Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Kamu Milikku Seorang


__ADS_3

"Awas! Ngapain sih?" Dhira berontak melepaskan diri.


"Aku merindukanmu, sangat sangat rindu hingga rasanya dada ini sakit ."


"Ck awas! Aku mau berangkat kerja!" Dhira mendorong kepala Leo menggunakan telapak tangannya.


"Hanya sebentar. Rasanya mau mati menahan rindu ini." Leo mengecup leher Dhira. Bahkan menekannya kuat.


"Leo! Menyikirlah!" Tangan Dhira terangkat untuk memukul kepala Leo. Tapi tangannya itu tidak bisa di gerakkannya karena Leo sudah lebih dulu menahan lengannya itu.


Ia menggelinjang dan mendesis pelan karena ulah nakal Leo di lehernya. Sesaat ia terbang dan merebak, bagai bunga yang mekar merindukan tiupan angin yang membuat serbuknya melebur. Sejujurnya dirinya juga rindu dan ingin dimanja dan disayang seperti saat-saat hubungan mereka manis dan indah. Namun ia segera sadar. Menyadari mereka bukan berada di situasi yang indah. Didorongnya bahu Leo agar pria itu melepas lehernya.


Tangan Leo begitu kuat memeluk Dhira. Dorongan tangan Dhira justru membuat Leo berdiri tegak sembari mengangkat tubuh Dhira hingga mereka kini berdiri. Leo memutar tubuh Dhira hingga mereka saling berhadapan. Segera Leo meraup bibir Dhira dan menikmatinya.


Dhira tidak mau diam. Ia terus saja menggerakkan tangannya untuk menjauhkan Leo darinya, sehingga membuat keseimbangan mereka terganggu. Menyadari mereka akan terjatuh Dhira semakin gencar melakukan aksinya. Bahkan kakinya pun ikut menyepak kaki Leo.


Tidak bisa bertahan lagi, mereka makin oleng. Leo dengan sigap mengangkat tubuh Dhira dan melemparkan ke ranjang bersamaan dengan dirinya. Jadilah mereka berbaring di ranjang dengan posisi tetap berpelukan. Dhira berada di bawah Kungkungan tubuh Leo.


Dhira terus saja berontak. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya menghindari bibir Leo. Tangan dan kakinya juga bergerak mendorong Leo.


"Leo! Berhenti! Aku akan marah Leo!!! Ku bilang berhenti!!" Teriak Dhira.


"Aku tidak bisa berhenti. Kamu melawan terus sih! Coba diam dari tadi, pastilah acara cium ini sudah selesai." Bantah Leo dengan wajah tersenyum. Ia suka sekali menggangu Dhira dengan cara seperti ini. Gadisnya itu akan merepet dan marah terus, tapi dengan wajah merona. Itu terlihat menggoda dan membuatnya makin gencar menggodanya. Ia tahu kemarahan gadis itu hanya di mulut saja. Diciumnya lagi dagu dan leher Dhira dengan sengaja menggigitnya pelan.


"Astaga Leo! Hentikan! Kau ini susah sekali dibilangin!"


"Oke, aku akan berhenti. Tapi katakan dulu bahwa kamu mencintaiku?"


"Ck! Itu tidak ada! Lepasin aku! Aku mau pergi kerja!"


"Yah udah kalau nggak mau, kita begini aja di ranjang ini seharian ini. Aku akan membuatmu berteriak indah Sayang. Suaramu akan memenuhi kamar ini!"


Plakkkk...


Dhira memukul dada Leo. Warna wajahnya makin merona bak tomat matang. "Apa sih! Aneh!"


"Iya. Aku akan semakin aneh, karena kamu tidak menuruti permintaan ku. Tinggal bilang, bahwa kamu mencintaiku."


"Aku tidak mau! Aku tidak mencintaimu lagi!"


"Oh iya? Benarkah? Coba kita tes dulu."


Kedua mata Dhira menyipit dengan tes yang dikatakan Leo. Mulutnya baru terbuka sedikit hendak mengatakan sesuatu, tapi Leo sudah membungkamnya lagi. Membungkam dengan bibirnya dan bergelayut di disana. Sedangkan kedua tangannya di pegang pelan Leo diatas kepalanya.


