
Leo duduk di tepi ranjang dengan posisi membelakangi Dhira. Mengambil obat dari nakas dan membuka perban di dahinya. Ia sedikit meringis saat melepas perban itu. Lalu membuka perban di bagian lengan atas kanannya.
Dhira bergerak maju dan duduk dilantai tepat di kaki Leo. "sini aku bantu."
"Tidak usah. Itu akan memberatkan hatimu. Membenci ku tapi harus mengobati ku." Ujarnya dingin.
Sebenarnya ia tidak sungguh marah atau merajuk. Hanya saja ia ingin bermain sedikit dengan Dhira untuk mengetesnya.
Diambilnya kain kasa dan membasahi dengan betadin. Lalu menyapukan kain kasa itu ke lukanya. Dilakukannya di semua luka itu dan tidak lagi menutupnya dengan perban. Setelah semua diolesinya, disimpannya kembali semua obat itu ke dalam plastik dan menaruhnya di atas nakas.
Leo menaikkan kakinya ke ranjang, menarik selimut untuk tidur lagi.
"Nanti tidurnya." Dhira menarik selimut dengan kuat sehingga terlepas dari tangan Leo. "Ini sudah jam dua, kamu belum makan. Makanlah dulu."
"Orang yang diinginkan mati, akan cepat mati bila dibiarkan kelaparan." Jawab Leo makin dingin. Ia memiringkan tubuhnya membelakangi Dhira. Dalam hati sebenarnya agak takut Dhira malah makin menjauh darinya.
Dhira terdiam. Baru kali ini Leo pernah bertingkah seperti ini. Biasanya selalu bertutur lembut dan sabar. Ia tidak pernah ingin Leo mati. Yang diinginkannya mati adalah Meli.
Mendadak semua kebaikan dan kesabaran pria itu terbayang dikepalanya. Semua waktu, tenaga dan materi yang telah dikorbankan nya demi dirinya dan ibunya. Hatinya terasa terjepit hingga terasa nyeri. Perlahan dipeganginya dadanya yang sesak.
'Sesempit inikah pikiranku terhadapnya? Dia sendiri lebih cenderung padaku dari para keluarganya sendiri.'
Khuuukkk...khuuukkk...khhhukkkkk...
Leo terbatuk. Bukan dibuat buat tapi memang tenggorokannya terasa kering karena haus. Batuknya terus berulang sampai membuat pria itu meringkuk dengan tubuh miring sambil menepuk dadanya.
Dorongan dari dalam hati Dhira tidak bisa ditahan lagi. Ia naik ke ranjang dan membantu Leo menepuk punggungnya pelan pelan. Setelah Leo tenang baru tangannya berhenti. Ia menatap wajah Leo dari samping. Mata pria itu terpejam dengan nafas memburu, mungkin capek habis batuk.
Dhira memegang bahu Leo dan mengelusnya dengan hangat. Lalu menurunkan wajahnya meniup luka yang hampir kering di lengan besar dan berotot Leo.
Dalam hati Leo begitu meleleh merasakan sebenarnya atas perhatian Dhira. Tapi ia masih bertahan dengan wajah dingin serta cuek.
"Maaf, kamu jadi menderita begini. Tapi aku juga sangat menderita." Bisik Dhira.
Leo mulai membuka matanya. Ia harus bersiap bila Dhira tiba tiba berbalik emosi.
Dhira merentangkan tangannya memeluk Leo. Ia bahkan berbaring dan miring menghadap punggung Leo. "Jangan marah lagi. Aku mungkin keterlaluan melampiaskannya padamu." Pelan Dhira mengecup kepala Leo.
"Entah bagiamana sebenarnya aku ini. Harusnya aku tidak bisa menerimamu lagi setelah semua yang terjadi. Tapi setiap aku melakukannya aku merasa sakit yang lebih banyak lagi." Dhira terisak di balik punggung Leo. awalnya hanya terisak lama lama menjadi tangis yang tertahan.
Leo membuat tubuhnya terlentang. Ingin miring menghadap Dhira tapi lengannya sakit saat tertindih. Akhirnya dengan tangan kanannya ia menarik pinggang Dhira hingga naik ke atas tubuhnya.
"Cinta kita tidak bersalah Andhira. Cinta kita murni. Meski seperti apa masalah yang menerpa kita cinta murni ini tidak bisa hilang." Leo menatap ke mata Dhira dengan lekat. Sementara tangannya membawa tangan Dhira ke dadanya.
