
"Aku telah membunuh wanita itu." Jawab Meli pelan. Tapi raut wajahnya membuat Leo hilang akal. Meli bertingkah seperti anak TK yang sedang mengaku salah pada orang tuanya.
Leo membeku ditempatnya, tidak bisa mengatakan apapun. Jantungnya serasa berhenti berdegup dan wajahnya tegang menatap ibunya yang sedang memilin ujung bajunya.
"Katakan sekali lagi Mi, Amelia dimana?" Ulang Leo. Sangat berharap jawaban maminya bahwa Amelia berada di suatu rumah.
"Kenapa? Mau tahu? Kepo...!" Meli malah bertingkah makin aneh.
"Mami!!!" Teriak Leo. Kepalanya serasa mau putus dari batang lehernya melihat maminya yang bagai orang gila.
"Huuuu...huhu..." Meli menangis. "Kenapa kau membentak ku? Aku hanya membunuhnya. Eh ups, ketahuan." Meli menutup mulutnya seakan mengucapkan membunuh adalah kata biasa.
"Aaaakkkhhh!" Leo meninju pintu sekuatnya hingga buku buku jemarinya berdarah. "Mami kenapa? Kenapa menjadi tidak waras begini?"
"Apa kau bilang? Aku tidak waras? Karena waras makanya aku membunuhnya!" Meli berteriak.
"Dia sangat menyebalkan! Aku membencinya! Gara-gara dia aku kehilangan cintaku. Apalagi setelah kehamilannya. Dia benar benar pintar menyingkirkan ku. Tapi pada akhirnya akulah yang menyingkirkan dia." Sorot mata Meli sangat menakutkan. Ia bagai hewan buas pemangsa berdarah dingin.
Leo benar benar hampir gila menghadapai Meli. Kenapa sekarang maminya menjadi seperti ini? Ditatapnya maminya yang masih mengeraskan rahangnya dengan mata di penuhi dendam.
"Baiklah karena mami telah mengakui semuanya, maka sekarang mami harus ke kantor polisi." Leo menarik tangan Meli keluar dari kamar.
"Aaa! Lepaskan! Kau anak durhaka! Aku tidak mau! Dia tidak jadi mati kok. Dia masih hidup! Aku melihatnya hidup."
"Meskipun begitu, mami harus bertanggung jawab! Mami harus dipenjara!" Leo menggertak Meli agar maminya bicara dimana ibunya Dhira disembunyikan.
"Hentikan! Leo! Aku tidak mau kemana-mana. Aku tidak mau ke sana!"
"Harus! Mami harus diadili!"
"Tidakkkk! Lebih baik aku mati!"
"Kalau begitu katakan dimana Amelia! Setelah Amelia ditemukan dan kembali ke rumahnya, Mami tidak akan di penjara. Makanya sekarang katakan padaku dimana Amelia?" Bujuk Leo. Sangat berharap maminya segera mengatakannya.
"Dia?" Meli terlihat berpikir. Lalu menggeleng. "Hehe udah mati!" Meli tertawa.
"Aku tidak menyangka Mami seorang penjahat!" Bentak Leo masih menarik tangan Meli. Sementara Meli menahan kaki dan tangannya ke kusen pintu.
"Lepaskan tanganku Leo! Kau itu menyakiti ku! Kau itu sangat bodoh! Kau lebih membela orang lain dari pada aku yang telah melahirkan mu!"
"Ini bukan soal membela Mi. Tapi Mami sungguh jahat! Mami harus di interogasi polisi biar Mami bicara yang sebenarnya!"
"Aku tidak mau! Kau itu tidak tahu diuntung! Aku telah menumpahkan darah banyak demi membuatmu tetap bertahan hidup. Tanyakan pada Rudy, Aku telah memberikan banyak darahku padamu agar kau tidak mati! Tapi apa yang kau lakukan ini? Kau ingin memenjarakan ku? Dasar durhaka kau Leo!!" Meli histeris sambil kedua tangannya bertahan pada kusen.
"Ada apa ini? Kenapa ribut ribut? Kau Leo, apa yang kau lakukan?" Rudy yang baru pulang kaget melihat istri dan anaknya yang sedang bertengkar. Suara mereka berdua terdengar hingga ke bawah.
