Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Hantu Gentayangan


__ADS_3

Leo membawa mobil Kim bagai kesetanan. Bahkan harus memaksakan kakinya menginjak pedal walau terasa ngilu dan sakit hingga ke tulang kakinya.


Di teleponnya orang rumah apakah maminya sudah tiba di rumah, ternyata Meli belum pulang. Ia meminggirkan mobilnya sambil berteriak frustasi. Apa yang harus dilakukannya sekarang untuk membuat ibunya melepas Amelia.


"Aaaa...! Kenapa semua jadi begini?" Tanpa sadar tangannya menyenggol bekas jahitan di dahinya. Dan membuatnya berteriak lagi sambil meringis. Terasa cairan hangat mengalir dari dahinya.


"Awas kau Jhon. Beraninya kau mencelakai ku! Kau harus menerima pembalasanku!" Tangannya memukul setir. Wajahnya mengeras dan memerah menahan emosinya.


Ia sudah tidak ragu lagi melawan Jhon. selama ini tindakannya tidak bisa leluasa karena Ara berada ditangan mereka. Tapi kini Ara sudah aman. Ia bisa melakukan apapun untuk membalas yang dirasakannya sekarang.


Dengan terburu buru ia menjalankan mobilnya ke arah perusahaan ARA, ia akan membuat perhitungan pada Jhon. Saat ini amarah telah menguasai dadanya, marah juga cemburu membakarnya. Ia bisa melihat niat Jhon mendekati Dhira. Beberapa kali dilihatnya cara Jhon menatap Dhira tidak sama dengan orang lain. Lelaki itu menyimpan sesuatu di hatinya terhadap kekasihnya itu.


Ingin mengamuk pada Dhira karena memilih masuk ke perusahaan ARA. Tapi ia tahu, Dhira tidak akan mau mengalah.


Setibanya di sana, Leo turun dari mobil. Dengan agak pincang ia berjalan dengan cepat ke dalam perusahaan itu.


Suasana sore jam pulang kerja membuat banyak orang yang keluar dari perusahaan itu. Beberapa diantara mereka berteriak menyaksikan Leo yang terlihat mengerikan. Sebagian berlari menjauh ketakutan, mengira itu adalah arwah gentayangan dari orang yang kecelakaan beberapa hari lalu di depan perusahaan. Tapi sebagian lagi, berusaha tidak peduli dan melanjutkan pulang.


Dhira dan Zahra selalu pulang belakangan dari yang lainnya. Mereka bersiap setelah orang orang mulai sepi. Baru melangkah beberapa langkah dari meja, mereka terkejut melihat orang berjalan mundur sambil berteriak. Ada yang mual mual hendak muntah ada juga yang menutupi wajah dan hidungnya. Mereka semua terlihat syok juga jijik.


"Ada apa? Kenapa mereka bertingkah aneh begitu?" Tanya Zahra sambil celingak-celinguk mencari sesuatu di depan sana.


"Hei ada apa? Kenapa wajah kalian seperti lagi melihat hantu?" Tanya Zahra pada salah satu wanita yang bahkan muntah-muntah.


"I-itu...dia arwah gentayangan! Baunya busuk dan rupanya menyeramkan!"


"Apa? Berarti lagi ada hantu nakal ya?Yang benar saja! Kalian seperti Upin Ipin yang melihat nenek Kebayan!" Zahra tertawa mengejek mereka.


Sedangkan Dhira tidak terlalu mengindahkan mereka. Ia hanya fokus ke arah lift yang biasa dinaiki oleh Jhon. Ia menunggu lelaki itu sebenarnya.


Di dalam lift,


"Kau itu bisa bekerja dengan baik nggak?!" Bentaknya pada seseorang di seberang sana.


"Ada apa ya Bos?"


"Aku menyuruhmu mencelakai Leo! Di dalam mobil yang di tabrak itu ada orang lain!"


"Maafkan Saya Bos, itu salah Saya karena tidak memperingatkan yang membawa truk itu."


