Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Kisah Robert dan Araysa 2


__ADS_3

"Bagaimana baiknya menurutmu. Yang penting bila ada masalah kamu harus bicara dengan ku. Jangan pernah berpikir pergi dariku. Aku bisa membakar dunia ini kalau kamu berani." Bukan hanya nadanya yang penuh ancaman, tapi wajahnya juga nampak begitu angker. Mungkin karena Araysa sudah sering melihatnya sehingga baginya itu tidak lagi menakutkan.


"Tidak mungkin aku pergi. Aku yang paling rugi." Sungut Araysa.


"Hehe, iya. Tapi tetap aku yang rugi kau kamu meninggalkanku. Hatiku akan hancur tanpamu. Intinya mari saling menjaga cinta kita." Robert mencium kepala Araysa beberapa kali sambil menghirup aroma wangi yang selalu membuat dadanya berdebar.


Begitulah sifat Robert. Meski ia mudah marah dan galak, ia adalah pria penyayang yang selalu konsisten. Tidak pernah menyepelekan kesalahannya dan tidak malu mengakuinya pada Araysa. Mungkin inilah yang membuat Araysa sangat mencintainya. Daya tariknya bukan hanya dari wajah dan penampilan, tapi hatinya yang bersih.


Sejak saat itu, Robert semakin mencintai Araysa. Semua perhatiannya tercurah selalu pada gadis itu. Tak pernah lupa untuk bertelepon walau hanya sekedar menyuruh makan dan beristirahat. Setiap ada waktu ia selalu menemuinya dengan segala bawaan makanan. Membawanya berbelanja dan memanjakannya dengan pakaian. Ia juga tidak pernah lupa dengan janjinya untuk tidak mengulangi perbuatan tercela itu lagi.


Melihat keintiman dua orang itu, membuat bara api di dada Meli makin berkobar. Segala usaha dilakukannya untuk menggangu hubungan mereka. Namun karena keteguhan pendirian Robert usahanya tidak pernah berhasil.


"Kurang ajar si Araysa ini! Dia makin berani mengolok ku! Mulutnya senyum senyum sambil menggandeng tangan Robert! Sungguh gadis tidak tahu diri!" Meli lagi lagi berteriak menumpahkan amarahnya. Ia makin benci melihat Araysa yang makin berani bermanja-manja pada Robert. Padahal sebelumnya gadis itu malu malu dan takut bila dihadapan umum.


Tidak ada lagi yang bisa dilakukannya ia pun mengadu pada Abirama. Pengurus taman di rumahnya.


"Pak Abi, apakah pekerjaanmu sudah selesai?" Meli berdiri dengan gaya sombong. Biasanya Abi pulang setiap jam satu. Tapi ini masih pukul sepuluh pria itu sudah bersiap pulang.


"Sudah Non. Hari ini ulang tahun Araysa. Saya sudah pamit ke tuan Hardi, dan diperbolehkan cepat pulang." Hardi adalah ayah Meli.


"Ouh..." Meli berjalan mengelilingi Abi. Kedua matanya menatap lelaki itu dengan sinis. "Araysa adalah putri kebanggan mu. Anak satu satunya yang kamu miliki. Satu-sagunya keluargamu. Pastinya kamu sangat menyayanginya, bukan begitu?!"


"Iya. Makanya saya bekerja dengan semangat pagi bekerja di sini, malam bekerja di pabrik Pak Hardi. Demi masa depan Araysa. Saya ingin, dia menjadi orang sukses. Agar nantinya hidupnya tidak susah seperti saya." Jawab Abi dengan kepala tertunduk. Hatinya bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba nona muda ini berbicara padanya. Biasanya Meli tidak pernah menganggapnya. Walau berpapasan atau bertemu di manapun, gadis itu selalu cuek dan tidak pernah peduli.


"Aku bangga denganmu. Seorang ayah yang tak kenal lelah demi kehidupan anaknya. Tapi, sayangnya..." Meli tidak melanjutkan perkataanya. "Ah begini, apakah kamu pernah bertanya cita cita Araysa itu apa?"


Abi mengerjap. Ia sedikit bingung sedang sikap Meli. "Katanya ia ingin menjadi seorang terpelajar dengan ijazah yang tinggi biar bisa mencari perkejaan yang bagus nantinya. Makanya saya harus bisa menguliahkannya menjadi seorang sarjana."


