
Sudah hampir dua Minggu ia tidak masuk kuliah. Menunggu papinya sedikit melembut dan mengijinkan persahabatannya. Ia merasa dunianya sepi tanpa kedua gadis itu.
Begitu mendapat kabar kurang enak dari Arga, ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak perduli pada Dhira.
Tapi sayangnya usahanya tidak menghasilkan apapun. Pikirannya kini kalut, harus mencari Dhira kemana lagi. Setelah berkeliling, ia memutuskan mendatangi rumah Dhira.
***
Siang harinya,
Di apartemen tempat tinggal Robert. Lelaki itu kini jarang keluar. Ia hanya memantau semua usahanya lewat laptop dari hasil laporan para anak buahnya. Tidak ada kendala apapun membuatnya lebih santai.
Apalagi setelah tahu dari Jhon, Ara sudah tidak lagi bertemu dengan dua sahabat yang diagung-agungkannya itu. Walaupun mogok kuliah. Itu bukan persoalan baginya. Itu bisa diurus oleh Jhon nantinya setelah putrinya itu kembali masuk kampus.
"Jhon, nanti setelah pulang kerja antar aku ke pantai. Mumpung tenang begini, aku ingin menghabiskan waktu di tempat kekasihku." Seperti biasa lewat ponselnya ia memerintah Jhon sesuai keinginannya.
"Baik Pak. Sekitar jam berapa?"
"Jam enam gak masalah. Tapi pastikan Ara aman di rumah."
"Baik Pak. Ara baik-baik saja. Hanya saja belum mau berangkat kuliah."
"Biarkan aja. Nanti juga dia bosan. Setelah itu pasti ke kampus lagi."
Jam enam seperti yang dikatakan Robert, Jhon sudah menjemput bosnya dan bersiap berangkat.
Malam itu, sangat dingin. Tapi Robert seakan tidak merasakan hawa menusuk dinginnya malam. Lelaki itu masih setia duduk di pasir memandangi gelapnya malam. Baru tiba tadi, ia sudah berenang ke dalam lautan sembari mengajak kekasihnya berbicara. Setelah lelah ia berganti pakaian di mobil dan duduk menatap lautan lepas yang gelap.
Untungnya malam hari, sehingga tidak ada orang melihat. Mungkin orang akan mengatainya gila karena mengajak air asin itu terus berbicara.
Sedangkan Jhon duduk di dalam tenda kecil yang sudah dipersiapkannya sebelumnya. Ia sudah pengalaman, bila bosnya ke pantai saat hari sudah malam, pasti tidak akan pulang pagi. Mereka pasti akan bermalam di sana.
"Haaaee...dingin." Jhon membetulkan posisi jaketnya agar terasa lebih hangat. Jarum jam sudah menunjukan angka tiga, namun bosnya itu belum juga ada perintah pulang.
"Kasihan melihat si bos. Dia begitu meni
cintai wanita kekasihnya itu. Sayang sekali wanita itu sudah meninggal."
Dari pintu tendanya bisa dilihatnya bosnya yang terbang bersama angannya nun jauh.
Robert duduk di atas bumper mobil sambil merokok. Dihisapnya pangkal rokok dalam-dalam dan membuang asapnya dengan keras. Sesekali ia menatap langit yang gelap dan pekat.
Terkadang ia bisa juga mengalami hal menyenangkan saat malam begini. Tidak selamanya gelap gulita. Terkadang saat cuaca cerah ia bisa melihat bintang dan bulan di langit. Sambil tidur diatas atap mobil ia akan menikmati indahnya angkasa.
Ia akan berdoa agar tidur nyenyak seperti malam ini dan meminta agar Araysa kekasihnya datang menemuinya lewat mimpi.
Namun, hingga pagi harinya ia terbangun, mimpi yang diinginkan nya itu tidak terwujud. Ia hanya tidur nyenyak dan tenang.
Matahari terbit dari ujung laut. Walau semalam mendung, tapi pagi ini matahari terbit cerah dan memberikan sinar hangatnya.
Robert berlari-lagi di pantai sambil menggerak-gerakkan tangan dan kakinya seperti berolah raga.
