Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Melompat


__ADS_3

"Kenapa? Apa sekarang kau ingin Mati juga?" Tanya Meli. Wanita itu melengkungkan bibirnya seperti anak kecil yang sedang mengejek.


"Aaaaa!!! Huhuhuuu...hiks hiks haahhaa...apa salah ibuku padamu!" Tangis Dhira begitu keras.


Ia mengencangkan pegangannya di kerah baju Meli hingga wanita itu terdorong mundur hingga ke tepi bangunan.


"Dorong lah! Aku juga ingin mati. Dorong lah!" Teriak Meli tanpa ada rasa takut.


Dhira menarik nafas panjang. Ia melepas tangannya dari leher Meli. Ia mundur hingga lima langkah. Di cobanya berpikir jernih dan menganggap yang di akui Meli tidak benar.


'Ibuku tidak selemah itu! Waktu aku di kandungannya, ibu bisa bertahan dan membawaku tetap hidup. Tidak, ibu masih ada. Aku yakin itu. Wanita ini hanya sedang gila. Yang dikatakan hanya ilusinya saja. Yah, itu benar. Dia hanya berimajinasi.' Dhira mencoba berpikiran positif.


"Kita akhiri semua ini." Ujarnya pelan setelah mengatur nafas dan emosinya. "Katakan dimana ibuku. Ku anggap tidak terjadi apapun bila kau katakan keberadaan ibuku. Ku mohon...katakan..." Ujar Dhira lembut. Ia berusaha membujuk Meli.


"Ku mohon..." Meli meniru Dhira. "hahaha...matamu itu sangat menyiksaku! Seumur hidupku tersiksa karena kalian semua. Tapi kau datang memohon? Ini sungguh gila! Aku gila! Aku gila!" Meli berteriak sambil memukul dadanya.


Dhira kehabisan akal melihat tingkah Meli. Ia maju dan mencekal dagu Meli. "Katakan dimana ibuku!!!" Tatapan mata Dhira menghujam ke mata Meli. Ia sudah tidak sabar lagi. Kali ini ia tidak akan menyesal menyakiti Meli. Mungkin dengan membuatnya terluka parah barulah ia akan mengatakan yang sebenarnya.


"Kau tuli atau bod*h? Ibumu sudah mat*. Aku sudah membun*hnya! Kau belum puas?" Meli berteriak dengan lantang, seakan yang ia lakukan itu bukanlah kesalahan. Lalu ia mengendus-endus ke arah Dhira. Membaui aroma disekitar Dhira.


"Nah, ini darahnya. Darahmu sama dengan darahnya. Aku tahu betul itu. Tidak salah lagi kau adalah anaknya."


Dhira mundur. Tungkainya melemah dan bergetar. Apalagi melihat raut wajah Meli, dadanya teras sakit. Wajah penuh kemenangan tanpa ada penyesalan sedikitpun.


"Huuummm....ahhhh..." Meli menghirup hirup aroma yang menurutnya enak itu. "Kau benar- benar anaknya!"


Dhira menggeleng tak percaya, manusia dihadapannya ini benarkah gila atau seorang psikopat. Ia menatap penuh kebencian pada Meli. "Aku tidak peduli kau gila atau apa. Kembalikan ibuku!" Teriak Dhira. Ia kembali memegang kerah baju Meli.


"Bun*h lah aku. Setidaknya aku berhasil membawa seorang teman pembunuh sepertiku. Kita akan sama sama masuk neraka. Dan paling suka melihat penderitaan ayahmu nantinya begitu tahu putrinya adalah seorang pembun*h sepertiku."


Dhira melepas leher Meli secara tiba tiba, begitu mendengar ayahnya di sebut. Kakinya mundur tiga langkah dengan tatapan mata lebih melotot lagi.


"Kenapa? Kau ingin tahu siapa ayahmu? Tanyalah padaku. Aku tahu dia dengan sangatttt baik." Tantang Meli dengan wajah yang sangat menyebalkan.


"Tapi sayang, aku tidak bersedia memberitahu mu. Aku tidak rela kalian bersama! Aku akan membawa nama ayahmu mati bersamaku." Tanpa ragu Meli melangkah mundur. Hanya tiga langkah wanita itu sudah terhempas ke udara.