"Urus itu tanpa menyebut nama ku! Bila sopir truk itu ketahuan bun"*h aja!" Ujar Jhon setelah bisa mengatur nafasnya. Ia sangat kesal, sejak dua hari lalu ia menghubungi anak buahnya ini tapi baru sekarang terhubung.


"Tidak akan ketahuan bos. Dia sudah pulang ke Papua. Sedangkan truk itu tidak akan dapat meski di cari kemanapun. Selain udah ganti cat, plat truknya sengaja di ganti yang palsu saat di gunakan untuk menabrak mobil Leo."


"Baguslah." Jhon mematikan ponselnya. Ia hanya ingin mencelakai Leo. Tidak ada niatnya untuk membuat Dhira mengalami kecelakaan itu.


Ia keluar dari lift dan langsung di sambut oleh pandangan Dhira.


Mereka saling bertatapan. Tapi hanya sebentar, karena suara teriakan beberapa orang mengalihkan perhatian mereka.


"Aaaaa...! Aaaaaa!" Teriakan orang orang makin ramai dan berisik.


Mereka berlari ke arah Jhon seakan mencari perlindungan.


Jhon yang tidak tahu apa-apa terhenyak dan mencari sesuatu dari wajah orang orang itu.

__ADS_1


"Ada apa ini?" Tanyanya dengan suara keras.


"Pak...itu hantu! Dia bau sekali! Huaakkk..." Sekretaris Jhon bahkan mual dan berlindung di belakang Jhon.


Jhon mencoba memeriksa ke luar sana dengan cara memanjangkan lehernya mencoba menemukan sesuatu di sana. Tapi ia tidak melihat apapun.


Dari tempatnya, Dhira yang melihat bayangan orang berjalan dengan warna pakaian gelap bercorak putih mempertajam penglihatannya. Postur dan cara berjalannya, ia hafal betul. Dan tiba tiba ia berlari ke arah hantu yang ditakuti orang orang itu.


"Eeee kenapa dia berlari kesana! Itu bau busuk dan menakutkan!" Ujar salah satu dari mereka.


Mereka sempat melihat wajah Leo yang berlumuran darah dan juga pakaiannya yang sangat bau.


Sama halnya dengan Jhon. Ia juga berjalan cepat mengikuti Dhira yang berlari. Ia berlari bukan karena tahu ada Leo di depan tapi takut Dhira kenapa-kenapa. Dikiranya ada bom di sana. Ia berlari cepat dan menangkap Dhira. Ia memegang tangan gadis itu dan menariknya sekuat tenaga.


Melihat itu Jhon memegang tangan Dhira, bahkan setengah memeluknya membuat Leo makin murka. Ia berlari agar segera tiba di tempat Dhira.


"Lepaskan aku!" Dhira secara refleks mendorong Jhon, kemudian menendang dada lelaki itu. Melupakan dirinya yang memakai rok. Dan sudah terlanjur tersingkap karena harus mengangkat sebelah kakinya hingga setinggi Jhon.


Jhon tidak mau kalah, pikirnya dari pada Dhira terluka ikut meledak bersama bom itu, ia memaksa Dhira dengan mengangkat gadis itu ke bahunya.


"Lepaskan aku Jhon!!!" Teriak Dhira. Ia tidak tinggal diam. Ditinjunya punggung Jhon berkali-kali yang berlari membawa dirinya masuk kembali.


Tidak juga melepaskan dirinya, Dhira menyikut punggung Jhon tepat dibagian tengah. Itu bukan pukulan biasa, selain menggunakan tenaga, ujung sikutnya tepat mengenai titik lemah di punggung Jhon. Dan itu membuat Jhon roboh ke lantai bersamaan dengan Dhira.


"Apa-apan kau!" Dhira meninju wajah Jhon. Ia marah pada lelaki itu.


Semua yang di sana berteriak menyaksikan perkelahian direktur mereka dengan seorang karyawan wanitanya.


