Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Because Our Love is Pure


__ADS_3

"Sayang, jangan menangis. Aku sedih melihatmu seperti itu." Ia menarik bahu Dhira ke atas dadanya.


Justru ucapan dan pelukan Leo membuat tangis Dhira meledak. Ia menangis tersedu sedu diatas dada Leo. "Aaaa...aaaa...hiks hiks hemmm..."


"Sssttt...cup cup sudah, nanti matamu bengkak. Sudah tidak apa-apa."


"Aku sangat takut. Kenapa malah mendorongku, bukannya lari menyelamatkan diri sendiri. Bagaimana kalau kamu tidak selamat? Aku pasti akan sangat sengsara karena merasa bersalah."


"Itu karena cinta kita murni. Masing masing dari kita pasti melakukannya tanpa pikir panjang. Sama seperti kamu mengkhawatirkan ku."


"Entahlah. Aku hanya tidak mau disalahkan kalau kamu tiada atau cacat." Elak Dhira.


"Hummm..." Leo tersenyum. Merasa keras kepala wanitanya ini kambuh. "Itu sama saja namanya mengkhawatirkan karena sayang. Kamu tidak bisa membunuh perasaanmu apapun yang terjadi. Karena itu tumbuh secara alami."


"Isss malah ceramah. Lepasin!" Dhira memukul pelan dada Leo.


"Ikhss..." Leo meringis.


"Ah kenapa? Sakit ya?" Dhira mengangkat kepalanya. Wajahnya menyesal memperlakukan Leo begitu kasar. Ia menarik kepalanya dari dada Leo.


"Sedikit." Leo memaksakan senyumnya.


"Aku panggilkan dokter dulu. Kamu harus diperiksa."


Leo mengangguk.


Tidak lama kemudian Leo diperiksa oleh dokter.


"Fisik kamu cukup kuat. Mengalami luka robek dan lebam itu sudah biasa. Tapi benturan di kepala hingga mengeluarkan darah banyak bisa berakibat fatal. Tapi kamu tidak mengalami apapun. Semua normal dan tidak ada yang perlu ditakutkan. Hanya merawat dan minum obat luka luka luka mu akan cepat sembuh."


"Terimakasih Dok." Jawab Leo.


Dhira duduk lagi didekat Leo. "Aku tidak memberitahukan apapun pada kelurga mu."


"Itu lebih baik. Toh aku tidak apa apa."


Dhira diam karena seorang perawat masuk membawa makanan untuk Leo.


"Makan dulu." Dhira mengambil piring berisi bubur.


"Rasanya tidak lapar."


"Walaupun tidak lapar, kamu harus tetap makan agar bisa makan obat." Dhira menyendok bubur dan menyuapi Leo.


Leo tidak membantah. Dengan patuh ia makan hingga habis. Tak henti henti matanya menatap Dhira yang fokus menyuapinya. Dalam hati ia bersyukur atas apa yang sudah terjadi sehingga bisa memperbaiki hubungan mereka kembali.


"Aku harus kembali. Aku mau mandi dan ganti pakaian." Pamit Dhira. Ia masih mengenakan pakaian yang penuh bercak darah.


"Berjanjilah untuk kembali lagi." Leo menggenggam tangan Dhira.


"Lihat nanti. Aku juga capek dan butuh istirahat."

__ADS_1


"Baiklah. Pulanglah. Hati hati di jalan."


Dhira tidak menjawab. Ia bersiap dan pergi. Ia berjalan pelan pelan menyusuri koridor rumah sakit. Dalam hati ia sangat lega mengetahui Leo baik baik saja. Ia mungkin tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri bila terjadi hal buruk. Benar ia benci dengan mereka tapi yang melakukan kesalahan adalah Meli dan ayahnya.


***


Setelah mandi dan makan Dhira tidak kembali ke rumah sakit. Tapi ia tidur karena merasa sangat lelah. Sudah hampir sebulan ia tidak tidur teratur. Bukan hanya tubuhnya lelah karena terus saja mencari ibunya tapi juga pikirannya. Ditambah lagi persoalan maki pelik terakhir-akhir ini.


Jam delapan malam Dhira terbangun. Ia kaget, tidak percaya ia bisa tidur selama itu. Yang pertama dilakukannya adalah mencek ponselnya takut ada panggilan dari rumah sakit. Tapi ternyata aman. Yang ada adalah panggilan Zahra, Vanya, paman Bali, dan Jhon. Semua diabaikannya. Bahkan sekedar membaca pesan chat ia malas.


"Hem Leo tidak menghubungiku. Padahal aku sudah ingkar tidak datang lagi. Semoga dia baik baik saja dan cepat pulih." Ujarnya kembali berbaring. Pikirannya melayang mengingat semua kejadian yang sudah terjadi.


"Bagaimana keadaan ibu disana?" Bisik nya dengan wajah sendu.


"Semoga ibu baik baik saja. Aku mohon bertahanlah. Jangan menyerah. Aku akan berusaha menemukan ibu."


"Haruskah aku menyiksa Meli agar dia bicara? Atau Rudy? Menyiksa Ara dan Leo membuatku hanya menjadi orang jahat saja. Toh hasilnya tidak ada."


