Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Menemukannya


__ADS_3

Dhira sadar dari pingsannya. Betapa dirinya kaget mendapati tangan dan kakinya terikat. Matanya mencari ke seluruh ruangan. Barulah ia sadar dirinya berada ditengah bangunan yang terbengkalai. Sekitar lima meter darinya ada lima orang pria sedang bermain kartu. Ia yakin mereka adalah penjaga dirinya.


"Siapa mereka? Mengapa mereka menyekap ku?" Tanyanya pelan sambil mencari cari cara lepas dari ikatan.


"Sial. Ikatannya kuat sekali."


Sekuat tenaga ia menarik tangannya agar lepas namun tetap tidak bisa. "Huh awas aja kalian nanti!" Bisiknya dengan geraham gemerutuk.


Ia mendongak melihat tiang tempatnya di ikat. Melihat tiang itu bukan berbentuk bulat terbit sedikit senyuman di bibirnya. Digesernya bokong yang menempel ke lantai pelan pelan ke arah kanan. Otomatis tanganya pun ikut bergeser. Terus dipaksakannya walau sulit bergeser karena perutnya juga terikat kuat.


"Ah berhasil." Ucapnya dalam hati ketika ia sudah duduk diposisi miring dari semula. Punggungnya menempel ketat ke sudut tiang semen. Perlahan ia menggesek tali ditangannya ke sudut dengan harapan tali itu bisa putus. Sudah lama namun talinya belum juga lepas. Dhira sangat greget dan memaksa tangannya sekuat tenaga. Bagaimana pun ia harus lolos dari ikatan agar bisa menghajar para pria itu.


Perih mengelilingi kedua pergelangan tangannya. Pasti lecet dan berdarah karena terlalu di paksa. Terus saja hingga mulut Dhira meringis tertahan karena kesakitan. Dengan upaya tahan sakit di kedua tangannya akhirnya tali itu putus. Begitu tangannya bebas, Dhira menarik kalung dari dadanya dan mengambil liontin berbetuk koin Dengan pinggiran tajam. Dengan pinggiran koin itu ia menggesek tali diperut dan kakinya.


"Woi lihat dia mau kabur!" Teriak salah satu pria melihat Dhira sudah membungkuk dengan tangan masih memotong tali dikakinya.


"Hei! Tangkap dia. Ikat lagi!"


Mereka berlima kompak berlari ke arah Dhira.


Untung tali dikakinya sudah putus. Ia berdiri dengan sebuah potongan kayu ditangannya.


"Majulah!" Tapi jangan salahkan aku kalau kepalamu pecah dan mati!"


"Dasar wanita belagu! Lihat tanganmu yang cantik itu, berdarah. Itu pasti perih, sini Abang obati." Pria yang paling tinggi menggerakkan tangannya untuk menyuruh Dhira mendekat.


"Sebaiknya kalian minggir dan pulang. Setelah tanganku memukul, kalian tidak akan bisa pulang." Dhira memainkan balok ditangannya.


"Tangkap dia!" Teriak salah satunya. Mereka semua maju untuk menangkap Dhira.


Satu persatu Dhira memperhatikan wajah para pria itu. Mereka belum pernah dilihatnya. Tadinya ia menduga mereka adalah pria yang sama saat Rendra mencegat mereka.


Tidak ada lagi belas kasihan di hati Dhira. Dengan lihai ia menerjang mereka dengan permainan balok menghantam ke setiap orang yang mendekat padanya. Terkadang ia memainkan kakinya untuk menendang dan tangan kirinya mengkarate atau meninju. Gerakannya sangat cepat dan tidak bisa diprediksi. Ia begitu beringas dan ingin segera pergi dari tempat itu.


"Katakan kenapa kalian menyekapku?" Teriak Dhira dengan pukulan telak ke kepala salah satunya. Begitu pria itu rubuh ia menginjak dada dan perutnya dengan tongkat menekan leher pria. Ia terlihat seperti hendak berselancar di atas tubuh pria itu.


"Katakan! Atau lehermu ini putus!" Ia menekan balok itu dengan kuat sehingga membuat pria itu meronta kesakitan.


"Baik. Tapi tolong lepaskan teman kami itu." Tawar pria lainnya dengan wajah pucat pasi. Ia takut tidak bisa melaksanakan perintah Rendra untuk membuat wanita ini tetap terikat sebelum mereka lepas landas.


"Katakan atau leher mu ini putus!" Bentak Dhira ke pria yang dibawah kakinya.


"He..."


Bukkkk


Tiba tiba salah satu memukul Dhira dari belakang dengan seutas tali kabel listrik. Pukulan yang sangat menyelekit telak di punggungnya. Tidak bisa menahan kakinya, ia terguling ke lantai sambil menahan sakit di bahunya.


Saat itulah lima pria lainnya menarik pria yang diinjak Dhira. Mereka kabur.