Tidak hanya di situ, ia juga bergelayut di lehernya, membuatnya menahan nafas dengan darah menghentak di seluruh pembuluh darahnya. Ia menggigit bibirnya menahan diri dari serangan Leo.


"Bagaimana? Apakah kamu masih mau tesnya berlanjut?" Tanya Leo dengan bibir melengkung.


"Ja-jangan! Aku akan marah padamu!" Dhira melotot.


"Aku suka dengan amarahmu. Silahkan aja marah." Leo mengangkat kepalanya lebih tinggi dari wajah Dhira. "Bagaimana kalau sekarang kita ke bagian yang ini?"


Manik mata Leo mengarah pada dada Dhira. Dan itu membuat Dhira melotot sempurna. "Kau!!! Awasss!!!" Bentak Dhira. Ia menendang-nendang kakinya, ke kasur.


"Ya udah tinggal bilang ' i love you' maka aku akan berhenti. Pokoknya hanya kata itu yang bisa menyembuhkan kegilaan ku ini. Ayo katakan Sayanggg! Katakan!" Leo menundukkan kepalanya dan semakin dekat dengan yang dibawah dada lebarnya.


"I-iya!! Kau minggir dulu! Kau berat!"


"Eh, tidak. Katakan dulu baru aku turun." Tawar Leo dengan senyum lebar. Ia menatap Dhira dengan tatapan hangat dan penuh kemenangan.


"I love you! Sudah, lepaskan aku!"


"Sekali lagi. Katakan dengan lembut, dan penuh penghayatan." Tuntut Leo lagi.


"I love you." Kali ini Dhira mengatakannya dengan pelan tapi dengan mata terarah ke arah lain. Bukan ke mata Leo.


"Heumm. Jadilah. Dengan begitupun aku sudah senang." Leo mengecup hidung Dhira.

__ADS_1


"Ya udah, minggir lah!"


"Tapi bagaimana ini?" Leo berdecak sambil menggaruk kepalanya.


"Apa lagi? Ini udah makin siang!"


Leo menatap Dhira dengan tatapan aneh "Aku ingin melakukannya..." Leo menggantung kalimatnya. "Aku sungguh tidak tahan." Gurau Leo tapi dengan mimik serius.


"Kau ini bicara apa? Lepasin aku! Jangan kurang ajar kau! Atau aku tidak akan memaafkan mu selamanya." Bentak Dhira.


"Tapi bagaimana dengan..." Leo mengangkat dadanya dan melirik ke bawah perutnya.


"Aaaaa...! Leo!!! Dasar kau mesummmm!" Dhira bahkan malu melihat tingkah Leo. Malu melihat dada dan perut Leo tanpa penutup kain. Apalagi dengan sesuatu di sana yang terlihat aneh. Rasa malu merayapi nya hingga membuat wajahnya makin memerah.


"Aku mesum hanya padamu. Dan yang boleh genit padamu hanya aku seorang." Kecam Leo. Ia teringat lelaki yang begitu perhatian pada Dhira tempo hari. Sampai pegangan tangan pula.


"I-iya. Terserah. Sekarang lepaskan aku!"


"Haaa? Lepaskan? Kita belum melakukan apa-apa." Leo mendekatkan wajahnya dengan bibir maju.


Dhira melotot tidak percaya dengan kelakuan Leo. Dengan kedua tanganya ia memegang pinggang Leo.


Merasakan kedua telapak tangan Dhira di pinggangnya membuat Leo tersenyum menang. Ia menjadi lebih bersemangat dan mendaratkan bibirnya ke bibir Dhira.


"Aaaaa...sakit!!!" Tiba tiba Leo berteriak keras. Tiba tiba Dhira mencengkram pinggangnya dengan kuat dan secara tiba tiba melenggserkan Leo hingga turun dari tubuhnya dan dengan gerakan cepat ia berganti menduduki perut Leo.


"Jangan perko*a saya..." Leo bertingkah seolah olah dirinya yang dianiaya. Sambil berbicara, bibirnya tersenyum lebar bahkan bahkan tertawa kecil.


"Iya. Aku akan memperko*a mu hingga mati!" Dhira melayangkan tangannya memukul mukul dada Leo. Teriakan campur tawa kecil dari Leo memenuhi kamar itu.


