
Siang itu Jhon ke kampus tempat Ara kuliah. Menjemput Ara menggantikan Robert.
"Lho kenapa kak Jhon yang jemput? Papi kemana?" Tanya Ara.
"Pak Robert lagi ada pekerjaan mendesak."
"Bukan pergi ke Belanda kan?!"
"Bukan. Beliau ada di kantor ARA."
Ara melirik jam tangannya "masih jam satu. Antar aku ke kantor aja. Aku mau makan siang bareng papi."
"Pak Robert sedang rapat penting Nona. Beliau mungkin sore sekitar jam lima baru bisa bertemu dengan anda."
"Nona Nona. Jangan panggil aku begitu! Panggil nama aja. Telingaku gatal mendengarnya."
"Hehe iya. Saya takut sama papimu. Dianggap berlaku tidak sopan pada putrinya."
"Tidak ada itu. Pokoknya jangan panggil aku nona. Aku yang akan bicara pada papi soal itu."
"Baiklah. Terus sekarang mau kemana?"
"Kamu pulang aja ke kantor. Aku pakai mobil kamu."
"Jangan! Saya sudah diperintahkan menjadi sopir mu. Aku bisa kena marah kalau tidak bekerja sesuai perintah."
"Okelah. Udah lama juga kamu tidak menyupir untukku. Hayo!"
Jhon mengarahkan mobil ke jalan pulang. Ia lega Ara tidak banyak tingkah. Ternyata anak cengeng dan nakal yang tiap hari ia antar jemput sekolah dulu kini sudah lebih dewasa dan penurut.
Tapi ketenangannya tidak bertahan lama. Diam diam ia mendengar Ara berbicara di telepon dengan temannya. Mereka akan keluar dan pergi ke pesta pernikahan temannya.
"Kenapa kamu berdiri di pintu?" Tanya Ara ketika keluar melihat Jhon berdiri di sana sambil bersender.
"Nungguin kamu."
"Emang mau kemana?" Tanya Ara heran.
"Nemenin kamu ke pesta." Jawab Jhon santai.
"Hah? Kamu menguping pembicaraan ku ya?"
"Bukan menguping tapi kedengaran." Jhon tertawa pelan.
"Sama aja." Ara mengibaskan tangannya. "Aku mau pergi sama teman. Vanya sama Dhira."
"Iya. Tapi papimu tetap menyuruhku mengantarmu ke sana."
"Tidak. Aku bawa mobil sendiri."
"Berbahaya menyetir sendiri. Biarkan aku ikut."
"Kak Jhon! Aku mau bermain sama teman teman aku. Nggak serulah kalau kakak ngempil diantara kami. Lagian ngapain coba harus ikut."
"Siapa tahu kamu mabuk. Lalu siapa yang bawa mobil? Memaksakan diri menyetir saat setengah sadar kamu tahu itu bahaya."
Jhon begitu tegas. Ara sudah sangat hafal karakter Jhon. Sekali bilang tidak maka tidak. Terpaksa ia menuruti kemauan Jhon dari pada tidak berangkat ke Pesta.
Ara mengajak Jhon masuk, tapi pemuda itu menolak dan memilih menunggu di mobil.
Ia masuk dan mencari kedua temannya.
Sore itu Dhira mengirim pesan ke pada Leo mengatakan dirinya tidak bisa datang untuk berlatih karena akan menghadiri pesta. Dan ternyata Leo juga sama akan ke pesta.
Tiga bersahabat itu kini berkumpul dengan wajah ceria. Bersenda gurau dengan sang pengantin wanita yang merupakan teman mereka juga.
"Kamu juga jangan lama-lama pacarannya Van. Awas melendung duluan." Goda Nia si pengantin.
"Amannnn. Kita mah pacarannya sehaaattt..." Sahut Vanya penuh kemenangan.
"Sehat dengkul mu! Batang lehermu membuktikannya." Tuduh Dhira.
"Mana ada. Ngarang kamu!" Sangkal Vanya tapi wajahnya memerah.
