
"Baiklah. Ingat jaga diri baik baik. Jangan pulang larut."
"Oke papi sayang..."
"Eits, panggil Ga!"
"Ops iya lupa..."
Robert menggeleng sambil tertawa. Sepeninggal Ara Robert langsung menelepon Jhon menyuruh asistennya itu mengawal Ara. Berjaga-jaga adalah yang terbaik sebelum sesuatu terjadi.
***
Leo baru saja selesai rapat. Setelah menyusun semua berkas di mejanya ia menghela nafas panjang, kepikiran Dhira yang selalu menghindarinya. Diambilnya ponsel dan mengubungi nomor Dhira. Terhubung tapi tidak diangkat. Wajahnya yang lelah terlihat makin kusut menggambarkan hatinya yang gundah.
Sejak malam marahnya Meli Dhira tidak lagi datang untuk melatihnya. Bahkan sepatah kata pun tidak ada dari gadis itu.
"Sepertinya aku harus menyamperi nya ke sana. Mumpung masih jam tiga. Jam kerja belum habis."
Ia pun turun satu lantai. Sesampainya di sana menjadi bingung sendiri karena Faris tidak ada ditempat. Wanita itu sedang keluar. Sempat mondar-mandir di lorong pembagian ruangan kerja, lalu memutuskan pergi. Rasanya terlalu mencolok jika harus bicara pada Dhira saat jam kerja seperti saat ini. Akhirnya masuk lift dan turun.
Para karyawan pada pulang. Berdesakan masuk ke lift memburu waktu agar lebih cepat tiba ditujuan masing masing. Vanya dan Dhira berdampingan keluar dari lift. Wajah lelah juga melingkupi wajahnya. Tidak ada obrolan atau candaan diantara mereka.
Tiba tiba sebuah tangan menarik lengan Dhira hingga kebalik pilar yang dikelilingi pot bunga besar. Karena kaget Dhira membalas menarik tangan yang memegangnya dan memuntirnya, melakukan perlawanan.
Tapi ternyata tangan yang ia kalahkan tidak lemah. Justru perlawanan yang diterimanya membuatnya berada dalam kungkungan si pemilik tangan.
"Ini aku. Aku perlu bicara denganmu." Leo berbisik di telinga Dhira.
"Kamu??" Apa yang kamu lakukan?" Dhira berontak dari lingkaran kedua tangan kekar Leo.
"Aku tidak bisa menahan diamnya kamu. Aku merindukanmu hingga menyiksaku."
"Lepaskan! Atau kita akan terlihat oleh orang orang."
"Biarin jika dengan begitu kamu mau bicara denganku."
"Haesss...ini di kantor. Lepasin!"
"Yah udah ayo pulang bareng!" Dengan santainya Leo meletakkan dagunya di pundak Dhira.
"Iya. Lepasin aku! Bisa makin runyam kalau ada yang melihatmu seperti ini."
"Kamu kok takut amat sama orang. Kita tidak melakukan hal memalukan, ngapain takut?"
"Otakmu mu itu sengklek! Iya kamu nya nggak apa-apa. Aku? Sekali salah, resikonya tinggi."
"Tenang aja. Aku tidak akan membiarkanmu mengalami hal sulit. Jika memang harus kamu lewati aku pasti akan membantumu."
"Iya. Sekarang lepaskan!"
"Oke." Perlahan Leo mengendurkan tangannya.
Dhira memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Leo. Mereka saling menatap beberapa detik tanpa suara.
"Hem! Memangnya ada apa? Kalau tidak penting aku mau pergi."
"Penting. Sangat penting malahan. Makanya kamu ikut aku biar bisa membahasnya.
__ADS_1
"Aku ada acara sore ini sama teman teman. Tuh di luar udah di jemput."
Wajah Leo langsung mengkerut kecewa. "Tolong jangan hindari aku."
"Aku tidak bisa. Mari kita kembali ke awal saat kita sebelum saling kenal. Itu yang terbaik." Tandas Dhira.
Ucapan Dhira bagai pukulan bagi Leo. Tidak meleset lagi dugaannya. Gadis ini benar benar tersinggung karena sikap maminya.
"Aku minta maaf atas nama mami. Aku tahu mami telah menyakiti perasaanmu."
"Aahh tidak juga. Aku tidak masukkan itu ke hatiku. Jadi, nggak usah dipikir berat."
Lagi lagi hati Leo serasa jatuh. Ia tahu mata tajam milik Dhira tidak sesuai dengan ucapannya. Mata itu terlihat marah dan jauh dari jangkauannya.