"Hem. Itu cita cita yang bagus. Tapi, apa mungkin dia bisa memenuhi harapanmu itu? Sekarang saja dia masih kelas dua sekolah menengah atas sudah sibuk pacaran. Aku lho yang sudah usia dua puluh tahun, masih dilarang papi pacaran yang model serius."


"Ahhh...kalau hanya sekedar berteman dan mengenal lelaki itu wajar Non. Saya selalu menjaganya kok."

__ADS_1


"Apa kamu yakin? Aku yang tiap hari melihat tindakannya di luar sana. Anakmu itu sangat liar dan ganjen. Kamu kenal dengan Robert? Pria tampan anak dari relasi papi."


"Haaaa...oh itu. Den Robert. Sahabat non Meli itu. Iya saya kenal. Walau hanya kenal rupa. Kenapa dengannya?"


"Araysa tergila gila padanya. Masa kamu nggak tahu?"


"Tidak mungkin. Itu paling hanya mengagumi. Dia mana berani mendekati den Robert. Araysa masih anak ingusan. Sedangkan den Robert sudah kuliah tingkat yang sama dengan Nona."


"Aku tidak salah. Mereka sungguh berpacaran. Kamu pikir setiap hari aku mengajak Araysa main sungguhan denganku? Tidak. Aku hanya alatnya agar bisa bersama Robert. Mereka sudah...em...pacaran seperti orang dewasa. Anakmu bukan lagi anak polos seperti yang kamu pikirkan. Hati hati saja besok besok anak mu tiba-tiba mengandung."


"Tidak mungkin. Araysa masih kecil. Nona pasti salah paham."


"Ck. Tidak percaya? Mereka sudah sering menginap bersama. Main ke luar kota setiap malam minggu. Menurutmu apa yang mereka lakukan saat berdua saja di mobil atau di tempat penginapan. Seperti apartemen dan hotel. Aku hanya ingin mengingatkan mu agar menjaga Araysa baik baik. Aku sudah sering menasehatinya tapi dia malah marah dan mengatakan aku iri padanya. Padahal aku menganggapnya adik makanya ku nasehati." Meli berhenti sebentar lalu melanjutkan lagi "seandainya kamu lebih jeli, pasti menyadari perubahan Araysa semenjak setengah tahun belakangan. Apalagi dalam sebulan ini. Dia menggunakan pakaian baru yang bermerek. Ponsel baru, uang banyak dan barang mewah lainnya. Coba periksa, bisa saja uangnya lebih banyak dari pada yang kamu miliki. Kalau dia tidak merelakan sesuatu yang berharga dari dirinya, apa ada yang mau memberinya semua kemewahan itu secara gratis? Coba pikirkan. Apa aku mengada-ngada."


Wajah Abi langsung murung. Kekhawatiran dan kemarahan bercokol dihatinya. Ia tidak menyangka anak gadisnya yang sangat dipercayainya ternyata sudah jauh dari ajaran dan nasehatnya. Kekecewaan menderanya hingga merasa patah semangat. Dengan kaki lunglai ia meninggalkan Meli, pulang dengan hati retak.


Meli melebarkan senyumnya. Ia yakin usahanya kali ini pasti mempan. Ia tinggal menunggu besok apakah Araysa masih bernyali berada di samping Robert.


Setelah membuka sepatunya ia masuk dengan wajah riang. Ia tahu ayahnya sudah di rumah karena pintu tidak terkunci.


"Ayah..." Araysa melompat mengageti Abi.


Abi bergeming. Ia hanya menundukkan kepalanya ke atas meja kayu berlapis plastik bening. Padahal biasanya ia akan selalu meladeni kejahilan putrinya.


"Ayah? Ada apa? Kenapa ayah terlihat murung?" Araysa langsung merasakan perubahan sikap ayahnya.


Abi hanya menghela nafas panjang. Terlihat urat urat di tangan dan wajahnya seperti hidup. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Araysa dengan tatapan tajam.


Araysa tergagap. Ia belum pernah melihat wajah Abi seperti ini. Dalam hati ia bertanya tanya ada apa. Ia mundur beberapa langkah. Wajahnya langsung berubah redup.


Abi mengambil sesuatu dari bawah meja. Melemparnya ke atas meja dengan sangat keras. Bahkan suara keras itu membuat Araysa terlonjak kaget. "Ini milik siapa?" Teriak Abi. Celana jeans, kaos, kemeja, gaun semua masih baru. Ponsel Nokia yang berkamera, aksesoris cantik, sepatu hingga tas. Dan satu lagi, sebuah dompet cantik yang sudah terbuka dan beberapa lembar uang seratus ribuan dan lima puluhan berhamburan keluar.

