Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
You are a Good and Strong Man


__ADS_3

"Hei! Tenanglah! Kau itu pusing bukan karena makan obat tidur! Kau hanya tidak kuat minum jus jeruk, karena kamu sakit maag yang parah!" Bentak Jhon. Ia jengah mendengar Dhira yang marah marah.


"Hah?"


"Hah! Otakmu itu hanya memikirkan yang jahat!"


"Oh begitu kah?" Dhira memeriksa pakaiannya. Merasa lega tidak ada yang mencurigakan. Hanya kakinya saja yang tanpa alas. Ia juga merasakan perutnya tidak enak. Seperti gembung dan sesak di ulu hatinya.


"Kau benar benar aneh! Udah di baikin, mulutnya tahunya hanya mengumpat!"


"E...maaf. Maklumlah, sebagai seorang gadis tentu aku harus berhati hati." Jawab Dhira pelan.


"Sudahlah. Sepertinya kau kelaparan. Makanlah dulu baru pergi. Takutnya kau pingsan di jalan."


"Nggak usah. Aku mau pulang." Tolak Andhira.


Tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu. Dan mendadak ia meringis sambil memegangi perutnya.


"Huh, ditawari makan, jual mahal. Perutmu aja melawanmu. Tawaran hanya berlaku sekali!"


"Eeii...Den Jhon hanya bercanda. Ayo Nak makan. Bibi udah siapin tuh." Bi Aira datang dan menuntun Dhira ke dapur.


"Dengan wajah malu-malu Dhira mengikuti bi Aira. Padahal aslinya Dhira malas makan. Tapi demi berlama-lama di rumah Jhon, terpaksa ia berpura-pura sakit perut. Ia ingin tahu siapa sebenarnya Papi Ara. Dan berharap lelaki itu muncul, agar dirinya bisa waspada.


Jhon berjalan mengikuti dua wanita itu ke ruang makan. 'Sebenarnya aku ingin sekali membuatmu mabuk semabuk-mabuknya agar bisa tahu siapa kau sebenarnya. Tapi tunggulah, bukan sekarang waktunya.' Jhon berbicara dalam hati sambil menatap punggung Dhira.


Akhirnya malam itu Dhira makan malam bersama Jhon di rumah itu. Bukan hanya begitu, ia juga diantar oleh Jhon pulang ke rumahnya.


Tapi harapan Dhira untuk melihat papi Ara tidak berhasil. Tidak ada siapapun yang datang ke rumah itu dan tak ada apapun sebagai petunjuk di rumah itu.


***


Besoknya, Dhira sudah di depan perusahaan ARA. Ia baru saja turun dari bus.


"Andhira!!" Leo yang telah menunggunya menarik tangannya dan membawanya ke mobilnya.


"Lepaskan Leo!"


"Kita harus bicara." Leo menjalankan mobilnya beberapa meter dan berhenti di pinggir jalan. Ia tidak membuka kunci mobil. Takut Dhira turun dan tidak bisa diajaknya bicara.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Kita sudah selesai." Wajah Dhira berapi-api.


"Andhira, aku tahu saat ini kita sedang ada ketegangan karena masalah yang belum pasti. Tapi jangan seperti ini. Jangan karena masalah ini kita kehilangan cinta kita. Ini ujian atas hubungan kita. Apakah kamu akan menyerah begitu saja. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku tetap mencintaimu. Cinta murni ini tidak bisa hilang dari sini." Leo memukul dadanya.


Dhira hanya melirik Leo.


"Saat terjadi masalah kita harus bersabar. Namanya perjalanan hubungan tidak akan lurus-lurus aja. Ada gelombang yang akan menguji kita."


"Ini bukan ujian cinta Leo. Ini pertarungan hidup. Aku bukan seperti dirimu. Bisa memaafkan kesalahan fatal yang telah terjadi. Aku membenci kalian!"