'Sebenarnya bukan karena itu. Tapi karena kamu yang terlalu baik dan tulus padaku. Sehingga hati ku ini tidak bisa menyakiti perasaan dan cintamu yang sempurna.' Dhira hanya berbicara dalam hati disertai berjatuhannya air matanya.
"Hatiku sempurna karena kamu yang ada didalamnya." Leo seperti bisa membaca isi hati Dhira.
Dhira mengerjap pelan pelan. Merasa tersanjung dengan ucapan Leo. "Tapi aku tidak bisa mengabaikan rasa pedih dan amarah terhadap mamimu."
"Iya, aku tahu. Bersabarlah sebentar lagi. Kalau kamu percaya, aku akan membuat mami mengakui semuanya."
"Aku mohon cepatlah. Ibu bisa saja kehabisan waktu. Kalau sampai itu terjadi, mungkin cinta yang kau sebut murni ini akan membakar segalanya."
"Iya." Jawab Leo dengan tatapan yakin.
Dhira membalas tatapan Leo dengan lembut. Ia tahu Leo bukan pembual yang asal bicara. Pasti sudah dipikirkannya apa yang akan dilakukannya dan sebab akibat dari keputusannya. Terselip sedikit rasa damai di hatinya mendengar ucapan Leo. Ingin rasanya ia mendaratkan ujung bibirnya ke bibir Leo memadu kasih yang sudah sering dirasakannya setelah berpacaran dengannya.
__ADS_1
Tapi, hatinya melarangnya. Selama ibunya belum ditemukan ia tidak akan bertindak manis. Akan ditahannya di dalam hatinya meski ia ingin.
***
Di kediaman Atmaja, Meli mengamuk dan membanting semua barang yang ada dikamar. Ruangan itu berantakan seperti terjadi perang padahal hanya dirinya sendiri yang ada di ruangan itu.
Ia tidak tahu ingin membagi beban pikirannya kepada siapa. Suaminya sendiri masih sibuk mengurus kekacauan di perusahan dan sudah dua malam tidak pulang.
Lagi pula seandainya suaminya itu ada, ia tidak tahu cara menjelaskan padanya akar dari permasalahan yang sudah terjadi. Ada yang dirahasiakannya dari Rudy. Jika suaminya dan putranya Leo mengusut masalah yang berkaitan dengan dua puluh tahun lebih silam, dirinya mungkin akan didepak oleh Rudy dan tidak akan menerima dirinya lagi.
Tidak mudah baginya, menyimpan rahasia itu selama ini. Ia sering tertekan dan merasa jantungnya hampir meledak setiap persoalan ini muncul. Tapi nasib baik masih berpihak kepadanya, selama itu ia masih aman dan terlindungi.
Tapi semenjak ia bertemu pertama kali dengan Dhira, ia sudah tidak bisa tidur sepanjang malam. Kegelisahan menderanya bahkan hingga membuat dirinya stres. Mimpi buruk yang sering menghantuinya, membuatnya tidak bisa tidur.
Bertambah dengan identitas Ara yang mulai terungkap. Intimidasi dari Jhon sungguh membuatnya drop. Setiap bertemu dengan pria yang menjaga Ara itu, jantungnya serasa mau copot saking takutnya.
Ketakutannya akhirnya mencapai *******, ketika dirinya melihat Araysa masih hidup. Dunianya serasa runtuh hingga menimpa dirinya hingga tak bisa bangkit. Semua terasa gelap dan menakutkan.
Keputusannya sudah bulat akan mencari Araysa yang ternyata masih hidup dan membuat rundingan agar dirinya terbebas dari segala yang ditakutinya. Tapi rencananya belum terlaksana, semua sudah terjadi. Dhira begitu cerdik dan berhasil membuatnya berada di ujung tanduk.
"Aarrrhhh...aku tidak mau dipenjara! Aku tidak mau dibuang oleh Rudy. Aku nggak mauuuu!" Meli mengambil lampu hias dari meja dan melemparnya ke dinding.
"Araysa!!! Kenapa kau harus kembali! Aku telah membayar dosaku dengan merelakan putriku. Tapi kenapa di saat tenagaku hampir habis kau muncul? Kenapa??? Aku tidak mau dipenjara! Tidak!!!" Meli seperti orang gila berteriak sambil menjambak rambutnya sendiri. Bahkan kukunya mencakar dahinya hingga terluka.
