Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Jangan Pura-pura gila


__ADS_3

Di depan kediaman Atmaja, Dhira berdiri dengan wajah murka. Ia memperhatikan keadaan rumah itu sedang sepi. Gerahamnya gemerutuk saling mengadu saking kesalnya. Menunggu Leo sejak pagi dan berharap kedatangannya membawa ibunya kembali. Tapi harapannya hanya di angan-angan saja. Lelaki itu tak muncul.


Tidak melihat apapun juga, ia nekad maju naik ke teras rumah itu. Ia tidak bisa menunggu lagi. Malam ini, ia bertekad akan mengakhiri semuanya. Tangannya memencet bel pintu. Tiga kali memencet, barulah pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya berdiri di tengah pintu dengan raut wajah muram. Bahkan terlihat matanya sembab seperti habis menangis.


"Nona mencari siapa? Saat ini sedang tidak ada orang di rumah."


"Kemana mereka?" Tanya Dhira dengan suara dingin. Wajahnya tegang dan matanya memancarkan kemarahan.


"Sejak pagi mereka ke rumah sakit."


"Siapa yang sakit?"


"Ibu Meli. Beliau habis mencoba bunuh diri."


Dhira tidak menunjukkan reaksi apapun. Hanya keningnya yang berkerut sebentar. "Di rumah sakit mana?"


"Tadi siang, Den Leo menelepon Bu Meli di pindahkan ke rumah sakit jiwa." Ia sudah mendapat telepon dari Leo bila mana Dhira datang, maka harus mengatakan yang sejujurnya.


"Rumah sakit jiwa? Apakah wanita gila itu beneran gila?"


"Keluarga ini sangat kacau. Perusahaan menghilang ke tangan orang, Bapak dan Ibu bercerai, ibu masuk rumah sakit jiwa. Den Leo pasti sangat tersiksa." Wanita itu mencurahkan kesedihannya.


"Boleh aku masuk? Aku ingin memeriksa sesuatu."


Wanita itu mengangguk. Ia sudah dapat perintah dari Leo.


Dhira masuk ke dalam rumah. Ia memeriksa seluruh ruangan itu dengan tatapannya. Bukan hanya ruang tamu tapi semua kamar dan seluruh isi rumah itu diperiksanya. Berharap menemukan suatu petunjuk keberadaan ibunya.


Dhira berdiri di balkon paling atas tepat depan kamar Leo. Menatap ke taman halaman depan dengan tatapan lesu. Tidak ada apapun yang ditemukannya di rumah itu. Selain dua lembar surat perceraian yang sudah ditanda tangani oleh Rudy.


Kaki Dhira melangkah pelan pelan melewati pekarangan rumah Leo. Tatapannya kosong dan pikirannya hampa. Dinaikinya motor yang sering dipakainya akhir akhir ini dan meninggalkan tempat itu. Membawa hatinya yang makin kalut juga takut.


Malam itu, Dhira ke rumah sakit jiwa. Sebelum penyakit Meli makin parah, ia akan bertanya lagi soal ibunya. Kali ini ia harus bisa membuat mulut wanita bicara jujur.


Kaki Dhira terhenti melihat seorang duduk di bangku. Pria itu adalah Leo. Ia duduk bersender dengan kepala menengadah ke langit. Tidak ada niat untuk bertatap muka dengannya, ia melewati pemuda itu.


Setelah bertanya dengan perawat yang sedang berjaga, Dhira menyelusuri lorong diantar oleh penjaga ke ruangan Meli.


"Sebaiknya nona jangan terlalu dekat dengannya. Ia sudah melukai beberapa perawat dan dokter. Wanita itu mengerikan." Ujar penjaga lelaki itu.


Dhira berhenti, otomatis lelaki dibelakangnya juga berhenti. Ia berpikir sejenak lalu lanjut berjalan.


"Yang itu ruangannya. Hati hati, dia mengamuk setiap ada yang membuka pintu." Tangan Dhira tidak jadi menarik kenop pintu. Ia menoleh ke lelaki yang terlihat tegang, karena takut.


"Bapak gak usah ikut masuk. Aku ini keponakannya. Kami cukup dekat."


"Tapi, anaknya saja tidak dikenalinya. Apalagi..."


"Pergilah! Aku tidak akan kenapa-kenapa." Bentak Dhira.


"Baiklah." Lelaki itu mundur dengan wajah tidak yakin.


Pintu terbuka perlahan. Dhira bersiap dengan serangan bentuk apapun yang akan menyambutnya. Tidak ada suara apapun, hening. Didorongnya pintu lebih lebar lalu kepalanya mengintip ke dalam.


"Dia tidur." Ujar Dhira. Ia menutup pintu setelah masuk dan berjalan berjinjit menghindari benda benda yang berserakan dilantai ke arah ranjang.

__ADS_1


Ditatapnya wajah Meli yang berantakan dengan wajah tegang. Darahnya langsung naik ke ubun-ubunnya begitu melihat wanita itu. Kedua tangannya terkepal menahan diri.


