Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Demi Sahabat


__ADS_3

"Udah begini aja. Aku tidak akan berteman dengan mereka. Tapi aku mau uang banyak."


Robert menoleh dengan wajah tanda tanya. "Uang banyak?" Ulangnya.


"Iya. Aku akan kuliah. Tapi berikan aku uang yang banyak." ujar Ara dengan santai. Berusaha menutupi sesuatu yang lain yang ada di otaknya.


"Untuk apa? Bukankah uang tabungan mu banyak? Kapan pun kau mau, bisa kau ambil sendiri."


"Masih kurang. Nanti ku kabari jumlahnya berapa." Ara pura-pura sibuk dengan ponselnya.


Robert menelisik wajah putrinya. "Mau kau apakan uang itu?" Wajah Robert tegang.


"Bisnis Pi. Selama dua bulan ini aku mulai berbisnis. Dan aku butuh modal. Percayalah Pi, aku tidak macem macem." Setelah menata mimiknya, Ara melihat ke papinya. Bola matanya menatap Robert dengan serius.


Robert membaca mata putrinya. Tidak ada ketakutan atau keraguan di mata itu. Ia sangat paham, jika putrinya melakukan hal yang salah, mata itu pasti berbicara. Tapi ini tidak. Malah nampak begitu yakin.


"Baiklah. Bicarakan itu dengan Jhon."


"Makasih Pi. Papi memang yang paling ku sayang." Ara langsung memeluk lengan papinya dan bergelayut di sana.


"Hm. Kamu sekarang makin keras kepala dan suka melawan." Ujar Robert pelan tapi suaranya sengaja di tekan.


"Ah nggak juga. Papi aja yang terlalu keras padaku. Coba Papi lebih lembut, pasti aku juga bisa lebih nurut lagi." Ara tidak mau kalah. "Udah kita lupain masalah ini. Aku tidak akan banyak menuntut lagi." Akhirnya Ara mengalah. Yang penting yang diinginkannya sudah tercapai.


"Kuliah lah dengan baik. Saat waktunya tiba, kamu yang akan menangani semua usaha kita."


"Iya Pi."


"Satu lagi, ingat di luar jangan panggil aku Papi. Bila perlu perkenalkan aku sebagai pengawal mu."


"Oke...ummmahhh." Ara mencium pipi robert. "Aku sayang Papi."


"Kalau ada masalah apapun jangan segan bercerita pada Papi. Tidak bagus mengalami masalah dipendam sendiri!" Lagi-lagi Robert berpesan.


"Tenang aja Pi, aku selalu lurus dan bahagia kok. Tidak pernah mengalami yang namanya masalah selain papi yang memulai." Ara tersenyum. Memang gadis ini, sungguh keras kepala.


Robert hanya bisa mengangguk. Ia sudah tidak tega memaksa kehendaknya pada gadis itu meski hatinya menolak keinginan Ara. Melihatnya tidak kuliah dua bulan ini sudah membuatnya stres. Mumpung sekarang putrinya itu mau berdamai, ia akan menuruti permintaannya apalagi hanya soal uang.


Siang itu, Ara mengumpulkan semua barang barang berharga miliknya. Untungnya ia sangat dimanja soal barang mewah dan hobi mengoleksi perhiasan. Kalung emas dan berlian hadiah dari papinya dikeluarkannya. Beberapa ponsel yang masih baru. Semua ia jual dan digabungkannya dengan uang miliknya. Terkumpullah semua sebanyak tiga ratus juta.


Sebenarnya ia bisa mengambil uang dari tabungannya agar cukup satu milliar. Tapi ia tidak ingin membuat papinya curiga. Ia hanya mengambil seratus juta. Sehingga menjadi empat ratus juta.


Dari Jhon yang disetujui Papinya dua ratus juta, sehingga terkumpullah enam ratus juta. Kini ia tinggal memikirkan dua ratus juta lagi.


"Haruskah aku menggadaikan mobilku?"


"Tapi, bagaimana kalau Papi sampai tahu?"


