Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Lebih Baik Waspada


__ADS_3

"Sayang apa kabarmu? Maaf aku baru menjenguk mu." Ucapnya dengan wajah muram disertai mata berkaca-kaca.


"Aku harap kamu tenang dan tidak kesusahan di sana. Seperti biasa aku membawa bunga bunga indah ini." Ia menaruh setangkai demi setangkai bunga ke atas air. Sementara gelombang air segera membawanya menjauh darinya. Menyebar ke arah tak beraturan, mengikuti ombak.


"Jangan marah lagi ya sayang. Aku telah memutuskan akan menetap di kota ini. Aku akan sering berkunjung dan menemanimu. Aku sangat merindukanmu..." Terlihat Robert menahan nafas dan menahan diri dari tangis. "Aku mohon perlihatkan dirimu lewat bayang atau mimpi." Nafasnya begitu berat dan tertahan.


Selama dua puluh tahun lebih ia melakukan ritual ini. Selalu mengunjungi tepi laut ini dan berkabung sambil berbicara sendirian. "Aku sangat tersiksa dengan semua ini. Entahlah yang kulakukan benar atau salah. Aku hanya mengikuti hatiku untuk menyenangkan mu. Semoga kamu bisa memaafkan ku." Tak terbendung lagi, tangisnya pun pecah. Bulir air bening itu berjatuhan ke air membaur jadi satu. Betapa lara hatinya setiap melakukan ini. Meski dari rumah ia berjanji tidak akan menangis agar orang yang dikunjunginya tidak sedih tapi ia tidak pernah berhasil. Dorongan rasa sakit dan rasa belenggu di dalam dirinya selalu terkuak dan segar kembali setiap sudah di tempat ini.


"Sayang, putri kita sudah besar. Aku membesarkannya dengan baik. Dia akan menjadi pertahanan ku. Dengan keberadaannya aku bisa bertahan dan mengontrol diri. Aku sangat berharap kamu memberiku kode bahwa kamu setuju atau tidak dengan pilihanku. Makanya datanglah sekali saja dalam mimpiku agar aku tahu yang kamu inginkan." Lagi lagi Robert mengusap wajahnya dari air yang masih saja mengalir dari matanya.


Rasanya sangat berat setiap hari melangkah tanpa dirimu. Tapi terimakasih akhirnya bisa melewati hingga sekarang. Aku harap ada keajaiban yang bisa mempertemukan kita."


Selama tiga jam Robert bersantai di tepi pantai itu. Bosan duduk, maka ia berjalan disekitarnya. Hingga tiduran dengan harapan bisa tertidur pulas dan bermimpi wanita yang dicintainya datang menemuinya.


Jika yang lain berziarah ke kuburan, maka beda dengannya. Ia berziarah ke tepi laut ini. Tanah dan air asin ini adalah saksi bisu meninggalnya kekasihnya dua puluh tahun yang lalu. Sebenarnya dinyatakan meninggal, tidak pasti. Karena jenazah kekasihnya tidak pernah ditemukan. Tim penyelamat dan dirinya hanya menemukan mobil yang telah rusak parah tenggelam di dasar laut. Dari penyelidikan dinyatakan kemungkinan tubuh kekasihnya telah terbawa arus dan menghilang ke dalam lautan tanpa batas.


Awalnya Robert tidak percaya sang kekasih telah meninggal. Ia menunggu dan terus mencari tapi waktu ke waktu menentukan wanita itu memang telah tiada. Akal sehatnya juga bisa menerima mustahil seseorang bisa selamat setelah jatuh ke jurang terjal dan tenggelam ke laut.