Jhon juga begitu, tidak dilewatkannya kesempatan indah ini. Ia juga melakukan gerak olahraga di tepi pantai sambil menikmati indahnya hangatnya sinar matahari.
Satu persatu tempat itu mulai ramai oleh pengunjung. Rata-rata dari mereka adalah orang tua laki-laki dan wanita yang melakukan olah raga juga.
Robert senang melihat tempat itu ramai oleh pengunjung. Dengan berdatangannya orang ke pantai itu, tidak akan membuat kekasihnya kesepian.
Pukul tujuh lewat tiga puluh, Robert mengajak Jhon pulang.
Dengan segar bugar Jhon mulai menyetir apalagi semua kaca mobil terbuka sehingga udara terasa segar.
Mobil melaju pelan-pelan karena orang sudah mulai ramai.
Baru melaju beberapa meter, perhatian mereka teralih dengan kerumunan orang-orang yang terlihat panik.
Jhon lebih memelankan laju mobil dan melihat keluar.
Begitu juga dengan Robert. Ia yang duduk tepat dibelakang Jhon bisa melihat keributan dari jendela yang terbuka.
Mobil sudah menjauh meninggalkan kerumunan yang makin banyak di datangi orang.
"Mundurkan mobilnya!" Tiba tiba Robert penasaran dengan yang terjadi.
Jhon mundur pelan-pelan.
"Turunlah dan lihat ada apa disana!"
Jhon turun dan menyeruak kerumunan orang.
__ADS_1
"Hei Nona! Bangun! Apakah kamu bisa mendengar?"
Seorang ibu-ibu sedang membangunkan seseorang yang tertidur di atas bebatuan.
"Dia sepertinya habis bunuh diri, tapi tidak mati!" Cektuk salah satu pria.
"Bukan. Dia lho tidak kenapa-napa. Dia sepertinya hanya pingsan!" Bantah ibu yang sedang mencoba membangunkannya. "Dia demam tinggi!" Ucapnya wanita itu lagi.
"Andhira? Iya itu Dhira sahabat Ara! Kenapa dia bisa di sini? Dan dalam keadaan pingsan lagi?" Jhon segera melapor ke pada robert.
"Naiklah ayo pergi!" Ujar Robert.
"Dia dibiarkan?" Tanya Jhon.
"Biarkan aja." Suara Robert begitu ketus.
Jhon melajukan mobil. Hatinya sedikit tergugah melihat kondisi Dhira. Tapi ia tidak berani melakukan apapun.
"Mundurkan lagi mobilnya!" Ucap Robert lagi.
Jhon segera mundur dengan cepat. Ingin segera melompat membatu Dhira tapi urung karena belum ada perintah dari bosnya.
"Masukkan dia ke mobil."
Jhon langsung bergerak cepat.
"Awas ibu-ibu. Dia teman ku. Aku akan membawanya berobat!" Teriak Jhon. Ia menggendong Dhira ke pelukannya dan membawanya ke mobil.
Jhon sempat bingung akan menaruh Dhira disebelah mana. Karena Robert sudah berdiri di luar. Haruskah Dhira di tengah atau depan?
"Tidurkan dia dibelakang." Robert naik ke bagian depan tanpa berniat melihat keadaan Dhira.
Jhon menidurkan Dhira dengan hati-hati. Ia bisa merasakan tubuh Dhira yang sangat panas.
Setelah itu, ia berlari ke tempatnya dan langsung tancap gas.
"Pak, dia sepertinya sakit. Suhu badannya tinggi dan menggigil."
Robert diam.
"Apa dibawa ke rumah sakit? Atau diantar ke rumahnya?" Tanya Jhon lagi.
Setelah beberapa menit barulah ia menjawab "jangan ke rumah, nanti bertemu Ara. Bisa ribut lagi dan anak itu, makin tidak bisa dibilangin."
"Ke rumah sakit?" Tanya Jhon.
"Ribet ngurusin itu!"
"Ya udah ditaruh depan rumahnya aja."
"Ke markas aja. Berikan dia obat penurun panas. Setelah dia sadar, lepaskan dia. Ingat jangan dia tahu tempat markas kita." Itulah yang dipikirkan Robert.
"Baik, Pak."
