
"Tidak. Kamu bisa kesiangan." Dhira beralasan. Sungguh ia tidak mau semobil dengan Leo saat ini. Ia malu.
"Tidak bakalan. Aku tidak apa-apa kalau kesiangan."
"Nggak usah repot repot. Aku..." Kalimat Dhira terputus. Ia kaget tahu tahu tangannya sudah berada di genggaman Leo.
"Aku tidak merasa repot. Aku malah senang." Tatapan Leo tiba tiba tajam dan menarik tangan Dhira hingga menabrak dadanya. "Malah senang bila kamu mau merepotkan ku."
Dhira melengos. Bukan tidak percaya tapi masih dikerubuti rasa malu.
"Aku serius. Dan mulai sekarang apapun yang kamu butuhkan, jangan sungkan, bicarakan denganku. Aku tidak akan membiarkan mu meminta bantuan atau merepotkan orang lain. Itulah artinya kita sudah saling kenal bahkan dekat."
Dhira menatap Leo tanpa berkedip. Otaknya tidak bisa mencerna maksud Leo. Ia hanya mendengar detak jantungnya sendiri yang lama lama berdetak cepat. Apalagi dengan tatapan Leo yang begitu dekat bahkan ia bisa mencium aroma mint dari mulutnya.
Dup dup dup suara jantungnya membuatnya malah tidak fokus.
"Maukah kamu ku pindahkan ke lantai dua puluh?"
"Hah? Kemana?" Tanyanya masih dengan ekspresi bingung.
"Biar kamu lebih dekat denganku. Kita bekerja di lantai yang sama. Atau sekretaris ku aja."
Dhira menggeleng cepat. "Jangan! Itu bisa mengundang salah paham orang orang di kantor. Aku senang dan betah kok bersama Bu Faris."
Leo hanya menatap ke mata Dhira. "baiklah. Tapi suatu saat kamu pasti akan naik ke lantai dua puluh. Entah tiga bulan lima atau setahun lagi." Leo melepas tangan Dhira. "Hayo. Sudah jam enam dua puluh.
Dhira tidak bisa menolak lagi. Ia naik ke mobil. Yang dipikirkannya saat ini adalah jangan terlambat masuk kantor. Setengah jam kemudian mereka sudah meninggalkan rumah Dhira menuju kantor.
Sambil menyetir, Leo memeriksa ponselnya. Sejak semalam ia tidak memeriksa berita apa saja yang masuk ke sana. Begitu banyak pesan dan panggilan tak terjawab. Pertama diperiksanya panggilan tak terjawab. Siapa yang meneleponnya hingga hingga beratus kali. Nama mami, papi, Rendra dan nomor kepala pelayan yang tertera. Setiap nama melakukan panggilan berpuluh kali. Merasa ada yang janggal, segera di teleponnya nomor maminya. Tersambung tapi tidak dijawab. Begitu juga dengan papinya. Merasa diabaikan, Leo beralih memeriksa pesan.
Ciiittttt...
Tiba tiba suara rem mobil berdecit karena Leo menginjaknya dengan tiba tiba. Bahkan mereka berdua sampai terlempar ke depan.
"Ada apa?" Tanya Dhira. Wajahnya pucat karena terkejut. Matanya menatap heran campur takut.
"Nayla..." Ucapnya dengan suara bergetar. Bahkan menangis tertahan.
"Ada apa? Sebaiknya minggirin dulu mobilnya, itu yang dibelakang ribut minta jalan." Suara klakson bersahutan menyatakan protes karena Leo menyebabkan jalan macet.
Bukannya minggir ke tepi, Leo malah melaju dengan kecepatan tinggi sambil menangis. Suaranya bahkan hampir terdengar terisak dengan air mata yang bercucuran. Entah karena penglihatannya kabur atau pikirannya kalut, Leo sampai hampir menabrak mobil di depannya.
Menyadari itu, Dhira meminta agar berpindah duduk. Ia harus menggantikan Leo menyetir kalau tidak, bahaya akan menghampiri mereka.
Dhira memacu mobil dengan lugas dan cepat setelah Leo mengatakan alamat tujuan mereka.