Dulu tepi laut adalah jurang yang curam dengan batu Padas. Robert lah yang mengubah tempat itu menjadi tempat indah yang bisa dikunjungi orang. Dan mobil pun bebas keluar masuk. Itu dilakukannya agar kekasihnya tidak merasa kesepian di tempat ini. Tempat yang dulunya seram dan sering di temukan mayat sekarang menjadi tempat terang dan sejuk yang cocok untuk menenangkan diri. Banyak para pengusaha yang meminta padanya agar tempat itu dibangun menjadi tempat rekreasi dan didirikan sebuah resort. Tapi ia menolak bahkan mengeluarkan banyak uang untuk membeli tempat sekitar agar bisa dibawah kendalinya.


Tengah hari ia pulang. Kalau tidak sedang ada pekerjaan ia akan menginap di tepi laut tidur di mobil seperti yang dulu sering dilakukannya agar bisa bermimpi tentang kekasihnya itu. Meski usahanya tidak pernah berhasil sekalipun, ia tidak mengalami mimpi itu.


Waktu pertama kali ia mendapat kejelasan tentang bagaimana krologi kejadian, dirinya bagai hilang kendali dan ingin membunuh siapun yang bertanggung jawab atas kejadian itu. Apalagi ia baru tahu kalau kekasihnya sedang mengandung anaknya.


Namun ternyata membunuh tidak semudah yang diucapkan. Tangannya bisa saja sanggup tapi hatinya tidak. Saking frustasi tidak tahu akan melakukan apa, ia sengaja menerjunkan mobilnya ke jurang tempat wanitanya terguling. Ia tenggelam bersama mobil dan berharap segera bisa bertemu dengan pujaan hatinya. Tapi ternyata itupun tidak terjadi. Ia selamat dan koma selama empat hari.


Hanya sekali itulah ia bertemu dengan kekasihnya di alam bawah sadarnya. Itupun tidak lama. Wanita itu datang hanya menyerahkan seorang bayi perempuan mungil yang sedang menangis kencang. "Hiduplah demi bayi ini. Anak perempuan kita butuh ayah. Jangan melakukan hal bodoh. Itu hanya melukai aku." Hanya itu kata terakhir yang didengarnya. Setelah mengalami hal itu, Robert baru bisa mengambil keputusan. Ia memutuskan akan hidup dengan tanggung jawab membesarkan seorang bayi perempuan. Jadilah ia memilik bayi perempuan yang cantik dan pintar. Itulah satu satunya pedomannya hidup hingga sekarang.


Segalanya di pertaruhkannya hanya untuk bayi itu. Bayi itu dinamai olehnya Araysa Rabiga. Araysa adalah nama kekasihnya yang sengaja diberikannya pada bayi itu. Sengaja dilakukannya untuk selalu mengingatkannya bahwa bayi itu ada karena kekasinya. Bayi itu adalah titipan kekasihnya agar dirinya bisa hidup baik. Tanpa melakukan hal bodoh seperti niatnya membunuh pelaku yang membuat mereka hidup di alam yang berbeda.


Kringgg kringgg


Lamunan Robert buyar saat dering ponselnya bernyanyi riang.


"Ada apa?" Tanyanya pada Jhon lewat telepon.


"Pak, ada yang ingin Saya laporkan. Tapi..."


"Katakan! Jangan membuat ku penasaran!"


"Para musuh sepertinya mulai mendekati Ara. Malam yang lalu mereka mengajak Ara ke rumahnya."


"Apa? Berani sekali mereka. Berikan pelajaran pada mereka! Bila perlu sakiti mereka. Asal jangan sampai mengambil nafasnya."


"Iya Pak."


Robert melemparkan ponselnya. "Apa yang mereka inginkan? Apa mereka sudah tidak takut padaku? Huh sepertinya aku terlalu kendor pada mereka." Yah ia sangat membenci keluarga Atmaja. Di matanya mereka bagai penghalang untuk setiap gerak dalam kehidupannya. Ia selalu menjaga putrinya jangan sampai bergaul dengan sembarangan orang termasuk keluarga Atmaja.

__ADS_1


Tidak puas dengan perintahnya, ia pergi ke kampus untuk menjemput Ara. Mungkin mulai sekarang ia harus lebih ketat pada putrinya.