Lalu beberapa detik kemudian...


paakkk


Buukkk


Hantaman beruntun menyerang tubuh Jhon. Leo sudah ada di sana dan secara membabi buta menghajar Jhon.


"Leo!!! Hentikan! Aku mohon hentikan!" Dhira berteriak sambil menarik narik tangan Leo.


"Huh, berani sekali kau menyentuh Andhiraku!!!" Leo meninju hidung Jhon hingga darah mengucur dari mulut dan hidungnya.


Semua orang berteriak lagi. Mereka lebih syok lagi ternyata hantu yang bau itu menyerang direktur mereka.


Dhira berhasil mengunci kedua tangan Leo. Ia menggerek Leo menjauh dari John. "Hentikan! Apa kalian senang jadi tontonan orang?" Bentak Dhira.


Jhon bangkit dari lantai. Ia meludahkan darah dari mulutnya. Ia sungguh menyesal telah memaksa Dhira barusan. Sungguh, ia kira ada bahaya bom di depan dan Dhira sok jadi pahlawan. Kalau lebih awal ia tahu yang datang adalah Leo ia tidak akan peduli.


Dilepaskannya jas hitam yang membalut tubuhnya dan melemparnya ke lantai lalu menggulung lengan kemejanya. Ia mendengus dan menatap semua orang disana dengan tatapan marah. "Jangan ada yang merekam satu orang pun. Siapa yang melakukannya maka akan ku habis*!" Telunjuknya menunjuk barisan orang orang yang sudah melingkar mengelilingi mereka bertiga.


Beberapa orang yang sudah merekam dengan ponsel segera menurunkan ponselnya dan menghapus hasil rekaman. Tidak ada yang berani membantah perintah Jhon. Mereka takut. Takut di pecat lalu di habis*.


"Oke baiklah. Kau datang kesini, maka akan ku ladeni. Nyawamu yang tinggal separuh akan ku buat menjadi habis. Lihat wujud mu itu, kau bagaikan setan gentayangan yang bau bangkai!" Tantang Jhon.


Dhira maju hendak mendekati Jhon, tapi Leo menarik tangannya. Dan menyuruhnya mundur dengan isyarat matanya.


"Hentikan kalian berdua. Leo, kau bahkan belum pulih. Pulanglah sekarang!"

__ADS_1


"Dan kau," tunjuk Dhira ke arah Jhon "gunakan akal sehatmu. Apakah kau akan melawan orang yang sedang sekarat?"


"Aku tidak sekarat. Mumpung sekarang bisa berhadapan mari selesaikan semuanya." Leo juga tak mau kalah.


"Ya marilah! Aku sudah lama menantikan momen ini." Jhon maju bersiap dengan kuda kudanya.


Leo juga maju bersiap dengan tangan dan kakinya.


Perkelahian pun berlangsung. Suara pukulan dan hantaman terdengar sahut sahutan diantara dua pemuda itu. Keduanya sama sama dikuasai emosi yang sangat tinggi sehingga sangat berhasrat untuk saling melukai dan mengalahkan.


Leo yang sering meringis menahan rasa sakit yang mengenai tubuhnya. Luka segar disekitar wajahnya kembali berdarah bahkan ada yang bertambah. Terlihat dilantai sudah banyak ceceran darah.


Dhira merasa kepalanya mau pecah. Pusing dan sakit menyerang kepalanya melihat dua orang itu. Ia sangat khawatir dengan luka Leo akan menjadi serius. Apalagi melihat Jhon yang sangat berhasrat membuat Leo hancur.


Wajah Jhon juga sudah lebam dan berdarah. Beberapa kali wajahnya menjadi sasaran tangan besar Leo.


Hingga tinju Jhon mengenai rusuk Leo. Sangat kuat dan telak hingga membuat tubuh Leo tumbang.


Leo berteriak kesakitan dan rubuh ke lantai. Ia sudah sangat parah dan wajahnya hampir tak bisa dikenali lagi.