"Aku serius padamu. Perasaan ini tidak bisa dibendung atau disimpan. Bisakah kamu kembali seperti semula lagi? Aku benar benar kehilangan dirimu."
"Haha...bercandamu keterlaluan." Dhira tidak tahu mau bicara apa lagi sehingga menyebut Leo bercanda. "Di dengar orang kayak iya kita pernah menjalani suatu hubungan."
"Bagiku kehadiranmu dalam hidupku sama seperti aku mendapat kehidupan baru, aku sudah menempatkan dirimu di sini." Leo menarik tangan Dhira dan menempelkan di dadanya. Karena tarikan itu membuat Dhira maju dua langkah menjadi sangat dekat pada Leo.
"Hahaha...kamu pintar akting." Dhira terkekeh sengaja membuat situasi tidak serius.
Cup
Tiba tiba sebuah kecupan mampir ke bibir Dhira. Terjadilah situasi tegang diantara mereka. Sama sama terdiam dengan mata melotot.
"Ini bukan akting. Ini kenyataan yang tidak bisa kamu abaikan."
Dhira tersadar. Tiba tiba wajahnya dijalari rona merah. Ia mengerjap dengan wajah tegang.
"Ayo!" Leo menarik tangan Dhira kuat dari pilar membawanya ke parkiran tempat mobilnya berada.
Setibanya di mobil, Leo menarik Dhira kedalam pelukannya. Membenamkan wajah Dhira di ceruk lehernya. "Aku sungguh mencintaimu. Aku tidak akan melepas mu meski apapun yang terjadi."
Dhira kebingungan. Rasanya begitu mendadak hingga membuatnya tidak bisa berpikir selain menuruti Leo. Aslinya diam diam dalam hatinya terasa bahagia begitu Leo nekad menghampirinya setelah sengaja memberi jarak. Kalau boleh mengaku dirinya juga kesepian serasa ada yang kosong dalam hatinya. Tanpa sadar ia mengangkat tangannya dan memeluk punggung Leo dengan nyaman.
Merasakan ada sambutan dari Dhira membuat Leo bersorak dalam hati. Semakin dieratkan nya pelukan tangannya pada tubuh Dhira. "jangan pernah lagi menghindari ku. Aku tidak perduli entah ditempat kerja atau tempat umum lainnya aku akan memelukmu dihadapan semua orang membuktikan betapa aku cinta mu." Leo menghirup dan menciumi kepala Dhira.
Sesaat kemudian Dhira bagai tersadar, tiba tiba ia mendorong Leo dan mundur hingga mepet ke dinding mobil. "Apa yang kamu katakan? Bolak balik hanya kata itu saja."
"Hehe apa kamu tidak suka? Kalau begini, suka?" Leo menyerobot wajah Dhira dan mengecup pipinya.
"Akh! Kamu dari tadi..."
Mulut Dhira tidak bisa bicara lagi. Leo menutupnya dengan bibirnya. Membiarkan lama di sana agar Dhira bisa tenang. Merasa sudah cukup Leo menarik wajahnya. "Baru terasa sembuh ngilu di hati ini. Aku tidak bisa tanpamu."
Dhira membenarkan duduknya. Tubuhnya tegak dengan pandangan ke depan. "Jangan mengumbar cinta pada orang yang tidak mungkin bisa bersamamu." Ucapnya tanpa melihat ke arah Leo.
"Aku mengumbarnya hanya padamu. Aku akan membuat mu bersamaku. Bila perlu kita menikah secepatnya."
"Ck menikah kayak semudah mengatakannya."
"Kenapa tidak? Asal kamu setuju aku akan menikahi mu. Aku akan segera melamar mu. Biar aku atur waktu untuk berangkat ke Lampung."
Dhira menoleh. Ia melihat wajah dan ke dalam mata Leo. Diselaminya hingga yang terdalam untuk mencari kebenaran ucapan Leo.
"Menikah tidak bisa terjadi hanya dengan keputusan mu. Di sekitar mu masih ada yang lebih berhak atas mu. Restu keluarga."
__ADS_1
"Yang menikah aku bukan mereka. Yang menjalani pun aku sendiri bukan mereka. Lalu siapa yang lebih berhak memutuskan selain aku? Jika ku bilang aku mau menikahi mu maka itu akan kulakukan."
"Yakin sekali dirimu Tuan, emangnya kamu udah tanya aku setuju apa nggak?"
Leo terdiam. Ia hanya menatap Dhira dengan wajah kembali berkerut.