"Oh jadi Mami sengaja memberikan Ara pada keluarga Rabiga sebagai tebusan dosa Mami?" Leo yang baru sampai mendengar keributan di kamar, mengintip maminya dan mendengar kata kata terakhirnya.
"Hah? Leo kau sudah kembali?" Meli bangkit dari lantai berlari ke arah Leo.
"Kau tidak disakiti oleh perempuan gila itukan?! Kau tidak terluka kan?!" Meli memeriksa tubuh Leo.
"Tidak ada. Jangan bahas itu lagi. Sekarang kita akan membantu Ara. Kita harus mendapatkan Ara dari Dhira!"
"Ara tidak akan kembali!" Bentak Leo. Ia sudah bisa menduga dosa yang dimaksud maminya. Itu pasti cerita soal ibunya Dhira yang hampir terbunuh.
"Paksa dia. Ara harus kembali ke keluarga Rabiga. Tolong temukan Ara. Kalau tidak kita akan hancur! kita semua akan jatuh miskin, kita akan menderita!"
"Ara bisa bebas jika mami melepas ibunya Andhira. Katakan, dimana ibu Amelia, Mami sembunyikan?"
Sebenarnya Leo ingin mempertegas Ara tidak akan kembali ke rumah Rabiga. Tapi lebih mengutamakan bertanya tentang Amelia dulu.
"Amelia!! Amelia lagi!!? Aku tidak mengenal Amelia. Harus berapa kali ku katakan aku tidak tahu!"
"Hanya dengan kembalinya Amelia, bisa membuat Ara kembali pada kita!"
"Aku sungguh tidak tahu. Aku sudah menyuruh orang orang mencarinya tapi tidak ketemu."
"Mi, tidak ada yang percaya pada Mami saat ini. Aku aja anak darimu sudah tidak mempercayaimu. Jadi, jangan membuat ini makin lama, hanya membuat Andhira makin marah. Bebaskan ibu Amelia. Aku jamin Mami tidak akan terkena sanksi apapun. Aku sudah bicara dengan Andhira. Katanya, bila secepatnya ibunya bebaskan, ia mau berdamai secara kekeluargaan."
"Bukan dia yang menentukan! Ayahnya yang akan menentukan!" Teriak Meli.
"Ayahnya? Mami tahu siapa ayahnya Andhira?" Mata Leo terbelalak.
"Ah!" Meli menutupi mulutnya. "Tidak! Mami tidak tahu!" Meli tertawa sumbang.
Leo memegangi bahu Meli "katakan Mi! Jangan seperti ini! Mami sangat misterius dan seperti seorang penjahat." Bentak Leo.
"Hahaha...emang aku penjahat! Tapi itu semua gara gara laki laki itu! Dia yang membuat ku seperti ini!"
__ADS_1
"Laki laki siapa?"
"Ayahnya gadis gila itu!"
"Siapa laki laki itu?"
"Aku tidak tahu!" Meli lagi lagi menutup mulutnya. Tertawa lalu menangis. Diulang lagi hingga beberapa kali. Ia berjalan ke arah jendela dan bernyanyi kecil.
"Hahahaha...bagaimana caranya mengembalikan wanita itu? Dia itu sudah berubah jadi hantu. Wanita itu sudah mati! Mayatnya sudah hanyut ke laut." Meli tertawa sambil berbicara.
"Hahaha...hahahaha...dia memang wanita sialan! Wanita sialan! Sudah mati tapi masih mengganggu ketenangan ku! Akan ku bun*h hantu wanita itu biar dia mati berkali-kali!" Meli begitu emosi sampai memukul dadanya sendiri.
Leo menyipitkan mata menelisik wajah Meli. Maminya terlihat aneh dan seperti kehilangan dirinya sendiri.
"Kalau begitu katakan dimana ibunya Andhira?" Leo berusaha membujuk Meli. Ia sangat khawatir dengan kondisi maminya. Takut maminya kehilangan kesadaran, berubah menjadi tidak waras, sehingga tidak bisa lagi memberitahukan keberadaan Amelia.
"Mana ku tahu? Kalau aku tahu, pasti aku sudah menangkapnya." Meli bergumam.
"Mami katakan padaku, Amelia dimana?" Leo mendesak Meli bahkan sampai memegang bahu maminya dengan sangat kuat dan mengguncangnya.