"Huh! Hari Jumat itu, dia menutupi lehernya dengan syal. Tengah hari juga betah pake syal. Keringat bercucuran tapi yang disembunyikan masih menampakkan diri." Ejek Dhira. Ia memang melihat leher Vanya yang membiru seperti bekas cubitan.
"Ihhh...sungguh tega kamu!" Vanya memukul pelan bahu Dhira dengan wajah makin memerah. Mereka berempat tertawa terbahak.
"Sayang, ini teman ku datang ngucapin selamat. Salaman dulu." Suami Nia menghentikan tawa mereka.
"Hai, semoga hidup bahagia dengan teman saya."
__ADS_1
Dhira dan Vanya langsung menoleh ke si pemilik suara ia adalah Leo. Pemuda itu nampak rapi seperti biasanya. Hanya saja wajahnya terlihat lebih tampan dan macho karena potongan rambut baru.
"Kalian juga ada di sini?" Leo menyadari adanya Dhira, Vanya dan Ara.
"Hehe iya. Wanitanya teman kami." Jawab Dhira dengan wajah tenang. Dan itu menjadi perhatian khusus bagi Vanya. Sahabatnya bisa santai dan terlihat enjoy dengan Leo.
"Sedangkan pria nya adalah sahabat ku." Sambung Leo.
"Dinikmati dulu menu makanannya. Jangan langsung pulang." Ujar Nia.
"Sip. Pasti deh kami makan." Sahut Ara.
Ara mengajak dua temannya mencari tempat duduk untuk bersantai. Sementara Leo masih berbincang dengan suami Nia sambil sesekali tertawa.
Dari tempat duduk, Dhira sesekali melirik ke arah Leo yang kebetulan segaris lurus dengan depannya.
"Jangan dilirik terus. Kalau suka di dekati." Bisik Vanya yang menyadari arah mata Dhira.
Plakkk
Dhira menabok tangan Vanya. Ia menunduk mengaduk makanan di piring dan perlahan memakannya. Ia kesal kenapa dirinya bisa melihat ke arah Leo hingga kepergok Vanya.
"Ngapain malu malu. Nggak jaman tahu! Kalau suka, embat langsung atau di ambil orang duluan." Bisik Vanya lagi. Sambil melirik ke arah Leo yang sudah dikerumuni oleh para wanita. Mereka begitu heboh menyalami dan mengajak lelaki itu berbicara.
"Siapa yang suka. Aku hanya penasaran sesuatu."
"Apa?" Vanya memainkan kelopak matanya dengan senyum jahil.
"Matamu itu. Jelek!" Sungut Dhira pelan.
"Kamu mau cari yang kayak mana lagi coba? Teman kuliah kita banyak yang suka sama kamu, tapi kamu bilang 'bukan tipeku' yang model Leo bukan juga. Jangan jangan kamu senangnya sama duda. Biar lebih hot dan berpengalaman."
"Bocor! Mulutmu itu tidak tahu adat."
"Hahaha...aku tahu. Aslinya kamu suka Leo. Tapi gengsi. Iya kannn..." Vanya terus menggoda Dhira.
"Makanlah. Ini sangat enak." Dhira menyuapkan acar dan sambal ke mulut Vanya. Barulah mulut sahabatnya itu diam. Bukan diam tapi sibuk meminum air karena mulut nya yang kebakar.
"Dari tadi bisik bisik mulu. Ngomongin apa sih?" Ara kesal diabaikan temannya.
"Dhira punya pacar." Eh ternyata mulut Vanya masih bisa bicara. Yang bukan bukan lagi.
"Waaahhh...siapa dia?" Ara begitu antusias.
"Cukup! Hssshahh...pedas tahu!" Vanya menolak dengan tangannya.
"Aku tahu. Itu si Leo dari tadi fokusnya sama kamu terus. Sampai sampai tidak meladeni para wanita di sekitarnya." Ujar Ara.
"Mata kalian bermasalah kayaknya. Sudahi makannya biar kita pergi." Ujar Dhira.
"Santai sih. Ini malam Minggu. Mau kemana buru buru amat." Ucap Ara.
"Lebih enak nonton di rumah bisa sambil tiduran." Jawab Dhira.
