Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Tak Bisa Menepati Janji


__ADS_3

Ia berjalan gontai ke menelusuri lorong rumah sakit. Pikirannya sangat kacau. Belum ada kepastian keberadaan Amelia, ditambah kondisi Meli yang mengkhawatirkan. Bagaimana kalau maminya menjadi gila sungguhan?


Tiba di depan rumah sakit, ia duduk di bangku kayu di bawah pohon rindang melindunginya dari panasnya mentari sore. Pikirannya melayang membayangkan hari hari yang sudah berlalu.


Terbayang kesibukannya bekerja, mengurus ini itu, dan hidup menyendiri di rumahnya. Lalu terbayang pertemuannya dengan Dhira. Semua gambaran yang dilaluinya bersama gadis itu membuatnya tersenyum tipis. Lalu senyum itu menghilang, berganti wajah tegang. Ingatannya pada Amelia membuat senyumnya hilang. Ditambah dengan bayangan maminya.


"Hahhh...kenapa jadi begini? Separah apa hubungan antara mereka semua? Dan bagaimana kalau mami tidak bisa mengatakan yang sebenarnya karena sudah..." Leo tidak berani melanjutkan kalimatnya. Dadanya menjadi berat dan sakit membayangkan maminya berada di rumah sakit jiwa.


"Ternyata kamu di sini."


Leo menoleh ke arah suara. Itu adalah Kim asistennya beberapa waktu lalu. Kini hubungan mereka bukan lagi atas-bawahan. Ia sudah bekerja di perusahaan lain.


"Ada apa?" Tanya Leo setelah menundukkan kepalanya dalam dalam.


"Tidak ada. Aku ingin melihat keadaan Tante." Kim duduk di samping Leo.


"Mami sepertinya mengalami depresi berat."


"Hem, yang sabar. Mungkin inilah jalan hidup yang harus kamu lalui saat ini. Semua pasti berakhir. Kamu yang dituntut tunduk dan menjalani lapang dada. Siapa tahu setelah berobat Tante bisa sembuh." Kim sudah tahu yang terjadi dari Rudy. Dan Rudy lah yang menyuruhnya datang menemani Leo.


"Hah, entahlah. Rasanya seperti mimpi. Mami seorang penjahat."


"Belum dipastikan. Berdoalah agar Tante bisa sembuh dan sadar. Agar bisa mengatakan semuanya."


"Entah bagaimana aku menghadapai Andhira. Dia memberiku waktu sehari untuk membawa ibunya kembali."


"Katakan yang sebenarnya. Dia juga pasti mengerti bila tahu kondisi Tante."


"Bukan soal mami. Tapi ibunya. Dia akan marah dan takut ibunya belum ditemukan."


"Terus Ara bagaimana?"


"Dia masih ditahan oleh Andhira. Aku tidak punya nyali menyuruhnya melepaskannya."


"Tapi Andhira bukan gadis bodoh. Dia tidak mungkin menyakiti Ara. Kemarahannya masih terhalang karena mereka bersahabat. Juga cintanya padamu akan menahan dirinya."


"Itu yang membuatku sedih. Dia begitu menderita dengan kami sekeluarga. Mungkin jika kami tidak ada hubungan apapun dia akan lebih leluasa."


"Bersyukurlah kalian punya hubungan. Kalau tidak, mungkin dia tidak segan melukai keluargamu." Kim menghibur Leo.


Leo terdiam. Ia menatapi batu batu di bawah kakinya dengan tatapan kosong.


"Dia kelihatannya termasuk tipe gadis yang mudah meledak dan tidak segan menyakiti orang yang mengganggunya.


Leo mengalihkan wajahnya ke samping. Melihat Kim yang memasang mimik serius.


"Maksudmu dia gadis kejam, begitu?" Tanya Leo.


"Seperti itulah pandanganku."


Leo tersenyum kecut "Kau benar. Bahkan dia tidak segan menghaj*r ku."


"Kamu dihaj*r?"


Leo mengangguk. Ia menceritakan saat dirinya diculik Dhira. "Tapi kebaikan dari dirinya juga besar. Ia terlihat menyesal dan mengurusku dengan baik."


"Makanya ku bilang, bersyukurlah kamu dicintai olehnya. Bisa bayangkan seperti apa dia melukai kalian semua bila tidak ada cinta diantara kalian."


