
Di dalam mobil, Meli menangis. Sungguh sial nasibnya. Padahal tinggal sedikit lagi usahanya berhasil. Setelah melalui malam ini, kemungkinan besok ia sudah sah menjadi istri dari Robert Rabiga dengan drama tambahan di depan orang tua mereka.
Tapi ternyata tidak bisa hanya kehendaknya. Situasi pun tidak mendukungnya. Harus terhenti ditengah jalan. Entah bagaimana caranya besok mengahadapi Robert.
Malam itu, Robert tidur di pinggir jalan. Ia mengantuk berat dan tidak kuat lagi untuk berdiri menunggu kendaraan.
Subuh harinya, Robert terbangun karena merasa dingin. Ternyata sedang turun hujan rintik rintik dan membuatnya basah.
"Astagaaaa...hidupku sungguh hancur. Tidur dipinggir jalan dibawah hujan. Tidak ada yang lebih menyedihkan dari ini." Ia berdecak.
"Hah kelakuan apa lagi yang semalam? Hahhh sungguh memalukan!!" Ia teringat saat di mobil bersama Meli. Tapi ia tidak tahu kalau Meli lah yang merayunya. Malah menyalahkan dirinya telah mengganggu temannya itu saat menjemputnya pulang. "Dia pasti mengerti keadaanku yang sedang mabuk." Ia pun menaiki taksi dan pulang.
Begitu sampai di rumah ia langsung tidur lagi. Kali ini ia merasa tubuhnya tidak baik baik saja. Lemas, tidak bertenaga.
Melihat kondisinya, orang tuanya sampai marah marah. Putra mereka bukan lagi hanya suka mabuk-mabukan tapi juga sudah tidak belajar dan bekerja dan membantu papinya. Kali ini nasib Robert sungguh sial. Sudah sakit, dimarahi pula.
"Aku memang bodoh. Jika Araysa melihatku mabuk-mabukkan, dia pasti jijik denganku. Aku harus berhenti. Dan serius mencarinya." Ia menyemangati dirinya sendiri.
Saat maminya membawakan sarapan untuknya, lagi lagi rasa mual diperutnya mengganggunya. Sangat tidak nyaman dan bikin lemas. Ia terlalu banyak minum terakhir akhir ini. Lambungnya iritasi dan diberikan obat oleh dokter dengan nasehat harus makan teratur dan berhenti minum alkohol. Tapi ia tidak bisa berhenti karena frustasi memikirkan Araysa yang entah pergi kemana.
Empat hari Robert tidak masuk kampus dan juga kantor. Ia beristirahat total di rumah karena mual dan pusing masih menyerangnya. Sudah dua dokter yang memeriksanya namun kondisinya masih sama. Ia hanya bisa tenang saat tertidur. Bila ia mencium aroma masakan ia akan muntah-muntah. Selama empat hari itu juga ia tidak bisa makan. Boro-boro makan, begitu mencium dan melihat makanan ia akan langsung muntah. Kondisinya membuat dokter dan kedua orang tuanya bingung.
Meli sangat gelisah selama empat hari tidak bertemu dengan Robert. Ingin menelepon tapi takut. Takut dirinya dimarah. Tapi berdiam saja, membuatnya tidak tenang. Segala pertanyaan menggandrungi kepalanya. Akhirnya ia memutuskan berkunjung ke rumah pemuda itu.
"Maafkan aku ya Meli. Malam itu aku benar benar mabuk. Aku telah lancang padamu."
Meli melebarkan matanya. Padahal selama empat hari ia sangat stres memikirkan masalah itu. Ia takut disalahkan dan akan benci oleh Robert. Ternyata nasibnya masih mujur. Tidak ada yang terjadi. Semua baik baik saja. Bahkan Robert menyalahkan dirinya sendiri.
"Hem, aku mengerti kok. Kamu tidak sengaja." Jawab Meli dengan wajah dibikin sedikit kesal.
"Aku tidak akan minum lagi. Bisa berabe dunia ini kalau hal seperti itu terjadi lagi. Araysa bisa sedih dan marah padaku. Dikiranya aku selingkuh."
Meli tidak mengatakan apapun. Dalam hati ia masih berharap Araysa jangan muncul lagi selamanya. Dengan begitu, kesempatannya mendapatkan Robert akan semakin berpeluang.
"Tolong kabari aku bila kamu mendapat kabar dari Araysa. Siapa tahu kamu duluan yang tahu keberadaanya."
"Iya. Tenang aja. Sekarang fokus pada dirimu dulu. Lihat wajahmu itu, sangat pucat.Masa lelaki hebat sepertimu sakit sampai berhari-hari.
"Ini karena menahan rindu yang amat parah. Seandainya Araysa ada, aku pasti langsung sehat."
