
Leo dan Dhira tiba di depan sebuah rumah. Leo menarik tangan Dhira pelan ke arah pekarangan rumah itu.
"Bagaimana?" Tanya Leo.
"Bagaimana apanya? Ini rumah siapa?" Tanya Dhira.
"Kamu suka rumah ini?"
Dhira tidak menyahut. Ia malah menatap Leo dengan heran.
"Ini rumah kita. Aku telah membelinya. Sengaja mendesain rumah kita tidak bertingkat. Agar anak anak kita tidak jatuh nantinya. Juga agar kamu tidak terlalu capek naik turun tangga nantinya."
"Kamu terlalu menggebu-gebu. Untuk apa terlalu buru buru."
"Jawab suka nggak dengan rumah ini?"
"Suka. Selain besar desainnya unik dan terlihat nyaman."
"Mulai hari ini rumah ini milikmu. Besok kita ke notaris untuk mengesahkannya. Aku membuat sertifikat rumah ini atas namamu."
"Kenapa?"
"Kok kenapa? Tentu saja karena aku sayang kamu. Dengar, pokoknya ini adalah rumahmu. Rumah kita."
"Leo, jangan begini. Aku tidak mau menerima apapun dari kamu sebelum kita menikah. Jadi, aku menolak rumah ini." Tegas Dhira.
"Husss...sudah kubilang ini rumah kita. Hanya saja ku buat atas namamu. Dan kamu boleh tinggal di sini walau kita belum menikah."
"Aku nggak mau. Besok pun aku tidak akan tanda tangan. Bila memang harus begitu maka akan terjadi setelah kita menikah. Jangan bahas ini lagi, sebaiknya kita pulang sekarang karena aku lapar."
Leo menghela nafas panjang. Ia sudah menduga Dhira tidak akan mau. Tapi masih tetap dicobanya. "Yah udah. Kita tunggu hingga waktu itu tiba."
"Hehehe...kok lemas begitu." Dhira mencolek pinggang Leo.
"Huhhh..sulit sekali mengambil hatimu."
"Akh tentu saja aku tidak akan memberimu hatiku. Aku bisa mati bila hati ku ini copot." Dhira tertawa. Ia senang menggoda Leo.
"Ya terserah deh."
"Ih ngambek dia...coba lihat wajahnya. Hahaha...kamu jelek kalau cemberut begini. Seperti bebek yang mau bertelur." Dhira menarik pipi Leo.
Leo tersenyum. Ia paling tidak bisa marah pada Dhira. Entah saat apapun. Setelah membuat hatinya kesal, gadis sini selalu pintar mengembalikan suasana hatinya menjadi baik lagi.
Mereka sudah tiba di restoran. Leo dan Dhira makan dengan lahap.
Tiba-tiba ponsel Dhira berdering.
"Ibu?" Gumam Dhira melihat nama ibunya di layar ponsel.
"Halo Ibu."
"Nak Dhira, ini paman Bali." Paman Bali adalah guru bela dirinya. Di sebut paman Bali karena ia adalah orang Bali.
"Oh iya paman. Apa kabar paman?"
__ADS_1
"Baik. Begini Nak, ada sedikit kabar yang ingin paman sampaikan."
"Ada apa paman? Ibu dimana?" Entah kenapa tiba tiba perasaan Dhira tidak enak. Ibunya paling tidak suka menyuruh seseorang.
"Ibumu ada di rumah sakit. Paman dan bibi sekarang sedang di Liwa menemani ibumu."
"Hah? Apa?" Wajah Dhira yang barusan berseri langsung berubah panik. Bahkan air matanya sudah tak terbendung lagi. "haks..." Dhira terisak "apakah ibu parah paman?"
"Sebaiknya kamu pulang dulu. Ibumu membutuhkan perawatan intensif"
"Hiks tolong paman, jagain ibuku. Aku akan pulang. Terimakasih paman." Dhira mematikan telepon dan buru buru memasukkan ponsel ke dalam tasnya sambil menangis.
"Ada apa Andhira?" Leo juga ikut berdiri mengikuti Dhira.
"Ibuku sakit. Aku harus pulang."
"Ayo. Kita pulang sekarang."
"Sebaiknya kamu pulang aja. Aku harus berangkat saat ini juga." Dhira menghapus air matanya.
"Aku akan menemanimu."
"Itu tidak mungkin. Kamu banyak pekerjaan. Bagaimana dengan perusahan?"
"Itu bisa ditangani Papi dan Kim. Pokoknya aku ikut."
Dhira tidak seberapa mendengarkan Leo karena ia sudah melangkah pergi.
Cepat cepat Leo mengambil empat lembar uang seratus ribuan dan menaruhnya di meja. Dengan berlari ia menyusul Dhira.
"Tapi Leo, kamu tidak mungkin ikut."
"Kenapa tidak mungkin? Aku mau ikut."
