
"Hei dasar orang gila! Apa yang kamu lakukan?" Lelaki itu berusaha memindahkan kaki yang menginjak lehernya.
Tapi kaki Robert semakin keras menekan. Telapak sepatunya yang keras mendorong batang leher Jac hingga tidak bisa bernafas. Sementara kedua matanya digenangi air mata yang berjatuhan ke wajah lelaki di bawah kakinya.
"Haaaaa...!!! Hiaaaa!!!!! Aaaaaa!" Robert berteriak sangat keras dengan seluruh suaranya dikeluarkannya. Semua urat-urat di wajah, leher, dan kedua tangannya menegang.
Jac yang sudah hampir kehabisan nafas, dan berontak melepaskan diri bukan main terkejutnya mendengar teriakan itu.
Belum puas dengan berteriak, Robert menarik kerah baju Jac dan menggeret pria itu hingga berdiri di dinding. "Katakan!!! Mayat siapa yang kau buang!"
"Hei bung! kamu ini orang gila yang baru lepas ya? Masuk ke rumah orang dengan sembarangan dan makin kekerasan! Kamu bisa ku laporkan ke pihak berwajib!" Jac yang sudah bisa bernafas, menggertak Robert.
Bukkk
Tinju Robert mengenai pipi dan hidung Jac. Daras segar mengalir dari bibir dan hidungnya. "Mayat siapa!!!" Robert sampai menghapus air matanya dengan pangkal lengannya karena penglihatannya yang kabur.
"M-ma-mayat apa? Ap-apa yang kamu bicar-rakan?"
Bukkkk
Tinju kiri Robert menghantam pipi kanan Jac. Darah mengucur dari mulutnya dan tumpah ke lantai.
"Katakan!!! Mayat siapa???"
"Aaaraysa...d-daan ayahnya."
"Haaaaaa!!! Aaaaaaa!!!" Robert menggila. Diangkatnya tubuh Jac dan dibantingnya ke lantai sambil berteriak. Lanjut di dihajarnya tubuh yang sudah lemas itu sambil menangis keras.
"Kenapa? Kenapa?" Tangan Robert tak henti-hentinya meninju Jac walau pria itu sudah tak berdaya. Bukan hanya ditinjunya, ditendang juga dipukulnya secara membabi buta.
"Kenapa kamu melakukan itu?" Tanya Robert di sela tangisnya.
"Aku hanya dibayar. Meli yang ingin, mereka mati." Dengan tersengal Jac menyebut nama Meli.
Robert makin gila. Dihabisinya lelaki jahat yang telah memisahkan Araysa darinya. Ia kira Araysa sudah aman dan nyaman dengan kehidupannya. Tidak sedikitpun ia mengira Araysa telah mengalami hal tragis hingga dilenyapkan.
"Araysa...aaaa...aa...Araysa..." Tangis Robert sangat keras. Hanya itu yang bisa dilakukannya. Menangisi yang terjadi. Ia begitu menyesal tidak mendengarkan Araysa saat terakhir mereka bertemu. Ia merasa sangat bodoh. Ia merasa sangat kejam. Karena dirinya yang tidak berguna, Araysa kehilangan nyawanya.
Pagi itu, ia langsung menuju rumah Meli. Ia akan membun*h wanita itu. Ia akan menuntut keadilan bagi Araysa kekasihnya yang sangat malang.
Tanpa basa-basi ia nyelonong masuk dengan mata bagai bola api. Dan bola api itu langsung menyambar begitu melihat Meli yang sedang tiduran di sofa. Kedua tangannya meraih leher Meli dan menekannya dengan kuat.
"Ahmmmhhh...akhhh...aaaa!" Meli melotot dengan mata berair menahan sakit juga sesak. Wajahnya sudah memerah dan kebiruan. Robert sungguh akan membunuhnya.
"Haaaa! Tolong! Papi!!!! tolong!!!" Ibu Meli yang mendengar suara berisik dari ruang makan, kedepan. Ia syok melihat putrinya sedang berada diambang kematian! Ia berlari berniat membantu anaknya.