"Kau pikir berpura-pura gila bisa membuatmu lolos dariku? Sekarang adalah kesempatan terakhirmu!" Dhira menunjuk wajah Meli. Sengaja mengeraskan suaranya agar Meli terjaga.


Dan benar saja, Meli menggeliat lalu membuka matanya. Ia memicingkan matanya saat melihat ada bayangan di samping ranjangnya. Tiba tiba ia duduk dengan gerakan cepat. Wajahnya terlihat kaget.


"Kau bangun juga akhirnya! Jangan pura-pura gila kau!"


"Heh! Ngapain kau ke sini? Pergiiii!" Meli meraih bantalnya dan memukulkannya ke pada Dhira.


Dhira menangkap bantal dan melemparnya ke lantai dengan keras. Ia menangkap kedua tangan Meli dan mencekal nya sangat kuat. Ditatapnya kedua mata Meli dengan sorot tajam "Katakan dimana ibuku?"


"Kenapa semua orang sama saja? Bertanya tentang itu terus. Sudah ku bilang aku tidak tahu!"


"Bohong!" Bentak Dhira. "Kau telah menyembunyikan ibuku. Sekarang katakan dimana?" Diambilnya kedua tangan Meli dan menyatukannya, menahan agar tangan itu tidak bisa menyentuhnya.


Meli berontak berusaha melepaskan diri. Bahkan ia meringis kesakitan karena tangan Dhira menyentuh lengannya yang luka akibat tusukan garpu. Tapi pegangan Dhira kuat sehingga tidak bisa lepas.


"Katakan dimana ibuku?" Tanya Dhira. Melonggarkan sedikit tekanan tangannya. Ia mencoba merendahkan nada suaranya. Siapa tahu dengan berusaha membujuknya, Meli bisa jujur.


"Hahahahaaaaa...hahahahaaaa..." Meli malah tertawa terbahak. "Kau mencari wanita sia*an itu? Ayo...ikuti aku. Bawa aku keluar dari sini. Aku akan menunjukkannya."


"Dimana? Katakan saja tempatnya. Setelah mengatakannya aku akan membawamu keluar dari sini. Kau akan bebas dan sehat kembali. Tidak akan ada yang mengganggu mu lagi atau pun mengurung mu." Setengah menangis Dhira membujuk Meli.


"Kau akan bebas dan sehat kembali." Meli meniru perkataan Dhira dengan wajah marah.


"Heh! kau pikir aku sakit! Semua ini gara-gara kau! Aku di kurung! Gara-gara kau, suamiku memarahiku! Aku telah dibuangnya! Aku mau di cerai olehnya! Semua karena mu!" Teriak Meli berapi-api. Sekali hentakan, ia mendorong Dhira dengan kakinya.


Tak ada persiapan membuat Dhira mudah terdorong. Kepala dan punggungnya terbentur ke dinding tembok dengan keras.


Dhira mendorong Meli agar menjauh darinya. Tapi Meli belum juga mundur. Ia masih terus melancarkan kedua tangannya secara brutal ke wajah dan lehernya.


Bukkk...


Dhira mendorong perut Meli barulah wanita itu terhempas ke belakang.


Ia bangkit, dengan gerakan cepat ia mengayunkan tangannya, meninju ke arah wajah Meli. Tapi kepalan tangannya mengambang di udara dan hanya jarak sedikit lagi di hidung Meli. Ia menahan tangannya. Merasa dirinya terlalu kejam dan jahat bila membuat hidung Meli patah. "Ku beri kau kesempatan sekali lagi. Katakan dimana ibuku!"


Meli mengerjap-ngerjapkan matanya dengan ekspresi ketakutan. Namun, itu hanya beberapa saat. Raut wajahnya berubah menantang "Kenapa? Apa kau takut? Hahaha...kau takut..." Malah tertawa dengan ekspresi mengejek.


Dhira merasa kepalanya panas ditertawai begitu. Rasanya ingin sekali menghajarnya hingga babak belur. Kalau saja Meli bukan seorang wanita pasti sudah dari tadi dilakukannya. Membuat wanita gila itu hancur hingga minta ampun.


"Aku tidak perduli kau gila! Aku hanya ingin kau katakan dimana ibuku." Geram Dhira.


"Hah semua orang ingin tahu dimana dia. Baiklah. Mungkin aku memang harus mengalah agar tidak dikurung terus. Aku bosan dikurung seperti ini." Meli berdiri dan berbicara seperti seorang yang terlihat pasrah


"Iya. Katakanlah. Aku hanya ingin ibuku. Setelah itu aku akan melepas Ara, dan pergi dari kota ini. Kalian bisa hidup tenang begitu juga dengan kami. Sekarang katakanlah."


"Aku akan menunjukkannya. Bawalah aku pergi dari sini. Tempatnya tidak jauh dari sini. Kita keluar sebentar." Ujar Meli. Wajahnya terlihat serius dan normal.


'Dia tidak terlihat gila. Dia waras. Apa kegilaannya hanya berpura pura.' Dhira berbicara dalam hati dengan mata tak luput dari wajah Meli.


