Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Malu Sekaligus Takut


__ADS_3

Dhira hanya mengangguk dengan kepala tertunduk. Seketika ada rasa aneh menyelinap di hatinya begitu Leo memegang tangannya.


"Aku..."


Ning nong Ning nong...


Bel rumah berbunyi menghentikan ucapan Leo.


"Siapa yang datang?" Tanya Dhira.


"Tunggu, biar aku lihat." Leo bangkit dan pergi ke dalam rumah.


Dhira masih mengatur irama jantungnya. "Hoh astaga. Jantungku." Memukul pelan dadanya. "Kenapa setiap dia bersikap manis seperti itu, selaku membuatku gugup. Untung Vanya tidak melihat ini. Dia pasti akan mengoceh seribu macam mengetahui ini. Apakah aku cinta padanya?" Tanyanya sembari memukul pelan kepalanya. Bingung dengan dirinya sendiri. Ia belum pernah jatuh cinta jadi, bingung dengan dirinya saat ini.


Penasaran siapa yang datang, Dhira berangkat ke dalam rumah. Menyusul Leo ke dalam. Samar samar ia mendengar suara ramai dari depan. "Apa keluarga Leo berkunjung? Kenapa ramai sekali?" Ia berjalan mengendap dan mengintip ke ruang tamu.


"Itu dia. Dhi, ngapain ngintip di situ?"


"Hah? Vanya? Ara? Kalian?" Dhira masuk ke ruang tamu. Di dekat pintu ada tiga orang tamu. Vanya, Ara, dan satu lagi Kim. Ia memandangi mereka dengan heran.


"Hehe...hellooo..." Ara melambai.


"Sedang apa kalian ke sini?" Tanya Dhira.


"Berkunjung. Kenapa? Apa kamu merasa terganggu?" Ara memainkan matanya dengan nakal.


"A...tidak. Cuma..."


"Nggak usah dengerin dia. Yang punya rumah aja nggak keberatan, iya kan?!" Kim memotong ucapan Dhira. Mari silahkan masuk. Anggap rumah sendiri. Buat kalian rumah ini selalu terbuka."


"Iya. Kami hanya sedang bersantai aja." ujar Leo dengan ramah.


"Ku kira kalian lagi latihan. Pengen lihat. Seru paling lihat orang berantem pake bela diri." Celutuk Ara.


"Latihan? Latihan apa?" Tanya Kim sambil duduk di samping Leo. "Auhhh...sakit!" Tiba tiba ia menjerit karena kakinya diinjak Leo. "Kakimu panjang banget sih sampai ke sini!" Kim mendorong paha Leo dengan tangannya. Tapi kemudian berhenti melihat gelagat Leo yang aneh. Matanya melotot marah memberi syarat.


"Aku belajar bela diri." Cepat cepat Leo menjawab sebelum Kim mengatakan apapun.


"Oh" Kim ber- oh tapi dengan wajah bengong sehingga terlihat lucu. Kemudian mengangguk paham. Ternyata Leo berpura pura tidak bisa bela diri demi bisa selalu berdekatan dengan Dhira. "Terus sudah selesai?"


"Hari ini lagi off. Suasana nya masih sedih. Jadi kami hanya mengobrol." Dhira yang menjawab.


"Makanya kami datang. Kami tahu suasananya masih berkabung. Kami ingin menghibur Leo." Ini semua adalah idenya Ara. Gadis itu ternyata tahu alamat Leo dari Kim. Mereka baru dua hari yang lalu berkenalan dan sudah menjadi teman.


"Terimakasih." Leo menampilkan senyumnya.


"Oke acara kita hari ini adalah bersenang senang. Agar teman kita ini bisa lebih bersemangat." Kim mengeluarkan snack dan minuman kaleng. Semua telah diatur Ara. Ia sangat penasaran dengan Leo sehingga nekad melakukan pendekatan untuk mengenal Leo lebih dekat.


"Wahhhh...ini namanya rejeki. Jangan ditolak. Hayo!!!" Vanya begitu bersemangat dan mengambil sebungkus kacang dan mulai memakannya. Yang lainnya juga ngikut mulai menikmati makanan. Ternyata obrolan mereka cukup menyenangkan. Ara dan Kim yang selalu punya topik dan cara yang lucu setiap membahas sesuatu membuat suasana hidup. Masing masing menjadi lebih terbuka dan leluasa mengatakan apapun.


Leo sendiri menikmati kebersamaan itu. Ia bisanya jarang jarang bergabung dengan orang yang belum seberapa dikenalnya. Tapi kali ini hatinya cukup senang dan menerima mereka.


Lagi asyik tertawa sambil bernyanyi mengikuti petikan suara gitar yang dimainkan Kim, tiba tiba suara seorang wanita menghentikan mereka.


"Ada apa ini? Kenapa ramai sekali?"


Semua menoleh ke arah pintu.