Sekuat tenaga ia menarik kemeja Robert namun tubuh pemuda itu tak juga bergeser dari tempatnya. "Robert! Apa yang kamu lakukan? Lepaskan Meli. Ada apa denganmu? Lepaskan!!!"
Robert tidak mendengar apapun. Mata dan telinganya sudah gelap. Ia hanya ingin Meli mati segera.
Bukkkk...
Ayah Meli, memukul punggung Robert dengan sebuah balok. Ia tidak bisa membiarkan putrinya mati begitu saja.
Robert terjatuh akibat rasa sakit yang sangat luar biasa. Bahkan penglihatannya sampai berkunang-kunang.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu melakukan itu? Meli bisa mati!" Bentak Ayah Meli.
"Dia pembunuh!" Teriak Robert. Dengan sempoyongan ia berdiri dan menarik tangan Meli.
"Masih pagi pagi kamu sudah mabuk! Apa masalahmu?"
Robert tidak memperdulikan ayah Meli. Ia menggeret Meli membawanya keluar.
"Hentikan Robert! Kalau ada masalah bicarakan dengan baik. Kamu sangat kasar dan tuduhan membunuh itu sangat kejam!"
Robert berhenti. Ia melemparkan Meli ke hadapan dua orang tua itu. "Dia pembunuh! Apa kalian tahu kemana perginya Abi dan putrinya? Dia telah membunuh mereka berdua! Dia pelakunya!"
"Apa. Jaga bicaramu! Itu bukan gurauan yang bisa sembarangan dikatakan! Kamu bisa dipenjara!"
Robert menarik rambut Meli, "katakan pada mereka bahwa kamu telah membunuh Araysa dan ayahnya!"
"Auhhh...kamu sungguh gila! Dari tadi bicaramu seperti bukan dirimu! Apa yang kamu bicarakan? Setega itu kamu padaku?" Tanya Meli dengan derai air mata.
"Masuk! Tunjukkan wajahmu!" Teriak Robert dengan pandangan ke luar pintu. Ia memanggil lelaki yang barusan dihajarnya.
Brukkk...
Lelaki yang berlumuran darah dan bau amis masuk dan terjatuh di lantai. "Ahhh... di-dia yang membayar!" Tunjuk lelaki itu pada Meli.
Seketika Meli bagai mayat. Mulutnya menganga dengan bola mata yang hampir keluar. Ia mundur dengan mengesot. Seluruh tubuh bergetar hebat. Wajahnya berubah pias dengan air mata yang sudah tumpah.
"Siapa yang kamu bawa ke rumah ini?" Teriak ibu Meli.
"Mereka pelaku pembunuhan. Anakmu dalangnya!" Pekik Robert.
Bukkk
Robert menendang kepala lelaki itu. "Buat dia mengaku! Kalau tidak, akan ku keluarkan hatimu! Cepatttt!"
Lelaki itu bergerak seperti ular ke arah Meli. "Mengaku lah! Tidak ada artinya lagi berbohong! Atau kita berdua akan mati!" Lelaki itu memegangi kaki Meli.
Meli menggigil saking takutnya. Sangat mengerikan melihat penampilan Jac. Ia seperti manusia tanpa kulit. Darah membalut sekujur tubuhnya.
"Tidak ada ampun bagimu!" Robert menendang lelaki itu hingga terlentang. Ia mengambil tenaga dengan mengancungkan tangan kanannya dengan jari jari siap mencongkel dada Jac. Tanpa aba aba ia menjatuhkan tangannya tepat di ulu hati lelaki itu dengan jari tertancap.
"Aaaahkkk...iya. Aku-aku membunuhnya! Jangan lakukan itu!" Tangis Meli pecah. Ia sangat takut melihat kondisi Jac ditambah pemandangan mengerikan yang dilakukan Robert.
Robert berhenti. Sebenarnya jemarinya tidak akan bisa menembus dada lelaki itu. Hanya saja, karena dada lelaki itu sudah berlumuran darah, terlibat seakan ia berhasil merobek kulitnya.
Dari tadi ibunya Meli sudah tidak kuat dengan keributan apalagi setelah melihat penampilan Jac. Ia punya riwayat penyakit jantung. Tiba tiba ia kejang dan rubuh begitu Meli mengakui perbuatannya. Tidak berlangsung lama, ibunya Meli langsung tak sadarkan diri.
