Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Rindu Yang Tertahan


__ADS_3

Tapi tidak menyangka Dhira bicara sedingin itu. Ia melirik Amelia yang sedari tadi diam saja.


"Sayang...aku tahu kamu tidak setega ini padaku. Tolong katakan pada putri kita, aku sangat mencintai kalian berdua."


"Tenanglah sedikit. Biarkan Dhira beristirahat." Amelia menatap Robert.


Dhira mengerjap-ngerjapkan matanya. Telinganya gatal mendengar panggilan Robert terhadap ibunya. Dan yang paling membuat hatinya geli adalah ibunya biasa saja. Tidak jengah atau marah. 'hum...sepertinya ibu udah terbiasa dengan si tuan lelaki ini.' batin Dhira.


"Baiklah. Tidurlah lagi. Masih beberapa menit lagi saatnya makan malam. Ayah yang akan menyuapi mu nanti." Robert mengelus kepala Dhira, merapikan rambutnya yang berantakan.


Dhira merasa dirinya seperti anak kecil. Dan rasanya aneh disayang lelaki seperti ini. Biasanya Leo yang suka melakukannya. Dan rasanya juga sangat berbeda. Bila bersama Leo ia akan merasa melambung tinggi disertai dadanya yang berdebar. Sedangkan tangan Robert rasanya biasa biasa saja.


Dari balik pintu, Ara mendengar percakapan itu. Ada rasa yang hilang dari hatinya. Ada kecemburuan di hatinya. Papinya yang sejak dirinya bisa mengingat kini bukan miliknya lagi.


Ia tersentak merasakan sebuah tangan mampir di bahunya. Ia menoleh dan orang itu adalah Leo.


"Jangan sedih. Kita juga ada papi yang sayang sama kita." Senyum Leo berusaha menenangkan.


Ara tersenyum sedikit. Walau hanya singgungan kecil, tapi cukup menunjukkan kedewasaannya.


***


Seminggu Dhira menghabiskan waktu di rumah sakit. Hari ini ia sudah boleh pulang. Amelia sibuk menyusun segala perlengkapan mereka.


"Sayang, jangan terlalu capek. Biarkan asisten kita yang mengerjakan itu." Hubungan Robert dengan Amelia sudah makin baik. Lelaki itu sangat pintar dan bisaan mengambil hati Amelia dan Dhira. Semua sudah jelas. Robert menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Dhira. Dan gadis itu dengan senang hati menerima ayahnya.


"Bu... cepat lah nikahi Ayah itu. Telingaku gatal setiap mendengar kalian bicara." Gerutu Dhira. Terkadang ia sendiri yang malu melihat kemesraan Robert pada ibunya.


Amelia hanya cengar-cengir. Ada rasa malu, juga senang.


"No...terbalik. bukan ibu. Tapi ayah yang akan menikahi ibumu." Robert mengusap kepala Dhira. "Sekarang Ayah tanya, kamu mau pulang kemana? Ayah akan menurutimu."


Kemarin sempat terjadi perbedaan pendapat. Robert ingin membawa pulang Amelia dan Dhira ke Bali. Tapi Dhira menolak. Ia lebih suka di Jakarta.


Sementara Amelia ingin pulang ke Lampung. Tapi niatnya ke Lampung tidak bisa lagi, karena sudah tidak ada apapun disana harta milik mereka.


Lalu Robert mengajak mereka ke rumah barunya. Tapi Amelia menolak. Ke apartemen pun begitu. Amelia tidak setuju.


"Ke rumah kontrakan. Aku dan ibu ada rumah kontrakan." Jawab Dhira enteng.


Robert terdiam dan nampak berpikir.


"Nanti setelah Ayah dan Ibu menikah baru pindah ke rumah Ayah."


Kedua mata Robert berbinar. Bibirnya tersenyum bahagia. Diciuminya kepala putrinya berkali-kali. "Ayah setuju."


Amelia tersenyum bahagia melihat interaksi putrinya dengan Robert. Sungguh semua kejadian saat ini sangat luar perkiraannya. Ternyata ia dan Robert masih bertemu dengan kisah cinta yang berkelanjutan.


Mereka pergi meninggalkan rumah sakit. Dengan mobil mewah Robert mereka menuju rumah kontrakan Dhira.