"Aaaakkkhhh...! Kalian?" Tiba tiba suara dari pintu mengejutkan mereka berdua. Mata mereka berdua melotot melihat seorang lelaki berdiri di pintu dengan mulut menganga. "Dhira? Kau? Ah ini mengerikan!" Alvian syok melihat kelakuan Dhira. Apalagi melihat Leo yang meringis dibawah tubuh Dhira.


"Alvian? Kau kenapa di sini?" Tanya Dhira tanpa berniat turun dari tubuh Leo.


"Dia sepertinya mengintip kita sayang. Dasar laki laki mesum!" Kesempatan bagus bagi Leo untuk membalas Alvian.


"Iya. Makanya matamu itu jaga! Dia milikku." Leo menarik tengkuk Dhira dan memberikan ciuman di bibirnya dengan ganas. Memamerkan kepemilikannya pada Alvian.


"Cihhh...kalian seperti..."


Belum selesai kalimat Alvian, Leo melempar bantal dengan keras padanya. "Pergi kau! Mengganggu kemesraan orang saja."


Alvian berbalik dengan wajah memerah. Ia tidak mengira Dhira yang pintar bela diri bisa berkelakuan seperti ini. Karena khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada Dhira, ia mencari alamat rumah Dhira untuk memeriksa apakah gadis dan mobil miliknya selamat alias baik-baik saja.


Itulah kenapa masih pagi sekali ia sampai di rumah Dhira. Eh ternyata ia malah disuguhi pemandangan yang membuatnya kesal. Padahal beberapa hari ia sudah tertarik pada Dhira. Bahkan ia berniat besok malam Minggu ia sudah merencanakan kencan sekalian menembak Dhira.


"Arrggghhh...tetap saja sia sia datang ke sini. Mobil tidak bisa ku bawa. Kuncinya masih sama Dhira. Ogah masuk ke dalam lagi." Ia meninggalkan mobilnya lagi, terpaksa naik ojek lagi ke kantor. "Apes...apesssss!" Desisnya pelan sembari memukul pelan kepalanya agar melupakan penampakan yang membuat dadanya panas.


Di kamar, Leo masih memeluk punggung Dhira dengan erat. Meski gadis itu terus saja marah dan berontak ia tidak melepasnya sedikitpun.


"Ini udah siang Leo. Aku masih ada urusan. Tolong lepaskan aku." Ujar Dhira dengan suara dingin. Kali ini ia sudah ke mode serius.


"Masih jam enam lewat. Ke kantor terlalu pagi. Lebih baik menemaniku beberapa menit lagi di sini." Leo mengendus-endus rambut Dhira yang terjatuh ke wajahnya.


"Ini tidak benar. Alvian bisa berpikir yang salah tentang kita."


"Salah gimana? Hubungan kita sungguhan. Malah aku senang, dia pasti tidak akan dekat dekat kamu lagi. Kelakuannya bikin aku mau muntah. Sok perhatian pada wanitaku."


"Dia atasanku. Kalau dia tidak senang, bisa bisa aku ditendang dari kantor itu."


"Biarin. Aku senang kalau kamu dikeluarin dari sana. Dia terlihat genit."


"Ngomongin orang genit! Terus kamu apa? Alim? Isss amit-amit!" Cibir Dhira.


"Aku genit pada wanitaku. Itu pantas. Dari pada dia. Orang luar yang tidak berhak." Leo mengecup bibir Dhira. "Tidak ada yang boleh menginginkanmu. Hanya aku. Kamu milikku seorang. Hanya aku." Leo menatap Dhira dengan mata horor. Tersirat ancaman yang dalam dari mata itu.


"Bagaimana kalau aku tidak mau. Aku berhak memilih siapa yang menjadi pemilik ku. Bagaimana kalau aku memilih Alvian?" Tatapan Dhira begitu serius hingga membuat dada Leo bagai terkoyak.

__ADS_1


"Maka diantara kami harus ada yang mati." Suara Leo begitu dingin.


Dhira menghela nafas. "Tidak ada yang tahu takdir. Jika memang kita tidak berjodoh, maka tidak ada yang bisa menolak itu." Jawab Dhira tak kalah dingin.


"Aku akan meraih takdir itu semampuku hingga akhir hayat ku." Leo menghentak punggung Dhira hingga wajah Dhira terjatuh dan tepat mengenai bibirnya. Kesempatan itu tidak lagi dibuang Leo. Ia meraup banyak banyak keindahan bibir Dhira. Menikmatinya hingga terasa memenuhi ubun ubunnya. Tak hanya sampai di situ, ia juga memuat posisi mereka dan menyempatkan tangannya bergerilya.