"Tidaaaakkk..!" Dhira berteriak sembari melompat ke pinggir dimana Meli sudah tidak terlihat lagi. Ia tengkurap di lantai dengan kepala terjuntai ke pinggiran melihat ke bawah sana.


"Aaaaa! Jangan!" Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat tubuh Meli terlempar ke bawah tepat diatas tanah. Wanita itu tergeletak tak berdaya dengan keadaan terlentang.


Suara histeris terdengar memenuhi teras rumah sakit. Hanya terdiri dari beberapa orang tapi suara mereka cukup keras dan mengejutkan semua orang.


Dhira masih menggantungkan kepalanya ke bawah dengan mata nanar. Tangannya terkulai lemas menggantung seperti kepalanya. Matanya bersitatap dengan Leo yang sudah menggendong maminya dan membawa masuk ke dalam mobilnya.


Seluruh tubuhnya bagai terpukul hebat melihat sorot mata itu. Apalagi melihat banyaknya darah yang menggenangi lantai.


Air matanya berjatuhan begitu jauh ke bawah sana. Pikirannya kalut tak tau ingin melakukan apa. Yang terjadi barusan sangat mengejutkannya.


"Kenapa? Apa kau ingin melompat untuk menghapus bukti? Tapi ragu setelah melihat keadaan Tante Meli?" Kim berdiri dengan raut wajah marah di samping Dhira.


Dhira malah terisak. Awalnya pelan lalu makin lama makin kencang.


"Tangisanmu tak akan memulihkan keadaan. Tinggal kau pilih, ikut terjun atau bertanggung jawab!" Suara Kim begitu dingin. Nadanya penuh ancaman dan tuduhan.

__ADS_1


Dhira menarik tubuh dan kepalanya mundur hingga bisa duduk. Ia mendongak ke atas dimana Kim berdiri menjulang. "Dia yang menerjunkan dirinya sendiri. Kenapa aku harus bertanggung jawab." Ujarnya dengan wajah marah.


"Pastinya kau bicara seperti itu. Sekarang kau ikut aku!" Bentak Kim.


Barusan Kim duduk di dekat Leo, yang sengaja datang untuk menemani sahabatnya. Tapi kegemparan terjadi karena Meli yang terjatuh dari atas. Dari tempatnya berdiri ia melihat Dhira berada di atas, dan ia langsung berlari naik ke atap dan menemukan gadis itu di sana.


"Aku tidak mau! Aku tidak melakukan apapun. Dia yang sudah gila dan bunuh diri." Teriak Dhira.


"Kau sudah tahu kondisinya. Tapi kenapa kau membawanya ke sini? Dan siapa yang percaya padamu? Hanya kau yang tahu apa sebenarnya yang terjadi di sini."


"Yang terjadi adalah dia melompat bunuh diri. Hanya itu." Tegas Dhira dengan wajah marah.


"Apapun itu katakan di hadapan polisi. Sekarang kau ikut aku!" Kim menggeret tangan Dhira.


"Lepaskan!" Dhira menendang kaki Kim hingga lelaki itu terjatuh. Dhira bangkit dan berjalan dengan tenang meninggalkan Kim.


Kim menggeleng tak percaya. Ia bangkit menyusul Dhira menuruni tangga.


"Kau mau kemana? Jangan pergi!" Kim menarik tangan Dhira saat ia hendak menaiki motor miliknya.


"Jangan sentuh aku!" Dhira melempar tangan Kim dan meninju wajah pria itu.


Tapi Kim bisa mengelak dan menangkap kedua tangan Dhira. "Kau harus bertanggung jawab. Masuk ke mobil sekarang!" Seru Kim. Memaksa Dhira berjalan ke arah mobilnya.


"Jangan cari gara-gara kau! Sudah ku bilang aku tidak melakukan itu. Dia sendiri yang melompat!" Dhira menghentak tangannya agar lepas dari pegangan Kim.


Buukkk...


Pukulan di punggung Dhira membuatnya tidak bisa bergerak bebas. Sakit dan membuat nafasnya sesak. Kim nekad memukul punggungnya dengan kuat.


Melihat Dhira melemah, ia memaksa Dhira masuk ke mobilnya lalu membawa gadis itu dari pekarangan rumah sakit.


