
Perlahan diintipnya ke tangan Dhira yang sibuk mengetik dilayar ponsel. 'Dia berchat ria dengan siapa? Asyik sekali sampai tidak memperhatikan sekelilingnya.' Batin Leo terus saja menatap ke ponsel Dhira.
Tiba tiba keseimbangan semua orang terganggu saat ada seseorang paling belakang mendadak hampir terjungkal dan oleng ke depan. Otomatis semua orang juga oleng dan hampir ambruk ke dinding. Leo menabrak punggung Dhira dan membuat gadis itu terlempar ke depan dengan dahi membentur dinding pintu lift.
Dengan gerakan cepat Leo mengulurkan tangannya ke dinding sehingga dahi Dhira tidak telak mengenai dinding besi itu. Tetapi di telapak tangan Leo. Posisi mereka begitu intim. Tangan kiri Leo memegang perut Dhira dengan gaya memeluknya dari belakang, sementara tangan kanannya berada di dahi Dhira.
Merasa ada yang menyentuh perutnya Dhira menurunkan kepalanya dan melihat sebuah lengan dibalut jas melingkar disana. Dengan spontan Dhira memukul tangan itu agar lepas. Kemudian berdiri tegap.
Leo juga menarik kakinya selangkah dan berdiri dengan tegak. Kedua tangannya disembunyikan ke belakangan pinggangnya.
Setelah merasa baikan, Dhira memutar kepalanya melihat ke belakang dengan wajah kaku disertai tatapan mata setajam silet. Ia sangat marah pada sipemilik tangan yang telah lancang memeluknya. Tapi sesaat kemudian, dahinya berkerut dengan mata menyipit melihat siapa yang berdiri tepat dibelakangnya.
Tanpa mengatakan apapun, ia kembali menarik wajahnya dan berdiri dengan kepala tertunduk. Tidak habis pikir kenapa Leo ada bersama mereka. 'Oh iya, aku hampir lupa kalau dia CEO ditempat ini. Hampir aja mulutku kelepasan.' Dhira berpura pura sibuk membuka map yang baru diambilnya dari lantai tiga untuk diserahkan pada Faris.
Dhira langsung bisa bernafas lega setelah pintu lift terbuka. Ia sudah tiba di lantai sembilan belas. Cepat cepat ia keluar dan berjalan terburu buru ke arah ruangan tempatnya bekerja.
"Huh...kenapa dia bisa ada di lift. Bikin semua orang tegang aja." Rutuknya sambil menyiapkan kertas di print.
"Siapa di lift?"
"Hah!" Dhira terlonjak kaget. Ternyata suaranya cukup keras sehingga Vanya bisa mendengar yang kebetulan tidak jauh darinya. "Bikin orang kaget aja sih!" Bentaknya dengan wajah sebal.
"Terus kenapa semua orang tegang? Kamu membicarakan siapa?"
"Hahh...itu tadi ada orang yang berpakaian aneh masuk lift. Semua orang mengusirnya dan sempat tegang!" Jawab Dhira sekenanya.
"Siapa? Tamu? Atau staf kantor?"
"Nggak tahu. Mungkin tamu gak diundang."
"Biasa itu mah. Hari itu ada yang pernah datang ngaku ngaku pacar pak CEO. Weisss tubuhnya persis gitar spanyol, bohay pokoknya. Tapi diusir karena pak Leo sendiri tidak kenal."
"Ohhh...ya udah kerja sana. Jangan ngerumpi. Ntar bu Faris ngamuk."
"Iya deh."
Dhira mengelus dadanya. "Bukan maksud menghinanya, tapi dia benar benar bikin orang terkejut." Bisik Dhira. Merasa bersalah mengatai bosnya sendiri.
Leo tiba di ruangannya. Di atas meja setumpuk berkas menyambutnya. Ia duduk dan mengambil kertas paling atas. Matanya fokus melihat ke tiap baris kata di kertas itu namun pikirannya entah terbang kemana. Tanpa sadar tangan kanannya terangkat dan menempel ke dadanya. Sudut bibinya melengkung bahkan sempat memperlihatkan bagian giginya yang putih. Bayangan Dhira saat bertarung dengan komplotan Rendra berseliweran dibenaknya. "Dia ternyata memang tangguh dan ahli bela diri. Pantesan waktu kecelakaan dia kuat dan kebal."