'cihhh...entah kenapa kamu begitu mencintainya. Semoga saja Araysa mati dan saat bertemu denganmu tinggal mayat doang.' Meli merutuki Robert dalam hati.
"Istirahat lah. Aku akan lebih giat mencari Araysa."
"Thank you."
Meli tersenyum dalam hati ingin berteriak mengatakan dirinya tak ingin membantu. Seandainya ia melihat Araysa, akan dibuatnya gadis itu pergi sejauh mungkin.
***
Menjalani keseharian tanpa Robert membuat hidup Araysa sepi. Ia sering melamun dan menangis. Bukan hanya hatinya rapuh, tubuhnya pun lemas dan sering sakit. Sering demam juga gangguan lambung. Karena selera makannya hilang, ia sering melewatkan jam makan. Dampak berpisahnya dirinya dengan Robert belum bisa ditanganinya walau sudah hampir sebulan lebih. Sangat sulit baginya melupakan lelaki itu. Semakin ia berusaha melupakannya, semakin dalam rindu yang ditahannya.
__ADS_1
"Araysa, dari pagi kamu belum makan. Ini sudah malam. Asam lambung mu tidak akan sembuh sembuh walau makan obat terus." Abi mendatangai putrinya yang sedang tidur.
"Nggak selera. Rasanya mau muntah setiap habis makan."
"Kok bisa makin parah? Periksalah ke dokter. Siapa tahu itu bukan asam lambung. Takut ada efek samping makan obat maag tiap hari dari apotik." Saran Abi.
"Nggak perlu Ayah. Nanti juga sembuh."
"Yah udah, ini Ayah masak bubur."
Dengan malas, Araysa bangun dan memaksakan diri memakan bubur. Dengan susah payah ia menelan bubur itu. Padahal itu hanya makanan lunak yang sangat mudah ditelan.
"Katakan pada Ayah, apakah yang kamu seperti ini gara gara berpisah dengan Robert?" Tanya Abi. Ia sedih melihat putrinya itu. Bagaimana tidak sedih? Putrinya sekarang sudah berubah kurus dan penyakitan.
Araysa tidak menjawab. Ia hanya termenung. Wajah pucat nya semakin membuat hati Abi bagai tersayat.
"Nak, Ayah tidak yakin pada anak itu. Dia bukan orang seperti kita. Cara hidup dan berpikir mereka jauh dari jangkauan kita. Kalau kamu nekad mengikutinya, Ayah takut kamu hanya akan menemui kesengsaraan nantinya. Coba pikirkan, apa yang bisa mereka pandang dari kita? Mereka pasti malu punya besan seperti Ayah."
"Iya, aku mengerti." Jawab Araysa pelan.
"Teman Ayah dari kampung punya anak baru saja lulus sarjana keguruan. Tempo hari dia dan anaknya menemuiku untuk melamar mu. Menurut Ayah, dari pada kamu terjebak dengan Robert, lebih baik kamu menerimanya."
"Aku belum mau menikah. Tolak saja mereka." Jawab Araysa dengan tegas.
"Ya sudah kalau begitu. Selama kamu baik baik saja dan bisa menjalani hidupmu dengan baik tanpa Robert Ayah tidak akan memaksamu."
Araysa mengangguk. Dari pada dijodohkan lebih baik ia berusaha bangkit dan hidup dengan baik.
Araysa merasa kedinginan. Semua kulitnya terasa merinding. Bukan hanya itu, ia juga merasa mengantuk berat. Beberapa kali ia menguap sambil berlari pelan diantara teman temannya. Awalnya hanya kedinginan, lama kelamaan menjadi lemas dan tiba tiba saja penglihatannya gelap dan pusing yang luar biasa. Ingin berhenti, tapi mendengar suara gertakan guru yang menyuruh semangat dan terus berlari membuatnya masih berusaha melangkah.
Brruuukkkk...
Araysa ambruk. Tidak tahan lagi dengan tungkainya yang tidak bisa menahan bobotnya. Ia terjerembab ke rerumputan.
Suar riuh terdengar. Mereka kaget tiba tiba ada yang pingsan. Memang beberapa kali kejadian seperti itu terjadi, khususnya bagi putri. Tapi biasanya sudah pertengahan berlangsungnya olah raga.
Dua orang teman Araysa membawanya ke UKS. Tapi sedang tidak ada dokter sehingga ia tidak bisa diperiksa. Ia hanya tidur untuk beristirahat.
"Kenapa aku kedinginan begini?" Araysa mengusap-usap lengannya yang merinding.
Memang sudah tiga hari, ia merasa seperti meriang dan hilang selera makan. Selain merasa dingin, kepalanya juga suka pusing dan penglihatan yang berkunang-kunang.