Robert diantar Jhon sampai ke apartemen. Lalu melanjutkan perjalanan ke markas mereka.
***
Dhira mengerjap pelan-pelan. Terasa kepalanya sakit dan panas sekujur tubuhnya. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan pegal.
"Ah...kenapa kepalaku ini? Sakittt!" Keluhnya sambil berusaha duduk.
Beberapa saat ia duduk menenangkan kepalanya yang berputar. Lalu perlahan membuka matanya.
"Akh...! Kau siapa?"
Dhira berteriak melihat ada seseorang pria duduk bersender di samping ranjangnya dengan wajah ditutupi topi.
Jhon terbangun mendengar suara pekikan Dhira. Diambilnya topi dari wajahnya dan membenarkan duduknya hingga tegap.
"Kau sudah bangun?" Tanyanya dengan suara berat.
"Hah!!!" Dhira melompat dari ranjang dengan mata membulat sempurna.
"Huh, gayamu itu! Sakit aja masih berlagak hebat!"
Dhira terheran-heran melihat ada Jhon di ruangan tempatnya berada. Tiba tiba ia memeriksa semua pakaiannya dengan wajah pucat.
"Hentikan lagak mu itu! Kau terlalu konyol." Sentak Jhon mengetahui pikiran Dhira.
__ADS_1
"Kau apakan aku? Kenapa kau mengurungku di sini?" Pekik Dhira menyadari mereka ada di ruangan kamar sempit dengan ranjang kecil.
"Suaramu itu!" Jhon menggosok telinganya yang sakit.
"Jagan macem-macem kau!" Dhira memasang kuda-kuda bersiap menjalankan Jhon agar bisa bebas.
"Heh! Kalau bukan aku menolongmu dari jurang sana kau mungkin sudah mati beku disana!"
Dhira termangu. Perlahan diingatnya dirinya semalam sedang berada di tepi laut meredam kesedihannya.
"Tenanglah dulu. Duduklah dulu. kumpulkan nyawamu agar kepalamu tidak sakit lagi."
Dhira menurut. Ia duduk dengan kedua kaki menggantung di tepi ranjang.
"Aku tidak akan macem-macem. Aku hanya menolongmu. Kalau kau sudah bisa, pulanglah sekarang! Aku bukan orang kurang kerjaan mengurusi orang berandalan sepertimu!"
Dhira tidak bisa berkata-kata lagi. Kini ia memasang wajah lebih lembut. Hanya saja ia terheran mengapa Jhon yang menolongnya. Keadaan apa ini?
"Bagiamana? Apa kau sudah merasa lebih baik?"
"A...e...su-sudah. Aku baik baik aja. Aku mau pulang."
"Yah udah. Pulanglah."
Tanpa sepatah kata lagi, Dhira berdiri bersiap pergi. Tapi tiba tiba Jhon menutup kepala Dhira dengan sebuah kain tebal sehingga matanya tidak bisa melihat apapun.
"Matamu harus ditutup hingga jauh dari tempat ini." Dengan sigap Jhon mengikat tangan kaki Dhira. Diangkatnya tubuh Dhira ke bahunya dan membawanya keluar bagai membawa balok.
Ia tahu gerak gerik Dhira yang tidak terduga. Lebih baik berhati-hati dari pada kecolongan.
Mereka dibawa sebuah mobil. sekitar sejam lamanya, barulah mobil berhenti.
Kepala, tangan dan kaki Dhira dibebaskan. Kemudian Dhira di turunkan di depan perusahaan tempat nya bekerja.
Sudah banyak orang yang memasuki pelataran perusahaan karena sudah jam masuk kerja. Banyak yang memperhatikan dirinya karena penampilannya yang acak acakan. Selain pakaiannya yang sudah lusuh, rambut dan wajahnya juga menunjukkan orang yang bukan seharusnya ada di depan perusahaan apalagi masuk kantor.
Tidak ada pilihan lain lagi selain pulang ke rumah. Untuk hari ini ia juga akan absen lagi. "Kali ini aku pasti dalam masalah. Entah sudah berapa kali aku tidak masuk kerja. Rasanya sudah tidak nyaman." Keluhnya sambil mengusap wajahnya.