"Hehe...wajahmu jelek." Dhira tertawa pelan. "Aku mau turun ya, temanku nungguin."
"Kamu tidak kemana mana. Tetap bersamaku."
"Lalu bagaimana dengan acara kami?"
"Nggak tahu. Yang penting aku tidak akan membiarkanmu pergi. Sekarang mau ke rumah mu atau ke rumah ku?"
"Aku yah ke rumahku. Kamu ke rumahmu."
"Ya udah kita ke rumahku aja." Leo menyalakan mobil.
"Nggak! Aku mau pulang ke rumah ku!"
"Yah udah kita ke rumahmu. Lebih nyaman di sana. Kita akan memasak bersama. Ada bahan makanan nggak di rumahmu?"
"Nggak! Nggak boleh ke rumahku!"
"Andhira..." Leo menatap Dhira dengan tatapan memohon.
Telinga Dhira langsung terangkat naik mendengar panggilan namanya. Seminggu lebih ia tidak mendengar namanya dipanggil Leo. Sekarang terasa hatinya girang secara tiba tiba. Namun segera disadarinya. Ia tidak boleh menunjukkan sisi itu dihadapan Leo. Bagaimanapun ia tidak ada niat untuk maju ke sisi Leo. Terlalu berat menyamakan langkah dengan pria itu.
"Andhira jangan terlalu kejam padaku. Beginikah caramu membalas cintaku?"
"Leo, kita bukan anak remaja lagi yang tidak mengerti perbedaan. Kita tidak sejalur untuk menjalani hidup bersama. Aku hanya wanita biasa yang tidak memiliki sinar apapun kecuali badan ini. Apa yang kamu harapkan dariku?"
"Ssssttt...jangan katakan itu lagi. kamu itu bagai cahaya terang bagiku. Bukan hanya bersinar. Tapi kamu itu mata hatiku. Aku sudah sangat terluka selama beberapa hari ini tanpa dirimu. Mata hati ini redup tanpamu." Leo menggenggam tangan Dhira. "Siapapun tidak akan kubiarkan menghalangi hubungan kita. Meski itu orang tuaku sendiri."
"Itulah yang ku takutkan darimu. Keputusanmu mengerikan. Seakan akan orang tuamu tidak berarti bagimu."
"Bukan begitu, aku hanya ingin merajut hidupku diatas cinta yang kumiliki. Orang tuaku tentu bisa memahami ku apalagi setelah melihat Nayla begitu menderita hidup dengan orang yang tidak dicintainya."
Dhira tidak bisa berkat kata lagi. Ia hanya diam.
"Sudah, kamu tidak usah mikirin itu. Biar aku yang mengahadapi orang tuaku. Kamu hanya perlu ada di sisiku dan mencintaiku. Itu saja."
"Hahhhh...entahlah. jalankan mobilnya. Kalau nggak turunkan aku."
"Iya. Kita pergi sekarang."
Mereka meninggalkan perusahaan.
Setibanya di rumah Dhira, Leo benar benar ingin memasak dan makan bersama Dhira. Ia lebih berperan menyelesaikan memasak dari pada Dhira. Ternyata pemuda itu ahli dalam memasak. Yah itu karena dari SMA ia telah biasa hidup sendiri dan mandiri.
Dhira duduk di kursi plastik dengan pandangan ke punggung Leo yang sedang mengangkat makanan dari wajan. Dari ujung rambut hingga kaki ditatapnya dengan pikiran tak menentu. 'Bagaimana mungkin lelaki ini cinta padaku. Ku rasa dia hanya sedang kesepian sehingga membutuhkan teman. Iya, terlalu muluk seorang CEO kaya menyerahkan hatinya pada seorang gadis sepertiku.'
"Hei, melamun." Tahu tahu Leo sudah berdiri dengan wajah sangat dekat pada Dhira. Tak ada yang dilewatkannya dari wajah itu. Semua yang ada di wajah itu ditelitinya. Di matanya wajah itu makin indah. Sehingga membuatnya makin tergila gila pada gadis itu.
"Apa sih. Menjauh sana! Makanannya keburu dingin." Dhira mendorong dada Leo.
Bukannya menjauh Leo justru menarik Dhira ke dalam pelukannya. "Makin nggak sabar ingin memilikimu. Alangkah bahagianya jika setiap hari kita bisa seperti ini di rumah kita nantinya."
__ADS_1
"Eh? He em. Lepasin dulu." Dhira sangat gugup.
"Biarkan dulu aku memelukmu. Aku masih merindukanmu." Leo menciumi rambut Dhira.