"Itu hanya amarah sementara. Percayalah. Ku mohon jagalah cinta kita. Jangan mengkhianatinya." Leo menahan amarah besar di hatinya. Cemburu menguasainya. Kekasihnya itu bukan hanya menumpang saat pulang, tapi dilihatnya semalam Dhira diantar pulang oleh Jhon.


"Saat ini yang kupikirkan bukan cinta Leo! Aku sedang memikirkan ibuku. Apa kau sudah bertanya pada Meli dimana ibuku disembunyikannya?"


"Kondisi mami belum stabil. Dia masih sakit. Bagaimana aku memaksanya dengan kondisi seperti itu? Bersabarlah."


"Bersabar katamu? Melihat ibumu seperti itu kau sudah khawatir. Apalagi dengan aku!"

__ADS_1


"Iya aku paham. Aku juga sangat khawatir pada ibu kita."


"Stop mengatakan ibuku, ibumu! Kalian adalah musuh kami! Dengar Leo! Aku bukannya tidak berterimakasih atas apa yang telah kau lakukan pada kami selama ini. Tapi kau tidak bisa memaksaku tetap di sisimu. Pergilah menjauh dari kami."


"Setelah semuanya begitulah sikapmu padaku?" Tanya Leo dengan raut sedih.


"Iya." Sentak Dhira. "Satu lagi, aku tidak punya hutang apapun padamu. Tanya Meli ibumu, uang dua milyar yang telah kami pakai sudah ku bayar padanya. Aku tidak mau berutang apapun padamu."


"Hah?" Leo tidak percaya. "Darimana mami tahu soal itu?"


"Itu bukan urusanku. Makanya jangan coba coba mengikatku dengan apapun. Kita tidak punya hutang piutang lagi."


"Aku tidak memperhitungkan itu. Aku hanya menyadarkan mu, jangan terlalu berkeras ujung ujungnya kau akan menyesal."


"Apa maksudmu!" teriak Dhira. Ia sangat tidak tidak suka dengan peringan Leo.


"Aku tahu Ara menghilang. Dan aku sangat berharap bukan kamu pelakunya. Kalau pun kamu, semoga kamu cepat sadar untuk melepasnya. Dia itu hanya anak yang terluka dioper sana sini. Dan sekarang, apakah kau tega padanya? Jangan lukai dia. Dia hanya anak yang tidak tahu apa-apa."


Dhira terdiam. Ia tidak berani menatap mata Leo.


"Jangan menyakitinya sayang. Udah ku bilang, kalau memang mami terbukti bersalah aku akan membayarnya untukmu."


"Kau membayarnya dengan apa?"


"Kalau terbukti mami pernah melakukan percobaan pembunuhan pada ibu maka aku sendiri yang akan menyadarkannya untuk minta maaf."


"Itu saja tidak cukup!" Di dalam hati Dhira saat ini hanya ada kebencian dan amarah. "Dia harus dipenjara!"


Leo menarik nafas panjang. "Baiklah jika itu yang kau mau. Tapi itu berlaku bila mami terbukti melakukannya."


"Makanya cepat tanyakan Meli dimana ibuku!!! Karena bukan kau yang mengalaminya, dengan mudahnya kau mengatakannya!" Dhira tidak bisa membendung kesedihannya lagi. Tanpa sadar ia mencak-mencak disertai air matanya yang berjatuhan.


Dhira segera mendorong Leo. Ia sudah tidak mau lagi bermanis-manis pada Leo. "Buka pintunya aku mau kerja!"


"Bagaimana kabar Ara?" Tanya Leo sebelum membuka kunci.


"Aku tidak tahu."


"Tolong jaga dia untukku. Entah siapapun yang menyekapnya aku percayakan padamu."


"Kau itu bodoh atau apa? Sudah ku bilang aku tidak tahu!" Dhira marah dengan mata melotot. Mencoba meyakinkan Leo.


"Iya. Aku yakin kau akan melindunginya dari orang jahat. Apalagi sekarang kamu sudah masuk ke dalam lingkup kekuasaan Jhon. Aku titip Ara padamu."


