
Mereka tiba di bar. Dhira masuk dengan Leo mengikuti dari belakang. Belum terlalu ramai mungkin karena masih jam delapan. Dhira mencari Ara. Tidak susah mencarinya. Gadis itu sedang duduk di meja bar dengan beberapa pria mengelilinginya.
Mereka terlihat menggoda Ara yang sedang meneguk minuman.
"Heiiii! Singkirkan tanganmu! Itu bukan bahu sandaran!" Bentak Ara dengan suara khas orang mabuk pada seorang pria yang menaruh tangannya di bahunya.
"Kenapa? Baru juga di sentuh di sini." Pria itu begitu kurang aja malah menggeser tangannya ke leher Ara.
"Berengsek! Cuhhh!" Ara marah dan meludahi pria itu.
Tidak terima diludahi, pria itu menggeram. Di tariknya tangan Ara sampai berdiri dari kursi kemudian mendorongnya ke lantai. Ara terbanting ke lantai. Ia mengeluh sambil mengelus bokongnya yang sakit.
Pria itu datang lagi dan mencekal dagu Ara. "Berani sekali kau meludahi ku!"
Plakkkk
Tiba tiba sebuah tamparan menghantam pipi pria itu. Dhira sudah berdiri di sana dengan wajah murka. Ia mendorong pria itu kemudian membantu Ara bangun.
Tapi baru saja mereka berdua berdiri tiba tiba sebuah tangan mendorong Dhira hingga terjerembab ke depan. Untung Leo menangkapnya kalau tidak, ia pasti mencium lantai.
"Kakak! Kenapa mendorong Dhira!" Ara yang setengah sadar membentak Jhon. Pria itu sudah berdiri tegak menopang Ara agar bisa berdiri.
"Diam!" Bentak Jhon pada Ara. "Kamu! Jangan coba coba mendekati Ara lagi. Lihat bagaimana persahabatan kalian merusak dirinya!"
"Jhon. Apa yang kau katakan!" Ara menunjuk wajah Jhon karena marah. "Kenapa kamu marah padanya?"
Jhon tidak menanggapi Ara. Kesempatan ini akan digunakannya memisahkan Ara dari Dhira. "Ini peringatan terakhir buatmu! Jauhi Ara! Kalau tidak jangan menyalahkan kami bila terjadi sesuatu padamu." Tunjuk Jhon ke wajah Dhira.
"Akh pergi sana!" Ara mendorong Jhon agar tidak menghalanginya dari Dhira.
"Ara bukan level kalian! Pertemanan kalian hanya topeng untuk menumpang hidup mewah. Tipe tipe orang seperti kamu hanya penjilat! Dasar pengerut harta orang. Makan minum gartis. Pakaian gratis, kemana mana gratis!" Tidak tanggung tanggung. Jhon benar benar mempermalukan Dhira di depan orang banyak. Menurutnya dengan cara ini, Dhira akan minggir dari hidup Ara.
Brakkkk...
Kemarahan Ara mencapai puncak. Ia melempar kursi ke lantai hingga ringsek. "Siapa kamu mengatur hidupmu, hah? Hentikan mulutmu atau saat ini juga kamu ku pecat!"
"Hentikan Ara. Kamu sedang dibawah pengaruh alkohol. Inilah yang ku jaga selama ini. Alasan persahabatan kalian hanya membuat hidupmu rusak. Keluargamu adalah satu satunya yang menyayangimu. Yang kami lakukan hanya demi dirimu." Nada Jhon berubah lembut. Ia tahu karakter Ara yang keras. Makin dikerasin makin bebal. Setelah itu Jhon mengangkat Ara di pundaknya dan membawa gadis itu pergi.
Dhira bagai tersiram air panas rasanya. Seluruh wajah nya serasa panas akibat umpatan kakak Ara. Ia mengira Jhon adalah saudara Ara. Ia terduduk di kursi dengan kedua tangan terkepal. Belum pernah ada yang mengatainya serendah itu. Ia paling tidak suka meminta sesuatu dari orang lain. Itu bukan tipenya.
