
"Aku mencari kalian selama ini. Pindah kemana?"
"Lumayan jauh dari sini. Oh kamu bilang ada yang mau kamu bicarakan, apa itu?"
Meli terlihat berpikir. "Sebenarnya aku nggak enak ngomongin ini. Lebih baik Robert sendiri yang menyampaikannya. Tapi Robert seperti tidak peduli. Sebagai temanmu, aku merasa tidak bisa diam saja."
"Tentang apa?"
"Kamu jangan terlalu sedih ya, sebenarnya Robert sudah punya pacar baru. Kalau tidak salah kabarnya mereka akan bertunangan. Bukan dia langsung sih yang ngomong. Itu isu dari teman temannya . Tapi soal pacar barunya aku lihat sendiri. Mereka sangat intim. Temannya mengirimi aku foto fotonya. Kalau kamu tidak percaya ini nah," Meli mengambil ponselnya dari dari tas lalu menunjukkan foto itu.
Araysa tidak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya menutupi mulutnya yang menganga dengan tangannya. Begitu banyak foto Robert bersama seorang wanita. Pose mereka sangat intim. Mereka sedang bermesraan. Hanya melihat foto-foto itu ia bisa menduga yang terjadi.
"Hiks...hiks hiks" Araysa menangis tertahan. Rasa sakit luar biasa mendera dada dan kepalanya. Ia tidak menduga Robert tak ubahnya seperti buaya.
"Cup...jangan terlalu sedih. Harusnya kamu bersyukur tidak terlambat mengetahui ini. Aku terpaksa memberitahumu. Aku kasihan padamu."
Araysa menghapus air matanya tapi air itu tak kering kering juga. Semakin dihapus semakin banyak yang keluar.
"Masih banyak lelaki lain yang lebih baik darinya. Kamu masih belia dan cantik. Kamu harus melupakannya. Dia sudah mengkhianatimu."
"Apa selama aku tidak ada dia seperti ini? Apa mungkin itu pelampiasan?" Tanya Araysa pelan.
"Hahh...bukan. Sedang pacaran sama kamu selama ini, dia juga sudah seperti itu. Dia punya wanita lain. Pria sepertinya mana mungkin sama dengan pria sederhana lainnya. Dia sering ke luar kota dan luar negeri. Sering menginap di hotel. Menurutmu apakah dia sungguh pria polos seperti bayanganmu? Ingin bicara padamu, tapi aku diancam olehnya. Satu satunya caraku yah, seperti selama ini. Menyadarkan mu lewat sindirian. Tapi kamu tidak memahamiku."
"Kenapa tidak dari awal kamu jujur. Sekarang setelah kami...kami, menjalani hubungan beberapa bulan baru ngomong. Mana aku mengerti maksudmu." Raung Araysa dengan suara tertahan.
"Maaf, aku benar benar terjepit diantara kalian. Aku tidak bisa bebas membeberkan tentangnya. Kamu sendiri tahu keluargaku berada di bawah kekuasan orang tuanya. Kalau aku nekad, bisa bisa keluargaku yang kena imbasnya." Wajah Meli sungguh penuh penyesalan . Dengan lemah lembut, ia mengelus tangan Araysa.
"Tutup lah pintu hatimu untuknya. Hapus semua jejaknya. Mulailah lembaran baru dengan lelaki lain. Dia tidak akan bisa menyerahkan seluruh hatinya padamu." Bujuk Meli.
Setelah hampir setengah jam, Araysa baru bisa menguasai dirinya. Tangisnya sudah reda walau wajahnya terlihat seperti orang tidak bernyawa. Meli pamit masuk kelas, karena harus mengikuti pelajaran. "Kalau kamu tidak keberatan, kamu bisa menungguku di sini. Nanti kita bisa berbicara lagi."