Hari-hari mereka begitu indah. Semua waktu yang telah hilang, sungguh digantikan oleh Robert. Tak sedikitpun ia meninggalkan Amelia dan Dhira. Ia rela tinggal di rumah kontrakan asal bisa selalu bersama.


***


Hubungan Leo dan Dhira menjadi renggang. Semenjak Amelia tahu siapa Leo dan Ara. Tidak ada lagi ruang bagi mereka. Amelia melarang keras putrinya berhubungan dengan keluarga itu. Ia tidak bisa memaafkan yang dialaminya akibat kejahatan Meli.


Dhira tidak bisa melawan ibunya, meski ia tidak akan bisa mencintai pria lain lagi. Tapi demi ibunya ia akan menenggelamkan cintanya sangat dalam hingga ibunya tidak akan menyadari kalau ia masih mencintai lelaki itu.


"Sayang...putri kita sering melamun. Semenjak kita pindah, dia suka duduk di bangku itu sambil bengong." Robert berdiri di samping istrinya Amelia. Mereka sudah melangsungkan pernikahan seminggu yang lalu. Dan sudah pindah ke rumah baru milik Robert. Namanya tetap Amelia. Ia tidak mau mengganti namanya lagi. Mereka berkumpul menjadi satu keluarga yang utuh. Jhon sebagian anak tertua dan Andhira sebagai anak kedua. B

__ADS_1


Amelia menarik nafas panjang. Sebenarnya ia juga menyadari itu. Dan ia tahu apa yang dialami putrinya. Tapi ia enggan membicarakan hal itu.


"Eh...Ibu, Ayah. Ada apa? Kenapa kalian berdiri di tengah pintu? Mau keluar?" Dhira langsung ke mode ceria. Ia beranjak dan mendatangi kedua orang tuanya.


"Aaahhh...tidak. Kami hanya sedang..." Amelia tidak tahu apa yang akan dikatakannya selanjutnya.


"Kalau mau keluar pergilah. Ayah Ibu juga butuh waktu berdua. Jangan terhalang karena aku."


"Ngomong apa kamu ini? Kami tidak akan kemana-mana." Amelia menunjukkan senyumnya.


"Emmm...baiklah. Bagaimana kalau kita makan diluar? Sekalian bawa Ibu jalan jalan." Ajak Dhira.


"Boleh. Hem sebenarnya Ayah ingin membawa kalian ke perusahaan. Ayah ingin mengenalkan keluarga ku pada semua orang."


"Setuju! Aku ingin belajar banyak tentang bisnis kita." Sambut Dhira. Pikirnya lebih baik dirinya sibuk bekerja agar bisa melupakan Leo.


Amelia tersenyum bahagia melihat suami dan putrinya ternyata sangat sepemikiran. Mereka selalu akur dan sejalan. Dhira yang cerdas sangat membanggakan hatinya.


Pertama kalinya Robert menampakkan wajahnya sejak lima belas tahun terakhir. Seluruh penghuni perusahaan itu menyambut dan memberi hormat, tentunya dengan pengaturan yang dilaksakan oleh Jhon.


Robert memperkenalkan namanya, istrinya, putra dan putrinya. Kini desas-desus yang beredar tentang keberadaan Jhon kini sudah terang. Selama ini, mereka sempat meragukan Jhon sebagai keluarga dari pemilik perusahaan.


Kini satu keluarga baru itu, berkumpul dan menikmati makan siang.


"Kak, segeralah menikah. Ibu dan Ayah biar tahu mereka sudah tidak muda lagi. Segera beri mereka cucu." Celetuk Dhira. Ia gemes melihat ayahnya yang sibuk menyuapi ibunya.


Jhon berhenti menyuapi mulutnya. Ia menegakkan tubuhnya dan menatap Dhira.


"Kok malah bengong? Kakak apa nggak malu? Mereka seperti remaja. Kemana-mana seperti orang pacaran. Apalagi tuh Ayah, kadang kadang bikin geli. Malu aku!"


"Ah setuju! Jhon menikahlah, dan segera hadirkan cucu buat kami. Biar Papi Mami ada teman main. Hari-hari kami pasti akan menyenangkan. Mumpung Papi sama Mami masih kuat menggendong cucu-cucu kami." Robert langsung bersemangat, begitu juga dengan Amelia. Mereka masih menyempatkan diri untuk saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat.