"Kemana aja? Tengah hari baru masuk kantor?" Tiba tiba asistennya Kim Barle sudah duduk di sudut meja.
Namun Leo tidak menyadari kedatangan Kim sehingga ia masih saja dengan wajah sumringahnya.
"Woiii!!! Malah melamun!" Teriak Kim.
"Hah? Apa sih teriak-teriak! Nggak sopan amat!" Leo meletakkan lembaran kertas.
"Mata kemana pikiran kemana! Lagi bayangin apa, hum? Bibirmu tersenyum malu malu. Otakmu lagi berselancar di dunia fana yang 'itu' ya..." Kim menatap wajah Leo penuh curiga dengan mengisyaratkan dua jarinya ke disamping wajahnya.
"Emang kamu! Kerjaannya 'goyang' terus!" Leo juga meniru gaya Kim.
"Hahaha...pasti ada sesuatu ini. Aku yakin. Pake raba raba dada segala lagi. Ngapa? Jatuh hati? Atau kecantol Tante? Atau..."
Plak!
Mulut Kim langsung tertutup rapat mendapat tabokan dikepalanya.
"Keluar! Cari kerjaan sana!"
Kim turun dari meja. Ia pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
Leo berdiri. Ia memutar tubuhnya menghadap dinding kaca di belakang kursinya. Memandang puncak puncak bangunan begitu indah nun jauh di sana.
"Siapa dia? Gadis yang telah membuatmu senyam-senyum?"
Leo terjingkat, bisikan ditelinganya begitu geli dan membuat bulu kuduknya meremang.
"Kamu lagi! Pergi nggak?!" Leo berkacak pinggang kesal. Ternyata Kim masih di dekatnya dan terus saja menggodanya.
"Ayo dong. Beritahu siapa dia. Aku bisa melihat kilat lope-lope berloncatan dari matamu itu." Tunjuk Kim ke mata Leo.
Leo mengerjap-ngerjapkan matanya. Merasa seperti orang ketahuan berbohong. "Matamu itu yang banyak lope-lope. Sampai para wanita saling jambak gara gara matamu itu."
"Hahaha...itu seni hidup bro. Dan aku mengaku kok di mataku ini banyak cinta. Makanya kamu juga jujur padaku."
__ADS_1
"Jujur dengkul mu itu! Keluar!" Leo mendorong Kim agar keluar.
Namun Kim tidak mau kalah, ia juga bertahan tidak mau keluar. Sehingga mereka adu kekuatan dorong dorongan dan berakhir bergulat. Pertandingan pun nampak seimbang. Meski Leo dibagian atas menimpa Kim, ia cukup kewalahan melawan kaki dan tangan Kim yang cukup cerdik mengapit kaki dan lehernya.
Ceklek
Pintu terbuka.
"Selamat pagi P..."
Suara wanita yang baru masuk menghentikan kegiatan mereka berdua. Leo mengangkat wajahnya melihat ke arah pintu. Mendadak ia melompat menjauh sambil mengkibasi bajunya dengan telapak tangannya.
"Ma-maaf..." Wanita itu adalah Dhira. Ia di suruh Faris mengantarkan berkas untuk segera ditanda tangani. Ia mundur dan menutup pintu kembali.
"Masuklah!" Seru Leo sebelum pintu tertutup.
Kim yang masih tergeletak di lantai bangkit dan duduk di sofa. "Nona, sebelum membuka pintu biasakan mengetuk terlebih dahulu."
"Saya sudah..."
"Ada apa? Nggak usah dengarkan dia. Dia itu masih remaja yang harus di hajar agar lebih menurut pada atasannya." Leo langsung memotong ucapan Dhira.
"Ini Pak ada berkas yang harus ditandatangani. Bu Faris sedang rapat sehingga meminta saya yang ke sini."
"Berikan." Leo menerima tiga lembar kertas dan menandatanganinya setelah memeriksanya.
Setelah selesai, Leo memberikan berkas itu dan menyerahkan kembali ke pada Dhira. Dengan menganggukkan kepala Dhira meninggalkan ruangan Leo.
"Anak baru kayaknya itu. Belum pernah lihat." Celutuk Kim dan mendekati meja Leo.