Araysa mengangguk. Ia duduk sendirian sepeninggal Meli. 'bagaimana nasibku? Aku harus apa?' lagi lagi ia menangis. 'haruskah aku memberitahunya? Atau lebih baik aku pergi jauh? Tapi bagaimana dengan bayi ini? Aaaaaa! Tolong aku!!! Tolong...apa yang harus kulakukan? Ayah...oh Tuhan, bagaimana dengan ayah?'
"Araysa? Kamu kenapa di sini?" Suara lelaki memanggilnya.
Araysa berputar.
"Lho kamu menangis?" Pria itu adalah Angkasa. Teman kental Robert. Ia duduk di samping Araysa.
"Kamu tahu kemana Robert?" Tanya Araysa tanpa menjawab Angkasa.
"Dia ke Jepang."
"Mas Angkasa, tolong jawab yang jujur ya, benar kah Robert sudah punya wanita lain?"
Angkasa terkejut. "Dari mana kamu tahu?"
"Itu tidak penting. Jawab yang jujur!"
"E...gimana ya...e itu, dia memang terlihat liar akhir akhir ini. Dia sering bermesraan dengan wanita di bar. Aku sempat marah padanya tapi ia malah menghajar ku."
"Apa tabiatnya memang begitu?"
__ADS_1
"Tidak separah itulah. Memang saat di SMA dia itu seorang playboy. Gaet pacar sana sini. Tapi semenjak kuliah sudah berkurang. Pacarnya paling sekitar sembilan orang. Kesepuluh kamu."
"Apakah setiap pacarnya di ajaknya tidur?"
"Kalau soal itu aku tidak tahu. Tapi kalau gayanya sih sangat mesra dan terang terangan." Angkasa menggaruk kepalanya dengan pelan.
"Kenapa tiba tiba kamu tanya itu?"
Araysa menggeleng sambil menyusut air matanya.
"Apa kalian ada masalah? Kenapa kamu terlihat menderita?"
"Sebulan ini, apakah Robert biasa? Maksudku perangainya? Apa menurutmu dia berubah?"
Angkasa berpikir, "Tidak, dia biasa. Soal galaknya ya masih kalau ada salah dia mudah mengamuk."
"Apa dia bersama wanita lain?"
"Gimana ya ngomongnya? Dia kan memang diincar pada wanita. Seperti biasa kalau dia di tempat ramai tetap menjadi pusat perhatian."
Araysa tidak mengatakan apapun lagi.
"Kamu terlihat kacau. Apa kalian berantam?"
Araysa menggeleng.
"Kamu menjadi kurus. Apa kamu sakit?"
"Sudah sarapan? Mau apa? Biar ku pensankan."
"Tidak usah. Aku mau pergi." Araysa bangkit dan langsung keluar.
Angkasa geleng kepala melihat kondisi Araysa. Ia yakin gadis itu sedang ada masalah.
Araysa melanjutkan tangisannya di dalam taksi. Hatinya hancur berkeping keping. Ia telah tertipu. Robert mempermainkan hidupnya. Sungguh tidak disangkanya Robert seorang playboy. Selama berpacaran, gosip itu tidak pernah sampai ke telinganya. Bagaimana gosip sampai padanya, sedangkan dirinya selalu dibatasi oleh Robert bertemu dengan teman temannya. Bila secara kebetulan ia dan Angkasa bertemu dan berbicara, Robert selalu mencari alasan agar mereka tidak terlalu dekat. Selalu seperti itu kepada siapapun. Baik yang laki laki atau wanita. Makanya ia hanya mengenal Angkasa. Mungkin itulah yang disembunyikan Robert.
Araysa tidak langsung pulang ke rumah. Ia tidak bisa bertemu ayahnya dengan dirinya yang kacau. Ia pergi ke taman kota dan duduk sendirian di sana. "Apa yang harus ku lakukan? Ayah akan malu dengan kondisiku sekarang. Seandainya Robert mau bertanggung jawab mungkin ayah hanya marah dan lama lama akan bisa menerima. Tapi jika Robert tidak bertanggung jawab, haruskah aku mempertahankan anak ini?" Tanpa sadar tangannya sudah mengelus perutnya yang masih rata.