"Kamu makin kurus. Ini terasa mengecil." Ujar Leo. Aslinya ia hampir terbawa arus, menyeretnya lebih dalam melakukan kegiatannya. Bahkan terasa dadanya hampir meledak dan hentakan yang menggebu-gebu terasa diperutnya. Sehingga ia mengatakan sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya.


"Makanya lepasin! Udah tahu kurus masih dipenyet-penyet! Sakit tahu!!" Gerutu Dhira. Ia mendorong Leo hingga tubuhnya lepas dari tangannya.


Leo senyum senyum melihat wajah Dhira yang bak tomat matang, menahan malu. Membuatnya makin tidak tahan. Tapi bagaimanpun ia harus menahan diri. "Tapi tetap menghanyutkan dan nikmat. Bahkan membuatku..."


Plakkk...


Dhira menabok dada Leo hingga mulutnya tertutup rapat. Rasanya makin malu mendengar lanjutan kalimat Leo.


Ia turun dari ranjang dan menyisir rambutnya. Ia tidak lagi menyempatkan diri membenahi make up nya. Berpikir biar di kantor saja dilakukannya. Yang penting saat ini ia harus pergi dari hadapan Leo. Harus secepatnya.


Tanpa mengatakan apa-apa, Dhira mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Leo.


Sesampainya di pintu ia menepuk kepalanya pelan, lupa membawa kunci mobil Alvian. Ia terpaksa kembali untuk mengambilnya.


Ia mencari kunci diatas meja. Tidak ada. Di gantungan juga tidak ada. "Kemana dia?" Tanyanya pada dirinya sendiri.


"Ini."


Ia menoleh pada Leo yang sudah memakai kaosnya. Bahkan rambutnya sudah tersisir rapi.


"Berikan itu!"


"No. Biar ku antarkan. Kalau bisa sekalian minta pengunduran dirimu."


"Leo jangan mengaturku!"


"Wajib lah aku mengatur mu. Kamu itu milikku."


"Terserah kamu mau bilang apa. Berikan kunci itu. Alvian bisa marah mobilnya terlalu lama ku pinjam."


"Pakai mobilku saja. Biar aku yang mengantar mobil pria itu."


"Haakkkhhh...kamu menyebalkan! Berikan itu!"


"Tidak. Kalau mau berangkat kerja, hayo bareng sama aku." Leo menarik tangan Dhira dan membawanya ke luar.


Dhira hanya diam selama di mobil. Ia sangat jengkel dengan kelakuan Leo. Tadi saja di halaman, Leo tidak malu berdebat dengannya. Mereka sempat menjadi tontonan tetangga. Dari pada makin malu, ia terpaksa mengalah.


"Ngapain kamu turun? Pergilah sana!" Usir Dhira saat Leo ikut turun.


"Mau memberikan ini pada pemiliknya."


"Aku juga bisa. Sini!"


"Tidak. Dia bisa besar kepala bila kamu yang mengembalikannya."


"Eerrgg terserahlah!" Dhira menghentakkan kakinya meninggalkan Leo.


Leo justru senang dan tersenyum dengan tingkah Dhira. Ia lebih menyukainya seperti itu, dari pada mendiamkannya hingga tiba di tempat kerjanya.


Dhira melewati Alvian yang sedang mengobrol dengan dua gadis di meja yang setiap hari digodanya.


"Eh, Dhira? Apakah perang panas tadi sudah selesai?" Tanya Alvian penuh ejekan.


Dhira tidak menyahut. Ia terus melanjutkan langkahnya melewati mereka.


"Ah ternyata...sungguh tak ku sangka." Alvian menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu teringat dengan mobilnya.


"Hei, mana kunci mobilku? Itu barang mahal. Enak saja kamu memakainya sesuka hatimu!" Seru Alvian. Sengaja mengeraskan suaranya. Ia masih sangat kesal pada Dhira.

__ADS_1


"Ini, tangkap!" Suara Leo menyita perhatian semua orang di sana. Ia sungguh melempar kunci itu. "Ambil sendiri mobilmu di sana. Dia tadi berangkat bersamaku. Dia ku larang menyetir sendiri."


__ADS_2