Dhira tidak bisa berontak lagi. Sebenarnya ia sangat memerlukan kendaraan pribadi agar bisa lebih cepat diperjalanan.
Sementara Dhira mengambil perlengkapan ke rumahnya, Leo menyuruh Kim mengantarkan beberapa pakaiannya.
Semua serba singkat. Bahkan Dhira tidak berganti pakaian untuk mengejar waktu sebelum keberangkatan kapal. Tinggal beberapa puluh menit lagi waktu mereka ke pelabuhan Merak.
Dhira membiarkan Leo yang menyetir. Ketika sudah mencapai Lampung baru ia yang mengambil alih. Jalan menuju kabupaten Lampung Barat lumayan ekstrim dengan pengunungan dan lembah yang berliku lumayan tajam. Apalagi menuju lokasi rumah sakit umum Liwa.
Dan benar saja. Setelah memasuki Bukit Kemuning, mereka sudah melewati beberapa kali jalan berkelok yang lumayan tajam. Dengan fasih Dhira melewati jalan tanpa gugup meski berkali kali mereka berpapasan dengan kendaraan besar seperti Fuso yang mengharuskannya lebih mengalah kepinggir jalan.
Leo sangat menyayangkan situasinya tidak tepat untuk bersenang senang. Padahal ia sangat menikmati perjalanan dan pemandangan yang hijau, hamparan perkebunan kopi yang sangat luas menutupi puncak puncak gunung hingga ke lembah paling rendah. Udara dingin dan sejuk semakin terasa membalut tubuh dan angin segar terasa merasuki paru paru.
Dhira bagai di kejar hantu membawa mobil. Tancap gas terus dengan mata yang jeli tak luput dari jalan dan spion. Meski ia sedang menyetir, tapi pikirannya sedang kalut memikirkan ibunya.
Tiga bulan lalu juga ia tahu ibunya kurang sehat. Tapi saat ditanya, Amelia bilang hanya masuk angin serta flu biasa. Ia sudah menyuruh ibunya untuk cek kesehatan ke rumah sakit. Tapi ibunya bilang tidak ada apa-apa. Hanya lagi musimnya dan hawa dingin.
Sempat berdebat juga untuk membujuk ibunya agar pindah ke Jakarta juga. Tapi ibunya kekeh tidak mau. Alasan tidak betah di daerah panas, masih pengen kerja di kebun, lebih nyaman di pedesaan. Tidak tahu dengan cara apalagi membujuk ibunya, Dhira memilih mengalah.
Tapi jika sudah begini, bagaimanapun ia harus berhasil membujuk ibunya ikut dirinya. Agar ia bisa mengurus dan mengontrol kesehatan ibunya dengan tetap bekerja.
"Paman, bagaimana keadaan ibu?" Dhira dan Leo sudah tiba di RSUD Alimuddin Umar Lampung barat.
__ADS_1
"Ibumu sudah sadar. Dan sekarang masih tidur." Paman Bali beserta istrinya bernama Ayunda menyambut Dhira dengan pandangan terarah pada Leo.
"Apakah bisa masuk ke dalam? Aku mau lihat ibu."
"Boleh. Tapi jangan sengaja membangunkan nya. Tenaga ibumu belum pulih. Masih lemas akibat dari menahan sakitnya." Jawab Ayunda istri paman Bali.
"Memangnya ibu sakit apa Bi?"
"Ibumu sakit ginjal. Akibat dari transplantasi yang pernah dilakukannya membuatnya sekarang menanggungnya. Ibumu pernah mendonorkan sebelah ginjalnya." Jawab Ayunda.
"Apa? Ibu pernah mendonorkan ginjalnya? Kapan?" Dhira yang tidak tahu apa-apa terkejut.
Paman Bali mendesah panjang, "Iya. Ibumu pernah mendonorkan ginjalnya waktu kamu berusia empat tahun. Ibumu merahasiakan ini dari kita semua. Baru kemarin kami tahu dari dokter yang menanganinya."
Seluruh tubuh Dhira lemas. Dadanya serasa di remas mendengar kenyataan itu. "Jadi selama ini ibu bertahan hidup dengan semua tanggung jawab dan pekerjaan hanya dengan satu ginjal? Hah, kenapa? Kenapa harus seperti itu?" Dhira limbung dan hampir terjatuh. Kakinya serasa tidak menapak saking lemahnya.
Dengan sigap Leo menangkap tubuh Dhira. "Andhira, yang sabar. Kamu harus tetap tegar agar bisa mengatasi keadaan ini." Bisik Leo setelah memeluk gadisnya dan memberi tepukan pelan di punggungnya.