__ADS_1


Wajah Araysa langsung pucat. Kaki dan tangannya bergetar. Ketakutan yang sangat dalam langsung terlihat dari wajahnya. "i-itu..." Ia menelan ludahnya beberapa kali. Tiba tiba saja lidahnya kelu dan kedua bibirnya bergetar hebat.


"Katakan! Atau ku bunuh orang yang menaruh barang itu di rumah ini!" Abi menggebrak meja hingga beberapa barang di atasnya berjatuhan.


"Mi-milikku Ayah." Suara Araysa pelan dan tiba tiba ia merasa sesak. Rasanya begitu sulit menghirup udara ataupun mengeluarkannya dari hidungnya.


"Milikmu? Dari mana kamu mencuri itu? Aku tidak pernah memberimu uang sebanyak itu!" Kali ini Abi menggulingkan meja hingga ambruk. Suara keras menghantam lantai semen membuat Araysa terjatuh ke lantai dengan suara tangisnya yang pecah.


"I-iya. Aku tidak mencuri Ayah. Itu di berikan seseorang padaku." Tangis Araysa makin keras.


"Oh iya? Siapa yang berbaik hati memberikan itu padamu, hah?!" Tanpa sadar tangan Abi melayang ke pipi Araysa. "Jawab! Siapa!"


"Hu hu hu...Ro-Robert. Dia pacar aku."


Plaaakkk!


Tamparan kedua mengenai pipi Araysa. "Begitu rendahnya kamu! Berani kamu menjual diri! Kamu anggap apa aku ini? Apa yang kurang ku berikan padamu? Kenapa kamu melakukan ini?" Abi begitu histeris. Di matanya putrinya begitu kotor dan memalukan. "Aku mati-matian bekerja untuk mu! Siang malam tak kenal lelah mencari uang demi mu. Aku rela ke kota ini demi menjagamu! Bukan tidak bisa aku hidup enak di kampung ku walau bertani. Tapi demi mu aku meninggalkan tanah ku itu. Aku tidak tega membiarkanmu di kota ini sendirian. Aku takut terjadi hal buruk padamu. Tapi justru kamu sendirilah yang menciptakan keburukan itu! Dasar anak bodoh! Anak tidak tahu diri!" Abi memukul semua barang barang di ruangan itu. Piring piring gelas banyak yang pecah.


Abi begitu kecewa hingga emosinya meluap tak tertahankan lagi. Apalagi mengingat ucapan Meli yang mengatakan Araysa sudah sering menginap bersama dengan Robert. Dirinya sebagai orang dewasa sangat memahami situasi seperti itu. Sepasang muda mudi yang pergi bersama dan menginap bersama, tidak mungkin tidak melakukan hal buruk.


Sungguh ia tidak menyangka putrinya begitu berani dan menjadi gadis liar yang sanggup menginap dengan lelaki dan mendapatkan semua kemewahan barang-barang itu.


"Ayahhhh aaaa...aaa...hiks...maafkan aku. Aku tidak melakukan itu dengan sengaja mencari barang barang ini. Itu semua pemberian Robert. Aku tidak melakukan apapun." Araysa memeluk ayahnya dari belakang. "Aku bukan seperti itu." Tangis Araysa begitu pilu.


Abi berhenti dari amukannya. Ia berdiri mulai mendengarkan diri. "Jadi, benar kamu pacaran dengan Robert?" Tanyanya.


"Iya. Aku sudah berkali kali menolaknya. Tapi dia tidak mau mendengarkan ku. Dia terus mendekatiku dengan semua barang barang itu. Aku tidak pernah memakainya. Karena aku merasa aku tidak pantas."


"Jangan bohong kamu! Terus ngapain kalian sampai ke luar kota. Menginap bersama. Jawab yang jujur!" Teriak Abi.


"Ke luar kota? Menginap?" Wajah Araysa langsung pucat pasi. Ia sangat takut bila ayahnya tahu apa yang sudah terjadi padanya. "Oh itu, waktu masih PKL. Waktu itu aku juga sudah permisi dengan Ayah. Itu berkaitan dengan pekerjaan dan pelajaran waktu itu. Hanya dua kali aku ke luar kota. Itupun bukan hanya kami berdua. Kami berkelompok."

__ADS_1


__ADS_2