"Iya, mumpung Leo masih di rumah sakit aku harus menemui Meli dan Rudy."


Akhirnya malam itu, Dhira berganti pakaian dan pergi ke rumah Atmaja. Ia harus berbicara dengan dua orang tua itu untuk menemukan titik terang masa lalu ibunya.


Tiba di depan gerbang rumah Atmaja, ia di hadang penjaga. Ia tidak diperbolehkan masuk.


"Biarkan dia masuk!" Suara Rudy di interkom terdengar.


Pintu terbuka dan Dhira masuk. Ia terus berjalan hingga ke depan rumah Leo. Pintu terbuka dan di sana Rudy sudah menunggu dengan wajah tidak suka.


Kini mereka sudah duduk di ruang tamu.


Dhira tidak menggubris Rudy. Ia justru menatap lelaki itu dengan lekat seakan mencari jawaban dari mata tajam yang mirip dengan Leo itu.


"Adakah kau merasa getaran di hatimu walau sedikit saja?" Tanya Dhira tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Rudy. Ia sendiri sedang berusaha menemukan sesuatu yang dirasakan hatinya yang terdalam. Berharap yang sering dikatakan orang lain, hubungan darah bisa berbicara atau darah mengenali milik atau pemiliknya.


"Kau seperti orang gila!" Pergi kau dari sini!"


"Tunggu dulu. Sungguh kah kau tidak mengingat pernah memiliki seorang kekasih bernama Amelia?"


"Lama lama aku yang gila karena mu! Aku tidak mengenalnya! Kami tidak mengenalnya. Kau salah orang! Jika kau sedang mencari ayahmu temukan ditempat lain. Kami sama sekali tidak mengenalnya!" Rudy benar benar marah. Baginya tuduhan Dhira adalah penghinaan. Ia bukan pria bejat. Bahkan saking setianya pada istrinya Meli dari mereka masih muda, ia selalu bisa memaafkan setiap kesalahan istrinya.


"Benarkah?" Terdapat sekilas kekecewaan di wajah Dhira. "Ini coba kau lihat fotonya. Aku akan menunjukkannya." Dhira membuka ponselnya dan menunjukkan pada Rudy.


Dengan enggan Rudy menundukkan kepalanya untuk melihat gambar dihadapannya. Ia mengerutkan keningnya berusaha mengenali foto itu. "Aku tidak mengenalnya. Kau hanya membuat keluargaku berantakan. Apa kau tidak malu sedikitpun? Sekali lagi kau menemui kami aku akan bertindak keras. Jangan menyesal setelah kau merasa malu dan menderita." Kecam Rudy.


Dhira sungguh tidak melihat apapun di wajah Rudy. Jika benar Rudy mengenal Amelia pasti ada sedikit saja tandanya. Ia sendiri pun tidak mengalami hal yang dipikirannya. Tidak ada getaran atau degupan keras di jantungnya. Ia pun mulai meragukan pandangannya terhadap Rudy.


'Dia memang bukan ayahku.'


"Maafkan aku, Dari informasi yang ku dengar kekasih Meli dan ibuku adalah orang yang sama. Ku kira itu adalah Anda."


"Otakmu kacau! Jangan menggangu ketenangan rumah tangga orang! Tadinya aku cukup mengagumimu, tapi sekarang kau seperti duri bagi kami. Untunglah istriku tidak terluka parah. Kalau tidak entah apa yang akan kulakukan padamu!" Geraham Rudy saling mengadu menahan amarah.

__ADS_1


"Soal itu aku bersumpah atas nama ibuku aku tidak melakukannya. Itu perbuatan istrimu sendiri. Dia seperti orang yang tidak stabil. Dia mengancam ku akan membunuh ibuku bila aku berani melawannya. Menurut mu apa arti ucapannya kalau bukan dia yang menyekap ibuku!" Kedua mata Dhira memanas. Ia tidak kuasa menahan lagi air bening itu bergulir berjatuhan dihadapan Rudy.


Rudy tergugu. Ia tidak tahu mau bicara apa. Hatinya sedikit tersentuh melihat Dhira yang menangis. Nyaris ia mempercayai ucapan Dhira. Tapi segera ditepisnya. Tentu ia akan membela istrinya dari pada orang lain.


"Kau yang tidak stabil. Kau seperti orang stres yang putus asa karena hilangnya ibumu. Jangan menyebar kegilaanmu kepada orang lain."


"Hiks hiks hiks aku tidak berbohong. Meli sungguh melakukannya. Ijinkan aku bicara dengannya. Aku mohon. Aku hanya ingin tahu dimana dia menyembunyikan ibuku." Tangis Dhira begitu memilukan. Beberapa kali tangannya menggosok matanya untuk menyingkirkan air yang menghalangi pandangannya.


"Percayalah padaku. Meli mengincar ibuku dari tiga bulan yang lalu. Bahkan yang menjadi kaki tangannya adalah Rendra. Aku mohon bantu aku...hiks hiks hiks huuuu..." Dhira bangkit dari tempatnya dan bersimpuh di kaki Rudy.


