Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Mengunjugi Ara


__ADS_3

"Apa? Mobilku masih di sana?" Tanya Alvian tidak percaya. "Dasar manusia sombong! Sudah bangkrut masih tinggi hati. Orang sepertimu tidak pantas untuk Dhira. Sungguh kasihan gadis malang itu."


"Huh, kau saja yang tidak tahu diri. Ingin merusak hubunganku dengan Dhira. Coba saja kau jadi orang ketiga di antara kami, kau akan lebih mengenal aku dan Andhira." Sahut Leo dengan ancam.


"Peeeuhhh...lihat dirimu siapa? Kau bukan suaminya. Kenapa kau berlagak berhak?" Alvian malah terus menantang Leo.


"Kalian! Bisa berhenti nggak?!" Dhira datang dengan wajah marah.


Leo melambai pada Dhira "Sayang...aku pergi dulu ya, nanti pulangnya aku jemput." Barulah ia pergi.


Dhira hanya mendengus. Sungguh Leo bisa menjadi begitu arogan. Dan tidak ragu melaksanakan aksinya menunjukkan kepemilikannya. Walau sebenarnya ia juga suka dengan cara Leo.


Sedangkan Alvian ia hanya bisa mencebik kecil dan memandang punggung Leo dengan kesal.


"Wah, itu cowok kamu Dhi? Ganteng amat. Wuiihhh kamu pintar banget cari pacar." Salah satu wanita di sana langsung memuja ketampanan Leo.


"Bukan lagi pacar, tapi..." Alvian tidak jadi melanjutkan kalimatnya. Ia hanya menatap Dhira dengan penuh kekecewaan. Hatinya masih dongkol terhadap gadis itu.


'Untung mulutnya ngerem. Kalau tidak aku bisa malu.' Dhira lega Alvian bisa menjaga mulutnya. Mereka hanya saling menatap sebentar lalu Alvian masuk keruangan yang sama yang Dhira. Wajahnya begitu tegang dan muram.


Dhira juga masuk, lalu menutup pintu dengan pelan. Berjalan pelan ke arah meja Alvian. Lelaki itu sudah menyibukkan diri dengan laptopnya.


"Dia lelaki baik. Kami sudah pacaran setahunan." Dhira seperti mengenalkan Leo pada Alvian.


"Siapa yang nanya." Ketus Alvian.


"Dia bahkan merelakan segalanya demi mencintaiku. Banyak pengorbanan yang telah dilakukannya demi aku. Tenaga,


dan pikirannya terlalu banyak yang aku sita. Bahkan emosinya terkuras banyak."


Alvian tidak lagi menyahut. Walau matanya masih ke laptop, tapi telinganya terpasang dengan baik.


"Tapi keberuntungan tidak memihak kami. Banyak terjadi masalah yang membuat kami berdua terluka dan merasakan sakit yang dalam." Entah kenapa dirinya bisa curhat pada Alvian.


Kini Alvian menoleh. Bukan tertarik dengan cerita Dhira, tapi terkejut mendengar suara Dhira yang bergetar seperti menahan tangis.


"Hah, sudahlah. Lupakan. Kamu nggak usah khawatir. Aku akan menjemput mobil mu dan membawanya ke sini. Sorry ya membuatmu repot. Leo bukan pria brengsek. Ia hanya sedang cemburu saja sehingga berperilaku tidak menghargai mu." Dhira segera mengalihkan pembicaraan.


"Biar aku saja yang ambil." Jawab Alvian pelan. Entah kenapa ia menjadi terharu dan tidak ada keinginan mengejek Dhira lagi.


"Jangan masukkan ke hati omongan Leo barusan. Atas namanya aku minta maaf." Ucap Dhira tulus.


Alvian masih diam. Tapi wajahnya sudah sedikit bersahabat. Dalam hati kembali mengagumi cara Dhira melindungi harga diri kekasihnya. Kini ia tahu, hanya dari cara Dhira berbicara dan dari tatapannya, bahwa gadis yang diincarnya ini telah memberikan semua hatinya pada Leo.


Dhira kembali ke mejanya. Kini pikirannya kembali ke masalah pria yang menjatuhkan saputangannya. Dalam hati ia menggerutu kesal karena tidak bisa mampir ke rumah Jhon. Padahal menurutnya, bila pria itu adalah salah satu penghuni rumah Jhon maka pasti pagi pagi pria itu ada.

__ADS_1


Sorenya, sebelum waktu pulang kantor, Dhira duluan pulang. Ia tidak mau bertemu Leo. Itu hanya akan menghambat pekerjaannya.


Dhira berdiri di depan pagar halaman rumah Jhon. Dua pria menjaga pintu masuk , yang baru dilihatnya. Dua security itu, berbeda dengan yang pernah dilihatnya dulu. Dari tadi dua pria itu menatap Dhira dengan curiga.


"Hei dek, ngapain di situ?" Sapa salah seorang.


"Eh, saya mau bertemu dengan Jhon."


"Pak Jhon belum pulang kerja. Nanti saja ke sini lagi kalau sudah jam lima."