Dhira membaringkan tubuhnya. Agar rasa sakit itu berkurang. "Mereka benar benar kurang ajar. Dasar pengecut!" Ia bangkit tidak terima orang yang menyakitinya lolos begitu saja. Berlari kearah jalan yang dilalui para pria itu.


Bangunan itu begitu luas. Dhira sudah berlari sejauh mungkin tapi ia belum juga keluar dari bangunan itu. Tiba tiba ia sadar tas dan ponselnya masih berada di tempatnya terikat sebelumnya, ia kembali berlari pulang untuk mengambil benda miliknya itu.


"Andhiraaa!"

__ADS_1


"Andhira...! Apa kamu ada di sini? Tolong jawab Andhira!"


Dhira mendengar namanya dipanggil.


"Siapa yang memanggilku begitu lengkap?" Tanyanya seraya menyantolkan tas di bahunya dan pergi dari sana.


Ia berjalan menyusuri lorong lebar berlantai semen dengan cepat.


"Andhiraaa!"


Suara itu makin dekat. Bahkan terdengar suara tapak kaki yang berlari mengarah padanya.


Dhira berhenti. Ia was-was dengan suara pria itu. Sebelum si pemilik suara makin dekat, Dhira berbalik arah berlari menjauh. Ia tidak mengenal suara itu. Diantara temannya tidak ada suara yang seperti itu.


Di ujung jalan lorong buntu. Semua hanya dinding beton yang tinggi tanpa jendela. Sedangkan kiri kanan terdapat kerangka bangunan yang nampak menghitam bekas terbakar. Belum lagi bahan kayu dan besi yang berserakan sembarangan.


"Andhira kamu tidak apa-apa?"


Dhira menoleh, merasa suara itu tidak asing. "Pak Leo? Kenapa Anda di sini?" Dhira menatap Leo dari ujung kaki hingga kepala dengan tatapan tidak biasa.


"Maaf aku baru sampai." Nafas Leo terburu karena kecapaian berlari mengintari beberapa lorong bangunan.


"Sedang apa Bapak di sini?" Tanya Dhira dengan tatapan curiga.


"Hah hah...aku berusaha menyelamatkanmu. Aku dapat informasi kalau kamu disekap di sini?"


"Oh. Sekarang aku tidak apa-apa. Sebaiknya bapak kembali aja."


"Syukurlah. Aku takut sekali." Leo mendekat dan menaruh tangannya di kepala Dhira. "Ayo pulang bareng. Tempat ini jauh dari pinggir jalan."


"Tidak. E...maksud saya, bapak pulang duluanlah. Saya pulang sendiri."


"Ahsss...tanganku." Desis Dhira saat pergelangan tangannya digenggam Leo.


"Kenapa? Apa sakit?" Leo merasa tangannya basah. Ia menunduk dan melihat ke pergelangan tangan Dhira.


"Kamu terluka. Tanganmu berdarah." Leo menaikkan tangan mereka dan memeriksanya. 'kurang ajar kau Rendra! Lihat bagaimana aku menghukummu!' teriak Leo dalam hati. Padahal tadi saat Rendra menelepon memberitahukan keberadaan Dhira berjanji tidak melukainya sedikitpun. Geraham Leo saling beradu menahan amarah.


"Bagian mana lagi yang sakit?" Tanya Leo dengan suara pelan.


"Tidak ada." Dhira menarik tangannya agar lepas dari tangan Leo.


"Ayo kakimu juga pasti sakit. Aku akan menuntunmu." Leo memegangi bahu Dhira.


"Akhhh..." Lagi lagi Dhira meringis. Bahunya yang terkena sabetan terasa sakit.


"Tidak benar ini. Lukamu sepertinya banyak. Ayo cepat, lukamu harus segera diobati."


Tiba tiba Leo menundukkan tubuhnya dan mengangkat Dhira sekaligus.


"Aaaa....turun aku! Pak aku bisa jalan sendiri." Teriak Dhira sambil berontak dari gedongan Leo.


"Diamlah. Atau kamu terjatuh dan lukamu akan makin parah."


"Saya tidak apa-apa. Saya bisa jalan sendiri."

__ADS_1


"Luka seperti ini kamu bilang baik baik. Diamlah!" Leo berlari dengan Dhira diapit diantara tangan dan dadanya.


Sepanjang jalan hingga tiba di mobil Dhira berteriak terus agar diturunkan. Namun Leo tidak menggubrisnya dan kini sudah mendudukan Dhira di kursi disamping kursi kemudi.


"Diamlah. Kita akan berobat dulu." Leo menutup pintu dan berlari ke bagian sebelahnya.


"Saya pulang ke rumah aja Pak. Ini bisa saya obati sendiri." Pinta Dhira saat mobil sudah berjalan.


"Diamlah! Aku tahu apa yang paling tepat untukmu." Sahut Leo tanpa melihat ke arah Dhira karena sedang fokus ke jalan sempit dan berlumpur. Ternyata benar tempat pabrik itu mencil dari pemukiman dan jalan kesana susah dengan jalan tanah berair juga berlobang menjadi kubangan air.