Di bagian belakang, Dhira duduk dengan diam. Ia tidak berusaha meloloskan diri lagi. Percuma menurutnya. Toh dirinya tidak salah. Untuk apa takut. Semoga saja ada cctv di tempat perkara kejadian untuk membuktikan dirinya tidak bersalah.


Perjalanan mereka ke kantor polisi tertunda karena panggilan Leo. Pria itu tidak mengijinkan Kim membawa Dhira ke sana. Justru menyuruhnya membawa Dhira menemui Leo ke rumah sakit. Sempat terjadi pertengkaran namun akhirnya Kim mengalah dan memutar balik mobil ke arah rumah sakit.


Selama perjalanan diantara mereka tidak ada yang berbicara. Diam seribu bahasa. Aura dingin dan amarah jelas terasa hingga tiba di bagian depan rumah sakit.


Ternyata Leo sudah menunggu kedatangan mereka.


"Bagaimana keadaan Tante Meli?" Tanya Kim setelah ia turun.


"Sudah dioperasi. Sekarang masih belum sadar." Sahut Leo lemas. Ia terlihat berantakan dan bercak darah di pakaiannya sudah mengering. "Di mana Andhira?" Tanyanya.


Kim tidak menyahut. Ia hanya menunjuk ke arah mobil dengan dagunya. "Dia jadi ikutan gila sepertinya." Gumam Kim tapi cukup kedengaran.


"Haaahhhh..." Leo mendesah panjang. "Jangan terlalu menekannya. Kamu sendiri tahu apa yang telah dialaminya. Semua terjadi karena mami." Meski hatinya bagai tertusuk mengatakan kata kata itu, tapi ia sangat mengerti posisi Dhira.


"Terserahlah. Sepertinya cinta kalian itu hanya akan menciptakan bencana." Kim pergi masuk ke dalam rumah sakit.


Leo termenung. Lalu sadar dan membuka pintu mobil lalu masuk, duduk di dekat Dhira. Diambilnya tangan Dhira lalu membawanya ke atas pahanya. Menggenggam hangat tangan dingin dan kaku milik Dhira.


Hening. Leo maupun Dhira tidak berusaha untuk buka suara. Mereka sedang terkungkung dengan pikiran masing masing tanpa ingin mengatakan apapun.

__ADS_1


Kedua mata Dhira nanar oleh air yang tiba tiba muncul di pelupuk matanya. Digerak-gerakannya bola matanya juga kelopak matanya untuk menghentikan air itu agar tidak jatuh. Tapi usahanya tidak mempan. Air itu tetap saja mengalir dan membasahi pipinya. Untung saja keadaan gelap sehingga Leo tidak bisa melihat wajahnya.


Leo menyadari kekasihnya sedang menahan tangis. Bisa dirasakannya dari pergerakan halus telapak tangannya yang bergetar samar. Ia menoleh melihat ke arah Dhira yang menundukkan kepala.


Ditariknya tangan Dhira, dalam sekali hentakan tubuh Dhira sudah menempel ke padanya. Diusapnya kepala gadis itu dengan penuh kelembutan.


Tangis Dhira pecah. Suaranya keluar tertahan dengan derasnya air mata dan ingus. Kedua bahunya bergetar hebat disertai suaranya yang terbenam di dada Leo.


Tak ada kata kata yang keluar dari mulut Leo. Hanya tangannya yang bergerak menenangkan Dhira.


"Aku tidak mendorong ibumu. Dia yang melakukannya sendiri. Aku..."


"Iya aku tahu." Jawab Leo pelan.


Dhira menarik wajahnya untuk melihat ke wajah Leo. "Kau percayakan padaku?" Tanyanya dengan suara parau.


"Iya. Petugas keamanan rumah sakit sudah memberitahuku yang sebenarnya. Melihat mami berlari ke arah atap seorang petugas keamanan berlari juga mengejar kalian. Dan ia mengatakan mami sendirilah yang menjatuhkan dirinya."


Dhira bernafas lega. Ia sempat ketakutan dianggap sengaja mencelakai Meli.


Ia mendorong Leo agar tidak menempel padanya.


