
"Kurang aj*r sekali anak itu! Dia pikir dunia ini miliknya apa???" Teriak Dewi.
"Sialll! Menyesal aku memperkerjakan anak itu!"
Dewi tak henti hentinya memaki-maki. Sungguh rusak pertemuannya dengan Robert, dan makin kacau dengan kelakuan Dhira.
Mereka terpaksa pulang naik taksi. Di dalam mobil Dewi masih terus memaki Dhira. Lihat saja saat ia bertemu dengan, akan dibuatnya gadis itu membayar semua yang dialaminya.
Dhira menyelusuri jalan ke arah bandara Soekarno-Hatta. Ia sempat mendengar percakapan Robert dengan Dewi. Dari tempat itu bandara Soekarno-Hatta adalah bandara yang terdekat. Meski ia tidak tahu pasti, ke bandara mana R.Ga pergi. Tetap ia menuju ke sana. Berharap menemukan lelaki itu.
Di tempat lain, Leo berhenti di tepi jalan melihat nama Boni dilayar ponselnya sedang memanggil.
"Apa Bon..."
"R.Ga ada di restoran..."
"Benarkah? Aku akan segera ke sana."
Tanpa buang waktu lagi, Leo memacu mobilnya ketempat yang disebut Boni.
Setibanya, Leo langsung bertemu Boni.
"Dimana?" Tanya Leo.
"Itu di dalam. Dia sedang makan sendirian." Boni menunjuk seorang pria yang sedang makan.
"Kamu yakin itu orangnya?" Leo tidak bisa melihat wajah lelaki itu karena yg terlihat adalah punggungnya.
"Iya. Aku lihat dia mulai dari masuk ke resto ini."
"Baiklah. Sekarang juga aku akan menangkapnya." Leo sudah tidak sabar.
"Tunggu! Jika dilihat-lihat, dia sepertinya bukan laki-laki biasa. Pasti tidak mudah menangkapnya di sini. Akan terjadi keributan." Cegat Boni.
"Tapi,"
"Kita tunggu dia masuk ke mobil. Lalu kita tangkap." Usul Boni.
Leo pun menurut. Benar yg dikatakan Boni, keadaan akan lebih rumit bila terjadi perkelahian di restoran.
Robert menikmati makan siang sekaligus makan paginya dengan wajah tenang meski dalam hati sangat kesal telah membuang waktunya tanpa arti. Harusnya ia bisa lebih awal tiba di Bali.
Tapi kini penerbangannya harus tertunda selama beberapa jam. Ditambah lagi kekesalannya melihat Dhira. Ia tidak suka dengannya karena menurutnya gadis itu adalah kawanan dari Meli.
Meski Ara sudah direlakannya, tapi rasa benci terhadap wanita yang sudah menjadi almarhum itu belum bisa dihilangkannya.
Apalagi sekarang ini ada seseorang yang harus dilindunginya. Seorang yang membuat hidupnya kembali hidup dan terkabulnya segala doa-doanya. Tak akan dibiarkannya siapapun merenggutnya lagi darinya.
Siapapun yang akan mencobanya akan dihancurkannya tanpa pandang bulu.
Selama dua puluh tahun lebih ia menderita, kini tiba juga hari kebahagiaannya walau belum seutuhnya.
Kringg...kring...
Ponsel Robert berdering. Dahinya berkerut. Wajahnya terlihat panik melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Ada apa?" Tanyanya tanpa basa basi.
Beberapa detik kemudian Robert nampak bergerak dengan wajah berubah senang. Ia terus berbicara seperti menginstruksi seseorang. Suara terdengar sarat dengan kekhawatiran.
Ia memanggil pelayan dan membayar tagihannya.
Kakinya melangkah terburu-buru meninggalkan restoran.
Ia menuju ke tempat dimana mobilnya sedang parkir. Segera ia masuk.
Saat itulah, Leo masuk dari arah pintu satunya. Sementara Boni dari pintu belakang.
"Jangan bergerak! Jalankan mobil ini dengan instruksi dariku!" Leo menodongkan pistol ke kepala Robert. Kebetulan sekali kaca mobil Robert tidak tembus pandang. Sehingga aman dari pandangan orang dari luar.