"Papi, Mami ini sebenarnya pelaku hilangnya ibunya Andhira. Bahkan dulu Mami sudah pernah mencoba membunuh mereka."
"Leo! Apa kau tahu apa yang kau bicarakan? Jangan karena cintamu pada gadis itu membuat mu buta akan kebenaran. Kau tega pada keluargamu sendiri seperti ini?" Teriak Rudy.
"Mami sudah mengakuinya Pi, dan apa papi tahu, Mami mengetahui siapa ayahnya Andhira. Mami ini bahkan pernah menjalin hubungan dengan pria itu."
Rudy terbengong. Otaknya terasa panas. Capek ditambah lagi dengan laporan Leo yang makin membuatnya pusing.
"Lepaskan aku!" Meli berontak dari tangan Leo. "Rudy, Leo ingin membawaku pergi. Dia ini anak durhaka! Kasih tahu dia, karena dirinyalah aku mau kembali ke rumah ini. Karena mengasihaninya aku kembali. Kalau bukan dia hampir mati, aku tidak akan mau hidup bersama kalian! Karena kalian hidupku menderita dan terkurung di sini! Tapi lihat perbuatannya, dia ingin memenjarakan aku."
Rudy lebih terhenyak lagi mendengar ucapan istrinya sampai tidak bisa mengatakan apapun.
"Oh aku baru ingat. Bukankah dulu Papi sama Mami hampir bercerai. Mami pergi meninggalkan kami. Lalu setelah beberapa tahun kemudian, Mami kembali. Ku kira Mami kembali karena sudah sadar. Tapi ternyata hanya memanfaatkan Papi yang tidak bisa tegas pada Mami. Sungguh keterlaluan Mami!!"
__ADS_1
"Anak pintar! Rupanya kau bisa mengingatnya." Meli mengangguk-angguk. "Itu benar. karena telah punya anak darinya, aku sangat menderita. Tidak bisa memiliki kekasih yang kucintai. Padahal, kekasihku itu sangat tampan dan kaya. Aku sampai tergila-gila padanya! Tapi karena aku sudah melahirkan mu, dia tidak mau lagi padaku! Itu semua gara-gara dia!" Tuding Meli ke wajah Rusy. "Tapi untungnya papimu itu sangat polos. Meski aku telah membuangnya, ia masih mau menerimaku. Dia itu bodoh. Hahaha..." Meli seperti bercerita pada orang lain, bukan dihadapan suami dan putranya. Malah tertawa, seakan yang diucapkannya itu lucu.
Rudy merasa tempatnya berpijak goyang. Kakinya limbung dan hampir terjatuh kalau saja tidak ada guci besar disisinya sebagai tempat berpegangan. Rasanya harga dirinya terkoyak dengan penghinaan Meli. Sungguh ia tidak pernah membayangkan akan menerima hinaan seperti itu dari istrinya sendiri.
"Kau memanfaatkan kan putramu yang butuh darah untuk kembali padaku? Kau kembali bukan karena sungguh-sungguh menyesal telah meninggalkannya waktu bayi? Kau itu benar-benar monster!" Teriak Rudy.
"Siapa suruh kau punya anak denganku!" Meli malah balik berteriak pada Rudy.
"Dasar wanita gila! Kau benar benar wanita gila! Setelah hidupmu hancur, pertama kali kau datang padaku dengan derai air mata mengatakan tidak bisa hidup tanpa Leo. Tapi ternyata kau hanya menumpang hidup padaku karena hidupmu telah melarat! Tapi ternyata kau pulang hanya beberapa bulan, setelah itu kau pergi lagi, bahkan hatimu tidak tergerak sedikitpun walau Leo menangis memeluk kakimu agar tidak pergi! Tapi dengan hatimu yang seperti batu, kau tetap pergi!" Setengah menangis Rudy mengatakan semuanya meski dihadapan Leo.
"Sekarang kau bilang kau kembali demi Leo? Kau lah yang memohon mohon agar ku terima lagi. Pikirkan dan ingat-ingat dulu bagiamana kau pulang ke rumah ini! Kurang apa aku ini padamu??? Lalu di saat sudah tua begini kau mengungkit semuanya! Kau itu wanita iblis!" Rudy mengambil vas bunga di atas guci dan melemparnya ke arah Meli. Tapi tidak mengenai sasaran karena Leo menangkap vas itu.