Ingin bertanya ada apa, tapi melihat wajah sedih dan tangisan Leo Dhira menahan diri. Hingga mereka tiba kediaman Atmaja.
Terlihat sepanjang pinggir jalan banyak mobil dan orang berpakaian serba hitam. Melihat ada kain kuning yang berkibar di sisi jalan, Dhira kini mengerti kalau keluarga Leo sedang berduka.
Tidak memperdulikan apapun lagi, Leo berhambur memasuki rumahnya. Dhira yang kebetulan menggunakan pakaian agak gelap memutuskan untuk turun dan akan melihat sebentar keluarga duka, baru pergi ke kantor.
Suara tangisan histeris terdengar dari dalam rumah. Bukan hanya suara wanita tapi juga terdengar suara lelaki. Dhira merasa tegang dan sekujur tubuhnya meremang mendengar ratapan itu. Bukan hanya tangisan saja yang memasuki gendang telinganya tapi juga amarah dari setiap yang menangis. Ia menduga sepertinya mereka tidak rela mengalami duka ini.
Ia maju selangkah demi selangkah hingga mencapai pintu. Merasa berat untuk masuk, ia hanya mendongak ke dalam dan mengintip ke arah dalam.
__ADS_1
Di tengah ruangan itu, terbujur sebuah peti yang dikelilingi oleh orang orang. Di bagian ujung peti terdapat karangan bunga dan sebuah foto berukuran besar dengan nama Nayla Mutiara berusia dua puluh enam tahun. Leo setengah membungkuk berpegangan di tepi peti dengan pundak dan punggung bergetar. Sedangkan seorang wanita yang berwajah cantik meraung sambil memukuli punggung Leo. Di samping wanita itu berdiri seorang pria seumuran yang berusaha menenangkan wanita itu.
Semua orang di ruangan itu menitikkan air mata terisak terbawa arus kesedihan yang menyelubungi mereka semua. Bahkan Dhira sendiri tak kuasa menahan air matanya. Sedih mengingat cerita Leo mengenai Nayla yang sangat menderita baik fisik maupun psikis. Setelah bertarung dengan kisah hidupnya akhirnya menyerah dan tidak bertahan lagi. Harus pergi ke tempat yang sangat jauh yang tidak bisa dikunjungi oleh orang hidup lagi. Itulah suratan takdir yang harus dijalani seorang Nayla.
Mengingat dirinya harus ke kantor, Dhira mundur. Pelan pelan ia melewati pekarangan menuju gerbang dan menunggu ojek pesanannya.
***
Sore harinya, selesai penguburan keributan terjadi. Meli sangat marah pada putranya. Menyesali keputusan Leo untuk tidak melihat Nayla lagi. Itu sungguh dilakukannya hingga Nayla menghembuskan nafas terakhir.
"Itu semua karena mu! Putriku sudah tiada!" Meli meraung sambil terus memukuli Leo.
"Mi, sudah. Ini sudah takdir. Nyawa seseorang itu sudah ditentukan. Itu bukan karena Leo." Rudy menenangkan istrinya yang masih syok.
"Tidak. Itu semua gara gara dia. Setelah Nayla sadar, semangat hidupnya hilang karena Leo tidak menjenguknya sama sekali."
Leo yang bagai orang bodoh hanya berdiri dengan tubuh linglung. Tidak bertenaga dan dalam hatinya juga sangat menyesal atas apa yang terjadi. Benarkah karena dirinya semua ini terjadi?
"Jangan menyalahkan putra kita Mi. Seakan kamu menuduhnya telah membunuhnya." Ucap Rudy.
"Iya. Nayla sangat tersiksa karena kelakuannya. Coba dia mau mendengar permintaan Nayla mungkin putri kita masih hidup!!! Haaaaa...aaaa...." Meli menangis histeris.
"Sudah! Jangan bahas ini lagi!" Bentak Rudy. Yang sudah terjadi tidak bisa dirubah lagi. Setidaknya kita masih memiliki seorang putra. Sadar Mi." Rudy memeluk Meli.
"Dia tidak merasakan bagaimana kehilangan seorang putri! Kamu keterlaluan Leo!" Teriak Meli.