Meli maminya Leo yang datang.


"Mami? Sedang apa malam malam ke sini?" Tanya Leo. Ia bangkit dan mendekat pada maminya.

__ADS_1


"Memangnya ada aturan harus siang mami ke sini?"


"Iya nggak. Sama papi atau sendiri?"


"Sama sopir. Mereka siapa?" Meli mendongakkan kepalanya ke arah tengah sofa.


"Tante." Kim berdiri. Dan diikuti Vanya serta yang lainnya.


"Kim, kau rupanya."


"Selamat malam Bu..." Vanya memberi hormat dengan membungkukkan tubuhnya sedikit.


"Iya."


"Selamat malam Bu..." Ara dan Dhira menyapa berbarengan juga membungkukkan badan.


"Kalian..." Meli tidak melanjutkan kalimatnya. Ia berdiri kaku dengan pandangan bergantian pada Ara dan Dhira. "Ara..." Gumamnya dengan suara bergetar. Seketika wajahnya pucat pasi disertai bibirnya yang bergetar seperti orang ketakutan.


"Mami mengenal Ara? Dia memang bernama Ara." Leo memegangi maminya yang hampir limbung. "Mami kenapa?" Leo bisa merasakan dingin yang sangat dari kulit lengan Meli.


"Suruh mereka semua pulang!"


"Mami kenapa?" Leo heran dengan perilaku maminya yang tiba tiba berubah.


"Kalian semua pulang!" Teriak Meli.


Semua yang ada di ruangan itu terkejut. "I-iya Bu, ka-kami akan pulang." Vanya tergagap-gagap. Vanya memberi syarat pada Dhira dan Ara.


"Mi ada apa sih? Mereka tamuku." Bentak Leo.


"Pulangggg! Kalian para gadis tidak tahu malu. Ini hampir tengah malam masih berada di rumah orang. Kamu juga Kim pergi dari sini!"


Kim dan Leo saling berpandangan dengan wajah bingung. Entah apa yang telah membuat Meli semarah ini. Memang sih, mereka tidak biasanya menerima tamu wanita apalagi hingga malam begini.


Ara menarik tangan Dhira dan Vanya. "Ayo!" Ucapnya dengan nada ketus. Ia sangat benci dengan orang sombong. Menurutnya hanya orang bodoh yang memiliki sifat sombong hanya karena kaya. Dimatanya harta benda itu bukan satu satunya yang harus dimegahkan di dunia ini. Dirinya sendiri dilimpahi harta yang tak terhitung banyaknya tapi tidak membuatnya sombong.


Vanya berjalan dengan kepala tertunduk. Tidak berani menatap Meli yang sedang marah. Tapi tidak dengan Ara dan Dhira. Ke dua gadis itu berani menatap Meli dengan sangat lekat. Sorot mata yang menunjukkan protes.


"Mi kenapa mami seperti ini?" Tanya Leo dengan nada tinggi. Ia tidak setuju dengan pandangan maminya terhadap para tamunya.


"Kau putraku. Aku berhak mengaturmu. Mereka tidak sepadan dengan kita. Mulai sekarang jangan pernah berhubungan dengan mereka lagi! Banyak gadis yang lainnya yang lebih dari segalanya dari mereka!"


Wajah Leo merah padam mendengar ucapan Meli. Bahkan kalimat penghinaan itu masih terdengar jelas karena para gadis itu masih berada di pintu. "Mami tidak bisa melarangku berhubungan dengan siapapun. Mereka gadis baik baik. Dan hanya mereka temanku." Dengan lantang Leo membela tiga gadis itu. Ia berharap Dhira dan yang lainnya mendengar ucapannya.


Plakkk


Tamparan mengenai pipi Leo. "Makin lama kau makin kurang ajar. Bila bukan orang tuamu yang kau dengarkan lalu siapa lagi, hah?"


Sedangkan Kim yang masih berdiri di ambang pintu termangu melihat pertengkaran itu. Selama ini Leo memang menunjukkan sikap membangkang pada orang tuanya. Dan selama itu pula Meli selalu terlihat sabar dan lemah lembut menegur Leo. Tapi kali ini entah kenapa Meli begitu emosional hingga memukul putranya.


"Haaaa! Rasanya lebih baik tidak berhubungan dengan keluarga ini. Lama lama hanya kegilaan yang makin jadi." Leo berteriak. Bukan karena sakit akibat tamparan maminya. Tapi tidak mengerti kenapa maminya kini menjadi berubah sombong dan terlalu memandang rendah orang.


Itu sangat memalukan. Rasanya mukanya serasa dikuliti mentah mentah di hadapan kim terlebih dihadapan Dhira. Ia berlari ke luar dan membanting pintu dengan sangat kuat.


"Leo! Berhenti! Leo! Jangan pergi!" Meli berlari mengikuti Leo yang sudah di halaman.