Hati Dhira bagai diiris iris. Antara sedih dan marah. Ia juga mengasihani Ara. Tapi tidak bisa mengalahkan kebenciannya saat ini.


"Pergilah. Aku percaya padamu. Tapi tolong jangan terlalu dekat pada Jhon, itu membuat hatiku sakit." Wajah Leo begitu mengiba dengan sorot mata meredup. Semangat yang menyala-nyala di mata itu hilang. Berganti kerisauan.


"Banyak bicara kamu itu! Buka ini! Aku mau pergi!" Bentak Dhira menggoyang goyang handel pintu mobil dengan keras. Ia tidak peduli meski pintu itu rusak.


Pintu sudah tidak terkunci lagi. Tapi belum dibuka oleh Dhira. Ia masih membenarkan tas miliknya agar ikut bersamanya keluar.


"Cepat Andhiraaaa keluaaarrrr!!!" Tiba tiba Leo berteriak dengan suara yang sangat keras. Ia membantu membuka pintu dan mendorong Dhira keluar dari mobil sekuatnya. Bahkan Dhira sampai terjungkal ke rerumputan menjauh dari mobil.


Saat bersamaan, sebuah truk mengangkat barang yang tingginya menjulang ke langit, datang dengan kecepatan tinggi dari arah depan mobil Leo. Tidak mau mereka berdua tertabrak, ia berteriak menyuruh Dhira keluar.


Bummmmm...brrakkkk...!!!

__ADS_1


Truk itu menghantam mobil Leo. Sangat telak hingga mobil berwarna putih itu terlempar jauh dengan bagian kepala reok. Bahkan pintu mobil itu terlempar dan terhempas ke lain arah.


Semua yang berada di sana berteriak histeris menyaksikan kejadian itu. Apalagi masih ramai orang dan kendaraan yang lewat. Baik yang masuk ke perusahaan ARA dan pengguna jalan.


Nyawa Dhira bagai tercabut seketika. Ia masih tiarap di atas rumput dan serasa tidak sanggup berdiri lagi. Semua orang berlari ke arah mobil Leo. Mereka berusaha mengeluarkan Leo dari mobil yang dikelilingi asap. Sementara mobil truk itu melaju dengan sangat cepat, melarikan diri.


Dhira terhuyung berlari ke arah mobil Leo. "Aaaa...aaaa....aaaaa...Leooo!" Baru empat langkah berjalan ia terjatuh. Kakinya terasa lemas dan tidak kuat menapak. Sedangkan jantungnya seperti mau meledak.


Ia bangkit lagi dengan tangisan keras. Dengan sempoyongan akhirnya tiba juga di dekat Leo. Seluruh tubuhnya terasa kaku melihat Leo yang berlumuran darah. Bahkan terlihat dahinya robek hingga menampakkan daging putih yang dalam. "Sadar Leo...sadar!!!! Aku mohon!!" Dhira meraung sambil memangku kepala Leo di atas pahanya.


"Tolonggg! Panggilan ambulan!" Teriak Dhira di sela tangisnya. Kedua tangannya yang memegangi bahu dan tangan Leo gemetar hebat.


"Kelamaan menunggu ambulan. Bawa ke rumah sakit saja. Itu darahnya banyak sekali. Takut nggak keburu!" Sahut seorang pria.


"Itu pakai mobil ku saja." Tawar seorang wanita.


"Iya. Tolong bantu mengangkatnya." Pinta Dhira dengan lemas. Kedua penglihatannya terasa kabur karena air yang masih deras mengalir.


Beberapa pria yang ada disana menggotong tubuh Leo. Dhira tidak jadi bekerja hari itu karena harus mengantar Leo ke rumah sakit. Ia tidak memberitahukan siapapun kecelakaan itu. Dirinya sendiri yang menjadi wali Leo.


Leo mendapat perawatan intensif. Beberapa jahitan dilakukan ditubuhnya. Betisnya robek parah tapi tidak sampai patah tulang. Begitu juga dengan dahinya. Semua sudah dilakukan dengan cepat dan tepat. Kini hanya tinggal menunggu Leo sadar agar tau apakah mata dan otaknya berfungsi baik seperti sedia kala.


