu. Susah diomongin." Jhon membayar kue mereka. Padahal Ara yang bersemangat tadi ingin makan kue bersama. Sekarang malah gagal.
Ia belain meninggalkan pekerjaan demi permintaan gadis itu tapi ujung ujungnya kekesalan yang didapatnya.
Dhira yang berdiri di balik rak yang sedang pura pura sibuk dengan ponselnya terlihat gugup setelah mendengar pembicaraan itu. Sama sekali tak ada pikirannya kalau Ara yang melakukan itu. Diantara terharu dan sedih ia meninggalkan tempat itu dengan tujuan akan menemui Ara. Bagaimanapun ia harus berterimakasih. Dan terselip sedikit ide di kepalanya mengingat Ara adalah anak Meli.
***
Ara kembali ke kampus walau sudah tidak ada jam kelasnya lagi. Pulang ke rumah rasanya malas harus bertemu Jhon lagi. Setelah ia tidak bermain dengan Dhira dan Vanya hidupnya menjadi begitu sepi dan membosankan. Banyak sih temannya yang lain, tapi tidak ada yang seperti Dhira dan Vanya. Yang lain hanya suka berhura-hura kekayaan dan berpacaran bebas. Itu semua tidak masuk di akalnya. Apalagi para cowok hanya ingin mendekatinya dan menjadikannya pasangan untuk menunjukkan kehebatan.
Sampai sekarang dihatinya yang tersembunyi selalu nama Jhon yang bersemayam. Dalam diam ia menyimpan cintanya rapat rapat agar tidak membuatnya terluka bila Jhon menapakkan penolakan yang pasti bisa menyakiti hatinya lagi.
Dengan pelan pelan, Ara berjalan ke arah taman. Ditangannya sudah ada sekresek makanan ringan dan minuman botol. Ia ingin menikmati makanannya sendirian dibawah pohon sambil membaca buku.
Tapi kakinya berhenti saat di depannya ada Dhira. Sahabatnya itu sedang menatapnya.
"Dhira?"
"He em. Ini aku." Jawab Dhira. Ia berdiri tegap dengan wajah datar.
"Ada apa? Kenapa kamu ada di sini?"
"Ingin bertemu denganmu."
"Oh. Kita bicara di kantin aja yuk!"
"Hm."
Kedua gadis itu pergi ke kantin. Ara memesan minuman dingin. Tak henti hentinya Ara tersenyum karena bahagia bisa bertatap muka dengan Dhira.
"Bagaimana kabarmu? Lama tidak berjumpa."
"Sangat tidak baik. Kacau dan sekarang aku pengangguran." Dhira jujur dan berniat mendekati Ara.
"Apa mungkin aku diterima. Papimu sangat tidak menyukai ku."
"Tenang aja. Aku akan coba. Tunggu aja kabarnya besok."
Dhira mengangguk. "Aaa...kenapa kamu lakukan itu? Diam diam lagi."
"Ha? Apa?" Ara sok memasang wajah polos.
"Kamu terlalu baik padaku. Yang dikatakan Jhon itu benar. Uang segitu tidak sedikit. Kamu telah membuat dirimu dalam kesulitan."
Ara terdiam dengan dahi mengernyit. Diwajahnya terdapat pertanyaan dari mana Dhira tahu soal uang itu.
"Untung aku mendengar pembicaraan kalian tadi. Kalau tidak hanya ada pertanyaan didalam otaku ini."
"Aku tidak bisa melihatmu kesulitan. Selagi aku mampu aku ingin membantumu." Jawab Ara dengan mimik serius.
Dhira mengambil tangan Ara "Terimakasih telah melakukannya untukku. Kalau tidak, wanita itu mungkin akan selalu merendahkan ku." Kedua mata Dhira berkaca kaca.
"Tidak apa-apa. Aku iklhas." Ara tersenyum dan matanya juga berkaca kaca.
"Setelah dapat perkejaan, aku akan menyicilnya.
"Santai aja. Kalau emang belum ada aku gak maksa." Ara memang tidak bisa mengendalikan dirinya jika sudah menyangkut Dhira. Setiap kesusahan yang dialami sahabatnya itu selalu membuatnya tidak bisa lepas tangan.
"Bisa kamu rahasiakan kan kalau uang itu kamu serahkan pada Meli. Orang tidak perlu tahu soal itu. Wanita itu bisa bisa berkoar koar lagi. Tolong bujuk Jhon agar tidak mengatakan apapun." Pinta Dhira.
"Aman..." Sahut Ara dengan yakin.