"Papi? Papi sedang apa di sini?"


"Menunggumu." Robert dengan menggunakan kaca mata hitam terlihat begitu tampan bak pemuda beberapa tahun diatas Ara. Tidak ada yang tahu di balik ketampanan nya itu sudah berusia kepala empat.


"Gaya papi itu lho, menggoda banget. Lihat para wanita di sini mulai melirik papi."


"Hhsssttt...! Panggil aku dengan 'Ga'. Ingatkan kalau orang orang tidak boleh tahu kalau aku adalah papimu. Itulah syarat pertama setiap kita bersama waktu kamu kecil." Panggilan Ga adalah singkatan Rabiga alias R.Ga.


"Hahaha..." Ara tertawa. Ia ingat dulu ia tidak mau memanggil Robert dengan papi karena tidak ingin orang tahu kalau papinya seorang duda. Ia ingin ada wanita yang mau menjadi kekasih papinya agar dirinya memiliki mami. "Oke Ga..." Ucapnya sambil mengacungkan jempol. "Apa sekarang papi sedang menaksir salah satu teman kampusku?" Bisik Ara sambil tertawa.


"Siapa tahu aja ada. Aku mengaku kesepian."


"Hem. Oke aku akan membatu mu mencari seorang wanita baik." Bisik Ara lagi. "Itu namanya Mona. Dia gadis primadona di kampus ini. Bagaimana?" Tunjuk Ara pada salah satu wanita yang lewat dari depan mereka.


"Terlalu cantik. Tidak boleh lebih cantik dari kamu."


"Ga! Berarti dia lebih cantik dariku?"


"Hehehe masih lebih cantik kamu sedikit. Beda tipis."


"Wekkkk...katanya tidak ada yang menandingi mu! Kamu yang tercantik! Bohong ternyata!" Ara berpura pura ngambek.


"Cup cup baby, kamu yang number one, ok!" Robert merengkuh bahu Ara dan memeluknya sambil terkekeh. "gimana mau punya mami kalau begini coba?"


"Iya kamu yang nggak butuh lagi. Tapi aku butuhhhh..."


"Benarkah?" Ara mendongak menatap ke mata papinya. Aneh rasanya tiba tiba sekarang papinya berniat mencari pendamping. Dari dulu ia menyuruh papinya menikah lagi tapi alasan adalah tidak bisa mencintai wanita lain selain mendiang ibunya.


Robert tiba tiba tertawa. "Serius amat. Aku sudah bilang, tidak ada yang ke dua. Satu cukup dan suatu saat nanti kami akan bersama. Kalau aku selingkuh aku takut kekasihku tidak menerima ku lagi saat kami bertemu." Robert menjentik dahi putrinya.


"Kamu setia amat Ga. Mami secantik apa sih?"


"Tidak ada duanya pokoknya."


"Terus kenapa tiba tiba minta dipanggil 'Ga'?"


"Pengen aja. Ingin lebih leluasa saat berjalan berdua denganmu."


"Aih aku bukan anak TK lagi yang bisa dibohongi. Berikan alasan yang terbaik. Kalau nggak aku nggak mau memanggilmu dengan nama itu."


Robert terdiam. Benar yang dikatakan putrinya. Ara bukan lagi anak TK yang selalu bisa ia kendalikan. Mungkin kah dengan usianya sekarang Ara akan berontak dan memilih jalannya sendiri? Ada kekhawatiran dalam hatinya jika itu terjadi. Hanya Ara lah yang dimiliknya di dunia ini. Bagaimana kalau ia ingin kembali pada ibunya jika tahu sebenarnya ibunya masih hidup?


"Nah melamun...mikirin apa sih?" Ara menoel bahu papinya.


"Hm. Nggak ada apa-apa. Kita pergi yuk!"

__ADS_1


"Kemana?"


"Kemana aja yang kamu mau. Pokoknya aku temani."