"Oh. Saya tunggu disini saja. Ini sudah jam empat, bentar lagi paling sudah datang."


"Tapi, ini cuacanya mendung sebentar lagi mungkin hujan. Kamu bisa kehujanan. Tuh lihat udah mulai gerimis."


"Aku bisa masuk ke pos itu. Gak papakan?! Kalau tidak boleh tidak masalah saya di sini kehujanan." Dhira sudah memperkirakan itu. Ia akan bersembunyi di dalam pos jaga untuk mengintip Jhon saat pulang.


"Tapi..." Pria yang lebih tua terlihat keberatan. "Kami laki laki. Apakah kau tidak takut pada kami?"


"Ah tidak. Kenapa takut? Bapak berdua itu seperti ayah bagiku. Malah kebetulan ada yang melindungi ku."


"Tapi, takut pak Jhon marah."


"Tenang aja. Aku akan mengatasinya. dia temanku."


"Jangan Nona, masalahnya, kami ini hanya pekerja di sini. Kalau ada masalah yang membuat tuan kami marah kami yang harus bertanggung jawab."


Hujan pun turun makin deras. Dua pria itu masuk ke pos. Mereka berdua saling berpandangan bingung bagaimana menyikapi tamu mereka yang mau tidak juga pergi.


Pakaian biru yang dikenakan Dhira mulai berbintik air. Dan lama lama makin banyak.


"Yah udah masuk sini! Kamu bisa sakit bila berdiri terus di sana." Ajak pria itu bersamaan.


Dhira tersenyum. Tanpa ragu ragu ia masuk dan duduk di bersama mereka. "Terimakasih Pak."


"Nih keringkan rambutmu." Salah satu pria memberikan tisu pada Dhira.


Setengah jam kemudian, sebuah mobil hitam masuk dan memberi klakson. Dua pria itu sibuk dengan pagar bahkan sampai kehujanan demi membuka pagar.


Dhira bersembunyi dengan berjongkok di balik tembok pos yang tingginya hanya sebatas perut. Dikeluarkannya cermin dari dalam tasnya dan mengarahkannya ke arah depan rumah dimana mobil sudah berhenti. Dengan seksama ia memperhatikan setiap pintu mobil itu memastikan siapa saja yang turun.


Jhon menutup pintu mobil. Ia turun dengan bibir sedikit melengkung. Ia tahu kalau Dhira ada di pos dari satpam yang berpura-pura membuka pintu mobil untuknya. "Meski kamu jungkir balik, kamu tidak tidak akan menemukan papi di rumah ini. Entah apa yang kamu pikirkan sehingga begitu bersemangat mencari papi." Dengan sengaja Jhon membuka semua pintu mobil berpura pura membersihkan karpet alas kaki di setiap bagian mobil.


Dhira menyimpan cermin. Sangat kecewa tidak melihat lelaki itu. Ia bersandar dengan pandangan kosong. 'apa mungkin Jhon tidak berbohong?'


"Dek, itu pak Jhon sudah pulang. Tunggu bentar ya, aku akan bertanya apakah beliau menerima tamu saat ini?"

__ADS_1


"Eh, saya pulang aja dulu pak. Besok ajalah di kantor. Ini pakaian saya sempat basah tadi. Nggak enak bertamu dengan keadaan kacau begini." Dhira pergi dari tempat itu.


Jhon terkekeh. Ia sudah bisa memprediksi kelakuan Dhira. Sejak semalam ia sudah memperingatkan penjaga rumah, ia sudah memberi arahan pada dua satpam itu. Menyuruh satpam itu mengikuti permainan Dhira.


Tempat tujuan Dhira kini adalah toserba Famili. Berharap menemukan pria itu di sekitarnya. Beberapa kali ia melewati tiap gang yang ada sambil memeriksa lelaki yang mirip dengan sosok serta postur tubuh yang dilihatnya itu.


"Awas saja kau Jhon kalau sengaja mempermainkan." Setelah lelah Dhira merasa hanya dibodohi.


Ia duduk di bawah tenda kecil penjual nasi goreng dan gorengan. Ia memesan nasi goreng untuk makan malam. Diliriknya layar ponselnya untuk mengetahui sudah pukul berapa.


Dari kemarin ia ingin mengunjungi Ara di rumah Rendra. Tapi enggan untuk bertemu dengannya. Selain Ara pastinya Ara marah padanya, Ara pasti minta penjelasan padanya atas tindakannya mengurung dirinya.


Ia duduk sambil menatap sapu tangan yang dibentangkannya di pahanya. Ia terbayang saat ibunya dulu menyulam kain kecil itu. Mereka sempat berdebat harus menyulam huruf apa di kain itu. Dhira protes pada ibunya selalu membuat sapu tangan dengan inisial namanya. Tapi Amelia tidak mendengarnya. Ia masih saja rajin memuatnya. Bahkan beberapa syal dan jaket sengaja di rajut Amelia dengan inisial namanya. Kegiatan ibunya baru berhenti saat ia sudah kuliah. Mungkin karena Dhira tidak seberapa suka memakainya.