"Hahaha...aku hanya ingin hidup bahagia. Aku mencintainya seperti kau mencintaiku. Apa itu kesalahan?" Bukannya tersadar dari kesalahan Meli malah makin menampakkan dirinya yang tersembunyi selama ini.
"Asal kau tahu, aku tidak mencintaimu sedikitpun lagi sejak kau pergi meninggalkan ku dan Leo yang masih berusia tiga hari. Tapi setelah empat tahun, kepulangan mu membuat putraku yang semata wayang tersenyum dan bisa mengucapkan kata 'Mami'. Terpancar kebahagiaan dari wajah mungilnya membuatku menerimamu. Hanya demi kebahagiaan putraku! Camkan itu!" Mata Rudy sampai memerah dan semua urat-urat dilehernya menegang saat berteriak.
"Apa kau ingat bagaimana terlukanya aku setelah kepulangan mu yang kedua? Benar aku memang meminta tolong padamu karena Leo membutuhkan darah. Itu demi putramu sendiri! Demi anak yang keluar dari rahim mu sendiri!"
"Ku kira kau tulus memberikan darahmu! Aku menerima mu kembali dengan keadaanmu yang sangat memprihatinkan, kau mengandung dari pria lain yang katanya suka menyiksamu. Kau berjanji akan berubah dan menemaniku hingga tua asal tidak mengungkit soal kandungan mu. Semua ku turuti. Anak yang belum lahir itu pun kuakui sebagai anak. Tapi sekarang kau mengatakan dihadapan ku tentang cinta dan kegilaan mu terhadap lelaki lain? Pergi kau dari rumahku ini! Kau sungguh menjijikkan!" Rudy hampir menangis.
"Pergi kau dari rumah ini...kau menjijikan...!" Meli memonyongkan mulut nya dan meniru yang diucapkan Rudy!
"Kalau tidak, matilah kau!" Rudy maju dengan cepat dan mencekik leher Meli.
"Papi, jangan seperti ini! Papi bisa menjadi seorang pembun"h." Leo menengahi pertengkaran papi dan maminya.
"Aku sudah punya mami yang gila, apa aku harus punya papi pembunuh juga?" Teriak Leo dengan suara bergetar.
Perkataan Leo membuat Rudy tersadar. Ia melepas leher Meli. "Kau harus dipenjara! Bawa dia ke kantor polisi Leo!" Teriak Rudy.
"Aku tidak mau!" Meli berlari ke arah jendela. Ia membuka tirai dan kacanya. "Lebih baik aku mati dari pada harus ke penjara!" Meli menaikkan satu kakinya berpijak ke kusen jendela.
"Kenapa tidak dari awal kau mati? Kenapa setelah kau membuat banyak masalah, baru mau mati!" Rudy tidak peduli lagi. "Lompat lah! Pastikan kau langsung mati ditempat agar kau langsung masuk ke neraka!"
"Berjanjilah tidak akan membawaku ke kantor polisi." Tawar Meli.
"Iya, sekarang Mami turun."
"Hei Rudy Atmaja, berjanjilah!" Teriak Meli dan menatap Rudy dengan tatapan tidak berdosa sedikitpun.
"Lebih baik kau mati saja!" Pekik Rudy.
"Huaaaa...dia mau aku mati..." Tunjuk Meli pada Rudy seperti anak kecil yang mengadu pada ayahnya.
Leo memaksakan diri bertindak lembut padahal dalam hati sudah sangat marah. Kedua tangannya bergetar saat terulur untuk menarik tangan Meli. "Tidak seperti itu. Turunlah dulu." Ujarnya dengan suara penuh tekanan.
Meli turun sambil cengengesan. Ia menertawai Rudy yang hampir gila saking marahnya.
Leo menarik tangan Meli membawanya keluar dari kamar.
"Lepasin tanganku Leo! Kenapa kau menarik ku?" Meli berontak dari tangan Leo saat memasuki ruang rahasia.
"Untuk sementara Mami harus dikurung. Buatlah pilihan ingin dipenjara atau mengatakan di mana Amelia!"
"Ah jangan! Lepasin aku!" Meli berteriak.
"Kau harus diberi pelajaran! Entah dari mana wanita sepertimu lahir sehingga bisa menjadi bagian dari hidupku!" Rudy merebut tangan istrinya dari pegangan Leo.