"Kenapa? Kau ragu? Aku tidak gila. Entah kenapa Leo membawaku ke sini. Bisakah kau membawaku keluar?"


"Katakan dulu. Baru aku membawamu keluar dari sini." Tawar Dhira.

__ADS_1


"No no no. Kau pikir aku bodoh. Keluar dulu baru ku katakan. Lagian walau ku katakan kau tidak akan tahu. Aku harus menunjukkannya." Meli tersenyum licik dengan mata berbinar.


"Jangan coba coba menipuku!"


"Yah udah. Keluar kau! Aku mau tidur." Meli naik ke ranjang dan berbaring.


Dhira menatap Meli yang berbaring. Pikiran dan hatinya berkecamuk. Akankah menuruti penawaran Meli.


"Baiklah. Ayo sekarang keluar." Setelah berpikir beberapa saat, Dhira menyetujui permintaan Meli. Asal ibunya ketemu ia akan melakukan apapun.


Meli bangun secara mendadak. Raut wajahnya terlihat senang. "Bagaimana caramu? Memangnya mereka akan memberikanmu kesempatan? Tempat ini di jaga." Meli berbaring lagi mengingat dirinya dijaga ketat.


"Aku bisa."


Meli bangkit lagi. Ia menatap Dhira tidak percaya.


Dhira berjalan ke arah pintu. Membuka dan memeriksa luarnya. Ada dua orang pria bertubuh besar berjaga di dua sisi pintu. Ia menggaruk kepalanya merasa tidak melihat dua orang itu sebelumnya.


Tidak ada cara lain lagi untuk membawa Meli keluar, selain menjauhkan dua penjaga tersebut. Tidak ada lain lagi selain membuat mereka pingsan.


Meli tertawa dan me melihat kemampuan Dhira


"Jangan tunjukkan kegilaan mu padaku. Sekarang ayo keluar!" Dhira menarik tangan Meli. Menyeret wanita itu keluar.


Meli pasrah ditangan Dhira. Wanita itu tidak terlihat melawan. Ia mengikuti kaki Dhira menyelusuri lorong ke arah keluar rumah sakit.


Tapi baru sebagian lorong ruang sakit yang mereka lewati, Meli tiba-tiba meloloskan diri.


Menyadari itu, Dhira segera berlari mengejarnya. Sekarang ia tahu Meli hanya ingin menipunya. Wanita itu hanya ingin keluar dari kurungan.


Kejar kejaran tak bisa dihentikan. Meski Dhira berlari kencang, Meli belum juga tertangkap. Meli seperti seekor kuda yang menggila. Apa saja ditariknya dan dilemparnya ke arah jalan yang akan dilalui Dhira. Tidak peduli itu perawat atau pasien, atau pengunjung. Beberapa orang terluka karena ditarik paksa oleh Meli dan membantingnya ke lantai.


Dhira sangat geram. Ia menatap punggung Meli dengan kemarahan yang tak tertahankan lagi. Sekuat tenaga ia menambah kecepatan kakinya menggapai wanita itu.


Setelah berlarian sekitar dua puluh menit, Meli akhirnya berhenti. Tidak ada jalan lagi karena terperangkap di ujung lorong dekat gudang. Hanya ada tangga darurat di sebelah kanannya. Mungkin itu menuju ke atas atap.


Meli nekad menaiki tangga itu sebelum Dhira menangkapnya. Sangat cepat hingga hanya hitungan detik detik Meli sudah naik hingga tak terlihat lagi.


Dhira juga segera berlari naik ke tangga itu.


Dhira tiba di atap yang sama dengan Meli. Ia berjalan cepat mendekati Meli yang kebingungan mau ke arah mana. Tidak ada lagi tempat bersembunyi karena di atap hanya ada lantai luas tanpa hambatan apapun.


"Kau ingin membohongiku?" Gertak Dhira. "Katakan dimana ibuku!"


"Hahaha...kalian semua gila. Untuk apa mencari orang yang sudah mati. Dia sudah mat*!" Meli tertawa puas. Dan bicara tanpa merasa menyesal.


"Apa???" Dhira tak kuasa menahan tangisnya. Tangan dan kakinya bergetar tidak bisa membayangkan yang sudah terjadi pada ibunya.


"Itu tidak benar! Kau hanya sedang gila! Aku ingin ibuku! aku ingin ibuku!!!" jerit Dhira campur tangisan.


"Yah menangis lah! Memang sudah sewajarnya kau menangisinya. Kasihan dia karena mat* dalam sepi. Hehehe...lihat, kau menangis! Ya benar, begitu caranya menangis. Harus sedih dan banyak air mata." Meli terkekeh keras seakan yang sedang dilihatnya adalah hal lucu.


Dhira tak bisa mengatakan apapun. Tenggorokannya terasa sakit hingga ke dadanya. Rasanya sekujur tubuhnya kaku. Rasanya jiwanya seperti pergi meninggalkan dirinya.


Ia masih berharap Meli mengatakan ibunya berada di suatu tempat yang jauh dan tersembunyi. Tapi malah kabar yang tak diharapkan lah yang di dengarnya.

__ADS_1


__ADS_2