"Ibuku baru saja selesai melakukan operasi pendonoran ginjal. Aku takut ibuku tidak bertahan dengan kondisi fisik lemah seperti itu. Bagaimana kalau jahitannya infeksi atau robek lagi. Bagaimana kalau ibuku jatuh koma lagi hi...iiii...aku mohon bantu aku." Dhira menyeka air matanya dengan kedua lengannya.


"Ibuku bukan wanita sehat pada umumnya. Beliau sakit-sakitan dan mudah koma. Aku tidak berbohong. Tolong bujuk Meli." Dhira mengangkat wajahnya yang bersimbah air mata. Kedua tangannya bersatu di dadanya memohon kepada Rudy.


Rudy merasa kepalanya pusing dan tidak tahan melihat kondisi Dhira. Entah kenapa ia begitu terserat ke dalam dialog dan wajah memelas Dhira. Hatinya tersayat melihat dan mendengar tangisan dihadapannya.


Ia mundur beberapa langkah. Lalu pergi meninggalkan Dhira yang masih setia bersimpuh di lantai. Pergi membawa kebingungan dan dilema di hatinya.


Dhira masih menangis dengan posisinya. Ia tidak tahu harus melakukan apa lagi demi menemukan Amelia. Tapi besar harapannya Rudy akan memikirkan ucapannya barusan. Dengan lemas ia berjalan keluar dari rumah itu. Entah sampai kapan kerumitan ini selesai.


***


Tanpa semangat Dhira turun dari taksi. Hari ini ia kembali masuk kerja setelah dua hari tidak masuk. Ia tidak langsung masuk ke dalam perusahaan, tetapi duduk di halte dengan tatapan kosong. Harapannya makin menipis untuk menemukan Amelia. Bahkan dua malam yang lalu ia bermimpi ibunya tidur diatas ranjang besar dan mewah tanpa memperdulikan keberadaannya di sampingnya. Tangannya memegangi dan menggoncang tubuh ibunya tapi wanita itu tidak bangun bangun. Tetap tertidur dengan telentang seperti orang tak bernyawa.


Akibat mimpinya itu membuatnya hilang semangat. Ia sangat takut dengan dugaan arti mimpinya itu.


Jhon berhenti di dekat halte. Ia terheran melihat Dhira yang duduk termenung bersender pada besi tiang disampingnya. Padahal ini sudah lewat lima belas menit jam masuk kerja. Ia turun dan mendekati Dhira.


"Hei! Kau tidur atau sedang apa?" Jhon membentak Dhira yang terpejam. Gadis itu seperti tertidur.


Perlahan Dhira membuka mata sembari duduk tegak. Ia bukan tidur. Tapi sedang sedih dan membayangkan kondisi ibunya. Ia menatap Jhon dengan tatapan tidak suka.


"Kau seperti orang linglung. Kenapa? Apa kau sedang memikirkan Leo dan keluarganya?" Jhon sengaja membuat gaya bicaranya menjengkelkan.


"Begitu berhasratnya kau membunuhnya hingga aku pun hampir terbunuh!" Nada Dhira begitu sinis dengan tatapan mata setajam pisau.


"Auuu!!! Benarkah kalian hampir mati? Sungguh aku tidak tahu."


"Kau benar benar seperti iblis!" Pekik Dhira.


"Lho? Jika kalian hampir mati apakah aku yang bersalah? Kau menuduhku?" Nada datar Jhon sangat menyebalkan ditelinga Dhira.


"Apa salah ku dan Leo? Kenapa kau ingin membunuh kami?"


"Apa kau melihatku melakukan itu?" Tanya Jhon.


Pertanyaan jhon membuat Dhira jengah "Awaslah aku mau masuk!" Dhira mendorong Jhon dan pergi dari tempat itu. Kini ia bingung dengan dirinya sendiri. Awalnya ia menginginkan itu. Hilangnya Ara akan membuat Jhon marah dan menyerang keluarga Atmaja. Tapi sekarang ia marah karena Jhon melukai Leo. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.


Jhon tertawa sinis. "Itu baru permulaan. Kau seperti bunglon. Seakan terlihat di pihak ku juga di pihak Atmaja. Apa untungnya bagimu Andhira, hum?" Jhon menggesek gesek dagunya dengan jari telunjuknya.


Kejadian kemarin memang itu diperintahkan olehnya. Ia sungguh tidak peduli Leo atau Dhira mati saat itu juga. Ia akan memberi kejutan pada Meli si wanita penjahat itu.

__ADS_1


Ia berjalan melewati loby tembus ke lift. Tidak seperti biasanya ia akan mampir atau menoleh ke meja tempat Dhira berada. Kali ini ia berjalan dengan angkuh dan memasang wajah seram.


Aura kaku dan dingin terasa selama sebelum Jhon menghilang di balik lift. Zahra menarik nafas lega setelah Jhon tak terlihat lagi. "Oh serasa berada di tepi jurang. Kenapa gaya pak Jhon kembali ke semula? Padahal baru beberapa hari ini terlihat ramah."


__ADS_2