"Ah tidak. Ini tidak boleh ketahuan." Ia terus berpikir bagaimana mendapatkan uang lagi.


"Ohhh...ternyata begini rasanya saat membutuhkan uang. Pusing!!!" Sampe oyong rasanya." Ia menepuk-nepuk kepalanya berharap ada ide lainnya yang muncul untuk mengatasi kesulitannya sat ini.


Pagi harinya di kamarnya, Dhira mulai mencari cara mendapatkan uang dua ratus juta lagi agar cukup satu M. Sambil mondar-mandir, otaknya berputar terus.


"Hanya ada dua pilihan, kalau tidak pinjam dari kak Jhon, terpaksa mengambil tabunganku lagi dari bank."


Setelah beberapa kali mengelilingi kamarnya, akhirnya ia memutuskan sesuatu.


Dengan senyum smark, Ara mencangklong tas dipundaknya dan berdiri di pintu Jhon yang baru terbuka.


"Selamat pagi..." Ucapnya dengan wajah berbinar.


"Hm. Kenapa denganmu? Pagi pagi udah senyum senyum." Jhon yang masih belum pakai kemeja cepat-cepat mengenakannya dan memasang kancingnya dengan rapat.


"Ayo!" Ara menaikkan alisnya.

__ADS_1


"Kemana?"


"Antar aku ke kampus! Kamu lupa kalau hari ini mengurus soal perkuliahan? Atau haruskah aku menelepon Papi, menyuruhnya datang dari Bali untuk mengurus itu?"


"Oh. Lupa!" Jhon memukul pelan jidatnya. "Kelamaan tidak ke kampus membuatku lupa kalau kamu masih mahasiswa." Jhon terkekeh, lebih mirip mengejek.


"Huh, mau nggak? Biar aku tahu aku melangkah kemana!" Sentak Ara.


"Iya Nona, iya. Ini aku lagi siap-siap." Jhon memutar tubuhnya dan merapikan kemejanya ke dalam celananya.


"Cepatlah!"


"Oke..." Jhon menutup pintu dengan kakinya.


Tapi pintu tidak bisa tertutup karena ditahan oleh Ara.


"Ada apa lagi?" Tanya Jhon kesal.


"Buka pintunya! Aku mau masuk."


"Hah? Kenapa denganmu? Sana tunggu di depan." Mereka saling mendorong pintu.


"Sebentar aja. Aku ada perlu." Tiba tiba Ara mendorong pintu sangat kuat hingga membuat Jhon terpelanting.


"Eh? Ngapain bocah ini? Ini kamarku!" Seru Jhon sambil mengelus bokongnya yang barusan mencium lantai.


"Kak bisa tenang sedikit nggak? Aku ada perlu." Kali ini Ara berbicara lembut dan sudah duduk di tepi ranjang Jhon. Sebenarnya jantungnya berdebar tak menentu saat sudah berada di kamar. Begini mungkin ya perasaan orang yang menyukai seorang pria. Sedikit sedikit berdebar. Baru berdekatan sudah bikin gugup. Dan ternyata kegugupannya lebih parah saat sudah berduaan di ruangan sepi ini.


Jhon berdiri di depan Ara memperhatikan wajah didepannya. "Tiba tiba serius begini? Ada apa?" Jhon sudah selesai dengan pakaiannya.


"Duduklah dulu." Ara menepuk sisi ranjang disebelah kanannya.


Jhon menggaruk kepalanya sambil meringis. 'Anak ini ada ada aja. Dasar bocah!' Tapi ia tetap menurut dan duduk di sisi Ara.


"Iya katakanlah! Ini udah siang."


"Pinjemin aku uang."


Jhon menegakkan kepalanya dan menatap Ara "Kamu baik baik aja kan? Tingkah mu sangat aneh! Dari kemarin uang dan uang aja yang dibicarakan." Jhon mengangkat tangannya dan meraba kening Ara. Memastikan gadis itu tidak sedang demam.