Akhirnya Araysa minta izin tidak bisa mengikuti pelajaran untuk jam berikutnya. Ia pulang karena rasanya makin tidak karuan. Ia melanjutkan beristirahat di rumah.
Selama tiduran, Araysa tak habis pikir dengan kesehatannya. Tidak biasanya dirinya sakit. Tiba-tiba ia kepikiran dengan sesuatu.
"Apa mungkin aku..."
"Ah tapi tidak mungkin. Bulan kemarin aku masih dapat bulanan."
"Tapi sakit apa ini? Seperti meriang tapi tidak demam atau flu." Araysa berbicara sendiri pada dirinya.
__ADS_1
Akhirnya sore itu, ia mutuskan untuk ke apotik dan membeli alat untuk mengetes yang dikhawatirkannya.
Dan setelah melakukan tes, ia bagai tertindih benda yang sangat besar dan berat sehingga rasanya tubuhnya begitu berat dan sempit sampai bernafas pun rasanya sangat sulit melihat garis dua di alat yang baru di tesnya.
"Haaaa...hhhaaahhahahaaaa..." Tangis Araysa pecah. Kedua tangan dan kakinya gemetaran.
"Bagaimana ini?"
"Haaahahaaaa...aaaaa..." Araysa hanya menangis dan menangis.
Rasa takut melilitnya. Takut dengan kondisinya, takut pada ayahnya, takut dengan sekolahnya. Kini apa yang harus dilakukannya? Baru beberapa hari yang lalu ia berhasil menenangkan dan memberi harapan pada ayahnya. Lalu sekarang bagaimana ini?
Setelah puas menangis, ia mulai berpikir apa yang akan dilakukannya. Yang pertama ia akan memberitahukan Robert. Kalau untuk sekolah, mungkin masih bisa diatasinya. Selama belum ada yang tahu soal kehamilannya ia masih bisa lanjut. Dan tinggal tiga bulan lagi akan pelulusan sekolah. Yang ke dua adalah menghadap ayahnya. Ini yang paling sulit menurutnya Bagaimana caranya memberitahukannya? Ayahnya pasti sangat kecewa. Bukan hanya kecewa, tapi juga akan malu. Ayahnya yang sangat menjaga martabat dan harga diri keluarganya pasti akan merasa sangat terluka.
Esok harinya ia bolos sekolah. Ia ke kampus tempat Robert kuliah. Bagaimanapun ia harus mengatakan keadaannya pada lelaki itu. Itulah satu satunya cara yang diketahuinya. Mengadukan keadaannya pada Robert.
Ia sengaja duduk duduk di bangku taman dekat parkiran untuk menghadang Robert. Biasanya setiap hari Kamis Robert masuk kuliah pagi. Sejam berlalu tidak membuatnya bosan. Masih ditunggunya dengan sabar.
Hingga pukul sepuluh, yang ditunggunya belum juga datang. Terik yang mulai terasa membuatnya sedikit pusing. Keningnya mulai berbintik keringat.
"Haduhhh...rasanya makin pusing. Bagaimana ini? Apa dia tidak masuk hari? Kenapa aku sangat bodoh? Seandainya aku hafal nomornya aku tidak perlu kebingungan seperti ini." Nomor ponsel Robert di hapus oleh Abi.
"Besok tidak mungkin ke sini lagi. Aku tidak bisa bolos terus. Tolonglah muncul sekarang juga. Aku benar benar bingung."
Araysa membuka botol minumnya dan meneguknya hingga empat kali. Membuat rasa hausnya sedikit terobati.
"Meli!" Ia berteriak pelan. Melihat Meli turun dari mobilnya. Ia berlari kecil ke arah Meli.
"Hah? Kamu? Sedang apa kamu di sini?" Meli sangat terkejut melihat Araysa.
Araysa tersenyum terpaksa. "Ada perlu."
"Perlu? Sama siapa?"
"Robert."
Wajah Meli tiba tiba suram. Namun segera dirubahnya dengan senyum. "Oh, tapi dia sedang tidak ada."
"Tidak ada? Kemana dia?"
"Ke Jepang mengunjungi neneknya."
Araysa langsung lemas. Artinya ia tidak bisa bertemu dengannya dalam waktu dekat.
"Tolong berikan aku nomor ponselnya. Hape ku rusak. Aku kehilangan nomornya."
Dahi Meli berkerut. Lalu wajahnya kembali cerah lagi "Ke kantin bentar yuk. Ada yang ingin ku bicarakan denganmu."
Mereka berdua ke kantin. Meli memesan sarapan, tapi Araysa menolak memakannya. Ia takut tiba tiba mual dan muntah.
"Kemana saja kamu?" Tanya Meli.
__ADS_1
"Kami pindah. Aku juga pindah sekolah."