Leo terdiam. Dalam hati setuju dengan Kim. "Tapi masalah ini masih berat bahkan makin pelik. Mami bilang telah membun*h Amelia."


Kim tercekat. Ia menelan ludahnya sendiri dengan tatapan takut. "Lalu bagaimana?"


"Entah. Aku tidak mungkin mengatakan itu pada Andhira."


"Hah astaga, Tante menakutkan."


"Melihat tingkah mami saat ini pun seakan yang dikatakannya itu benar. Mami seperti hilang kendali dan sangat senang melihat darah. Bahkan tertawa melihat darahnya sendiri."

__ADS_1


"Berarti yang dibilang om Rudy bukan melebih-lebihkan. Katanya Tante terkena gangguan jiwa."


"Huhhhh...aku berharap mami bisa mengatakan yang sebenarnya. Bila memang Amelia sudah tiada setidaknya ada jasadnya." Bulu kuduk Leo merinding dengan ucapannya sendiri.


Kim tidak menyahuti perkataan Leo lagi. Tidak tahan melanjutkan pembicaraan yang membuatnya juga merinding.


Selama dua jam Kim menemani Leo, duduk di bawah pohon. Ia tidak tega meninggalkan temannya itu sendirian. Setidaknya dengan menemaninya Leo bisa sedikit terbantu.


Leo dan Kim berjalan bersisian menuju ruangan Meli. Barusan ada telepon dari suster mengatakan maminya telah sadar.


Perlahan Leo membuka pintu. Menurut suster, maminya sadar tapi temperamennya makin seram.


Pakkk...prannggg...


Baki melayang ke arah Leo. Untung sempat menghindar kalau tidak baki itu akan mengenai kepalanya.


"Pergi! Jangan masuk kesini! Atau ku bun*h kau!!" Meli sudah duduk dengan wajah dan rambut acak-acakan. Bahkan kamar itu berantakan dengan sobekan kain dan kapas. Dua buah bantal hancur di cincangnya. Entah bagaimana caranya melakukannya.


"Mi, ini aku. Aku Leo putramu!" Bentak Leo. Ia mendekat ke ranjang tempat Meli duduk.


"Pergi!!! Kau hanya ingin membuatku menderita. Kalian semua akan ku hancurkan. Ku bun*h kalian!" Meli bangkit dan menerjang Leo. Dipukulinya, dicakar, didorong dengan membabi buta. Kekuatan Meli seperti kekuatan orang super. Sangat kuat dan sulit bagi Leo menangkap maminya.


Plakkkk...


Tiang infus mengenai kepala Leo. Sangat kuat hingga membuatnya pening. Terpancing emosi juga, Leo menarik tangan Meli dan memban*ingnya ke ranjang.


"Aaaaa...kau menyakitiku!" Meli masih bisa bangun. Wanita itu bagai dirasuki mahluk tak kasat mata. Tidak lelah sedikitpun dan tidak merasakan apapun. Padahal bantingan Leo cukup keras. Untuk seorang wanita itu sudah menyakitkan.


Leo kembali memaksa Meli terbaring di kasur. Di pegangannya dengan kuat agar Meli tidak bisa bangkit.


"Kim! Tolong bantu aku!" Teriak Leo.


Kim masuk. Ia mendekati ranjang sambil melihat lantai yang berserakan segala benda.


"Gulung mami dengan seprei!"


"Hah? Maksudmu?"


Gigi depan Meli menancap dalam di lengannya. Bahkan kulit Leo terkelupas lumayan lebar hingga darah langsung mengucur dari tangannya.


Kim menarik sisi seprei dan menggulung ke Meli dibantu Leo. Mereka cukup kesulitan. Tenaga Meli bagai dibantu tenaga super sampai sampai dua pemuda kekar dan berat itu kewalahan.


"Astaga Leo, ini wanita atau kerbau? Tenaganya sungguh seperti banteng!" Tanpa sadar Kim menggerutu. Tapi langsung sadar dan mingkem dengan wajah tidak enak.


Leo tidak menanggapi Kim. Ia berdiri dengan wajah tegang.


"Hehehe...itu darah! Darah segar! Sini ku pegang dulu. Sini! Aku ingin mencium aroma amis itu lebih dekat." Ia menjulurkan lehernya dengan sudah payah karena digulung hingga berulang kali dan hanya menyisakan leher hingga kepalanya.