Leo terpaku dan menatap Dhira dengan mata dipenuhi penyesalan. Ia masih ingin menenangkan diri dengan berpelukan.


"Benar yang dikatakan Kim. Hubungan kita hanya akan menciptakan bencana. Kita tidak bisa begini lagi." Dhira menjauhkan dirinya. Pikirnya bagaimana bisa mereka menjalani sebuah hubungan bila masalah mereka makin parah.


"Jangan katakan itu. Aku tahu mami bersalah. Bersabarlah, siapa tahu setelah sadar kali ini mami akan bicara jujur." Leo masih berharap dan tidak rela memutuskan hubungan dengan Dhira.


"Ibumu bilang, ibuku sudah tiada. Kamu pikir apa yang akan kamu lakukan? Apa yang akan kulakukan?" Teriak Dhira. Ia menangis lagi.


"Kau pikir aku bisa seperti yang kau bayangkan? Bisa memiliki cinta dan bahagia bersamamu? Tidak mungkin bisa. Aku benci kali semua! Aku benci! Kalian sudah merenggut ibuku dari ku!"


"Sayang, tenanglah. Aku yakin ibu dalam keadaan sehat. Hanya karena kondisi mami yang seperti itu sehingga mengatakan hal yang tak benar." Dengan sabar Leo membujuk Dhira. Entah kenapa nalurinya mengatakan, Amelia berada dalam keadaan baik. Hatinya mengatakan, maminya hanya asal bicara.


"Bagaimana kau yakin? Tunjukkanlah dimana ibuku! Jangan jangan kau sebenarnya tahu!" Tuduh Dhira dengan sorot mata kebencian.


"Huss...kita akan berusaha mencari ibu. Kita tunggu mami sadar." Leo menarik bahu Dhira ke dadanya lagi.


Dhira berontak. "Jangan seperti ini lagi. Kita berdua seperti orang bodoh. Bisa berhubungan baik sementara keadaan makin parah. Aku tidak bisa mengkhianati ibuku. Musuhnya adalah musuhku!" Dhira mengikrarkan permusuhan.


"Apa yang kamu katakan saat ini hanya karena sedang marah. Aku memahami mu."


"Aaaaa! Kau berkata begini hanya karena ibumu masih selamat. Coba ibumu saat jatuh tadi langsung meninggal di tempat, aku yakin kau tidak akan bisa mengatakan kata kata ini. Kau pasti sepertiku marah dan meminta pertanggung jawaban dariku!" Dhira malah mengamuk.


Leo tidak berusaha membantah. Dari hati kecilnya membenarkan kata Dhira. Ada rasa tenang di hatinya karena maminya selamat. Tapi soal Dhira ia tidak meragukannya sedikitpun. Mungkin jika maminya tak selamat ia tidak akan menyalahkan Dhira. Akan menganggap semua yang terjadi sudah takdir dan balasan yang harus diterima maminya karena telah melakukan banyak kesalahan.


"Aku beri kau waktu sedikit lagi. Temukan ibuku! Hanya kau yang bisa membujuk Meli. Semoga aja yang dikatakannya telah membunuh ibuku hanya imajinasinya. Kalau dia benar benar telah melakukan itu, satu pun diantara kalian tidak akan ada yang selamat. Aku akan membun*h kalian semua! Satu nyawa ibuku akan dibayar nyawa kalian sekeluarga!"


Leo tidak terpancing. Ia hanya duduk dengan tenang. Hanya matanya yang bergerak mengikuti setiap gerak tubuh Dhira dengan sorot lemah.


"Kutunggu kabar darimu." Dhira membalik tubuhnya dan membuka pintu mobil. Ia turun dengan dada turun naik. Lalu menghempaskan pintu dengan sangat keras hingga membuat mobil itu bergoyang.


Leo bergerak turun juga. Ia mengejar Dhira yang masih beberapa langkah dari mobil. "Akan ku usahakan. Aku berjanji." Ujarnya sambil memeluk Dhira.

__ADS_1


"Janjimu jangan asal di mulut!" Dhira mendorong Leo dengan kuat hingga pria itu terhuyung ke belakang, lalu ia pergi.


Leo cepat cepat berlari ke arah Dhira lagi. Ia menahan tangan gadis itu.


__ADS_2