Ketika ibunya sakit, ia sengaja membawa sapu tangan itu ke rumah sakit. Berpikir ibunya mungkin membutuhkannya. Tapi siapa sangka ia menemukan benda itu dari tangan orang lain. Berharap lewat sapu tangan ini, ia bisa menemukan ibunya.


"Ah...Ara! Lewat Ara aku bisa tahu siapa saja yang tinggal dirumahnya dan siapa saja yang dekat dengan Jhon. Iya, benar lewat Ara." Tiba tiba Dhira mendapat ide cemerlang. Ia yakin Jhon telah berbohong. Lewat Ara ia akan menggali informasi tentang pria itu. Tidak mungkin tanpa alasan, sapu tangan itu ada padanya.


Malam itu juga ia ke rumah Rendra. Ia selalu mendapat laporan tentang Ara yang masih mengurung diri dan tidak mau berbicara dengan siapapun.


"Dimana dia?" Dhira ke meja kasir di mana Rendra sedang duduk santai sambil menunggu para pengunjung tokonya.


"Di lantai tiga. Dia belum makan sama sekali selama dua hari ini. Ia terus menangis dan mengunci diri di dalam. Aku bisa saja membuka pintu dari luar, tapi aku takut ia makin trauma karena kejadian tempo hari."


Setelah menerima kunci dari Rendra, Dhira naik ke atas melewati tangga sebanyak dua tingkat, barulah ia tiba di depan kamar yang ditempati Ara. Dari baik pintu ia tidak mendengar apapun dari kamar. Pelan pelan ia membuka pintu dan menarik handel pintu lalu masuk ke dalam.


Diatas ranjang Ara berbaring dengan tubuh miring. Pakaiannya masih pakaian hitam yang diberikannya waktu penguburan Meli. Tidak terlihat pergerakan apapun dari gadis itu. Hanya bahunya yang terlihat naik turun menandakan ia bernafas dengan teratur.


Dhira mendekati Ara dengan duduk di tepi ranjang. Di intipnya ke wajah Ara, memastikan apakah gadis itu tidur nyenyak. Seketika hati Dhira berdenyut sakit melihat wajah pucat pasi Ara. Mata dan pipinya bengkak dan masih basah. Tanpa terasa air mata Dhira mengalir tak tertahankan. Ia begitu tega menyiksa sahabatnya yang melakukan apapun untuknya. Bahkan tidak pernah perhitungan soal apa yang telah diberikannya. Rasa menyesal menyusup ke dadanya.


Tangan Dhira terangkat mengelus kepala Ara. Rasa bersalah melilit dadanya hingga terasa sakit.


Merasa ada yang menyentuh kepalanya, Ara terbangun dan sontak melompat dari ranjang. Sepertinya ia kaget sekaligus takut. Ia memeluk dirinya erat erat dengan suara tangis pilu. "Hiks aaaaa...aaaaa...!"


"Ini aku. Jangan takut." Ujar Dhira pelan. Kini ia melihat bagian atas dress Ara yang robek dan kedua tangannya berusaha menutupinya. Rasa bersalah makin menekan dada Dhira membuat tangisnya pecah. Rasa mau meledak dari dalam dadanya tidak bisa ditahan hingga tangisnya begitu kencang dan kuat. Begitu jahatnya dirinya menyiksa anak yang tak tahu apa apa ini.


Ara menatap Dhira dengan mata kebencian. Tidak ada lagi suara tangisannya. Hanya matanya yang terus mengeluarkan air hingga membasahi wajahnya. Ia mundur dan bersender ke dinding dengan wajah yang begitu malang.


"Ara, aku mempunyai alasan untuk semua ini. Tapi aku sungguh menyesalinya. Tidak seharusnya aku membuatmu mengalami semuanya." Dhira menguatkan nyalinya untuk berbicara dengan Ara.


"Khekkk...khekkk...fhuuuukkkk..." Ara seperti cegukan karena terlalu lama menangis. Ia menggeleng pada Dhira.


"Aku tidak akan menyakitimu lagi. Maafkan aku. Aku khilaf saking bingungnya." Dhira mendekati Ara.


Ara tidak merespon. Matanya menatap Dhira tanpa berkedip. Bibir gadis itu pecah pecah mungkin mengalami dehidrasi. "Aku sudah membantumu sebisaku. Aku sudah..." Suara Ara tertahan karena tangisnya. Rasanya lidahnya tidak sanggup bicara lagi saking bencinya.

__ADS_1


"Iya. Aku tahu. Kamu sudah sangat baik padaku. Rela memberikan apapun padaku. Untuk itulah aku minta maaf." Lanjut Dhira seraya menghapus air matanya dari ke dua pipinya. Ia tahu Ara pasti membicarakan uang yang telah diberikannya pada dirinya.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan? Katakan saja! Tidak usah berpura pura padaku!" Sarkas Ara dengan wajah marah. Kini emosinya sudah bisa beralih dari kesedihan menjadi marah.


__ADS_2