Jantung Ara secara spontan berdetak lebih hebat lagi. Bahkan sampai terasa dadanya sedikit nyeri. Wajahnya terasa hangat dengan sentuhan Jhon. Apalagi dengan tiupan nafas Jhon yang sangat segar karena habis mandi. Aroma mint yang menguar dari mulutnya membuat Ara merasakan getar getar aneh. Tanpa sadar ia menelan ludahnya dengan tiba tiba.


"Hei mikirin apa? Malah bengong kayak kungkang." Jhon menyentil dahi Ara setelah tahu gadis itu tidak demam.


Ara kelabakan seperti orang ketahuan mencuri. Ia mengerjap grogi. Ditepisnya tangan Jhon yang masih di depan keningnya.


"Ihhh...serius. Aku butuh uang. Tapi jumlahnya sedikit banyak."


"Uang kamu banyak, tinggal ambil di ATM. Aku lho mana punya uang."


"Tolonglah. Aku butuh uang dua ratus juta lagi. Tapi tolong jangan bilang papi. Ini rahasia." Ara menundukkan kepalanya begitu dalam. Ia berbicara tanpa melihat wajah Jhon.


"Kan kemarin sudah bilang pada papimu kalau kamu akan menarik uang banyak. Tinggal ambil kan beres. Kenapa malah minjam ke aku?"


"Aku butuh dua ratus juta lagi pokoknya. Jangan banyak tanya! Papi aja tidak banyak omong. Please... ya..."


"Untuk apa uang sebanyak itu?" Jhon menatap wajah Ara yang menunduk.


"Ada deh. Aku gak enak narik uang sekaligus banyak. Papi bisa bertanya ini itu. Malas jawabnya."


"Bisa katakan untuk apa uang itu?" Tanya Jhon.


"Kan ke.atin udah ku bilang, aku ada bisnis yang baru mulai bersama teman selama aku tidak kuliah. Nggak enak kakau aku mundur. Bisa diejek aku hanya besar mulut doang. Jadi, tolong ya, akan aku cicil setiap minggunya dengan uang jajan ku. Paling sepuluh kali cicilan."


Jhon menarik nafas panjang. Sebenarnya ia sudah tidak heran dengan sifat boros Ara. Dalam sebulan uang seratus juta sering dihabiskannya untuk berbelanja dan kebutuhan lainnya.

__ADS_1


"Baiklah. Tapi bisa bilang bisnis apa itu?"


"Masih rahasia. Nanti kalau sudah mulai berjalan baru ku kasih tahu." Ara membuat wajahnya manja agar Jhon tidak curiga.


"Banyak gaya kamu itu. Tinggal minta sama papi kamu padahal."


"Nggak enak. Nanti begitu aku mengambil uang lagi, papi pasti langsung meneleponku tanya segala macam. Malas. Kalau dia ratus kan aman. Aku udah sering ngambil uang sebanyak itu."


"Iya. Sekarang kamu keluar. biar kita pergi "


"Aku butuhnya pagi ini Kak, bisakan kita ke bank sebelum ke kampus."


"Dadakan sekali Ra!"


"Iya. Namanya juga butuhnya sekarang. Karena sudah mentok makanya aku mau kuliah lagi. Kalau enggak aku masih mau main ngambek!"


"Hahhh...yah udah. Terserahlah. Anak sultan mah bebas. Uang segitu hanya di ujung kuku bagimu."


"Ck. Kakak ngomong apa sih? Bersedia nggak?!" Sentak Ara dengan mata melotot.


"Iya iya. Keluarlah lah."


Ara bangkit dan keluar dari kamar. Di balik pintu yang sudah tertutup ia mengelus dadanya yang masih berjoget tak karuan. Beberapa kali menghembuskan nafas panjang baru bisa lega.


"Ohhh Tuhan, makasih..."


"Yes...berhasil."


***


Pukul sebelas Ara ke cafe. Ia lumayan cerdik, dengan menggunakan nomor telepon kantor cafe, ia menelepon Meli setelah mendapat nomor dari manager cafe.