"Sebaiknya aku mengundurkan diri aja. Bagaimanapun sudah tidak ada kenyamanan bagiku lagi ditempat itu." Ia memutuskan mencari pekerjaan lain saja.
Setibanya di depan rumahnya, ia sangat kaget melihat ada beberapa orang di teras. Mereka adalah Leo dan yang lainnya juga ada Ara.
Sudah terlambat untuk melarikan diri. Dhira terpaksa turun karena Ara yang berteriak memanggil namanya. Padahal ia sedang malas untuk bertemu siapapun saat ini.
"Dhiraaaa!" Mereka begitu kompak menyebut namanya sambil berlari menyongsong dirinya. Hanya Leo yang berdiri di tempatnya dengan wajah tegang.
"Kamu dari mana aja? Apa kamu baik baik aja?" Vanya memeriksa tubuh Dhira.
"Ya ampun kamu demam! Dan pakaianmu lembab begini!" Ara yang memegang dahi dan pakaian Dhira.
"Tidak apa apa. Aku butuh istirahat. Tolong kalian pulang dulu." Dhira sama sekali tidak menunjukkan wajah senang. Malah sendu campur tegang.
Mereka semua tergugu. Ingin berkeras tinggal tapi melihat wajah Dhira mereka tidak ada yang berani.
"Kalian pulanglah. Aku akan di sini bersamanya." Vanya menyodorkan diri.
"Kamu juga pulang aku ingin sendiri." Tegas Dhira. Ia masuk ke rumah dan langsung menutup pintu
"Oke. Kami akan pulang. Yang penting kamu sudah kembali. Kalau ada apa apa telpon kami." Seru Ara ke pintu. Ia yang sudah paham watak Dhira yang keras, tahu tidak akan berhasil melawan kata-kata Dhira.
Mereka perlahan meninggalkan rumah Dhira. Sementara Leo masih setia menunggu di depan pintu. Ia tidak pergi seperti permintaan Dhira.
Ia sangat khawatir dengan kondisi Dhira. Saat baru melihat kekasihnya itu turun dari taksi, ia sudah menduga ada hal tak beres yang sudah terjadi. Tidak akan ditinggalkannya gadisnya itu sendirian.
Dari tempatnya duduk terdengar Dhira yang terbatuk batuk. Lalu mengerang pelan seperti orang kesakitan. Leo mendorong pintu tapi terkunci rapat.
"Andhira, bukain pintunya. Aku mau masuk. Kamu butuh perawatan." Panggil Leo sambil mengetuk pintu.
Tidak ada suara. Leo yakin Dhira sudah pindah dari ruang tamu. Tidak ada lagi suara yang terdengar dari balik pintu.
Leo teringat mereka sempat membuka semua pintu dan jendela rumah Dhira saat mencari gadis itu. Ia berlari ke samping dan memeriksa semua jendela. Tapi ternyata semua terkunci rapat. Lalu ia ke pintu belakang, dan berhasil. Pintu itu tidak terkunci. Ia segera masuk dan mencari Dhira.
Pertama ia ke kamar, namun tidak ada. Lalu ke kamar Amelia, Dhira juga tak ada di sana. Memeriksa kamar mandi tidak juga menemukannya. Kemudian ia berlari ke pintu depan. Apa mungkin gadis itu pergi lagi.
"Andhira..." Ucapnya ketika melihat Dhira duduk meringkuk di bawah jendela dengan ditutupi tirai. Gadis itu sedang menangis tertahan sehingga terlihat seperti orang mengalami sesak nafas.
Leo berlutut di depan Dhira. "Sayang ada apa? Jangan menangis seperti ini." Dada Leo sakit melihat Dhira yang seperti orang yang sangat menderita tapi dipendam sendirian.
Dipegangnya kedua bahu Dhira. "Kalau ingin menangis, menangislah. Itu akan membuatmu lega." Leo menarik bahu gadis itu ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Tangis Dhira tak terbendung lagi. Suaranya keluar disertai bahu dan punggungnya yang bergetar. Tumpah sudah tangisnya tanpa tertahan lagi. Bahkan tanpa sadar telah membenamkan wajahnya di dada Leo. Itu berlangsung hingga beberapa menit.