"Mungkin"
"Hehe jangan jangan dia berpikiran aneh tentang kita barusan. Hiiiiii..." Kim menatap Leo dengan tatapan jijik.
"Keluar kamu! Selalu bikin masalah! Cepat keluar!" Bentak Leo.
"Oke bos!" Kim pergi.
Leo kembali bekerja. Wajahnya begitu riang dan bersemangat. Biasanya ia hanya menunjukkan wajah serius atau tanpa ekspresi. Tapi seharian ini, wajah dinginnya telah berubah menghangat. Entah beban apa yang sudah terangkat dari wajahnya itu.
Hari sudah sore. Leo baru saja keluar dari gedung perusahaan. Terlalu banyak pekerjaan yang diselesaikannya sehingga pulang terlalu sore. Bahkan gedung yang biasanya ramai, kini sudah sunyi. Dengan wajah penat, ia menyetir mengarahkan mobilnya ke jalan pulang.
Ternyata hingga tiba di gang perumahan gadis itu tidak ditemukannya. Ia tersenyum kecut merasa dirinya sungguh konyol. Serasa ingin maju lagi tepat di depan rumah Dhira namun ia memilih mundur. Ia pun pulang meninggalkan harapan melihat gadis yang sudah mencuri hatinya itu.
***
"Van, si Arga udah pulang belum?" Dua gadis yang selalu bersama itu sedang menyelusuri koridor menuju kantin.
"Belum. Pake nanya lagi. Udah tahu orang udah kangen banget."
"Huh lebay. Baru seminggu. Cinta ya cinta tapi jangan berlebihan! Orang lain sampe bulanan baru ketemu, nggak kayak kamu itu. Bucin parah!" Ejek Dhira.
"Kamu mah tahu apa! Ngerasai cinta juga belum. Sok bilangin orang! Rasakanlah suatu saat nanti. Bisa kamu lebih parah dariku."
"Hih amit amit. Aku mah selowww...santai seperti air mengalir. Nggak kayak kamu senang melawan arus jadinya tenggelam sendiri. Hakh...hakh...hakh..." Dhira meniru gerakan orang hampir tenggelam di air.
"Losss! Cinta cinta aku, ngapa kamu yang sewot. Terus ngapa tanya tanya yayang aku ada apa enggak? Hayo, ngaku kamu mau ngapain?" Gaya bicara Vanya yang sok angkuh.
"Tadinya mau ngajak kamu ke pesta. Tapi nggak jadi, tingkahmu bikin enek!"
"Hehehe...bercanda. Pesta? Aku nggak kemana mana kok. Aku akan menemanimu." Vanya memasang wajah manis.
"Nggak usah. Aku pergi sendirian aja."
"Ihhhh...kamu serius amat sih? Bercanda."
"Malasss...." Dhira sengaja menjaraki sahabatnya.
"Hayolah! Jangan begitu. Ya ya ya..." Vanya menggelitik pinggang Dhira agar sahabatnya itu luluh.
"Moh...!" Dhira berjalan terminggir-minggir karena ulah jahil Vanya.
"Hayo dimana acaranya?" Vanya terus saja menggelitiki.
"Ha ha ha...stop Van! Geli tahu!" Dhira bahkan berjalan mundur karena Vanya terus memburunya.
__ADS_1
"Bilang dulu 'iya'...baru aku berhenti. Iya iya iya..."
Dhira terus saja berjalan mundur hingga
Brukkk...
Tiba-tiba Dhira menubruk sesuatu dibelakangnya. Secara spontan Dhira berbalik dan
Takkkk
Kepalanya membentur sesuatu lagi.
"Auhhh..."
Leo mendesis kesakitan sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Kepala Dhira membentur hidungnya.
"A...? Ma-maaf Pak." Dhira terbata bata. Wajahnya sudah memucat ketakutan begitu juga dengan Vanya.
"Sshhh...itu kepala atau batu?" Keluh Leo sembari melepas tangan dari hidungnya.
"Pak i-itu...itu ber-berdarah!" Pekik Vanya begitu melihat hidung Leo mengeluarkan darah bahkan sudah mengalir dan menetes-netes.
Leo mengusap hidungnya lagi dan darah pun keluar makin banyak.
