
Semua pekerjaan Dhira sudah selesai semuanya, kini ia tinggal berangkat. Berniat membangunkan Leo karena ia harus pergi. Tapi melihat Leo yang sangat lelap membuatnya tidak tega. Perlahan dirabanya kening pemuda itu untuk mengecek apakah masih demam. "Cepat juga turun panasnya. Syukurlah kalau sudah sembuh."
Ia mengambil secarik kertas dan menulis pesan lalu pergi.
Pukul sepuluh Leo baru terbangun. Ia duduk dan merenggangkan seluruh ototnya. "Walau tidur di kayu begini rasa tidurku enak banget." Kemudian ia sadar ada selimut yang menutupinya. Bibirnya tersenyum dan menciumi selimut wangi milik Dhira.
"Wangi dan menenangkan. Memang hidup enak tidak ditentukan banyaknya uang. Andhira sederhana tapi bisa menikmati hidupnya bahkan bisa membaginya denganku. Ummmm...ahhhh..." Lagi lagi diendus-endusnya selimut berbulu itu.
Lalu ia melihat secarik kertas di atas meja kayu. "Kalau sudah bangun, di dapur ada air panas di termos. Kalau mau sarapan ada makanan sederhana di meja. Pulanglah segera jangan lupa kunci rumah. Kuncinya taruh di bawah pot bunga lidah mertua dekat sudut teras." Begitulah isi pesan Dhira.
"Emm...indahnya hidup kalau ada yang perhatian. Makin nggak sabar segera menjadikanmu jadi istriku." Leo tertawa bahagia. Wajahnya bersinar tak luput dari senyum. Cintanya makin mekar untuk Dhira.
Sebelum beranjak dari bangku, Leo menelepon Kim menyuruh membawakan pakaiannya ke alamat Dhira. Ia akan mandi dan berangkat kerja dari rumah sang kekasih.
Tengah hari Leo tiba di kantor. Ia terlihat tampil beda dengan wajah tampan yang makin terlihat mempesona. Ia bejalan didampingi Kim menuju lift. Para karyawan yang berada di sana begitu terhipnotis dengan keberadaan dua pria itu. Apalagi melihat wajah Leo yang bersahabat. Ia kini menampilkan senyumnya walau sedikit. Itu membawa perubahan suasana bagi para wanita yang melihatnya.
"Hei kamu terlihat seperti orang sinting!" Ucap Kim saat mereka berdua di lift.
"Hum?" Leo hanya bergumam tapi senyumnya makin lebar.
"Nah kan kamu gila sejak tadi. Senyum senyum sendiri tanpa sebab. Kamu habis enak enak ya dengan Andhira?" Tunjuk Kim ke wajah Leo.
"Mulutmu itu! Otakmu hanya mikirin yang enak enak. Dan jangan memanggilnya Andhira!"
"Hah? Lalu aku memanggilnya apa? Nyonya? Ibu? Atau kakak ipar?"
"Andhira adalah panggilan kesayanganku. Panggil dia dengan 'Dhira' sama dengan yang lainnya!"
"Hahaha...benar benar setres kamu ini! Itu memang nama lengkapnya. Nama sayang itu..."
"Diam! Kamu tidak mengerti yang namanya kasih sayang. Kamu tahunya hanya 'enak enak'! Pokoknya panggil dia Dhira!" Leo melotot tidak suka dengan protes Kim.
"Huh Bucin! Selama ini sok tidak bisa cair. Nah sekali tahu yang namanya cinta. Hahaha...Andhira?"
Plak
Leo menabok kepala Kim. "Sudah kubilang hanya aku yang bisa memanggilnya dengan sebutan itu!"
"Iya iya! Sakit tahu!" Kim mengelus kepalanya. "Sejak kapan kamu pacaran dengan Dhira?"
"Aku suka padanya sejak pertama kali melihat nya."
"Wah...cinta pandangan pertama. Ternyata benar ada yang begitu. Ku kira itu hanya sebuah kebohongan. Pertama kali melihat langsung tumbuh cinta. Aslinya lebay ya..." Ejek Kim. Sahabatnya ini menjomblo selama bertahun tahun, tapi kini mengaku jatuh cinta pada pandangan pertama pada Dhira.
"Itulah yang ku alami. Itu murni. Perasaan dari dalam hatiku yang dalam." Wajah Leo berubah serius.
"Tapi sepertinya kamu bakal mengalami masalah serius. Semalam Tante sama Om Rudy membahas kamu bersama Dhira. Dan sedikit aku mendengar mereka tidak menyetujui mu."
"Aku yang jatuh cinta bukan mereka. Andhira untukku bukan untuk mereka. Bila perlu sampaikan pada papi mami, aku akan menikahi Andhira."
"Boy...mereka orang tuamu. Benarkah kamu akan menentang mereka demi cintamu?"
"Kenapa tidak. Jika aku sudah memutuskan maka itulah yang akan kulakukan."
"Tapi kamu akan mengalami kesulitan. Mungkin lebih parah yang akan dialami Dhira. Cara Tante Meli melihat Dhira, aku tidak yakin Dhira bertahan."