"Mami... Mami...sadar Mi!" Ayah Meli mengguncang tubuh istrinya yang seketika berubah dingin.
Tidak ada pilihan lain. Ia membopong istrinya dan melarikannya ke rumah sakit. "Kita bicarakan masalah ini nanti." Serunya sebelum masuk ke mobil.
"Mamiiii...hiiii...iiiii...aaaa..." Meli menangis keras. Ia berdiri dan hendak berlari mengejar orang tuanya.
Tapi Robert menangkapnya. "Jangan kemana-mana kau!"
"Mami...huhuhu..." Ia hanya bisa menangis. Ia tidak berani melawan Robert.
__ADS_1
Robert ingin sekali membunuh dua orang yang kini menjadi tawanannya. Ia menggeret dua orang itu ke mobilnya dan membawanya pergi. Di sebuah gudang dekat rumahnya, ia mengikat dua orang itu. Ada keinginan menyerahkan mereka ke polisi agar dihukum sesuai dengan pasal dan undang undang yang berlaku. Tapi tidak akan menemukan kepuasan sehingga menunda penyerahan.
Dua jam kemudian, berita meninggalnya kedua orang tua Meli tersebar. Mereka mengalami kecelakaan. Ibu Meli meninggal ditempat, sementara ayahnya meninggal kehabisan darah setelah sepuluh menit tiba di rumah sakit.
Robert menyampaikan berita itu pada Meli tanpa berniat membiarkannya bertemu dengan orang tuanya untuk yang terakhir kalinya.
Meli memohon-mohon agar dilepaskan dan setelah penguburan akan menyerahkan diri ke polisi. Tapi Robert tidak mau. Ia tidak akan membiarkan Meli. Lebih lebih kejam yang telah dilakukan wanita itu, yang lebih kejam juga harus dirasakannya.
Akhirnya semuanya terbongkar. Jac menceritakan semuanya mulai dari dirinya di sewa sebagai kekasih palsu Araysa hingga malam naas itu.
Robert kehilangan kendali, ia berteriak sepanjang malam dan merusak segala sesuatu yang ada di dekatnya. Hatinya sangat sakit dan hancur telah ditipu Meli. Seandainya uang yang ditipu darinya ia masih bisa memaafkannya. Tapi Araysa adalah kekasihnya, cintanya dan bagian dari kalbu dan jiwanya. Dan bayi yang dikandung kekasihnya itu adalah bayinya, anaknya. Bagaimana ia bisa menerima itu?
Malam itu juga ia ke jurang tempat jatuhnya mobil yang membawa Araysa. Ia membawa tim penyelamat melakukan pencarian dan menemukan mobil itu. Tapi tidak menemukan jasad Araysa. Selama beberapa hari ia melakukan pencarian namun tak kunjung juga menemukan apa-apa.
Dengan sebuah pistol ditangannya, Robert ke gudang tempat Meli di kurung. Wanita itu tengah terkantuk-kantuk di dinding semen dengan tangan dan kaki terikat. Begitu juga dengan Jac.
Robert masuk, tubuhnya yang tinggi menjulang di hadapan dua orang itu.
Mereka bergerak tak karuan saat melihat benda yang digenggam Robert.
"Ampuni aku Masss...aku tobat. Aku tidak akan mengulanginya lagi terhadap siapa pun." Jac merengek dengan tangisannya.
Dorrrrr
Satu letusan mengarah ke kepala Jac.
"Diammm!" Suara Robert menggetarkan tempat itu.
Jac bernafas lega. Barusan ia kira ia telah mati oleh timah panas yang dilepaskan Robert. Tapi ternyata ia masih hidup. Tembakan Robert sengaja tidak mengenai sasaran.
"Kamu!" Robert menodong pistolnya ke arah Meli. "Temui kedua orang tuamu!" Ia meluruskan pistolnya tepat mengenai bagian tengah kepala Meli. Kedua matanya menatap tajam dan penuh keyakinan. Ia sudah memutuskan, lebih baik membunuh wanita itu untuk memuaskan dirinya.