"Maaf Pak saya harus memegang kepala Anda." Dhira berjinjit dan membuat kepala Leo menengadah. "Tolong mendongak Pak, agar darahnya berhenti. Ya terus begini." Dhira melepas tangannya.
"Mari Pak, pelan pelan jalannya. Kami akan mengantar bapak ke klinik."
"Tidak usah." Leo tidak jadi ke kantin tapi putar haluan naik ke lantai dua puluh.
"Matilah kita Dhi. Gimana kalau kalau kita di denda atau di pecat?"
"Kamu sih, pake gelitikin segala. Yang ada malah terkena masalah."
"Hahh...bagaimana ini. Mana Pak Leo kayaknya tidak bisa menoleransi kesalahan. Sudah empat orang yang dipecatnya semenjak enam bulan ini. Ya Tuhan, tolong lembutkan hati Pak Leo." Vanya sangat ketakutan.
"Sudahlah. Kadung terjadi. Perutku lapar. Ayo kita makan." Dhira menarik tangan Vanya.
"Bisa bisanya kamu setenang ini. Aku tidak selera. Kita ke atas aja. Minta maaf dan memohon pada pak Leo agar mengampuni kita." Vanya yang kini menarik tangan Dhira.
"Belum terjadi apa apa Van. Kamu berlebihan."
"Ada apa denganmu? Biasanya kamu yang paling takut dipecat. Lha sekarang sudah jelas jelas salah masih bisa santai. Ayo ke atas. Mumpung masih jam istirahat. Orang orang lagi pada keluar. Ayo!" Vanya menarik paksa tangan Dhira hingga masuk lift.
Setibanya di lantai paling atas bangunan itu, Vanya tak henti hentinya menggosok telapak tangannya karena gugup. "Dhi kamu yang di depan. Aku takut." Vanya bersembunyi di belakang Dhira.
"Aku juga takut Van. Bagaimana kalau kita turun aja. Kita tunggu dipanggil baru datang menghadap padanya."
"Tidak bisa. Sudah kadung di sini. Hayo! Biar aku yang ketuk." Vanya mengetok pintu ruangan CEO dengan hati hati.
Kedua gadis itu sama sama tegang saat tiba tiba pintu terbuka. Mereka berdua kompak menundukkan kepala, tidak berani menatap langsung pada Leo.
"Sedang apa kalian di sini!" Tanya Leo sambil menekan hidungnya dengan suatu benda.
"Kami mau minta maaf Pak. Maaf kan kami telah membuat Bapak terluka." Jawab Vanya masih dengan kepala tertunduk.
"Bukan kah kepalanya yang bersalah. Kenapa kamu yang minta maaf?" Leo menunjuk Dhira dengan dagunya.
Vanya menyenggol Dhira dengan bahunya, agar gadis itu segera bicara.
"Maaf Pak. Sekali lagi saya akan berhati hati." Dhira berkata dengan mata menatap wajah Leo. Matanya memeriksa apakah hidung bos itu sudah sembuh.
"Vanya, pergilah. Dia akan membantu mengobati ku." Dalam hati Leo bersorak ria. Ia akan dirawat oleh Dhira.
"Tapi, kami tidak dipecatkan, Pak?" Tanya Vanya dengan mimik dikasihani.
"Bekerjalah dengan baik. Selama itu kau tidak akan dipecat. Sekarang pergilah!"
"Terimakasih,Pak. Saya pamit dulu." Vanya langsung ambil langkah seribu dengan hati lapang. Ketakutannya ternyata tidak terjadi.
Sedang kan Dhira masih berdiri di pintu. Ia ragu masuk.
"Jangan berdiri terus disana! Masuklah agar cepat selesai. Ini hidungku benar benar bengkak dan biru." Seru Leo dari dalam.
Dhira melangkah pelan masuk lagi ke ruangan itu untuk yang kedua kalinya. Ia berdiri di depan Leo yang duduk di sofa bersender dengan kepala direbahkan di bantalan sofa.
__ADS_1
Dhira bisa melihat dengan jelas, hidung mancung Leo yang memerah kebiruan dan masih ada bercak darah di sekitar lobang hidung itu.
"Itu ada es batu dan kain. Kompres hingga bengkaknya berkurang." Leo menunjuk ke meja tanpa membuka matanya. Bibirnya tersenyum ternyata kesialannya membawa Dhira ke hadapannya.