"Kumat kawan satu ini." Vanya dan Ara berbicara barengan. Kalimat ini adalah andalan Dhira saat kesal. Dan sekarang dibalikkan padanya.
"Hahaha..." Mereka bertiga tertawa barengan.
"Khem!"
Tawa mereka terhenti saat mendengar deheman seseorang. Mereka melihat ke samping dan ada Leo disana.
"Mari makan..." Vanya berinisiatif berbicara duluan.
"Sudah. Aku mau pinjam Dhira. Boleh nggak?"
Mereka bertiga saling bertatapan. Kemudian tersenyum kecuali Dhira.
"Silahkan. Kebetulan teman kami satu ini sudah bosan berada di sini. Dari tadi pengen pulang." Mulut Vanya sangat lancar berbicara.
"Sama berarti. Aku juga tidak betah di tempat seperti ini."
"Sana Dhi. Pulang duluan sama Leo. Aku sama Ara masih mau seru-seruan di sini." Usir Vanya.
Dhira melotot pada Vanya. Tapi Vanya malah tertawa dan membuat Dhira tidak bisa bicara.
Tidak bisa mengelak lagi, Dhira bangkit dari kursinya setelah membersihkan mulutnya dengan tisu. Tidak lupa menyantelkan tas selempang imut di pundaknya.
"Kita pamit dulu ke pengantinnya." Ajak Leo menarik pelan tangan Dhira dan menggenggamnya dengan hangat.
Dhira tidak tega untuk berontak. Takut membuat bosnya itu malu di depan orang banyak. Ia hanya mengikuti langkah kaki Leo menuju pelaminan.
__ADS_1
Semua pandangan wanita yang mengobrol dengan Leo sebelumnya mengarah pada Dhira. Mereka menatap sinis dengan bibir menukik kesal. Bahkan ada beberapa orang yang sengaja berjalan dan menabrakkan tubuhnya pada Dhira.
Bukan tidak disadarinya, tapi bertindak melawan bukan pilihan terbaik menurut Dhira. Ia biarkan saja mereka melakukan apapun asal jangan melebihi batas.
Hingga seorang wanita berpakaian seksi dengan sengaja membawa gelas di tangannya dan menumpahkan jus ke pakaian Dhira. "Ops...aku sungguh tidak sengaja." Wanita itu berbicara dengan angkuh sambil berlalu.
"Berhenti!" Bentak Leo.
Dhira sampai berhenti mengkibasi ujung rok nya karena kaget dengan suara Leo yang keras.
"Minta maaf dengan benar!" Ucap Leo marah.
"Leo, aku sungguh tidak sengaja." Dengan lenjeh wanita itu menaruh tangannya ke bahu lebar Leo.
Ketepatan ada seorang pelayan yang lewat dengan beberapa gelas di baki berisi jus semua. Dengan sengaja Leo menyenggol baki itu hingga oleng ke arah wanita di sampingnya.
Brakkkk driiinggg
Gelas itu rubuh. Seluruh isinya tumpah ke baju wanita itu. Sedang puingnya berserakan di lantai.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Leo masih dengan nada marah. Sedangkan perhatian orang orang beralih ke tempat Leo berdiri dengan pandangan kepo.
"Leo, ayo kita pergi." Dhira yang merasa makin tidak enak, menarik pelan tangan Leo.
"Jangan menampakkan wajah mu lagi di hadapanku!" Kaki Leo tergeret karena Dhira menariknya dengan kuat.
"Jangan marah marah di depan umum!" Dhira setengah membentak.
"Para wanita sombong itu perlu di beri pelajaran. Di diamkan makin ngelunjak. Kamu jadi basah begini."
"Tidak apa-apa. Pakaian bisa di ganti. Tapi image mu bisa rusak bila marah marah ditempat umum apalagi terhadap wanita."
"Aku tidak peduli tentang itu. Aku hanya peduli sama kamu." Sebenarnya ia sudah beberapa kali memendam amarah terhadap wanita itu. Bukan sekali dua kali dirinya dibuat kesal. Wanita itu sudah beberapa kali menggodanya dengan gaya 'menyodorkan diri.'