Tiba tiba ia seperti melihat kelebat Araysa. 'Jangan lakukan itu. Jika kamu sengaja melenyapkannya artinya kamu tak ada bedanya dengannya. Sama sama pembun*h!'
Robert bagai tersadar dari seretan emosinya. Ia menjadi bingung. Haruskah melakukannya atau tidak. "Haaaaaaa! Hiaaaaa!!!!" Ia berteriak sangat keras dan menembaki dinding rumah itu. Ia tidak bisa melanggar pesan Araysa. Ia merasa ucapan yang baru di dengarnya adalah keinginan Araysa.
Ruangan itu di penuhi suara teriakan. Bukan hanya Robert yang berteriak. Tapi Jac juga Meli berteriak ketakutan melihat kebrutalan Robert. Takut peluru peluru itu menembus tubuh mereka.
Robert berbalik dengan tubuh oleng. Ia frustasi dan tidak tahu harus bagaimana mengatasi dirinya sendiri. Keinginannya membunuh Meli sudah di ubun ubun. Tapi setiap ingin melakukannya ia selalu merasa Araysa melarangnya. Bukan hanya sekali itu, besok besoknya juga masih begitu. Ia selalu merasa seperti ada magic yang melarangnya agar menahan diri.
Akhirnya Robert menyerah. Ia melepaskan Meli dan Jac. Ia mengartikan keinginan Araysa adalah itu. Ia sendiri, malam itu, pergi ke jurang maut dimana Araysa hilang. Tiba tiba ia ingin menerjunkan dirinya bersama mobil untuk bunuh diri. Ia merasa Araysa sangat marah pada dirinya karena tidak mampu melindunginya. Ia mengartikan Araysa ingin dirinya dihukum dan harus merasakan apa yang sudah dirasakan Araysa. Tanpa ragu ragu, ia menginjak rem sampai tandas dan menghilang ke dalam laut.
Tapi takdir berkata lain. Ia tidak mati. Tim penyelamat bergerak cepat dan subuh ia ditemukan mengambang di tepi pantai dengan keadaan kritis. Itu semua berkat seorang anak yang melapor melihat sebuah mobil terjatuh ke jurang.
Selama empat hari Robert koma. Dan anak yang bernama Jhon menemaninya hingga siuman.
Selama koma, Robert bertemu dengan Araysa. Pesan Araysa begitu dalam. Araysa ingin dirinya tetap hidup karena mereka telah punya seorang putri.
Hanya berpedoman dengan mimpinya itu, ia bertahan dan melanjutkan hidup. Kadang kegilaan otaknya berpikir, mungkin Araysa masih hidup dan suatu saat akan bertemu dengannya. Itu sebabnya ia harus tetap hidup.
Sejak saat itulah ia berubah. Menjadi sangat pendiam dan pendendam. Segala sesuatu yang diinginkannya diraihnya sampai dapat. Hidupnya berubah lebih ngotot akan sesuatu. Ternyata perubahan sifatnya itu membawa keberuntungan baginya. Karena dirinya yang tidak bisa diremehkan dan dianggap lemah, berdampak positif pada perusahaannya. Banyak orang segan dan takut padanya. Dari sanalah perusahaannya terus berkembang pesat menjadi sebuah bank besar dan mulai membuka beberapa cabang di luar kota.
Sementara Meli, tidak ada pilihan lain selain mengemis pada suaminya. Penolakan beberapa kali dialaminya. Tapi lama lama usahanya berhasil karena sang putranya bernama Leo, ternyata merindukan sosok ibu. Hati Rudy luluh melihat air mata putranya dan akhirnya menerima Meli kembali.
Namun, keutuhan rumah tangga mereka hanya bertahan tiga bulan. Pertengkaran dan selisih paham membuat mereka sering berantam. Meski sudah mempunyai anak dari Rudy, Meli tak kunjung bisa mengerti dan memahami yang disebut berkeluarga dan tanggung jawabnya sebagai seorang istri dan ibu. Sifatnya yang ingin bebas tanpa ikatan apapun membuat dirinya selalu menentang keinginan Rudy. Selalu mau menang sendiri tanpa memperdulikan itu benar atau salah.
__ADS_1