"Oke aku tunggu ya kabar darimu. Rasanya nggak enak banget jadi pengangguran."
"Akan ku usahakan." Jawab Ara.
__ADS_1
"Memangnya kenapa tidak bekerja di perusahaan Leo lagi?"
"Masalahnya adalah Meli. Wanita itu tidak menyukaiku. Aku sudah tidak nyaman bekerja di sana." Dhira tidak menceritakan soal ibunya kepada Ara.
"Lalu kamu dan Leo bagaimana?"
"Entahlah. Rasanya aku nggak bisa bertahan lagi."
"Kok sampai punya hutang pada Meli?"
"Hah...wanita itu mendenda ku atas segala yang telah diberikan Leo padaku."
"Ah dia memang wanita jahat! Terus apa tanggapan Leo?"
"Dia tidak tahu apapun. Jangan ceritakan apapun pada Leo." Ara hanya mengangguk tidak bertanya lebih banyak lagi.
Dalam hati Dhira begitu berharap atas tawaran Ara. Bila dirinya bisa bekerja dikubu yang mengasuh Ara lebih menguntungkan dirinya menekan Meli. Hanya inilah cara satu satunya agar Meli bisa jujur soal hilangnya Amelia.
***
Di kediaman Rabiga, Ara berlari ke kamarnya tak sabar ingin berbicara dengan papinya. Begitu tiba di sana, ia mengambil laptop miliknya dan melakukan panggilan video dengan Robert.
"Papi..." Ia melambai pada Robert yang ada di layar.
"Hm ada apa? Wajahmu terlihat berseri. Apakah ada kabar bahagia?"
"Ada yang mau ku bahas dengan Papi."
"Apa?" Robert nampak tidak terlalu menanggapi Ara.
"Serius Pi. Ini soal Dhira. Andhira sahabatku."
"Ck kamu ini nggak bosan bosan membahas itu. Udah tahu Papi selalu jengkel setiap mendengar nama itu. Kalau gak ada yang penting, udah ya ngomongnya. Papi lagi sibuk ini!" Robert terburu-buru hingga bicara cepat.
"Buat Dhira bekerja di perusahaan kita. Kita akan mudah mengawasinya bila dekat dengan kita. Bukankah dengan dekat dengan musuh akan baik untuk melindungi diri?"
"Apa? Kenapa tiba tiba kamu seperti ini? Apa kamu dipengaruhi olehnya?"
"Tidak Pi. Sebenarnya aku yakin seratus persen dia bersih. Tapi karena Papi mencurigainya, buatlah di berada dikandang kita. Jhon akan mengawasinya untuk membuktikannya."
"Jhon banyak pekerjaan. Dia itu direktur. Tidak ada waktunya untuk melakukan itu. Kamu jangan aneh aneh. Itu berbahaya bagi perusahaan kita. Sekali dia mencuri atau membocorkan rahasia perusahaan maka taruhannya adalah perusahaan kita sendiri." Robert begitu kokoh dengan pikirannya.
"Ah aku tahu. Biar dia jadi pengawal ku saja. Dia ahli bela diri."
"Tidak! Itu sangat berbahaya bagimu."
"Apa aja lah Pi asal dia punya pekerjaan. Sekarang dia pengangguran."
"Bukankah dia bekerja di perusahaan Anugerah Garmen?"
"Hah, Papi tahu sebelumnya dia bekerja disana?"
"Hanya dengar kabar."
"Nah itu Papi tahu. Pasti Papi juga tahu dia gadis baik. Tidak pernah melakukan kejahatan atau anggota penjahat. Please Papi. Bantu dia." Ara sungguh memohon.
"Hasss...kenapa kita harus repot repot memikirkan dia? Itu hidupnya. Biar dia yang menangani hidupnya sendiri."
"Pi...aku akan menjadi anak Papi penurut asal jangan disuruh ke LN. Berikan dia pekerjaan."
Robert tidak menjawab. Ia duduk dengan mulut tertutup rapat.
"Ayolah Pi, sekali ini aja Pi aku mohon."
Robert masih berdiam.
"Please Pi...aku akan menjadi anak Papi yang paling baik. Begitu aku wisuda aku akan langsung masuk perusahaan, belajar tentang perusahan kita." Ara terus mendesak Robert. Sebenarnya ia lebih berani karena tahu Papinya terakhir akhir ini terlihat bahagia. Beberapa kali saat menghubunginya, lelaki itu selalu menuruti permintaannya.
__ADS_1
Robert menggusak rambutnya. Terlihat berat dengan permintaan putrinya. Tapi juga tidak tega melihat kegigihan Ara meminta padanya.