"Mami keberatan kehilangan putri yang memang ditakdirkan meninggal. Tapi tidak dengan adik kandungku yang entah kalian kemanakan! Kalian hanya merasa diri kalianlah yang paling benar. Ya sudah,.kalau aku yang bersalah. Hukum aku! Atau usir atau jual seperti anak perempuan kalian!" Leo tidak bisa menahan diri lagi. Ia tahu yang ia katakan pasti akan menyakiti orang tuanya. Tapi diungkapkannya juga karena sudah mencokol di hatinya selama ini.
"Leo!!!" Meli berteriak dengan mata melotot. "Kau keterlaluan!"
Pranggg
Sebuah vas bunga mahal hancur membentur lantai tepat ditempat Leo berdiri. Meli melempar vas itu. "Tutup mulutmu itu! Haruskah seluruh tiang rumah ini hancur agar kamu diam!!!" Sekali lagi Meli melempar lampu hias ke arah Leo. Untung Leo menghindar. Kalau tidak benda itu pasti mengenai dadanya.
"Mi, jangan melukai anak kita. Hanya dia yang kita punya sekarang." Rudy melerai istrinya. Hatinya sakit bila melihat putra satu-satunya dimarahi apalagi disakiti.
"Makin lama dia makin kurang ajar pada kita. Seolah olah kita sengaja membuat kehidupan kita seperti ini. Usianya bukan lagi anak anak. Harusnya dia bisa mengerti kita. Dialah satu satunya yang harus mengerti kita!" Meli bahkan menangis. "Setiap orang tua melakukan apapun untuk melindungi keluarganya. Itu yang kami lakukan. Kami melindungi mu!" Tunjuk Meli pada Leo. "Juga melindungi keluarga ini. Melindungi semua milik kita. Demi keselamatan kita semua, demi hidup kita aku melakukan ini. Tapi apa yang kamu katakan?
"Aku tidak mengerti apapun. Karena semua hanya ada dalam pikiran dan hati Papi sama Mami. Entah rahasia apa yang kalian simpan hingga membawa kesengsaraan bagi kita."
"Pergi!!! Pergi dari rumah ini!" Teriak Meli lebih beringas. Mata dan seluruh wajahnya memerah. Bahkan matanya terlihat berair dengan sorot mengerikan. Emosinya bahkan sudah melebihi ubun ubun di kepalanya.
Takut maminya terkena jantung atau stroke Leo memilih mundur. Tanpa mengatakan apapun ia angkat kaki. Masih sempat terdengar suara tangisan maminya yang makin kencang saat ia pergi.
Selama seminggu sepeninggal Nayla, Leo tidak ke kantor. Ia mengurung diri di rumah. Malas melakukan apapun. Selain masih berkabung, ia juga kesal pada orang tuanya.
Selama empat kali juga Dhira mendatangai rumah Leo setiap sore hari untuk melanjutkan latihan bela diri yang telah mereka sepakati. Namun, gadis itu hanya sampai batas teras rumah. Tidak bisa masuk karena pintu terkunci. Di ketuk maupun membunyikan bel tetap tidak ada yang membuka pintu untuknya. Pikirnya, Leo mungkin sedang berada di rumah utama.
Pagi ini Dhira terpaksa ia mengirim pesan pada Leo menanyakan kabarnya. Ia sedikit khawatir karena orang orang kantor sedang hangat membicarakan keluarga Leo. Teman-temannya bergunjing mengatakan keluarga Leo sedang tidak baik-baik saja.
Setengah jam ia menunggu balasan dari Leo, tak kunjung muncul juga. Ia mendesah berat dan merasa terganggu. Tidak bisa bersabar lagi ia menelepon nomor Leo. Tersambung tapi tidak diangkat.
"Hum...di chat di baca tapi tidak di balas. Di telpon masuk tapi tidak di jawab. Entah ada apa dengannya."
"Ngapain juga aku pusing mikirin itu. Dia bukan anak kecil lagi. Pasti bisa mengurus dirinya sendiri."
__ADS_1
Dhira berbicara terus sambil memeriksa jendela dan lampu yang belum dimatikan. Kemudian mengunci rumahnya.