"Haaaa...aaaa...apa yang harus kulakukan?" Raung Araysa. Hingga malam hari ia betah duduk di sana dengan wajah muram. Tidak dipedulikannya tatapan orang yang lewat dan bermain di sekitarnya. Saat ini hidupnya sangat gelap. Tidak tahu kakinya harus melangkah ke arah mana. Bingung dan buntu menggerayanginya.
Seperti yang direncanakannya, ia merahasiakan kehamilannya dengan sangat baik. Sempat beberapa kali ia muntah saat di sekolah. Tapi untungnya bisa diatasinya, tidak sampai terlihat oleh orang lain.
Tidak terasa dua bulan berlalu. Kehamilan Araysa sudah tiga bulan. Kekhawatiran makin menghantuinya. Apalagi perutnya sudah terlihat sedikit menonjol. Tapi bila memakai pakaian longgar tidak seberapa ketara. Namun banyak yang mengatakan padanya, dirinya makin gendut dan berisi. Itu memang benar, dari sebulan yang lalu ia sudah mulai enak makan.
Ia hanya tersenyum menanggapi semuanya. Senyum yang terlihat tenang padahal di dalam hati, Araysa setiap hari ketakutan dan terbebani.
Siang itu kabar dari koran mengejutkan semua orang. Keluarga Rabiga yang sedang berada di Jepang, mengalami kecelakaan saat berkendara hingga kedua orang tuanya dan neneknya yang sudah menjanda tewas ditempat. Dunia perusahaan berkabung ikut merasakan kehilangan. Hanya kabar itu yang di dengar oleh Araysa. Berita lainnya tidak diketahuinya.
Penasaran dengan keadaan Robert, Araysa menemui Meli lagi. Tapi saat sudah berada di kampus, ia berubah pikiran. Ia tidak ingin bertemu Meli. Akhirnya ia mencari Angkasa.
"Bagaimana kabar Robert?"
"Emangnya kalian tidak telponan? Kenapa nanyain nya sama aku?"
__ADS_1
"Kami putus komunikasi. Ayo katakan sekarang bagaimana keadaannya."
"Dia masih di rawat intensif. Katanya ia memaksa minta ikut pulang Indonesia bersama jenazah orang tuanya."
"Di kebumikan di sini?"
"Iya. Itu permintaan ayahnya sebelumnya."
"Terus gimana? Kapan mereka tiba?"
"Menurut informasinya, dua hari lagi. Menunggu kondisi Robert sedikit membaik."
Dua hari yang ditunggu Araysa tiba. Setelah penguburan orang tua Robert, Araysa mengikuti mobil yang membawa Robert ke rumah sakit. Robert kembali drop hingga pingsan karena guncangan kehilangan kedua orang tuanya. Sebenarnya semua melarangnya ikut, tapi dengan keras kepala ia memaksakan harus melihat hari terakhir orang tuanya di dunia ini.
Di rumah sakit, Araysa telah menunggu tiga jam agar ruangan Robert kosong. Dari tadi, kakek, nenek Robert dari orang tua papinya masih berada di sana.
Kali ini ia tidak menyia-nyiakan waktu lagi, segera ia masuk ke dalam begitu ruangan itu kosong. Dadanya berdentum hebat saat melihat Robert yang terbaring dengan balutan perban di kepala leher dan kedua tangannya. Tanpa permisi air matanya berdesakan keluar hingga membasahi kedua pipinya.
"Hiks hiks huuuu...uuu...Robert..." Araysa tak sanggup lagi. Ia menangis sampai seluruh tubuhnya bergetar.
"Kamu harus kuat. Berjuanglah untuk sembuh Ada banyak hal yang ingin ku katakan padamu." Dipegangnya telapak tangan Robert dengan sangat hati-hati.