Tak henti hentinya Dhira menangis di samping Leo. Ia sangat menyesal kenapa mau diajak masuk ke dalam mobil. Mungkin kalau ia berkeras masuk ke perusahaan Leo akan pergi dan terhindar dari kecelakaan.


Tapi kemudian, terpikir sesuatu.


'Ini bukan kecelakaan tanpa disengaja. Ini pasti ulah Jhon. Mereka pasti membalas keluarga Atmaja atas hilangnya Ara. Hah astaga, sekarang apa yang harus kulakukan?' Dhira menatap wajah Leo yang diperban. Hanya sebagian dari wajahnya yang terlihat. Ia menjadi teringat akan berita yang sedang panas sejak kemarin.


Perusahaan Leo, mengalami kesulitan karena tiba tiba beberapa investor dan pemasok tekstil memutus kerja sama dengan mereka.


Itu pasti ulah Jhon juga. Rencananya mulai berjalan. Membuat keluarga Atmaja tertekan karena amarah Jhon. Tapi hatinya kini menjadi sakit melihat bagiamana Leo harus menerima semua itu.


Dengan kasar, Dhira menyingkirkan air mata di pipinya. Hatinya terasa pegal dan lelah. Bukan hanya kepalanya yang sakit sekarang tapi juga hatinya.


Bagaimana pun ia tidak ingin Leo dan Ara dalam bahaya apalagi sampai kehilangan nyawa. Ini bukan keinginannya. Ia hanya ingin Meli mengaku dan mengembalikan ibunya.


Ia tahu benar yang dikatakan Leo, Ara hanya korban. Ia juga tahu Leo dan dirinya hanya korban juga. Lalu apa yang harus dilakukannya? Dhira mengangkat kepalanya menatap langit-langit putih dengan kepala berdenging. Kedua tangannya menopang dagunya dengan sikut bertumpu di pinggiran ranjang Leo. Rasanya perih, sakit dan takut semakin terasa menelusup ke dalam hatinya.


***


Pukul dua belas ponsel Dhira berdering. Zahra beberapa kali meneleponnya. Tidak digubrisnya, malah mode ponsel diubahnya menjadi silent karena berisik.


Tanpa terasa waktu sudah tengah malam. Jarum jam sudah menunjukkan angka sebelas. Sudah pukul dua puluh tiga. Ia masih setia duduk menemani Leo.


"You are a good and strong man. Aku mohon jangan kenapa-kenapa." Bisik Dhira dengan sudut mata yang masih saja berair.


Dhira mengelus-elus lengan Leo dengan cemas. "Aku tidak ingin ini semua terjadi. Tapi aku juga berjuang demi ibuku."


"Emmmm...ah...ssshhh..." Leo mengeluh sambil memegangi kepalanya dengan tangan sebelahnya.


"Leo kamu sudah sadar? Mana yang sakit? Tunggu ya aku panggilkan dokter."


"Huh, Andhira? Ah kamu baik baik saja? Syukurlah. Aku takut sekali kamu kenapa kenapa?" Leo menahan tangan Dhira.


"Aku baik baik saja. Kamu yang terluka. Apa ada yang terasa sakit parah? Kamu bisa melihatku kan?!" Dhira melambaikan tangannya ke wajah Leo.


Leo mengangguk. Mata mereka saling terpaut lama.

__ADS_1


Lama-lama pelupuk mata Leo berkaca-kaca, membuat hati Dhira terasa terhimpit hingga sesak. Bahkan membuatnya kesulitan bernafas. Tan


Tidak tahan melihat mata itu, matanya juga menjadi berair. Namun sekerasnya ditahannya. Tapi air bening itu, tidak bisa dicegahnya. Semakin menjadi dan sudah jatuh begitu deras. Ia memalingkan wajahnya. Tidak mau terlihat oleh Leo matanya yang berair.


__ADS_2