
"Biarkan dulu aku memelukmu. Aku masih merindukanmu." Leo menciumi rambut Dhira.
Dhira menurut. Ia membiarkan Leo memeluknya erat. Sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama. rasa sepi dan rindu di hatinya kini terobati.
"Apa kamu tidak mulai berpikir? Lihatlah kehidupan ku ini, sangat sederhana. Apalagi kehidupan kami di Lampung. Ibuku bahkan tidak punya rumah seluas kontrakan ini. Kami tinggal diperkebunan dengan gubuk yang terbuat dari bambu. Sebaiknya pikirkan itu sebelum kamu nantinya menyesal." Dhira masih berusaha memberikan alasan agar Leo mundur.
"Husssttt...jangan bicara seperti itu. Mau di kebun manapun aku mau hidup asal bersamamu. Tidak ada alasan seperti apa kehidupanmu. Aku telah memilihmu paham?" Leo memencet hidung Dhira pelan. Walau nadanya terdengar pelan tapi sorot matanya memancarkan kesungguhan.
"Huh...susah ngomongnya sama kamu." Entah kenapa Dhira lebih memilih menampik perasaannya. Ada kekhawatiran melandanya.
"Udah ku bilang kamu nggak usah mikirin ini itu. Kamu tinggal menjalani hubungan ini bersamaku. Apapun aku kulakukan agar kita bisa hidup bersama."
Dhira tidak lagi menjawab. Ia hanya berdiri kaku dipelukan Leo.
"Oh iya, aku hampir lupa." Sehabis makan Leo merogoh kantong celananya. "Kamu belum gajian setelah sebulan melatihku. Bagaimana masih mau kan lanjut sebagai pelatihku?"
"Ku rasa kamu sudah bisa. Tinggal perbanyak latihan agar makin kuat."
"Berarti nggak lagi ya? Yah udah. Nggak apa apa. Ini ambil." Leo mendorong amplop ke hadapan Dhira.
"Memangnya berapa itu? Pake amplop segala."
"Yang pasti aku berterimakasih sudah di ajari olehmu. Sekarang aku nggak perlu takut lagi saat ada yang mengancam ku."
Dhira mengambil amplop dan membukanya sedikit. "Ummm...ini banyak amat kayaknya." Buru buru dibukanya dan terlihatlah lembaran uang seratus ribu dengan jumlah banyak.
"Nggak usah dihitung. Simpan aja. Gunakanlah untuk kebutuhanmu atau tambahan tabunganmu."
"Tidak. Ini sepertinya kamu salah ngasih. Kalau kalau ini untuk orang lain. Harus dipastikan dulu." Dhira terus menghitung dan berakhir dengan jumlah dua puluh juta.
"Ini kebanyakan. Aku ambil sedikit aja. Jam latihannya juga hanya dua tiga jam. Itu juga banyak absennya."
"Jangan! Itu untuk mu semua. Untuk latihan dimana pun aku pasti membayar segitu karena belajar privat."
"Ada ada aja kamu ini. Nih aku pulangin. Aku ambil tiga juta aja."
"Tidak. Itu sudah ku putuskan. Segitulah biayanya. Tenaga ongkos dan waktumu sudah ku hitung secara sistematis."
"Terserahlah. Pokoknya aku akan marah jika suatu saat gara gara ini aku jadi berhutang padamu. Aku tidak suka berhutang."
"Iya. Justru aku yang masih berhutang. Hutang jasa. Kamu telah banyak ke luar tenaga mengajariku."
"Biasa aja. Orang lain lebih banyak jasa dari pada yang kulakukan."
"Masalah ini selesai. Sekarang aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Ada deh. Mandi sana. Atau aku duluan?"
"Apa? Kamu mau mandi di sini?"
"Iya. Malas pulang ke rumah."
"Lalu pakaianmu?"
"Ada di mobil. Aku bawa persiapan."
"Hah sekalian aja pindah ke sini!" Sungut Dhira. Kesal Leo yang semau maunya.
"Beneran? Dengan senang hati aku akan tinggal bersamamu di sini."
"Hehhhh enak aja. Nggak ada itu. Sekarang pun nggak boleh mandi di sini pulang sana!"
__ADS_1
"Hehe sekali ini aja. Agar menyingkat waktu."
"Huh, aku mandi duluan!" Dhira pergi masuk ke kamarnya mengambil pakaian seperlunya dan pergi mandi. Tidak lama kemudian Leo pun menyusul dan mereka berdua sudah rapi dan segar.
Malam itu Leo mengajak Dhira ke berjelajah ke kota tua. Ternyata pemuda itu hobi traveling dan kota tua adalah tempat kesukaannya. Setiap ke tempat ini, ia akan merasakan kepuasan tersendiri.