"Hehehe...aku pun tidak tahu. Aku dari mana ya? Dari sana, sana, atau sana?" Meli tertawa sambil menunjuk langit langit.
__ADS_1
"Kau sudah gila! Kau harus dimasukkan ke rumah sakit jiwa! Rumah ini bukan tempatmu!" Rudy menarik paksa tangan Meli, hingga tubuh wanita itu mengikutinya.
"Aku tidak mau! Ku bunuh kau bila memasukkan ku ke sana!"
Plaaakkk
Rudy tidak tahan lagi, tangannya melayang menampar pipi Meli.
"Aaaa! Berani sekali kau menyakitiku! Ku bunuh kau!" Meli bukannya sadar. Ia justru melawan Rudy.
Plaaakkk
Sekali lagi Rudy menamparnya hingga wanita itu terjatuh ke lantai. "Pergi kau! Pergi dari rumah ini!" Usir Rudy.
Meli membiarkan dirinya begitu saja di lantai. Tidak berusaha bangun. Tiba tiba tawanya membahana di rumah itu.
"Hahahaha...hahahaha..." Akhirnya dia mengusirku lagi. Laki laki bodoh yang mudah di tipu ini bisa juga marah."
Leo menggeleng melihat tingkah maminya. Ia menduga otak maminya sudah rusak.
"Kau!!!" Rudy menunjuk wajah Meli. "Aku berbuat baik padamu karena kau adalah wanita yang melahirkan putraku. Jangan kau kira aku tidak bisa kejam!" Rudy menggulung lengan kemejanya dan mengepalkan kedua tangannya. Ia maju dan meninju istrinya.
"Papi, jangan! Papi akan disebut melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Jangan! Mami sepertinya mengalami depresi. Untuk apa Papi melampiaskan amarah padanya?" Leo menghadang Rudy.
"Kau wanita jahan*m! Kau sudah dirasuki setannn!!" Teriak Rudy.
Leo menarik tangan Meli memaksa maminya masuk ke dalam ruangan yang ada di ruang perpustakaan. Dikuncinya pintu agar maminya tidak melakukan hal buruk seperti bunuh diri.
"Dia menjadi gila." Ujar Rudy.
Leo menatap Papinya dengan tatapan tidak suka. "Dia istri Papi."
"Entah kenapa dulu aku bisa menikah dengannya. Dia hanya membuat nasibku sial. Sekarang kau sudah sangat dewasa tanpa dia pun kau tidak akan kenapa kenapa. Aku sungguh tidak ingin hidup bersamanya lagi."
"Apakah bayi yang Papi maksud adalah Ara?" Tanya Leo. Ia memperjelas yang di katakan papinya tadi.
"Iya."
"Mami bohong Pi, Ara itu anak kandung Papi. Aku sudah melakukan tes DNA. Kecocokan DNA kami sangat persis. Jika dia hanya saudara seibu denganku, mungkin hasilnya tidak semirip itu."
"Apa? Tapi kenapa Meli melakukannya?" Rudy sangat terkejut.
"Pasti berkaitan dengan kejahatannya. Hanya mami sendirilah yang tahu kepastiannya."
"Lakukan lagi tes DNA kami berdua. Ini harus dipastikan. Jika dia putriku, maka apapun yang terjadi kita harus mengambilnya."
"Baiklah. Tapi bagaimana cara membujuk mami agar bicara dimana Amelia berada. Agar Ara bisa kita ambil."
"Apakah itu benar? Meli yang menyekap wanita itu?" Tanya Rudy.
"Jawabannya memang berbelit-belit. Tapi mami lah yang terekam kamera saat menarik Amelia dari kamarnya di rumah sakit."
"Selidiki masalah ini. Buat semua jelas."
"Ini sulit bila ibunya Andhira tidak ditemukan. Sedangkan Robert sendiri tidak pernah ada di negara ini. Papi tidak mengenalnya?" Tanya Leo.
"Hanya pernah sekali melihatnya. Setelah itu tidak lagi."
Leo mendesah berat. "Kita harus memaksa Mami."
__ADS_1
"Paksa lah. Aku sudah tidak peduli padanya. Hari ini juga aku akan mengurus perceraian kami." Tidak ada raut ragu lagi di wajah Rudy.
"Tapi kondisi mami mengkhawatirkan."