Meli terkekeh-kekeh di balutan kain melihat tangan Leo yang berdarah. Wanita itu bagai seorang vampir yang sudah menginginkan darah. Apalagi setelah melihat darah Leo yang menetes, mata Meli terlihat sangat menginginkannya.


Leo dan Kim saling berpandangan mendengar Meli. Ada rasa jijik dan mual membayangkan darah yang disebut Meli.


"Dengar Mi, jangan bertingkah aneh begini. Mami harus sadar! Kalau mami begini, terpaksa mami harus dikurung!"


"Mendekat ke sini! Lebih dekat." Ujar Meli. Wajah wanita itu berubah serius.


Ragu ragu Leo maju. Ia lebih mendekat ke maminya.


"Sedikit lagi. Lebih dekat. Ada yang ingin ku katakan padamu." Pinta Meli.


Dalam hati Leo ada harapan. Mungkin maminya akan jujur padanya. Sudah waktunya maminya menyerah dan mengatakan semuanya. Ia mendekat bahkan menundukkan kepalanya bersiap mendengar kata yang keluar dari mulut Meli. Tangannya yang masih mengeluarkan darah bertolak di dekat kepala Meli.


Meli mengendus-endus dengan cuping hidungnya yang kembang kempis. Ada beberapa lama. "Darah ini tidak sama aromanya dengan darahnya. Sangat berbeda. Hei! Kau siapa! Kenapa kau menunjukkan darah bau mu padaku! Aku hanya ingin darah wanita sund*l itu. Aku sangat hafal darahnya. Darahnya tidak terlalu banyak. Tapi aromanya sangat wangi dan bisa membuatku puas saat menciumnya."


"Haaaaaa!!!!" Leo berteriak sangat keras ditelinga Meli. Ia sangat marah dengan ucapan Meli. Dadanya terasa panas dan sakit menyaksikan maminya berkata seperti itu. "Katakan dimana Amelia, Mi!" Bentak Leo.


Meli menggoyang-goyangkan kepalanya. "Suaramu membuat telinga ku sakit! Siapa kau ha?? Kurang aj"r! Mendekat sini! Biar ku haj*r mulut mu itu!" Meli bahkan meludahi Leo.

__ADS_1


Leo mengencangkan seluruh ototnya menahan emosi. Kalau saja dihadapannya ini bukan maminya mungkin sudah di tonj*k nya hingga babak belur. Dadanya sampai bergerak turun naik mengikuti nafasnya yang memburu.


Kim mendekat. "Tante, apakah Tante tidak mengenalinya?"


"Siapa lagi kau! Kenapa banyak sekali orang yang tak ku kenal berdatangan. Apakah kalian hantu? Hahahaha..." Meli tertawa lagi.


"Aku Kim Tante. Dan ini..." Kim mendorong Leo lebih dekat, "Leo putra Tante sendiri." Kim rasanya greget juga melihat tingkah Meli.


"Apa kau bilang? Putraku? Asal bicara kamu itu. Aku belum punya anak! Aku belum menikah!"


Kim dan Leo terperanjat. "Tapi dia anak Tante. Masa lupa?"


"Heh diam. Jangan merusak reputasi ku di hadapan kekasihku. Kami mau menikah. Makanya aku menyingkirkan wanita sund*lnya itu!"


"Bagaimana cara Mami menyingkirkannya? Dan siapa kekasih Mami itu?" Serobot Leo.


"Kenapa kau ingin tahu? Hanya aku yang tahu itu. Tutup mulut kalian. Jangan katakan pada siapapun." Kedua mata Meli berkedip-kedip. Lalu melanjutkan ucapannya lagi, dengan berusaha mengangkat kepalanya dan setengah berbisik "Aku sudah membuang ke laut!"


"Di laut mana?" Tanya Kim.


"Aku tidak tahu. Aku menyuruh orang melakukannya."


"Siapa?" Tanya Leo dengan berteriak. Rasanya dadanya terasa robek. Sakit dan takut.


"Dasar orang gil*! Nggak bisa apa kau bertanya baik baik. Kau berteriak terus. Lihat telingaku sakit gara gara suaramu itu!" Bentak Meli sembari memiringkan kepalanya menunjukkan telinganya.


"Oh, aku saja yang bertanya. Siapa nama orang yang Tante suruh itu?"


"Mana ku tahu, mereka orang pasar yang bekerja sebagai preman."