"Kau? Apa yang kau lakukan?" Tanya Robert. Ia tidak gugup sedikitpun. Hanya matanya yang nampak gelisah dan memerah seperti menahan air matanya.
"Tutup mulutmu! Atau kepalamu ini akan bersarang peluru!" Leo menekan kepala Robert dengan ujung pistolnya. Di tariknya sedikit pelatuk bersiap melepaskan peluru.
__ADS_1
Mata elang Robert melirik ke spion yang menunjukkan kepalanya dan pistol. Bisa dilihatnya pistol yang dipakai Leo bukan senjata biasa. Ia mengenal barang itu dengan baik.
"Jalan!!!" Tak segan segan, Leo memukul kepala Robert dengan keras.
"Ada masalah apa? Apa yang membuatmu seperti ini?" Tanya Robert masih dengan wajah tenang. Ia menduga pemuda ini bertindak kriminal, kemungkinan masih berhubungan dengan masa lalu Ara yang telah dirampasnya.
"Diam bacot mu!!!" Sekali lagi Leo memukul kepala Robert. Wajah Leo sudah merah padam menahan diri agar tidak sampai menembak kepala dihadapannya. Ia butuh lelaki itu untuk bicara. Bila ia kelepasan, maka selamanya mereka tidak akan tahu dimana Amelia.
Robert menyalakan mobil, dengan perlahan. Tidak menunjukkan kegugupan sedikitpun. Santai dan menuruti perintah Leo.
"Lebih cepat!" Bentak Leo.
'Apa sebenarnya tujuan anak ini? Ingin balas dendam karena aku telah menculik Ara selama ini? Atau ada hal lainnya? Dia terlihat serius dan menyimpan sesuatu yang dalam di matanya.' Sambil menyetir ia menilai keadaan Leo.
"Buatlah masalah ini tidak lama. Aku malas berurusan denganmu! Jawab saja pertanyaan ku!" Bentak Leo.
"Katakanlah!" Jawab Robert dengan wajah tanpa dosa apapun.
"Dimana Amelia?" Tanya Leo selembut mungkin. "Jawab dengan jujur maka aku tidak akan melakukan apapun."
"Kau seperti bocah yang kehilangan ibu. Jika kau kehilangan, kenapa kau mencarinya padaku?" Robert menatap Leo dengan mata yang sangat tajam. Ia merasa sangat kecil ditanyain seperti itu.
"Berengs*k!!!" Maki Leo. "Di mana Amelia? Katakan!" Leo meninju pipi kiri Robert.
Robert tidak terima ditinju seorang bocah dibandingkan usianya. Wajahnya berubah merah dan giginya gemerutuk. "Aku sedang buru-buru. Sebaiknya kalian turun. Aku tidak mengenal Amelia!" Tandas Robert dengan tajam. Saat ini pikirannya sedang terganggu oleh kabar yang baru diterimanya. Malah tiba tiba ada yang mencurigainya menyembunyikan Amelia. Entah siapa Amelia ini?
"Lebih baik katakan secepatnya! Maka kau akan segera bebas. Katakan dimana?" Leo memberikan tinjunya lagi.
Robert sudah sangat marah. Selama ini siapa yang berani menyentuhnya apalagi memukulnya. Tanpa pikir panjang ia melajukan mobilnya ke arah jalan sepi. Saat di persimpangan, ia sengaja menekan pedal gas sampai habis agar mobil melaju sekencangnya.
Saat ini ia hanya ingin segera tiba di Bali dan menemui seseorang.
"Hentikan! Stoooppp....!" Teriak Leo.
Tapi hanya dalam beberapa detik mobil melaju tak terkendali. Melesat bagai angin badai hingga mobil itu menabrak sebuah pohon.
Leo dan Boni beberapa kali terbentur dan terlempar karena guncangan. Mereka harus berpegangan untuk melindungi diri.
Tukkkk
Robert membenturkan kepalanya ke wajah Boni. Sangat keras hingga keluar darah dari hidungnya.
"Katakan dimana Amelia!" Leo mengarahkan pistol ke wajah Robert.