Dhira melepas tangannya dari Leo. Dan terus berjalan duluan hingga keluar gedung.
Sementara di kerumunan orang para wanita yang begitu memuja Leo bergunjing membicarakan Dhira yang hanya gadis biasa. Mereka sungguh kaget dengan perlakuan Leo. Mereka tahu Leo orang yang dingin dan cuek. Tapi tidak menyangka akan berbuat kasar seperti barusan.
Di pinggir jalan Dhira berdiri sambil memeras ujung gaunnya untuk mengurangi air jus. Ia sangat kesal aslinya dan hampir menonjok wanita kurang ajar itu. Tapi masih ditahannya agar tidak terjadi kekacauan.
Mobil Leo datang. Dan pintu terbuka. "Masuk Dhi."
Dhira menoleh. "aku pulang sendiri aja."
Leo tidak berbicara apapun. Ia turun dan mendorong Dhira dengan pelan agar masuk ke mobil. "Jangan membantah. Aku ingin membawamu ke suatu tempat."
Dhira tidak melawan. Ia tahu Leo tidak bisa dibantah dan akan menyebut kekuasaanya agar dirinya tidak bisa berkutik seperti biasanya.
"Itu toko pakaian masih buka. Kita ke sana. Ganti pakaianmu." Leo menepikan mobilnya di depan sebuah toko pakaian tidak jauh dari gedung pesta.
"Tidak usah. Aku ganti di rumah aja." Tolak Dhira.
"Pulang ke rumah mu terlalu jauh. Di sini aja." Leo sudah turun dan membuka pintu di sebelah Dhira.
Dengan langkah berat, Dhira mengikuti Leo yang tangannya dipegang erat.
Tidak tanggung tanggung Leo memilih gaun mahal mode keluaran baru. Dhira terus saja menolak namun Leo tetaplah yang menang.
Dhira mematut dirinya di cermin besar di ruang ganti. Terlihat dirinya yang tampil beda dengan balutan pakaian cantik itu. Ia termenung dan membayangkan nasehat ibunya. "Nak jangan terlalu percaya sama orang yang memiliki ketampanan dan kekayaan. Banyakan dari mereka hanya mempermainkan hidup wanita apalagi seperti kehidupan kita. Carilah yang sama dengan kita. Tidak masalah kurang tampan, kurang kaya, asal baik dan bertanggung jawab." Ia mendesah berat dengan tatapan kosong ke cermin.
"Kamu cantik sekali." Ia terlonjak tiba tiba Leo sudah ada di dekatnya. Pantulan dirinya kini di dampingi oleh tubuh Leo yang menjulang tinggi.
"Tunggu sebentar. Sini geh." Leo menarik bahu Dhira ke arahnya. "Akan makin sempurna saat rambutmu di lepas." Dengan lembut Leo menarik tali rambut Dhira.
Rambut halus dan berisi milik Dhira tergerai indah begitu tali itu copot. "Nah, perfect. Kamu manis sekali." Bahkan jari telunjuk Leo membenarkan anak rambut yang menutupi kening Dhira.
"Oke, sekarang kita berangkat." Ajak Leo.
"Hah? Kemana?" Tanya Dhira sambil mengerjap.
Leo tersenyum manis. Digandengnya tangan Dhira "ke pesta yang sesungguhnya."
"Pesta? Pesta apa lagi?"
"Nanti juga kamu tahu. Ayolah." Mereka meninggalkan toko itu.
Mobil Leo tiba di sebuah restoran yang terkenal di Menteng.
Dhira tahu itu adalah restoran mahal dan khusus didatangi orang berduit. Ia baru ini pernah masuk ke restoran ini. Restoran dengan atmosfir vintage berbalut kolonial yang hanya pernah didengar nya kini benar benar ada dihadapannya dan dirasakannya.
Leo terus menggenggam tangannya seakan takut Dhira pergi diam diam meninggalkannya.
__ADS_1
"Leo, tolong lepaskan tanganku."
"Hum? Nggak apa-apa. Kita sudah sampai." Leo begitu enggan melepas tangan Dhira.