"Tapi...aku ada janji sama teman. Gimana kalau nanti malam?"


"Sama siapa?"


"Teman aku. Siapa lagi teman ku yang paling setia. Vanya sama Dhira."


"Jangan terlalu percaya pada orang. Sekalipun sama sahabatmu. Tidak ada yang tahu isi hati orang. Kamu harus berhati hati."


"Ah berlebihan sekali. Mereka orang baik dan polos sepertiku. Tidak ada yang perlu ditakuti dari mereka."


"Kepercayaan ini yang tidak boleh kamu pertahankan. Jika keadaan berbalik malah mengancam mu barulah kamu menyesal. Aku tidak mau itu terjadi padamu."


"Iya sih. Tapi dari mereka berdua tidak perlu setakut itu."


"Justru musuh itu datangnya dari orang yang mengenal kita Ra. Melihat kita bahagia atau lebih dari dirinya, bisa menimbulkan iri yang berujung permusuhan."


"Ah, kenapa sih, kamu kerap sekali membicarakan musuh segala. Aku mau tanya dan jawab dengan jujur. Apakah kita punya musuh?"


"Pertanyaan bagus. Tapi kita masuk ke dalam mobil dulu baru ku jawab." Robert membuka pintu untuk Ara. Setelah Ara masuk baru dirinya masuk.


"Membicarakan musuh, aku akan jujur padamu. Aku banyak musuh dan sudah mengalami hal banyak mengerikan. Para musuh itu bukan orang lain, tapi orang terdekat ku sebelumnya. Makanya aku melarang mu bergaul dengan sembarangan orang. Mereka selalu mengintai bersiap menjatuhkan kita. Itu sebabnya aku tidak mengekspos hubungan kita sebagai ayah dan anak. Aku takut mereka melukaimu."


"Mereka siapa aja? Mungkin ada baiknya aku mengetahui mereka. Agar aku bisa berhati hati."


"Mereka ada di sekitar kita. Bahkan selalu bertemu dengan ku setiap hari dan menjalin hubungan kerja. Banyak diantara relasi ku yang menyimpan benci padaku. Menginginkan kedudukan dan kepemilikan perusahaan milik kita. Makanya aku pulang ke Indonesia. Aku akan memantau lebih dekat juga menjamin keselamatanmu."


"Haduh, segawat itu? Bikin merinding. Aku jadi takut. Memang benar benar dunia bisnis ini ya, bisa membahagiakan sekaligus berbahaya."


"Selama kamu menuruti kata kata ku, mudah mudahan tidak sulit mengendalikan keadaan. Makanya dengarkan aku. Boleh berteman tapi jangan mempercayai mereka sepenuhnya."


Ara mengangguk. Ia membenarkan ucapan papinya dalam hati. Sebagai putri seorang pengusaha sukses dirinya bisa aja dimanfaatkan oleh para pesaing untuk menjatuhkan papinya.


"Tapi Vanya dan Dhira tidak begitu. Mereka hanya gadis sederhana. Mereka tidak akan melakukan itu padaku. Hanya mereka temanku yang paling baik dan pengertian."


"Hem, aku yakin kamu bisa memilih orang yang tepat untuk dirimu sendiri." Robert tidak tahu lagi cara bicara pada Ara agar tidak lagi bergaul dengan dua gadis yang sering disebut sebutnya itu.


"Suatu saat deh aku kenalin dengan mereka. Kamu pasti suka dan sependapat denganku."


"Oke. Lalu sekarang bagaimana?" Tanya Robert. ia sudah kalah dengan sangat anak.


"Aku harus pergi. Ntar malam kita makan bersama di restoran. Hanya kita berdua."


"Baiklah. Aku akan menunggumu. Sekarang katakan kamu mau kemana biar ku antar."

__ADS_1


"Aku pergi sendiri. Aku telah berjanji akan menjemput mereka." Jawab Ara.


__ADS_2