Tiba tiba mobil tidak bisa maju. Bannya masuk terlalu dalam ke lumpur. Suara raungan mesin mobil memaksa agar mobil bisa maju. Namun terasa mobil oleng sebelah dibagian belakang karena ban makin dalam.


Leo terus saja menginjak pedal gas hingga habis namun tidak membuahkan hasil apapun. "Daerah ini rawa rawa, tambah Musin hujan. Jalannya parah. Sering dibuat orang sekitar sebagi tempat cross-crossan." Tempat itu memang sudah kosong sekitar lima tahunan. Karena tanah ini terkait sengketa sehingga dibiarkan terbengkalai. Aslinya jalan utama ke pabrik ini ada di bagian yang berlawanan dari jalan yang dilewati Leo. Tapi karena jalan utama di tutup bahkan ditanami pohon dan menjadi belukar tidak bisa dilewati lagi. Sedangkan jalan tanah ini adalah jalan yang dibuat oleh para pemuda untuk tempat main.


"Mau kemana?" Tanya Leo saat melihat Dhira membuka pintu.


"Kebelakang. Saya akan coba bantu." Dhira turun dan menutup pintu. Kemudian membuka pintu bagian belakang laku naik lagi. "Coba digas terus Pak, saya akan bantu dari sini."


Leo melakukan yang disarankan Dhira. Ia menggas mobil. Sedangkan Dhira berusaha menggoyang mobil agar lebih mudah bergerak.


Selama sepuluh menit tidak ada perubahan. Dhira sampai berkeringat. Begitu juga dengan Leo.


"Kita jalan kaki aja ke jalan utama. Kamu masih kuatkan?"


"Lalu bagaimana dengan mobilnya Pak."


"Biarkan aja. Nanti orang bengkel yang mengambilnya." Leo turun. Ia sudah tidak berusaha membawa mobil keluar dari lumpur.


Dhira membuka pintu dan turun. "Pak tolong kunci mobilnya. Siapa tahu saya bisa."


Leo terpengarah dengan ucapan Dhira. "kamu bisa bawa mobil?"


Dhira mengangguk. Ia mengulurkan tangan meminta kunci.


Dengan ragu Leo memberikan kuncinya.


Dhira masuk ke mobil dan menghidupkannya. Ia menurunkan kaca dan mengeluarkan kepalanya dari jendela. "Pak kalau bisa, tolong di dorong ke samping. Digoyangin agar bannya sedikit bergerak."


"Oke." Leo bersiap dengan ke dua tangan ke body mobil dan menggoyang goyangnya dengan kuat.


Saat itulah Dhira memundurkan mobil dengan kiat tiba tiba, lalu memajukannya dengan kecepatan cepat. Dan berhasil. Ban mobil sudah keluar dari kubangan.


"Hebat juga kamu. Lihai dan berani." Leo memuji Dhira.


Dhira tidak menyahut. Ia hanya diam dan menatap lurus ke depan. Kehidupan masa kecil dan remaja hingga sekolah SMA Dhira terbilang banyak pengalaman. Di kampungnya di Liwa sana sudah terbiasa dengan kesulitan. Karena tinggal di pegunungan yang dikelilingi perkebunan kopi membuatnya bekerja banyak hal. Dari TK ia sudah dilatih ibunya bela diri. Jika teman temannya bela diri untuk mendapat gelar atau dukungan modal mencari pekerjaan ketika sudah dewasa, maka beda halnya dengan Dhira. Ia berlatih bukan untuk penghargaan atau piagam. Tapi untuk membekali diri. Itu semua adalah tekad ibunya Amelia.


Putrinya harus menjadi seorang wanita kuat dan hebat yang tidak bisa ditindas oleh orang lain. Selama itulah ia banyak pengalaman tentang berkendara, peternakan dan pertanian. Ia selalu bersemangat membatu guru bela dirinya karena akan mendapat upah berupa uang. Bisa bawa mobil, motor semua dari barang gurunya. Bahkan dulu waktu SMA ia terkenal tulang ojek handal. Mengangkut kopi gurunya berpuluh hingga Beratus karung dari kebon ke halaman rumah.


Melakukan pekerjaan seperti itu di tempatnya bukan hal yang membuat malu atau gengsi. Karena memang rata rata anak sekolah di sana begitulah cara mencari uang jajan. Mereka ikut membantu orang tua untuk biaya kehidupan sehari hari.


Tanpa sadar Dhira sudah tiba di depan sebuah rumah elit. Ia terheran kenapa Leo membawanya ke sana.


"Ini rumah siapa?" Tanyanya pelan.


"Turunlah. Akan ada dokter yang mengobati." Leo mendengar suara Dhira. Tapi sengaja tidak memberitahukan kalau itu adalah rumahnya.

__ADS_1


"Sebenarnya tidak perlu Pak. Saya baik baik aja."


"Menurutlah. Itu demi kebaikanmu." Leo membatu membuka pintu disebelah Dhira.


__ADS_2