Lelaki itu, hanya tertidur dengan tenang. Tidak menunjukkan reaksi akan bangun meski suara dan sentuhan Araysa sebenarnya bisa membangunkan orang yang sedang tidur. Tapi mungkin karena Robert dibawah pengaruh obat lelaki itu sama sekali tidak bangun.
Rasanya ingin lebih lama berada di sana untuk menemani Robert, tapi ia takut ada yang datang. Ia pun memutuskan untuk pergi.
Baru saja ia meninggalkan pintu, terlihat dari ujung lorong Meli dan dua wanita temannya datang menuju ke ruangan Robert.
Ia segera berlari menyembunyikan diri. Ia tidak berani menemui mereka. Baru melihat wajah dan penampilan mereka ia sudah tidak yakin untuk menunjukkan diri. Terlihat gaya dan cara hidup mereka sangat jauh dari dirinya yang lusuh dan miskin.
Setelah mereka masuk ke dalam, ia berdiri di depan pintu ingin tahu siapa mereka itu.
"Sayang...cepat sembuh. Aku sudah lama menunggumu dari Jepang. Aku sangat sedih, dengan keadaanmu sekarang ini. Aku sangat merindukanmu." Ucap salah satu dari mereka.
Mendengar itu, Araysa langsung down. Ia Ingin lebih lama Araysa berada di sana, tapi kakek nenek Robert sudah datang. Terpaksa ia pergi dari depan pintu itu. Hatinya sakit mendengar panggilan sayang dari salah satu wanita itu. Mungkin wanita itulah yang menjadi kekasih Robert saat ini.
Sepulang sekolah, ia ke taman tempat kesukaannya menyendiri. Di sanalah ia menghabiskan waktunya sambil belajar. Tiba tiba ia merasa sangat ingin makan es campur yang sangat dingin.
"Haduh, padahal cuacanya tidak panas. Tapi kenapa aku sangat ingin minim es campur? Ssshhhmmm...nggak tahan lagi ingin segera minum." Araysa menyedot ludahnya yang hampir menetes membayangkan es campur.
"Apakah ini yang disebut ngidam? Soalnya aku bukan penggemar berat minuman es." Araysa mengelus perutnya yang lebih menonjol karena posisi duduk.
"Sabar ya Nak, kita akan mencarinya." Setelah puas mengelus perutnya ia mengumpulkan buku bukunya dan pergi ke arah jalan raya.
Tidak jauh dari jalan masuk ke taman, terdapat banyak gerobak penjaja makanan dan minuman. Tidak perlu terlalu jauh ia sudah mendapat es campur yang diinginkannya. Tidak sabar lagi, ia langsung meminum esnya sambil duduk di bangku di bawah pohon. Rasanya begitu nikmat dan rasa keinginannya pun terpuaskan.
Setelah membuang sampahnya, ia kembali mengelus perutnya. Kebiasaan baru yang suka dilakukannya tanpa sadar. Tiba tiba ia tersadar dengan tingkahnya. Segera di dihentikannya tangannya dan berdiri, ia masuk kembali ke taman dan melanjutkan duduk di sana.
"Hah hampir saja aku lupa. Bagaimana bisa aku lupa? Tanganku ini sering tidak lihat tempat untuk mengelus." Tangannya kembali mengelus perutnya setelah yakin tidak ada orang di sana.
"Nak, kita akan menghadapi hidup ini bersama. Jangan rewel ya...kasihanilah ibumu ini. Ibu minta maaf tidak bisa berbuat yang lebih baik untukmu. Ibu tidak punya kekuatan apapun untuk memperjuangkan ayahmu." Berbicara dengan bayinya adalah rutinitasnya setiap mereka hanya berdua.
"Ibu berjanji, akan melakukan apapun demi hidup kita. Meski hanya kita berdua, tidak akan biarkan kamu kekurangan kasih sayang...Ibu menyayangimu." Senyum Araysa terkembang setelah berbicara dengan perutnya.
__ADS_1