"Ayo kita pulang." Leo menarik tangan Dhira agar berdiri.
Dengan lemas Dhira berjalan mengikuti Leo. Kakinya sampai saling menyepak karena Leo berjalan terlalu cepat. Leo terus menarik tangan Dhira bahkan membuatnya setengah berlari.
Ternyata Leo mengejar Jhon ke parkiran. Begitu ia melihat Jhon dan Ara, kakinya berlari mendapatkan mereka.
Bukkkk bukkk
Leo menghantam pipi Jhon dua kali. Ia sangat marah pada lelaki itu. Hatinya sakit sekali mendengar hinaan itu.
Jhon tidak tinggal diam. Ia juga membalas pukulan itu. Terjadilah perkelahian hebat. Jhon begitu terampil menyerang. Ia selalu mendapat sasaran di bagian tubuh Leo. Ia sangat marah kini Leo ikut campur.
Leo kira setelah melihat dirinya bertarung dengan Jhon, Dhira akan turun tangan dan menghajar pria itu. Tapi ternyata Dhira tidak bergerak. Ia hanya berdiri dengan tatapan kosong. Sementara dirinya semakin tersudut dengan serangan Jhon.
__ADS_1
Tidak akan ada bantuan dari Dhira, Leo bangkit dengan kekuatan yang asli. Ia bukan tidak bisa bela diri. Malah jago dan hebat dengan porsi tubuhnya yang proporsional. Sempat hidup kesepian membuatnya menghabiskan waktu untuk belajar bela diri. Itu saat ia masih kanak-kanak dan kuliah di LN.
Jhon lumayan kaget dengan perubahan serangan Leo. Beberapa kali ia terkena pukulan. Tapi itu tidak membuatnya surut. Sekuat mungkin ia mempertahankan diri agar tidak kalah.
"Stooopppp...! Hentikan! Apakah kalian akan bunuh-bunuhan?" Ara yang sempoyongan berdiri ditengah mereka. "Berhenti. Kalian seperti hewan yang merebutkan makanan. Kalau ingin memukul, pukul aku!" Ara memberikan pipinya ke pada Jhon. Kemudian memutar kepalanya ke arah Leo, membuat mereka berdua bertatapan begitu dekat dan lama. Bagai ada yang mendorong Ara ia rubuh ke tubuh Leo dengan kedua tangannya merangkul bahu pemuda itu.
Leo tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Seketika emosi dalam dirinya lenyap. Kepalan tangannya terlepas dan dengan pelan dipegangnya bahu Ara membuatnya berdiri tegak. Padahal tadi ia sangat marah pada kedua orang itu. Gara gara mereka Dhira harus menerima cacian.
Bukkk
Tapi sebuah pukulan menghantam kening Leo. Jhon meninju sekuat tenaga hingga Leo terjatuh ke tanah. Dengan kasar ditariknya Ara dan membawa gadis itu masuk ke mobil sekalian dirinya juga dan mobil itupun pergi dari sana.
"Leo?" Dhira berlari membantu Leo yang masih tergeletak di tanah. "Kamu berdarah!" Dhira membersikan kening Leo dengan telapak tanganya. "Ini robek. Kita harus ke rumah sakit."
"Tidak apa apa. Hanya luka kecil. Kita pulang aja!"
Dhira memapah Leo ke mobil. Di mobil, Dhira menempelkan tisu ke kening Leo dan menahannya di sana agar darah berhenti. Sementara Leo ngotot akan menyetir sendiri.
Tiba di rumah Leo, Dhira dengan cekatan membantu Leo mengobati luka luka kening dan wajah. Sebenarnya masih terasa janggal baginya memasuki rumah Leo semenjak malam pertama kali ia bertemu mami Leo. Apalagi kejadian barusan seakan mengingatkannya lagi dengan peringatan Meli.
"Sudah. Aku pulang ya."