"Demi Andhira aku bisa melakukan apapun. Bahkan jika mereka tidak menginginkan aku lagi, aku akan memilih pergi." Ucap Leo tanpa ragu.
__ADS_1
"Hah terserahlah. Apa yang bisa kulakukan? Tapi satu pesanku, Dhira sepertinya bukan gadis biasa seperti yang terlihat. Wajahnya itu, lebih tepatnya auranya itu terlihat besar dan dalam. Gimana ya menggambarkannya? Emmm garis wajahnya tidak menunjukkan dia gadis polos dan sederhana. Meski kehidupannya sederhana. Begitu..." Kim berusaha menggambarkan aura Dhira menurut penglihatannya.
"Sok ahli! Sana ke ruangan mu! Aku mau bekerja!" Leo mendorong Kim saat didepan pintu ruangannya. Sementara Kim geleng geleng kepala melihat sahabatnya yang berubah menjadi periang dan banyak bicara.
Leo menutup pintu dan betapa ia terkejut saat melihat kedua orang tuanya ada di ruangan itu.
"Papi, Mami?"
"Hem. Dari mana aja kamu? Jam dua belas baru datang?"
"Rasanya badanku kurang fit. Aku beristirahat setengah hari. Ada perlu apa Pi?" Leo duduk di ujung sofa.
"Pertanyaan apa itu? Apa aku tidak boleh datang ke ruangan ini?" Rudy menatap Leo dengan intens.
"Bukan begitu. Apa ada hal yang mendesak?"
"Hanya berkunjung."
"Menjelaskan kejadian semalam."
Rudy dan Meli menjawab bersamaan tapi beda jawaban.
Jika Rudy bawaannya santai, maka beda dengan Meli yang terlibat menyimpan emosi.
"Yang semalam sudah berlalu. Tidak perlu dibahas lagi. Sudah terjadi dan itu melukai perasaan teman temanku." Jawab Leo dengan tatapan lurus ke meja.
"Kami mau menegaskan padamu! Jangan bergaul dengan mereka! Jangan pernah menemui mereka lagi. Atau kedua gadis itu dipecat dari perusahan ini!" Meli memperjelas tujuan kedatangan mereka.
"Kenapa Mami begitu tidak menyukai mereka? Apa yang salah dari mereka?"
"Sudah ku bilang mereka tidak cocok dengan kita. Kami telah memilih gadis yang pantas untukmu."
"Mas, lihat anakmu itu! Dia sangat keras kepala. Bilang padanya untuk melakukan kencan buta dengan gadis pilihan kita." Meli meminta bantuan pada suaminya.
"Kalau kalian datang hanya untuk membahas ini, maka aku tidak mau dengar."
"Leo jangan terlalu keras pada mamimu. Mami dan papi hanya ingin masa depanmu nantinya baik." Timpal Rudy.
"Aku sudah dewasa Pi. Aku bisa memilih apa yang baik bagiku. Jadi, tolong jangan memojokkan aku apalagi Andhira." Leo menegaskan nama Andhira.
"Kenapa kamu harus melawan kami!" Bentak Meli.
Leo menghela nafas berat. "Masalah ini jangan dibahas lagi. Atau kita akan hanya ribut dan saling melukai perasaan."
"Kami berhak atasmu Leo! Apa artinya kami sebagai orang tuamu kalau kamu tidak mau mendengarkan kami?" Meli belum mundur.
"Baiklah. Berikan alasan yang masuk akal kenapa Mami menolak Andhira?"
Meli terdiam. Hanya dadanya yang turun naik dan mata yang menyala tajam.
"Kalau nggak, beritahu di mana adikku saat ini dan siapa namanya. Mungkin aku akan mempertimbangkan permintaan kalian." Leo memberi penawaran.
"Adik apa? Kau itu ngelantur! Stop bicarakan ini!" Suara Meli menggelegar di ruangan itu. Ia selalu marah jika menyinggung soal anak perempuannya yang katanya sudah tiada.
"Hooh ya udah. Maka biarkan aku dengan pilihanku." Leo bangkit dari duduknya. Ia memilih keluar meninggalkan orang tuanya.
Ruangan mendadak sepi dan hening. Rudy termenung. Ia begitu lelah dengan perubahan Leo semenjak beberapa tahun terakhir. Biasanya putranya itu selalu pengertian dan tidak keras kepala.
__ADS_1
"Mas, apa yang harus kita lakukan? Bujuk Leo agar mau mengenal Dhea. Aku yakin Leo akan suka pada Dhea setelah mereka bergaul."
"Sebenarnya apa sih masalahnya dia memilih gadis itu? Kenapa itu jadi masalah besar bagimu? Menurutku asal gadis itu baik dan mereka saling mencintai untuk apa kita menentangnya."
Meli mendelik marah. "Gadis itu tidak baik. Mas mau putra kita yang merupakan keturunan kita yang tinggal satu satunya hancur karena wanita itu?"
"Kenapa kamu bisa menyimpulkan gadis itu membawa kehancuran bagi Leo? Kamu mengenalnya?"