Plaakkk
Meli menampar Leo. "Kau menyakitiku!" Meli marah "Kau melakukan ini demi mereka? Keterlaluan kau!!!" Meli memukul kepala Leo dengan tangannya.
Dada Leo memanas dan sangat kesal dengan kelakuan Meli. Dirinya yang sudah dewasa masih dipukul seperti bocah "Mami benar benar telah melakukan kesalahan! Sebelum semuanya makin kacau katakan dimana ibunya Andhira!"
Leo merebut kedua tangan Meli dan menahannya. "Kita akan hancur Mi bila ibunya Andhira tidak selamat! Aku akan hancur. Aku tidak bisa hidup tanpanya. Ku mohon Mi, jangan begini. Katakan di mana Amelia?" Leo sampai menangis dan memohon pada Meli.
"Hancur? Hahaha...ditemukan atau tidak ditemukan kita memang sudah hancur!! Karena kau menyukai anaknya! Sudah ku bilang sejak hari itu, dia itu bukan wanita yang cocok denganmu! Tapi kau tidak mengindahkan Mamimu ini! Kau memang anak sialan! Kalau kau tidak mengenal Dhira, hidup kita akan baik-baik aja. Hidup kita tidak kacau seperti sekarang! Kita bisa hidup tenang dan Ara bisa hidup baik di sana!"
"Makanya sebelum terlambat lepaskan ibunya. Soal lainnya serahkan padaku." Leo masih menahan diri dan bertanya dengan suara pelan.
"Aaaaa! Aaaaa!" Meli berteriak. "Aku tidak tahu! Aku tidak tahu!!!! Sudah kubilang aku juga ingin menemukannya."
"Mami jangan berbohong. Cctv di rumah sakit menjadi bukti Mami lah yang menyekap ibunya."
"Itu tidak benar! Iya, awalnya aku memang menangkapnya. Tapi ada orang lain yang membawanya." Wajah Meli yang tadinya berapi-api kini berubah setengah tertawa."Mana mungkin dia itu bisa ditangkap, itu tinggal hantunya. Dia datang untuk balas dendam! Hahaha...dasar wanita bodoh! Udah jadi hantu juga tetap aja bodoh!"
"Apa???" Sebenarnya Leo hanya mengancam ibunya dengan cctv itu. Sama sekali tidak tahu kalau itu adalah ibunya. Dan apa ini? Ternyata itu adalah maminya. "Berarti benar Mami yang menculik Amelia?" Ke dua mata Leo memerah. Sementara kedua tangannya bergetar. Juga bingung dengan gelagat maminya.
"Aku tidak tahu! Aku juga menangkapnya untuk menyerahkannya pada seseorang. Tapi aku gagal. Hahahaha...makanya ku bilang, itu bukan ibunya Dhira. Tapi hantunya."
Meli tertawa lagi. "Hahaha... hantunya gentayangan. Kasihan sekali dia. Makanya bilang pada Dhira, jangan berani melawan kita. Atau aku akan membuatnya menyusul ibunya menjadi hantu juga!"
"Apa maksud Mami? Apa yang Mami lakukan pada Amelia?"
"Sssttt...jangan keras keras. Takut papimu dengar. Mami pasti akan dibun*hnya bila semua ini terbongkar!" Meli berbisik sembari mengintip ke luar kamar.
"Mi! Ini soal hidup seseorang. Nyawa ibunya Amelia dalam bahaya karena kodisinya! Kenapa Mami malah seperti orang sakit jiwa tertawa dan tingkah apa ini?" Leo menarik tangan Meli yang masih mengintip di pintu.
"Hehehe...kau itu anakku. Kau pasti membela Mami kan?! Jangan tinggalkan mami Leo...hiks hiks hiks...semua sudah terbongkar, aku pasti diusir oleh Rudy. Setidaknya aku punya kamu dan Ara."
"Mami makin melantur! Saat ini yang paling penting adalah menemukan Bu Amelia."
"Kita pergi aja Leo. Kita pergi keluar negeri. Kita berdua akan memulai hidup baru dan meninggalkan kehidupan yang buruk ini. Mami tidak mau dipenjara! Mami tidak mau disakiti papimu!"
"Kenapa Mami harus dipenjara? Kenapa papi menyakiti Mami? Kenapa?"
__ADS_1