"Jangan! Kalau kamu pulang aku ikut ke rumahmu."
"Leo kamu seperti anak kecil. Keras kepalamu akan menyusahkan ku. Bagaimana kalau mamimu datang? Peringatan yang sama lah akan menimpaku."
"Huusss...jangan bilang begitu. Bagaimanapun kamu pasti akan ku pertemukan dengan keluargaku. Kapan kamu siap?" Leo menarik tangan tangan Dhira hingga terduduk di pangkuannya.
"Takut kenapa?"
"Gimana kalau ada orang yang datang?"
"Lha emang kenapa? Kita nggak ngapain-ngapain kan?!"
"Iya. Tapi tolong lepaskan. Aku mau pulang."
Leo terdiam sambil menatap ke wajah Dhira. Menelusuri hingga ke mata dan melihat ketidaknyamanan disana. Mata jernih yang selalu berbinar itu, terlihat redup dan sayu. "Aku antar. " Leo mengalah demi melihat redupnya mata kesukaanya itu.
Dhira hanya diam dan melamun. Membuat Leo serba salah dan merasa kasihan.
"Jangan dengarkan mereka. Apapun yang mereka katakan aku tahu kamu itu siapa. Kamu gadis baik. Tidak ada sedikitpun hal buruk di hatimu. Jadi, tetap semangat. Dan jangan berlarut dengan pikiran mu."
"Tapi emang statusku apalah. Hanya orang kecil. Mungkin orang orang benar terganggu dengan kondisi yang seperti ini. Makanya aku ragu dengan hubungan kita. Bagaimana kita bisa sejalan sedangkan status kita berbeda jauh."
"Jangan berpikiran sempit seperti itu. Ku rasa kamu tahu seperti apa aku ini. Yang aku butuhkan bukan status seseorang tapi hati yang tulus darimu. Aku sudah tidak bisa melanjutkan hidup tanpa mu. Jika memang harus memilih antara kamu atau semua yang dimiliki keluargaku, aku akan memilihmu. Oke sekarang kita jangan bahas yang sedih sedih. Kepalaku sedikit berdenyut karena lapar. Jadi ayo pergi makan."
Dhira hanya mengangguk. Rasanya tidak tega beradu argumen lagi dengan Leo.
***
Ara sudah dua hari tidak keluar dari kamarnya. Bahkan ia bolos kuliah karena marah pada Jhon. Betapa malu dirinya dengan perlakuan Jhon waktu malam dirinya mabuk. Meski mabuk ia masih bisa mengingat apa yang terjadi. Lebih kesal lagi ketika ingin berbicara pada Robert, nomornya tidak bisa dihubungi. Selama tiga hari barusan bisa itupun dirinya lah yang dapat teguran. Dengan tegas Robert mengatakan tidak boleh lagi bertemu dengan Dhira atau pun Vanya. Kenapa keinginannya bersahabat dengan siapa menjadi masalah besar?
Tidak mandi tidak ganti baju sejak kemarin tidak membuat Ara berniat bangun dari tempat tidur. Ia berbaring dengan wajah kusut serta mata sayu. Menangis lama membuat matanya bengkak. Sedih kenapa hidupnya terlalu dikekang padahal ia bukan lagi anak remaja yang butuh di jaga agar tidak melakukan hal buruk atau memalukan.
__ADS_1
Apalagi larangan bertemu Dhira dan Vanya. Hanya mereka berdua lah sahabat baiknya yang tidak pernah membuat dirinya marah atau rugi. Tidak seperti temannya yang lain, walau kaya tapi tidak membuatnya nyaman. Mereka kebanyakan banyak pamer harta dan menyombongkan diri.
Lalu sekarang ia harus sebatang kara? Tidak ada siapa siapa disekitarnya. Papinya sendiri sudah pergi ke tempat kerjanya. Jhon? Ia tidak bisa berteman dengan pria itu. Jangankan berteman melihat wajahnya saja saat ini sudah membuatnya muak. Apalagi perbuatan Jhon yang memblokir nomor Dhira dan Vanya. Rasanya seperti anak kecil saja. Ia sangat marah sekaligus sedih. Untuk curhat ke siapapun ia tidak punya tempat. Rasanya sangat sunyi dan terkurung.