Jhon dengan cepat meringkus Leo dan mengapit batang lehernya dengan lengan berotot miliknya yang kelihatan dibalik kemeja biru yang dipakainya. Ia akan mematahkan leher Leo dengan kekuatan tangannya.


"Jhon!!! Jangan lakukan itu!" Dhira yang dari tadi menonton pertarungan berteriak. Sebenarnya ia sungguh menikmati pertarungan itu. Tanpa kedua tangannya kedua pria yang sekarang ini dibencinya mengalami sakitnya tendangan dan terkena tinju. Tidak perlu tenaganya keluar untuk membuat dua pria itu babak belur.


"Kenapa? Bukankah kau bilang, kau sudah tidak mencintainya lagi?! Lalu kenapa kau keberatan?"


"Lepaskan dia. Sekali kau lakukan, akan ku pastikan Ara tidak bisa kembali lagi!" Kedua mata Dhira memancarkan ketakutan akan leher Leo akan putus. Tangannya menunjuk ke wajah Jhon.


Ancaman Dhira sungguh mujarab. Jhon spontan melepaskan Leo. Ia berdiri dan melangkah dengan marah ke arah Dhira. "Apa katamu, hah???" Mata Jhon memerah dan dirinya lebih dikuasai amarah lagi.


"Iya. Aku tidak main main. Aku tahu dimana Ara berada. Jadi jangan keterlaluan!"


"Dasar wanita jahan*m! Katakan dimana Ara?" Jhon mengepalkan kedua tangannya dan hendak menghantam Dhira.


"Tidak usah berlebihan begitu! Kau siapanya mencemaskan Ara! Tapi aku, wajar mengkhawatirkannya karena dia adikku!" Seru Leo yang baru saja bisa berdiri dan masih sempoyongan.


Jhon menoleh pada Leo. Mulutnya sudah terbuka ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi karena Leo berteriak lagi,


"Hentikan semua kepalsuan mu itu! Apa kau tidak bosan seumur hidupmu berbohong dan berpura pura? Sudahi semua pengakuan kalian. Ara adalah milik kami. Dia adikku! Adikkuuu!" Leo menepuk dadanya.


Jhon tidak bisa berkata kata. Ia hanya berdiri dengan mata menyalang.


"Bilang pada ayah palsu kalian itu, Ara sudah kembali pada kami. Pertarungan aneh ini sudah berakhir!"


"Kamu pikir begitu? Kau tidak bisa memutuskannya. Tanyakan pada ibumu apa yang harus dibayar bila Ara kembali pada kalian. Apakah kalian sungguh bersedia dengan bayaran itu?" Tantang Jhon.


"Kalian minta apa? Katakan! Uang, harta benda? Apa?" Tanya Leo. Inilah yang ia mau. Meski waktu dan tempat tidak layak untuk untuk membicarakan ini tapi bukan jadi masalah, yang penting ia sudah mengungkapkannya.


"Tanyakan ibumu! Jika aku yang menjawab mu, kau kira aku berbohong! Jadi cari jawabannya dari ibumu!"


"Kalian semua! Bubar! Kalian senang betul menguping masalah orang!" Jhon memarahi semua orang yang disana. Dan orang orang pun bubar. Mereka pergi tanpa ada yang berani berkomentar.


Kelegaan nampak di wajah mereka setelah tahu yang mereka sebut hantu itu ternyata manusia. Dan diluar mereka mulai membicarakan si resepsionis baru terlibat cinta segitiga, segi empat dan bahkan mengatai mereka ternyata adalah keluarga. Mereka mencoba menebak yang terjadi.


"Dhira, kau siapa ikut campur masalah ini? Ini adalah pertarungan antara keluarga Atmaja dan Rabiga. Berani sekali kau menculik Ara. Ternyata wajah mu itu sungguh palsu! Kau bersahabat dan memakan uang banyak dari Ara tapi apa balasan mu? Kau berpura pura masuk ke perusahaan ini demi menculik Ara!" Jhon mengangkat tangannya memukul kepala Dhira.

__ADS_1


__ADS_2