"Hah astaga!!" Dhira terlonjak saat berbalik mendapati Leo berdiri begitu dekat dengannya. "Leo? Sejak kapan kamu ada di sini?"
"Barusan."
"Ngapain ke sini? Ini sudah waktunya berangkat kerja."
"Temani aku."
"Kemana?"
"Nanti juga kamu tahu."
"Tapi, ini sudah jam tujuh. Aku bisa terlambat ke kantor."
"Tolonglah. Aku butuh teman kesana. Masalah kantor serahkan padaku."
"Yah udah." Dhira tidak tega ngotot melihat raut wajah Leo yang sendu.
"Kamu bawa mobil."
Leo ternyata pergi berziarah ke makam Nayla. Di pusara yang tanahnya masih segar Leo kembali tersedu. Ia masih merasa bersalah atas kepergian Nayla. "Maafkan aku Nayla. Istirahatlah dengan tenang. Doa terbaik kami semua untukmu."
Selesai berziarah, mereka pergi meninggalkan area pemakaman. Dengan kepala tertunduk mereka berdua berjalan menekuri ujung sepatu masing masing.
Tiba tiba dua orang lelaki menghampiri mereka. Wajah mereka tidak terlalu terlihat jelas karena janggut dan kumis mereka yang terlalu panjang dan hampir menutupi sebagian pipi. Hanya menampakkan hidung dan mata.
Leo dan Dhira berhenti. Mata mereka menatap tajam dengan kejelian terlatih menilai dua pria di depan mereka.
"Bagaiman rasanya kehilangan?" Tanya salah satunya.
"Siapa kalian?" Tanya Leo dengan suara ditekan.
"Tidak penting kami siapa. Kami datang hanya memastikan apakah kalian sungguh menikmati kemalangan yang terjadi." Pria bertubuh lebih tinggi berputar mengintari Leo dengan tatapan benci. "Beritahukan pada kedua orang tuamu, jangan lupa batas yang telah ditetapkan, atau kemalangan ini tidak akan berhenti."
Leo menarik leher pria yang barusan berbicara dengan kasar. "Siapa kamu mengatakan itu pada kami!"
"Tanyakan pada ibumu." Jawab pria itu dengan wajah penuh ejekan. "Singkirkan tanganmu atau kamu pulang dari sini tanpa tangan!" Kecam pria itu dengan mata memancarkan kemarahan.
Bukannya melepas pria itu Leo malah meninju wajahnya dengan sangat telak hingga darah mengucur dari dua lobang hidungnya. Melihat itu pria satunya bergerak cepat membalas Leo. Tapi dengan sigap, Dhira menghadangnya dengan tendangan.
Keadaan makin tegang. Pria yang hidungnya berdarah, balik meninju Leo tepat di pipi Leo. Melihat itu Dhira bergerak lebih cepat menendang pria itu sambil meninju pria di hadapannya.
Dua pria berjanggut itu berdiri dan mempersiapkan diri dengan kuda kuda.
Begitu dengan Dhira ia memasang kaki dan tangannya bersiap menyerang dan menangkis dan membuat Leo tepat dibelakangnya. Kedua matanya menatap lawan dengan jeli sembari memperhitungkan pukulan yang bisa menghantam kedua lelaki itu sekaligus. Hanya sekedip Dhira bergerak duluan menyerang. Dua tangan dan kakinya bergerak cepat menghantam dua lelaki itu.
Ternyata dua pria itu cukup terlatih. Pukulan Dhira seperti tidak terlalu berpengaruh pada mereka.
"Kami datang bukan untuk bertarung. Hanya mengingatkan kalian agar tahu diri. Hal-hal mengerikan yang lebih parah bisa terjadi kalau orang tuamu tidak menepati janjinya."
Leo tidak terima diancam. Ia mendorong pria itu, menarik kerah bajunya. "Apa maksudmu? Janji apa?"
"Cihhh!" Pria itu meludah ke tanah. "Apa kau sungguh tidak tahu, ibumu seorang pendosa besar! Ingatkan ibumu itu! Kalau tidak kalian semua akan hancur!"
__ADS_1
"Apa yang kau bicarakan? Katakan dengan jelas!" Leo mendorong pria itu dan melepaskan tangannya dari lehernya.