Tanpa sadar air mata Dhira sudah bercucuran membasahi pipinya. Betapa ia merasa bodoh selama ini membiarkan ibunya kerja dengan kondisi yang tak memungkinkan. Bagaimana dirinya tidak tanggap dengan kondisi ibunya yang sangat mudah lelah dan gampang demam. Penyesalan melilit hatinya dengan kesedihan yang tak terkatakan lagi. Kenapa keadaan seperti ini harus dialami oleh mereka. Selain tidak punya siapa siapa, mereka bukan orang berduit yang mampu menyediakan uang yang banyak untuk mengatasi penyakit Amelia.
'Tenang Dhira, tenang. Jika kamu juga ikut sakit lalu bagaimana caranya mengobati ibumu.' Bagai dapat kekuatan baru, Dhira menguatkan dirinya. Ia menyeka air matanya dan menarik diri dari pelukan Leo. "Aku mau lihat ibu dulu."
Dengan langkah mantap, Dhira membuka pintu ruangan tempat ibunya di rawat. Di ruangan itu ada enam ranjang berjejer dengan pasien lainnya. Ia mendekati ranjang ibunya yang tak ditemani siapa pun.
Terlihat wajah letih dan pucat Amelia yang tertidur. Walau pulas namun raut lemah dan menahan sakit di wajah tetap terlihat. Dhira tidak bisa menahan tangisnya lagi. Ia terisak tertahan dengan telapak tangannya menutupi mulutnya. Derasnya air mata yang mengucur menandakan betapa dalam hati ia merintih melihat kondisi ibunya.
Cukup lama ia menangis tertahan sampai membuatnya sesegukan. Bahkan kedua matanya sudah bengkak dan memerah. Ia duduk termenung di samping ranjang dengan kedua tangannya menggenggam telapak ibunya.
Otaknya sedang berputar memikirkan cara mengobati ibunya. Yang ia ketahui jika seseorang sudah mendonorkan salah satu ginjalnya, dan akhirnya mendapat kondisi lemah atau sakit akibat efek dari pendonoran maka salah satu solusinya adalah melakukan penanaman ginjal lagi. Mampukah ia membiayai ibunya? Mampukah ia menemukan ginjal untuk ibunya. Ini tentu bukan biaya sedikit. Bahkan meski ia menjual tanah dan perumahan ibunya ditambah semua tabungannya tidak akan cukup. Lalu apa yang harus dilakukannya? Meminjam? Siapa yang akan mau meminjamkan uang banyak padanya? Walau paman Bali meminjamkannya, nilainya juga tidak akan cukup. Satu satunya harapannya adalah ginjalnya sendiri. Semoga saja cocok agar biaya yang dibutuhkannya tidak terlalu besar.
"Dhira?" Suara khas yang selalu dirindukannya memanggil namanya.
"Ibu? Ibu sudah bangun?"
"Kapan kamu tiba? Apa paman Bali yang memberitahukan mu? Padahal sudah ibu larang. Ibu hanya kurang sehat sedikit."
Hati Dhira bagai tertusuk keras mendengar ucapan ibunya. Untuk apa dirinya kalau tidak bisa diandalkan ibunya?
"Bu, jangan terlalu banyak pikiran. Aku ada untuk ibu. Aku ini anakmu. Jangan segalanya ditanggung sendiri oleh Ibu."
"Ah emang kenapa? Nanti juga aku sehat lagi. Kamu pasti sangat lelah. Memaksakan diri pulang dadakan." Amelia mengusap lengan putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Nggak kok. Anakmu ini kuat. Ibu lupa siapa yang membuat aku kuat? Ibu itulah. Aku kangen banget sama Ibu." Ia memeluk ibunya.
"Hem. Ibu juga. Padahal baru enam bulan yang lalu kita bertemu." Sehabis Andhira wisuda, ia sempat pulang sebelum melamar kerja.
"Ibu harus tenang ya, jangan banyak pikiran. Pokoknya apapun kata dokter ibu harus menurut. Aku akan sangat sedih kalau Ibu tidak memperdulikan kesehatan Ibu sendiri. Pokoknya ibu harus berjanji, apapun kata dokter harus ibu lakukan."
"Yah tergantung lah. Jika berlawanan dengan keinginan kita masa harus dilakukan?"
"Tidak akan berlawanan. Ibu tidak boleh membantah. Demi kesehatan Ibu agar kita bisa bersama lebih lama kedepannya. Bukankah ingin bermain dengan cucu-cucu Ibu nantinya. Memarahi dan mengajari mereka agar menjadi anak baik seperti ibu mendidik aku. Agar itu terlaksana Ibu harus sehat terlebih dahulu."
"Menyangkut umur itu rahasia Tuhan, Sayang. Walau kita berkeinginan, yang memutuskan adalah Dia yang Maha Kuasa."
"Iya. Tapi tetap harus dari diri Ibu terlebih dahulu."
__ADS_1
"Iya. Ibu mengerti kok. Tanyakan dokter nya kapan aku bisa pulang? Aku tidak betah di rumah sakit. Bikin semangat hilang. Apalagi saat anakku pulang begini."