"Belum kepikir ke sana. Masih enjoy dengan kesendirian alias nggak laku." Sahut Jhon dengan wajah tertunduk.


"Buatmu mah gampang cari cewek. Tuh di kantor aja banyak yang menyukaimu. Mereka malah ngatri. Kamu aja yang terlalu milih milih." Cibir Dhira.


Jhon hanya tersenyum tipis. Ia melanjutkan makan. Sebenarnya semenjak mereka tinggal di rumah yang sama, jantungnya berdetak lebih keras. Sering deg-degan apalagi setiap berdekatan dengan Dhira. Dari awal bertemu sebenarnya ia sudah ada rasa suka padanya. Tapi perasaannya itu ditekannya karena Andhira adalah musuh mereka. Dan perasaannya kini mekar dan semakin dalam setelah mereka serumah.


Dari sekian banyak wanita yang dipacarinya belum pernah jantungnya berdetak seperti sekarang ini. Rasa rindu berat akan menimpanya bila sehari saja tidak melihat Dhira. Setiap pulang ke rumah ia akan lebih bersemangat karena ia akan bertemu gadis itu.


"Mereka hanya terpukau saja. Belum tentu cinta." Jawab Jhon.


"Hahaha...emang benar. Mereka takut padamu. Makanya jangan terlalu dingin jadi orang. Yang ramah, smile kalau ketemu orang itu. Pasang wajah yang manis. Yakin deh mereka pasti tidak akan takut lagi." Dhira berbicara sambil tertawa. Tapi entah kenapa di telinganya, itu malah terdengar menyedihkan. Ia tertawa. Tapi tawanya sangat kaku, tidak enak dengar.


"Di bagian belakang restoran ini ada taman. Kita kesana menghabiskan hari ini. Bagaimana?" Robert mengalihkan topik. Ia mau pembicaraan berhenti. Hatinya sakit melihat Dhira yang pura pura baik baik saja. Juga sedih melihat putranya yang memiliki cinta terpendam. Ia mengetahui Jhon mencintai putrinya.


Sebenarnya baginya bukan persoalan jika Dhira harus bersama Leo. Yang sebenarnya salah adalah Meli. Dan wanita itu juga sudah meninggal. Tapi melawan kehendak Amelia ia juga tidak mau. Ia juga tahu bagaimana traumanya istrinya itu.


Sudah dua bulan berlalu. Kehidupan Dhira benar benar berubah. Ia sudah menduduki jabatan penting di perusahaan ayahnya. Ia selalu menyibukkan diri bekerja. Tidak ada waktunya untuk hal santai selain beristirahat di rumah. Semua dipelajarinya dan langsung dikuasainya dengan cepat.


Sekarang ia duduk di sebuah cafe menunggu Ara. Entah sudah berapa kali gadis itu memintanya bertemu. Selalu diabaikannya. Kali ini ia mau karena Ara mengancam akan mendatanginya ke rumah. Mencegah bertemunya ibunya dengan Ara terpaksa ia menurutinya.


Baru beberapa menit ia duduk Ara sudah datang. Gadis itu terlihat masih tetap kurus. Belum kembali ke bentuk tubuhnya sebelum kekacauan.


"Udah lama?" Tanya Ara.


"Belum."


"Udah pesan minum?"

__ADS_1


"Belum."


Ara memanggil pelayan dan memesan jus dan cake.


"Kakak tidak baik baik aja. Dia berubah." Ara langsung curhat.


Dhira hanya diam. Ia memainkan ponselnya, memutar-mutarnya di atas meja.


"Dia jarang pulang. Saat pulang pasti dalam keadaan mabuk. Dua kali ia menginap di atas kuburan ibunya. Sama papi juga jadi sering berantam."


Dhira tetap diam walau dalam hatinya sedih.


"Tolong Dhi, kakak tidak bersalah. Dia tulus mencintaimu. Dia sudah memberikan seluruh hatinya padamu. Tidak bisakah kamu mengerti keadaannya?" Wajah Ara begitu berharap.


Dhira masih setia diam.


"Aku takut kakak berubah gila. Haruskah orang sebaik kakak Leo menjadi korban? Di menjadi tidak terkontrol dan suka marah."