"Gadis itu berniat buruk. Aku sudah memeriksanya, dia hanya ingin memasuki keluarga kita untuk memecah belah kita."
"Ck kamu ini terlalu mudah mencurigai orang. Bagaimana kalau dugaan mu salah. Itu akan menyakiti Leo."
"Mas! Aku ini tahu yang baik buat Leo. Perasaan seorang ibu itu lebih peka. Pokoknya aku punya firasat buruk tentang wanita itu. Harusnya Mas mendukungku. Bagaimana kalau suatu hari nanti terlanjur hidup Leo hancur atau hidup kita semua!" Meli marah marah.
Rudy menghela nafas panjang. Memang yang dikatakan istrinya ada benarnya juga. Sebagai orang tua mereka tentu berperan menjaga Leo agar tidak berantakan nantinya. "Kita tunggu Leo mengenalkan gadis itu pada kita terlebih dahulu, baru kita tentukan apakah mereka cocok."
"Tidak! Itu tidak akan terjadi! Pokoknya Leo harus menjauh darinya. Baru pertama kali melihatnya aku sudah tidak suka padanya. Menyuruh Leo mengenalkan gadis itu pada kita hanya akan semakin membuat Leo kecewa. Karena pasti kita tidak akan menyetujuinya."
"Hah terserahlah. Kamu yang urus itu. Aku banyak kerjaan, hal hal seperti itu biarlah menjadi tugasmu. Buatlah apa yang menurutmu baik. Tapi jangan terlalu menekan Leo. Kamu tahu, dia marah pada kita semenjak omongan soal adiknya. Aku khawatir di nekad melawan kita dan membongkar semuanya. Maka sia sialah yang kita lakukan selama ini."
Tiba tiba wajah Meli pucat pasi. "Itu tidak boleh terjadi. Kita harus bertahan." Meli menggeleng. Wajah pias nya menunjukkan ketakutan.
"Makanya jangan terlalu menekannya. Yang dikatakannya benar, dia bukan anak kecil lagi. Dan untuk membuatnya nyaman biarkan lah dia memilih wanita pilihannya." Rudy memeluk Meli yang makin gemetaran.
"Tidak Mas. Gadis itu berbahaya. Dia bukan gadis baik seperti yang terlihat."
"Ck kita sudah tidak bisa melawan Leo. Kasihan dia kalau semua keinginannya dilarang. Terus dari mana kamu tahu gadis itu berbahaya?"
"Aku ini seorang ibu Mas. Perasaanku tidak enak saat melihat gadis itu pertama kali. Matanya sangat menyeramkan dan raut wajahnya itu penuh ancaman."
"Itu belum terbukti. Itu hanya perasaanmu saja. Penilaian mu tidak berdasar."
"Hah makanya dulu aku bilang biarkan aku aja yang menanggung segalanya. Kalau aku mati maka anak anak kita tidak akan mengalami hal berat seperti sekarang." Terlihat penyesalan di mata Meli.
"Meli, aku paling tidak suka kata kata mati. Yang kita bahas soal anak kita kenapa malah ke arah mati segala?" Bentak Rudy.
"Hiks hiks maaf kan aku Mas. Semua terjadi karena aku." Meli menangis tersedu. "Aku takut Mas. Takut Leo kenapa kenapa."
"Sudah. Sudah terjadi. Dan langkah kita adalah tetap saling menjaga agar tidak terjadi hal mengerikan. Aku juga minta maaf hanya bisa melakukan sebatas ini untuk keluarga kita."
"Kamu sudah sangat baik Mas. Kamu sudah melakukan segalanya demi kami. Seandinya Mas angkat tangan entah apa yang terjadi pada ku."
"Tidak mungkin aku lepas tangan. Sudah selayaknya seorang suami dan ayah melakukannya."
"Terus, soal gadis itu bagaimana?" Tanya Meli.
"Kalau kamu tidak suka gadis itu, Kita harus mencegahnya masuk ke kehidupan Leo sebelum hubungan mereka makin dalam."
Meli mengangguk sembari memeluk suaminya. Entah prahara apa yang disembunyikan oleh mereka sembunyikan hingga harus kehilangan anak perempuan mereka. Dan harus merahasiakannya dari Leo.
***
Robert keluar dengan mobil kesayangan miliknya. Setiap di bulan ini, pria ini selalu mengunjungi sebuah tempat yang jauh dari pusat kota dengan warna pakaian yang sama yaitu serba hitam. Ia berkendara sendirian tanpa mengajak sopir atau anak buah atau putrinya.
Tibalah di sebuah tepi laut yang tenang dan terurus. Setelah menepikan mobil ia turun dengan serangkul bunga berwarna warni dipelukannya.
Ia turun ke tepi air hingga sepatunya basah. Bahkan celananya pun ikut basah. Tidak perduli dengan sapuan air laut ia terus turun hingga air sebatas dadanya barulah ia berhenti.
__ADS_1
"Sayang apa kabarmu? Maaf aku baru menjenguk mu." Ucapnya dengan wajah muram disertai mata berkaca-kaca.