Awalnya sulit, pria gendut itu bertahan tidak mau membocorkan hal privasi langganannya. Tapi demi melihat uang lima lembar berwarna merah membuatnya tidak tahan. Nomor ponsel Meli akhirnya berada di tangan Ara.


"Dengar, kalau wanita itu bertanya siapa yang datang ke sini, katakan namaku Dhira. Ciri ciri kulit putih dengan rambut pirang. Bentuk tubuh sedang tapi padat. Wajah cantik dan terlihat pintar. Satu lagi matanya sipit."


Begitulah cara Ara menolong Dhira. Dan tanpa sungkan ia menelepon nomor Meli dari telepon kantor.


"Halo..." Terdengar suara Meli.


Ara memeriksa sekitarnya memastikan tidak ada orang yang mendengarnya."Uang satu M sudah ku taruh di atap cafe. Jangan menggangguku lagi!"


"Wanita sialan! Berani kau membentak ku! Lihatlah bagaimana caraku membalas mu!" Yang diseberang meraung karena merasa direndahkan.


"Kita tidak ada urusan lagi. Selamat tinggal!" Ara mematikan telepon. Ia sungguh mual mendengar suara Meli.


Setelah itu, ia memesan secangkir jus untuk menampakkan diri seolah olah dirinya mampir ke cafe untuk minum. Ia yakin Jhon pasti memata-matai nya. Agar tidak mencurigakan, ia akan minum sebentar lalu pergi ke kampus yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari cafe.


Sementara di jalan, Meli dengan terburu buru menyetir mobil ke arah cafe. Ia sangat kesal dan harus segera bertemu Dhira untuk memarahinya. Memberinya pelajaran atas kelancangan membentak dirinya barusan.


Ia berjalan setengah berlari memasuki cafe. Ia langsung menuju roof top menemui Dhira. Tapi setibanya disana, tidak ada siapa siapa. Hanya ada sebuah tas berukuran sedang dilengkapi gembok kecil teronggok di lantai. Ia memutar kepalanya mencari disekitar sosok gadis yang membuatnya naik darah itu.


Tapi tetap tidak ada siapa siapa. Ia memeriksa tas dan mencoba membuka resletingnya. Namun tidak bisa karena digembok.


"Gadis brengsek! Tidak punya akhlak!" Bentaknya sembari mengangkat tas dan membawanya pergi.


Di kelasnya, Ara sedang berfokus dengan layar ponselnya yang sedang melakukan video call dengan manager yang telah di bayarnya. Ia tidak perlu khawatir lagi, karena uang itu sudah berada ditangan Meli. Kini ia bernafas lega. Ia telah membantu Dhira sahabatnya dengan tepat. Biarlah itu tanpa sepengetahuan Dhira. Bukan persoalan baginya. Uang segitu setiap tahunnya dihamburkannya. Bukankah membantu lebih baik dari pada uangnya habis tak karuan?


Melakukan pengorbanan ini ada rasa kemenangan dan kepuasan tersendiri dihatinya yang tidak bisa diungkapkannya. Pokoknya, perasaannya bahagia mampu melakukannya demi Andhira.


***


Dhira menyeka mulutnya habis makan siang di kantin. Ia benar benar sangat lapar sebelumnya karena paginya tidak sarapan. Sekarang ia merasa sudah enakan karena perutnya sudah kenyang.


"Jangan suka telat makan Dhi, kamu itu punya penyakit tipes dan maag. Tempo hari kamu baru sakit. Untunglah Jhon yang menemukanmu. Entah apa yang terjadi kalau orang jahat yang menemukanmu." Dhira menceritakan perihal dirinya pingsan dan ditemukan Jhon. Namun tidak seutuhnya masalahnya diceritakannya. Jika bercerita pada Vanya, bisa dipastikan akan bocor pada Leo. Menyembunyikan masalahnya sekarang ini adalah yang terbaik menurutnya.

__ADS_1


__ADS_2