"Oh Tuhannn...sungguh ini membuatku gila!!!" Teriak Leo. Ia menarik wajah maminya dan menatapnya dengan tatapan marah. "Kenapa Mami berubah jadi monster seperti ini?" Tanyanya dengan suara bergetar menahan tangis.


"Aku sudah tidak tahan. Menahan hatiku yang selalu bersembunyi dari lelaki yang ku cintai. Aku mencintainya! Aku sangat mencintainya!" Jawab Meli tanpa rasa malu sedikitpun.


"Lalu kenapa menikah dengan papi sampai melahirkan aku dan Ara?" Tanpa permisi air mata Leo merembes mengalir di pipinya. Hatinya makin sakit mendengar pengakuan Meli. Sungguh menyesal baru tahu maminya seperti ini.


"Jangan tanya tanya Mulu! Ini rahasia. Kau siapa memangnya ingin tahu segalanya. Lepaskan aku! Aku mau pergi! Aku ingin menemuinya."


"Di mana lelaki itu sekarang?" Tanya Leo dengan harapan bisa menemui lelaki yang katanya ayah biologis Dhira.


"Hhssssttt...jangan kepo urusan orang lain. Sekarang lepaskan aku. Aku merasa sempit."


"Mami tidak bisa kemana mana. Tetap lah seperti ini hingga mami dipindahkan ke tempat yang seharusnya. Mami sangat berbahaya."


Meli menyeringai dengan mata melotot. "Mami! Mami! Aku bukan mamimu! Singkirkan panggilan itu dariku! Bila kekasihku mendengarnya, dia bisa marah dan meninggalkanku!"


Leo menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kedua tangan bertolak di pinggangnya. Kepalanya serasa hampir pecah, sungguh sakit dan pusing.


Leo melangkah pergi meninggalkan Meli begitu saja. Sementara Meli berteriak-teriak minta dibebaskan.


"Suster, tolong berhati hatilah terhadap ibuku. Sepertinya emosinya terlalu besar sehingga marah marah terus." Pesan Leo.


"Ibu Anda butuh perawatan psikologi, bukan di rumah sakit ini. Lihat teman saya itu, wajahnya robek karena cakarannya." Suster itu menunjukkan wajah tanya yang terluka parah.


"Iya saya akan mengurus perpindahan ibu saya." Jawab Leo dengan kepala tertunduk. Dokter dan perawat kewalahan menangani maminya.


"Apa keputusan mu sudah bulat? Bagaimana jika Tante makin parah karena dirawat di rumah sakit jiwa?"


"Itu diperlukan. Aku angkat tangan dengan perilakunya. Di sana mami hanya di rawat bukan di dibiarkan. Aku tahu yang terbaik untuknya." Sahut Leo yakin.


Hari itu juga Meli menjalani perawatan tes kejiwaan dengan salah satu dokter psikolog di rumah sakit itu. Dari hasil pemeriksaan, dokter itu menyatakan Meli butuh perawatan intensif agar kejiwaannya tidak makin parah.


Meski ia sendiri yang memutuskan itu, Leo tetap sedih harus mengantar maminya ke rumah sakit khusus kejiwaan. Apalagi tanpa kepedulian papinya. Rasanya hatinya hancur menjalani semuanya. Dalam sekejap keluarganya benar benar hancur. Terpuruk dalam usaha begitu juga dengan keutuhan rumah tangga orang tuanya, sekaligus kisah cintanya.


Di gelapnya malam, Leo duduk termenung di kursi di taman rumah sakit tempat maminya menjalani perawatan. Matanya menatap kosong ke pekatnya malam dengan sorot mata lemah. Bahkan sudah tidak menyadari gabus rokok yang terselip di antara jemarinya sudah nyaris habis hingga membakar kulitnya. Ia meringis merasakan panas. Dibuangnya puntung rokok yang sudah sangat kecil itu ke tanah lalu menginjaknya.


"Sssshhhhaaaahhhh..." Dibuangnya nafasnya begitu panjang dan berat. Dengan kedua tangannya menutupi wajahnya dengan kedua sikutnya bertolak di kedua pahanya. "Kenapa menjadi begini? Apa yang harus ku lakukan? Apa yang harus ku katakan pada Andhira?"

__ADS_1


Bahkan ia sudah sepuluh jam melewati batas waktu yang diberikan Andhira padanya. Dengan gelisah ia berharap tidak terjadi sesuatu yang menggemparkan akibat kemarahan Andhira. Ia belum bisa menepati janjinya karena kondisi Meli.


***


__ADS_2