"Kamu pernah ke sini?" Tanya Leo.
"Belum."
"Tempat ini sangat bagus dikunjungi. Kalau aku sukanya malam hari seperti sekarang agar tidak terlalu panas."
"Kamu sering?"
"Bisa dibilang sering. Kadang bersama keluarga tapi sering sendirian."
"Sendirian? Kayak orang ilang aja jalan sendirian." Gurau Dhira.
"Iya. Makanya mulai sekarang aku ke sini bersamamu. Aku tidak sendirian lagi."
"Emangnya nggak pernah ngajak mantan kamu ke sini?"
"Nggak."
"Bersama Nayla?"
Leo menoleh. Ia menatap Dhira dengan tatapan terkejut.
"Kenapa? Oh maaf apa pertanyaan ku membuatmu sedih?" Dhira menutup mulutnya dengan tangannya.
"Nggak. Hanya sedikit terkejut tiba tiba kamu menyebut Nayla."
"Sorry bila kamu tak suka."
"Bukan. Aku hampir melupakan nama itu. Hem..." Leo berpikir sebentar lalu melanjutkan "Beberapa kali aku dan Nayla ke sini. Dia lah yang ku maksud keluarga."
Dhira begitu terpesona dengan bangunan bangunan di tempat itu. Semua terlihat serba suasana Jakarta lama yang bisa dilihatnya di koran dan film film. Leo membawanya berjalan dari toko Merah, museum Bahari hingga jembatan Intan. Dan terdapat banyak kuliner di pinggir jalan. Mereka membeli berbagai jenis makanan dan mencobanya. Dalam hati Dhira begitu senang. Teryata salah satu yang bikin orang pacaran bahagia adalah bisa melakukan banyak hal dengan berdua saja.
Hingga mereka berada di depan cafe Batavia. Leo mengajak masuk ke dalam dan mencoba beberapa minuman di sana.
Dhira menurut saja. Masih dengan tangan bertautan mereka beriringan hendak menyebrang jalan.
Sudut mata Dhira menangkap sebuah motor yang melaju cepat dari arah kanan di mana Leo berada. Baru menoleh untuk memastikan, kendaraan itu sudah berada sangat dekat pada Leo. Tidak bisa mengatakan apapun lagi, ia menarik mundur tangan Leo secara tiba tiba untuk menghindari motor itu. Tapi sayangnya justru kakinya yang terserempet dan membuatnya terjatuh ke batu aspal.
"Akh sakittt!" Erang Dhira memegangi lututnya. Ia kesulitan menggeser kakinya itu.
"Andhira! Astaga!" Leo melompat dan menarik kaki Dhira dari pinggir jalan.
"Auuu sakit!" Dhira mendesis sambil menekan lututnya. Terlihat celana bagian kakinya robek dan berdarah.
"Kita ke rumah sakit!" Tanpa banyak bicara lagi, Leo mengangkat Dhira dan membawanya lari.
"Mobil kita jauh lagi di sana." Leo mencari kendaraan yang bisa membawa mereka.
"Pak! Pak!" Panggil Leo. Seorang pria tua sedang hendak masuk ke mobilnya.
"Iya? Ada apa?"
"Tolong Pak antar kan kami ke depan toko Merah. Kekasihku terluka. Mobil kami ada di sana."
"Oh, silakan masuk. Ayo biar ku antar." Untung ada orang baik tanpa banyak pertanyaan membantu mereka.
Di dalam mobil Dhira terlihat sangat kesakitan. Tapi ia menahan suaranya sehingga wajahnya terlihat menahan dan terkadang mengigit bibirnya buat mengurangi rasa sakit.
__ADS_1
"Sabar ya, tidak jauh dari sini ada rumah sakit." Leo membelai rambut Dhira. Ia sangat menyesal tidak berhati hati sehingga mengorbankan Dhira.
Dua puluh menit mereka sampai di rumah sakit. Dhira langsung mendapat pertolongan pertama. Kakinya tidak telah parah hanya robek di bagian kulit tapi lumayan panjang. Ia menjerit saat dijahit hingga lima belas jahitan.
Leo memegangi kedua tangannya dan berusaha menenangkannya. Ia sungguh kasihan padanya. Harus mengalami sakit karena menyelamatkan dirinya.
"Sekali lagi kalau ada hal begitu jangan berbuat konyol. Dari pada kamu yang terluka lebih baik aku saja. Fisikku lebih kuat darimu."
"Mana ada pilihan seperti itu. Pada siapapun kalau memang bisa menyelamatkannya maka harus diselamatkan. Coba tadi aku biarkan entah apa yang terjadi padamu. Mungkin bukan hanya padamu, tapi kita berdua."