Leo tidak menggubris sedikitpun panggilan maminya. Ia berlari hingga ke mobil Ara.


"Ara kamu pulang bersama Vanya. Andhira biar aku yang antar." Ia menarik tangan Andhira agar tidak masuk ke mobil Ara.


"Aku pulang sama mereka aja." Dhira menghentakkan tangan Leo, tapi tidak lepas. Genggaman Leo terlalu kuat.

__ADS_1


"Aku mohon. Jangan membantahku. Aku akan mengantarmu." Leo menatap ke mata Dhira dengan penuh harap.


"Tapi Leo, Tante Meli..."


"Diam Kim! Ini urusanku. Aku akan pergi ikut dengan Andhira." Bentak Leo. Suaranya sangat keras bahkan mungkin terdengar ke tetangga. Sedangkan yang di halaman semua terkaget saking kuatnya suara Leo. "Lemparkan kunci mobilmu!" Kim hanya bisa menuruti Leo. Dengan berat hati dilemparkannya kunci mobil miliknya ke arah Leo.


"Leo! Dengarkan Mami. Jangan berbuat semau mu! Atau kau akan menyesal!"


"Kim jangan lupa kunci rumah. Antar mami ke rumah." Leo menarik paska tangan Dhira untuk masuk ke mobil Kim. "Diam dan duduk tenang di sini. Aku akan mengantarmu."


"Aku bisa pulang sendiri. Jangan memaksakan diri. Itu ibu mu sedang marah."


"Kami udah biasa seperti ini. Aku bukan anak kecil lagi yang selalu menurut padanya. Aku paling tidak suka dengan pandangan dan prinsip mereka." Ujar Leo dengan ketus sambil melirik ibunya yang beberapa langkah di belakangnya, dan pastinya bisa mendengar apa yang diucapkannya.


"Jangan pergi! Jangan!" Meli berteriak tapi sedikitpun Leo tidak menggubrisnya. Kini ia sudah masuk ke mobil dan mulai menjalankannya meninggalkan halaman rumah.


"Leo!!!! Leo!!!!" Meli hanya meraung memanggil putranya.


Kim yang berdiri di dekat Meli tidak tahu hendak berbuat apa. Membujuk Leo aja susah apalagi Meli. Dengan kasar digusaknya rambutnya. Kini dirinya lah yang akan menjadi tumbal kemarahan Meli.


"Tante, mari ku antar."


"Kau tidak perlu mengurusku! Kenapa kau tidak pernah melapor tentang teman teman Leo?" Bentak Meli setengah menangis.


"Aku juga nggak tahu Tante, baru ini aku melihat mereka."


"Pokoknya lakukan apapun agar mereka tidak bersama."


"Dengan siapa Tante, mereka ada tiga."


"Semuanya! Aku tidak suka dengan mereka semua. Laporkan setiap tindakan mereka. Jangan melewatkan apapun."


"Iya."


"Dari mana mereka semua?"


"Yang dua bekerja perusahaan kita. Yang satu masih kuliah."


"Apa?? Mereka hanya karyawan kita? Sungguh rendah sekali selera Leo. Jangan biarkan mereka bersama. Bila perlu pecat mereka berdua."


"Tapi Tante, itu diluar pekerjaanku. Hanya Leo dan direktur yang bisa melakukannya. Itupun kalau mereka tidak ada kesalahan tidak bisa asal pecat."


"Tidak bisa dipecat, dipindahkan ke daerah lain. Asal mereka tidak bertemu."


"Akan ku coba memberitahukan Leo."


"Pergilah cari tahu ke mana mereka. Bawa pulang putraku ke rumah utama."


"Iya Tante."


Di tengah perjalanan, Leo berhenti. Dari tadi hatinya tidak enak. Takut Dhira tersinggung dan menjauhi dirinya.


"Aku naik taksi aja. Kamu pulanglah." Dhira membuka sabuknya.


"Tunggu. Tiba tiba kepalaku pusing." Leo memencet keningnya sambil memejamkan mata. Pusing karena ulah maminya.


"Makanya kamu pulang aja. Aku bisa pulang sendiri. Aku hanya kasihan padamu."


Leo mengangkat kepalanya menatap Dhira yang disinari bias cahaya lampu jalan dan kendaraan yang lalu lalang. "Maafkan aku. Kamu dan temanmu pasti sangat tersinggung. Tapi aku tidak sama dengan orang tuaku. Aku...selalu senang dan bahagia bersamamu. Sehingga membuatku tidak bisa menahan diri untuk selalu melihatmu."


Dhira tidak menanggapi ucapan Leo. Ia hanya menatap lurus ke depan. Tiba tiba ia tersentak kaget, tangannya dipegang oleh Leo menggenggam hangat telapak tangannya dan membawanya ke dada pria itu.

__ADS_1


Dhira menarik tangannya. Tapi tidak bisa, Leo menahan dan memegangnya kuat.


__ADS_2