Ara menatap Dhira yang menundukkan kepalanya. Tangannya masih bergerak sama, memainkan ponselnya.


"Tolong temui dia. Dia hanya butuh kamu." Ara menarik tangan Dhira.


Dhira mengangkat wajahnya. Ditatapnya mata Ara yang berair. "Aku tidak bisa melakukan apapun."


Langsung tumpah air mata Ara. Usahanya yang terakhir pun gagal. "Dia itu sangat bodoh! Dia menyakiti dirinya sendiri. Tapi mungkin begitulah yang dikatakan orang cinta bisa menghancurkan hidup juga."


Dhira diam.


"Bukan gak bisa dia menemui mu. Tapi dia terlalu menjagamu. Menjaga ibumu. Sampai menahan deritanya sendiri." Lagi lagi Ara terisak.


"Semua akan membaik seiring berjalannya waktu. Nanti juga dia membaik." Sahut Dhira.


"Bagaimana kalau tidak? Bagaimana kalau dia terlanjur stres. Atau celaka? Atau meninggal karena sakit? Apa kamu tidak akan menyesal?"


"Sudahlah Ara! Itu bukan tanggung jawabku!" Sentak Dhira. Ia marah bukan karena dipojokkan tapi hatinya sakit membayangkan Leo akan kehilangan diri.


"Benarkan kamu tidak lagi peduli dengan kak Leo? Sungguh?" Tanya Ara tidak percaya.


"Itu urusan kalian. Jaga keluarga kalian. Jangan memaksa ku melakukan sesuatu yang tak bisa kelakukan!" Dhira tidak ingin melanjutkan pembicaraan lagi. Ia berdiri dan pergi.


Ara hanya bisa menatap kepergian Dhira dengan genangan air mata. Betapa ia sangat khawatir dengan keadaan kakaknya Leo. Kemarin aja Leo pulang dalam keadaan mabuk dan mobilnya lecet lecet bekas tabrakan. Setiap hari seperti itu membuat Ara dan Rudy kebingungan.


Sepanjang perjalanan pulang, Dhira tak kuasa menahan air matanya. Bila beberapa Minggu ini ia bisa menahannya, tapi sekarang tidak lagi. Ia menumpahkan segala yang berat dihatinya. Sungguh hingga sekarang ia tidak bisa menepis rasa cintanya pada pria itu. Rindunya pun sangat berat dan makin berat. Haruskah ia pergi jauh hingga ke luar negeri agar bisa melupakan Leo?


Sejak pertemuannya dengan ara, Dhira menjadi lebih pendiam lagi. Ia menjadi sering mengurung diri saat tidak ke kantor.


Seisi rumah menyadari perubahan itu. Tapi tidak ada yang membahasnya meski sangat ingin. Karena tahu tidak akan bisa membantunya.


Malam sudah makin larut. Dhira bolak balik membalikkan tubuhnya miring ke kanan dan ke kiri. Ia tidak bisa tidur. Pikirannya tidak tenang setelah membaca chat dari Ara.


Sudah tiga hari Leo tidak pulang dan tidak masuk kerja. Lelaki itu entah kemana. Ditelepon masuk, tapi tidak dijawab. Di kirim pesan hanya dibaca. Tidak dibalas.


"Dia itu bodoh atau apa sih? Kayak anak kecil." Rutuknya sambil mengambil jaket dan keluar.


Ia akhirnya memutuskan mencari Leo.


Robert yang masih duduk di balkon kamar, hanya melihat kepergian putrinya. Ia tahu anak gadisnya itu akan melakukan apa. Dibiarkannya saja, meski ia sudah menduga kemana Dhira pergi.


Dhira memeriksa bar yang sering dikunjungi Leo. Ternyata lelaki itu ada. Ia sedang duduk terpejam dan memegang sebuah botol yang hampir habis ditangannya. Di hadapannya berdiri botol botol yang masih berisi. Mungkin akan menjadi santapannya buat satu malam suntuk ini.

__ADS_1


Ia mendekat dengan pelan pelan hingga berdiri di samping meja. Ditatapnya wajah Leo yang memerah. "Kenapa harus merusak diri seperti ini? Hidup tidak bisa dilewati dengan mabuk-mabukan." Diulurkannya tangannya ke kepala pemuda itu dan dielusnya rambut Leo dengan pelan-pelan.


__ADS_2