"Iya, tapi tetap harus mementingkan keselamatanmu sendiri. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri kalau terjadi sesuatu padamu." Leo menatap Dhira dengan rasa penuh bersalah.
"Ini hanya luka robek. Setelah beberapa hari juga sembuh. Kamu berlebihan." Dhira mengibas tangannya menyuruh Leo santai.
"Andhira. Barusan itu kecelakaan serius. Jangan terlalu menyepelekan dirimu!"
"Iya. Baru kencan sekali juga udah cerewet banget." Dhira pura pura kesal.
"Bukan cerewet. Tapi karena aku sayang sama kamu." Dada Leo dipenuhi bunga-bunga mendengar Dhira mengatakan mereka kencan.
"Iya." Dhira tersenyum. Sangat manis hingga membuat dada Leo
'Ohhh...jantung...tenang kamu di dalam. Jangan terlalu ketara. Atau Dhira bisa menarik kembali kata-katanya.' Batin Leo. Betapa ia bahagianya ia saat ini. Dhira mengaku kencan dengannya.
"Jangan banyak bergerak dulu biar jahitannya cepat kering." Leo membetulkan selimut Dhira.
Malam itu Leo tidur di rumah sakit Menjaga Dhira. Ia begitu telaten dan selalu memeriksa keadaan Dhira.
Hingga jam dua belas malam, ponsel Dhira berbunyi hingga empat kali. Leo bingung harus mengangkat atau membiarkan nya. Di sana tertera nama 'my mother'. Takut Dhira marah bila dirinya bersikap tidak sopan.
Jam satu, ponsel itu masih berdering juga. Untunglah Dhira terbangun. Tapi ternyata gadis itu kelabakan karena ibunya ingin video call.
"Aduh gimana ini?" Dhira mengacak rambutnya.
"Kenapa? Diangkat aja. Hp mu dari jam dua belas berdering terus."
"Ibu mau vc. Bisa gawat kalau ibu tahu aku di rumah sakit."
"Telpon biasa aja sama kamu."
"Waduh kenapa waktunya sangat tidak tepat begini? Ibu bisa histeris kalau tahu aku di rumah sakit. Iya aku matiin dulu. Baru ku telepon biasa." Cepat cepat Dhira menelepon ibunya dengan panggilan biasa.
"Hm Ibu..." Dhira sengaja membuat suaranya berat dan pelan berpura pura setengah tidur.
"Dhi, kenapa kamu sulit sekali dihubungi. Dari kemarin ibu meneleponmu, tapi hp mu nggak aktif."
"Aku sedikit banyak pekerjaan Bu. Nanti kalau udah agak tenang pasti kita mengobrol panjang lebar. Huammm..." Dhira sengaja menguap keras agar ibunya mengerti dirinya mengantuk berat.
"Yah udah. Jaga kesehatanmu Nak, mama dari tadi deg-degan. Takut terjadi sesuatu padamu makanya ibu menelepon mu."
"Iya Bu. Ibu juga jaga kesehatan. Selamat tidur Bu..."
Begitu telepon mati, Dhira baru bisa bernafas lega. "Hoh untunglah ibu tidak ngotot vc. Bisa gawat terjadi pertangisan kalau ibu tahu aku sedang sakit."
Leo duduk di pinggiran ranjang dengan kepala tertunduk.
"Kenapa? Apa heran ya aku begitu tega berbohong pada ibuku."
Leo menggeleng. "Itu kamu lakukan demi kesehatan ibumu. Itu wajar, dari pada bikin orang tua khawatir. Apalagi jaraknya jauh begini tentu tidak mudah bagimu membuat ibumu kebingungan."
"He'em. Ibu ku itu sangat aneh. Mending kalau khawatir mau datang ke sini buat nengokin aku. Pas aku wisuda aja ibuku tidak datang. Anti banget kayaknya dengan kota ini. Waktu aku mau kuliah di sini juga ibu sampai nangis nangis. Alasannya perjalanannya terlalu jauh. Takut naik kapal, juga naik pesawat. Coba bayangkan gimana tersiksanya ibu memikirkan aku yang kurang sehat di sini."
"Namanya orang tua. Mereka terlalu peka dan sensitif. Bisa jadi alasannya benar. Tidak semua orang bisa melewati laut atau angkasa. Sebaiknya kamu sering seringlah pulang mengunjungi ibumu."
__ADS_1
"Niat sih begitu. Tapi kan kerja aja baru mau empat bulan. Hari libur juga belum ada. Kalau ada tanggal merah pada hari Jumat bisa aslinya aku pulang. Kamis malam berangkat tiba di sana Jumat pagi. Minggu malam berangkat dari sana Senin subuh tiba di sini."
"Sejauh itu ke Liwa?" Tanya Leo.