"Kau sedang mencari mati! Kau telah salah orang! Dasar bodoh!!" Dengan sekali hempasan tangannya, pistol Leo terpelanting.
Saat itulah Robert mengambil pistol milik Leo. Setelah senjata itu berada ditangannya barulah ia menghentikan mobil.
"Aku tidak mengenal Amelia. Kau salah orang!" Robert menodongkan pistol itu. "Sekarang turun! Atau ku tembak kalian!" Teriakan Robert sangat keras. Wajahnya bagai harimau yang siap menerkam mangsa.
Boni memundurkan tubuhnya dengan kedua tangan diatas. Dengan perlahan ia bergeser ke arah pintu.
Tapi tidak dengan Leo. Ia sedang memutar otak agar tidak kalah dari R.Ga. Di kepalkannya kedua tangannya dengan kuat, lalu dengan gerakan yang sangat cepat ia memukul tangan Robert di susul pukulan lagi ke dada pria itu.
Spontan pistol itu terpelanting dan jatuh ke bawah kaki Leo.
Robert bergerak dari tempat duduknya, kakinya terangkat menendang Leo.
Telat menghindar, ujung sepatu Robert mengenai dagunya. Kepalanya terhempas ke belakang hingga terbentur jendela mobil.
Robert bergerak lagi, tapi sialnya pipinya terkena sepatu Leo. Tendangan keras menghantam tulang pipinya hingga wajahnya terasa kebas.
Pertarungan berlanjut, tak ada yang ingin kalah diantara mereka. Saling meninju, menendang berusaha melumpuhkan lawan. Setelah melepas tinju, terkena tinju, selepas menendang, terkena tendangan pula.
Tidak ada yang kalah meski bekas pukulan sudah mengenai wajah dan tubuh lainnya. Akhirnya pintu dan kaca mobil yang kalah, kaca pecah dan pintu rusak.
Ujung-ujungnya keduanya keluar dari mobil. Pertarungan terus berlanjut. Hantaman terdengar keras dan saling mengadu. Mereka cukup tangguh, meski salah satunya sudah agak berumur, tapi tidak menunjukkan kelemahan sedikitpun. Tidak memberi peluang bagi Leo untuk menang.
Bukkkk...pakkkk...buuuggg...
Hantaman bertubi mengenai kepala dan punggung Leo. Terakhir, kepalanya menghantam sebuah pohon.
Melihat ada peluang, Robert kembali ke mobil dan mengambil pistol. Ia harus segera menyelesaikan permasalahan ini agar bisa segera tiba di Bali.
__ADS_1
"Jangan bergerak!"
Robert tergugu merasa kepalanya tertekan. Tepat dibelakangnya, Boni menodongkan pistol yang diinginkannya tepat di atas telinganya.
Matanya melirik cepat dan secepat kilat ia membenturkan kepalanya ke tangan Boni hingga ujung pistol itu mengarah ke lain, sekaligus menendang perut Boni sehingga terpental. Sembari tangannya merebut pistol itu.
Kini benda itu sudah berada ditangannya.
Dorrrrr....
Satu peluru menembus kulit Boni.
"Boniiiii!"
Leo berteriak. Dengan sempoyongan ia berlari ke arah Boni. Tapi kemudian ia sendiripun tidak bisa bergerak lagi karena Robert sudah dekat padanya dengan todongan pistol tepat mengenai kepalanya.
"Aku tidak sudi berurusan dengan para lalat seperti kalian!" Seru Robert.
"Kalian sendiri yang ingin kehilangan nyawa!" Robert menarik pelatuk.
"Hentikan!!!"
Tiba tiba Dhira datang dan sudah berdiri di depan Leo. Ia menghadang Robert meluncurkan pelurunya.
"Kau lagiii! Apa sebenarnya maumu?" Bentak Robert.
"Tolong turunkan benda itu. Kita tidak perlu saling membunuh. Kita bicarakan hal ini dengan baik." Dhira sudah kebingungan aslinya melihat darah yang sangat banyak mengalir di tanah. Ia tidak ingin Leo juga mengalami hal yang sama. Ia harus bisa melunakkan Robert.