Tokkk tokkk
"Ara. Kalau kamu tidak membuka pintu ini terpaksa ku dobrak!" Jhon mengetuk pintu.
Ara tidak perduli. Mau didobrak, mau dibakar, mau dirubuhkan masa bodoh. Hatinya terlalu sakit.
"Satu dua tiga...brakkk...! Brakkkk!"
Empat kali hantaman, pintu kamar Ara terbuka. Daun pintu terkapar di lantai lepas dari engsel dan penguncian.
Ara tidak bergerak sama sekali. Ia tetap terbaring miring tidak terpengaruh dengan suara berisik itu.
"Ara, apa kamu sakit?" Jhon mendekati Ara dan meraba kening gadis itu.
Plakkk
Ara menampar tangan Jhon yang baru menyentuh keningnya. "Jangan sentuh aku!" Teriaknya setengah menangis.
"Ara...setidaknya makanlah. Kamu bisa sakit."
"Aku tidak takut sakit bahkan mati! Kalian hanya ingin menyiksaku. Dari kecil aku selalu diperlakukan seperti seorang tahanan! Kamu tahu nggak rasanya seorang tahanan! Kalian hanya ingin aku mati cepat!"
"Pikiranmu itu salah. Ini semua papimu lakukan karena sayang. Beliau tidak ingin kamu kenapa-kenapa. Karena hanya kamu satu satunya yang beliau punya." Jhon dengan sabar memberi pengertian pada Ara.
"Stopppp! Jangan berlagak seperti papi! Kamu siapa mengaturku! Pergi dari sini!" Ara histeris. Ia memukuli Jhon dengan bantal.
Jhon tidak melawan sama sekali. Ia hanya menahankan pukulan Ara. Baginya itu tidak berarti apa-apa. Hanya saja otaknya terasa pegal juga menjaga Ara yang makin hari makin berontak.
Perintah Robert bertolak belakang dengan keinginan Ara, membuatnya bagai orang jahat dihadapan Ara.
"Kamu demam Ara. Kita ke rumah sakit atau dokter yang ke sini?" Tanya Jhon saat Ara sudah agak tenang.
"Biarkan saja. Aku malah pengen lebih parah. Sekarat atau apalah agar kalian menyesal."
"Hahhhh...coba kamu menerima apa yang diinginkan papimu, tidak akan membuatmu tertekan seperti sekarang. Soal teman banyak yang lain."
"Diammm! Jangan mengungkit itu lagi!" Jerit Ara dengan wajah memerah. Ia bangkit dari ranjang masih dengan emosi ia pergi ke kamar mandi.
Bukkk
Baru beberapa langkah ia masuk tiba tiba kakinya terpeleset dan membuatnya terjatuh ke lantai. Kakinya sangat lemas mungkin karena menahan lapar selama dua hari. Penglihatannya juga kabur karena genangan air mata yang ditahannya dari tadi.
Jhon berlari ke kamar mandi dan membuka pintu secara paksa lagi. Suara terjatuh yang didengarnya membuatnya khawatir terjadi sesuatu pada gadis itu.
"Ara...!" Jhon panik saat melihat Ara sudah terbaring dengan terlentang di lantai. Wajahnya pucat dengan bintik keringat di sekitarnya.
Tanpa pikir panjang lagi, Jhon membopong Ara. Membawa gadis itu ke rumah sakit. Ia sangat menyesal tidak bisa mengendalikan Ara hingga terjadi kecelakaan.
Setelah Ara di periksa, barulah Jhon merasa lega. Tidak terjadi hal buruk pada Ara hanya kekurangan cairan dan iritasi lambung. Saat ini tubuhnya lemas dan butuh infus serta beberapa vitamin.
__ADS_1