"Tidak ada masalah apapun yang perlu dibicarakan! Kalian sungguh pengganggu! Hanya kali ini kalian ku ampuni!" Robert menurunkan pistolnya. Ia mendengus kasar merasa dipermainkan anak-anak.
"Jangan ada yang bergerak dari sana! Sedikit saja kalian bergerak, aku tidak peduli siapapun kau, akan ku tembak!" Kecam Robert dengan mata memerah.
Ia sangat kesal saat ini. Di waktu yang sangat genting seperti ini, harus ada yang mengganggunya.
Ia berharap mobil yang sudah penyok miliknya masih bisa dibawanya ke bandara.
"Stop!" Teriak Robert. Suaranya sangat keras.
Ia naik pitam melihat Dhira dengan berani maju mendekatinya.
"Tolongggg...Pak, aku hanya ingin ibuku kembali. Tolong katakan dimana ibuku..." Dengan beraninya, Dhira berlari dan bersimpuh di kaki Robert. "Tolong Pak R.Ga, aku hanya ingin ibuku. Beritahu dimana ibuku..."
Tangis Dhira tidak terbendung lagi. Ia sangat berharap kali ini ia bertemu Amelia.
"Kalian gila atau apa?" Robert menjauhkan Dhira dari kakinya. Tapi tidak bisa karena Dhira memegangi kakinya erat sekali.
"Apa aku ini penculik? Siapa ibumu?"
"Amelia. Ibuku Amelia. Tolong...aku hanya punya ibuku di dunia ini." Air mata Dhira tumpah begitu banyak. Wajahnya sangat mengiba dan berharap R.Ga mengasihaninya.
Robert terdiam sesaat. Dirinya seperti terseret kedalam situasi merana di hadapannya. Tapi kemudian ia tersadar gadis di depannya adalah seseorang yang harus dihindarinya.
"Kalau kau kehilangan ibumu laporkan ke kantor polisi. Kenapa kau mencarinya padaku?" Robert memukul kepala Dhira. Ingin ditembak, tapi hatinya tidak tega sehingga hanya memukulnya itupun tidak terlalu kuat.
"Kami sudah tau kau pelakunya! Ada bukti ditangan kami!" Seru Leo. Ia mendekat pada Dhira tapi tidak jadi karena tiba tiba terdengar suara orang yang datang.
Dan benar saja, tinggal beberapa meter lagi sekelompok pria berpakaian serba hitam datang dengan senjata. Mereka berlari dan sudah mengepung Dhira dan Leo.
"Tangani mereka!" Perintah Robert. Sedangkan pria itu berjalan dengan tergesa-gesa ke arah mobil yang baru datang.
"Ibuku Amelia kau culik! Kembalikan ibuku! Aku mohon! Dia ibuku! Aku ingin ibuku!!" Teriakan Dhira memenuhi tepat itu. Ia berontak dari pegangan para pria itu tapi sungguh malang dirinya, pria pria yang memegangnya tidak membiarkannya lolos.
"Aku akan membun*hmu kalau ibuku tidak baik. Dengar kan aku!!! Aku akan membun*hmu!!!" Teriak Dhira lagi.
Teriakan Dhira sedikitpun tidak mempengaruhi langkah Robert. Ia pergi seperti tidak mendengar apapun.
Dhira meraung melihat mobil yang dinaiki Robert hampir menghilang. Putus sudah harapannya. Akankah masih ada kesempatan baginya menemukan Amelia. Ia menangis pilu, dan melorot ke tanah.
Dari kaca spion, Robert melihat Dhira. Ada serpihan hatinya yang tergores melihat keadaan gadis itu. Tapi langsung dialihkannya pandangannya mengingat tujuannya sekarang adalah harus segera tiba di Bali. Mengingat jam penerbangan masih dua jam lagi, ia memilih menunda ke bandara. Tapi melaju ke arah jalan tol yang menghubungkan Jakarta Bali. Ia memilih naik mobi saja.
Dengan semangat yang sangat tinggi ia memacu mobil sekencangnya agar segera tiba di tujuannya.
***
__ADS_1