Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Ara Pulang


__ADS_3

Dhira mengambil es batu dan membungkus ke kain. Setelah itu ia mendekat pada Leo dengan ragu ragu.


"Jangan takut. Aku tidak menggigit."


Dhira menoleh. Melihat ke wajah Leo yang masih dengan mata terpejam.


Ia naik ke sofa dengan menekuk ke dua lututnya sebagai tumpuan. Untung tangannya agak panjang sehingga tidak perlu sampai mepet ke tubuh Leo untuk menggapai wajahnya.


"Kenapa? Apa kau takut? Gerakan mu sangat lambat. Tidak sesuai dengan bela diri yang kau kuasai."


Dhira tidak menjawab. Ia hanya menekan nekan buntalan es ke hidung Leo dengan pelan. Sedangkan wajahnya mengarah ke pintu. Dari tadi ia sangat was-was bila ada orang yang masuk.


"Kau terlihat sangat pendiam. Padahal bersama Vanya kau sangat ribut."


Dhira tetap saja diam. Merasa tidak perlu menjawab ocehan basa basi Leo.


"Sudah berapa lama bekerja di sini?"


Leo mengintip sedikit melihat Dhira. Ia penasaran kenapa gadis itu diam saja.


'Ooo...dia ternyata sedang tidak fokus. Ekspresinya begitu gelisah.'


"Hei...Andhira!"


"Hah? Iya Pak? Ada apa? Apa terlalu kuat? Maafkan saya." Dhira sampai mengucapkan banyak kata sekaligus saking terkejutnya.


"Tidak. Itu sedang kok. Aku tanya sudah berapa lama kerja di sini?"


"Baru sebulan Pak."


"Kenapa bekerja sebagai staff admin padahal kemampuanmu bisa mendapat pekerjaan yang lebih bagus?"


"Pendidikan saya hanya sebatas itu Pak."


"Lulusan apa?"


"Diploma tiga Pak."


"Hm..." Leo hanya bergumam pendek.


"Kenapa tidak menjadi bodyguard atau pelatih bela diri? Ku dengar gajinya lebih besar dari pada menjadi staff."


"Dapat pekerjaan yang ini juga udah syukur Pak. Tidak gampang menjadi seseorang yang kita inginkan zaman sekarang ini."


"Berarti aslinya ada keinginan lain? Apa itu?" Leo begitu tertarik tentang kehidupan Dhira.


"Nggak Pak. Menjadi yang sekarang juga udah senang." Jawab Dhira.


Leo kembali mengintip. Ia melihat wajah Dhira yang tidak menunjukkan kepasrahan atas jawabannya. Terlihat mendung dan tersirat gambaran lain.


"Bagaimana kalau kau menjadi pelatihku?" Yes masuk! Ide Leo beberapa hari ini untuk membuat Dhira selalu berhungan dengannya berhasil.


"Hah? Pelatih?"


"Iya. Tiba tiba aku menjadi merasa malu tidak bisa berkelahi setelah melihatmu malam itu. Keinginan untuk bisa melindungi diri menjadi timbul."


"Tapi? Bagaimana? Menjadi pelatih tentu tidak akan lama. Sementara pekerjaan saya...mungkin saya akan sulit mendapat pekerjaan setelahnya."


Leo bangun dari sandaran sofa. Ia menyisihkan tangan Dhira dengan lembut. "Tetap bekerja seperti biasanya. Menjadi pelatihku hanya sampingan mu. Bagaimana?"


Dhira menatap ke telaga Leo dengan dalam. Tentu tawaran Leo sangat menggiurkan. Apalagi tetap bisa bekerja. "Saya pikirkan dulu Pak. Beri saya waktu."


"Hm. Aku mau jawabannya besok. Ini nomorku, hubungi aku. Hidungku sudah agak mendingan. Kembalilah bekerja."

__ADS_1


"Saya permisi Pak."


"Oh iya, apa Rendra masih membuat ulah?"


"Rendra?" Dhira berpikir sebentar. "Tidak lagi Pak."


"Hm. Baguslah. Jika dia masih menyulitkanmu hubungi aku." Leo menyodorkan kartu namanya ke hadapan Dhira.


Dhira hanya mengangguk dan mengambilnya. Lalu ia keluar.


Leo bangkit dari sofa pergi ke kamar mandi. Ia bercermin dengan senyum yang tidak bisa hilang dari bibirnya. Lagi lagi ia mengalami sport jantung. Ia menekan dadanya perlahan dan tertawa pelan.


Dhira tiba di ruangan admin. Ia duduk di kursinya dengan wajah berkerut.


"Kenapa muram begitu? Apa terjadi sesuatu?" Vanya datang membawa dua bungkus nasi. "Kita makan disini aja."


"Hm. Tidak ada apa-apa."


"Benarkah? Oh terimakasih. Ku kira kita berdua bakal pengangguran."


"Pak Leo menawarkan pekerjaan lain padaku." Ucap Dhira pelan.


"Hah? Kamu naik posisi?"


"Bukan. Pekerjaan di luar kantor."


"Pekerjaan apa?"


"Nantilah kita bahas itu. Makan dulu. Perutku lapar." Dhira membuka nasi bungkus dan melahapnya hingga habis. Hingga sore mereka tidak sempat membicarakan pekerjaan yang dimaksud Dhira.


"Pestanya jam berapa Dhi?" Tanya Vanya saat mereka sudah di loby.


"Jam tujuh. Datanglah ke cafe Happy."


"Nggak usah bawa apa-apa. Kita tinggal datang aja."


"Oke. Sampai jumpa di sana."


Di sebuah cafe dekat kampus tempat Dhira, Vanya kuliah beberapa tahun lalu, nampak sepi dari biasanya. Cafe yang sepanjang hari ramai ini, adalah cafe favorit para anak muda. Selain luas dan bertingkat tiga dan nyaman pelayanannya juga bagus.


Dhira baru beberapa detik tiba, sahabatnya Vanya juga tiba.


"Dhi, kok sepi gini ya? Padahal ini sudah malam. Biasanya rame banget."


"Nggak tahu. Ayolah masuk!"


Dhira dan Vanya masuk.


Dooorrrr


Dooorrrr


Tiba tiba ada beberapa kali letusan tepat saat Vanya berada di pintu masuk. "Aaaaa...! Mama...tolong aku...!" Vanya berteriak sambil meringkuk dan menutupi ke dua telinganya. Ketakutan saat malam dirinya dan Dhira dikepung komplotan Rendra belum hilang. Membuatnya kaget sekaligus ketakutan setengah mati. Sekujur tubuhnya rasanya mati rasa dan susah digerakkan.


"Happy birthday to you...happy birthday to you..."


Tiba tiba nyanyian selamat ulang tahun memenuhi ruangan.


Vanya berdiri dari jongkok sambil melepas tangan dari pipinya. Matanya melotot besar tidak percaya dengan pendengaran dan yang terlihat.


"Horeee....dia benar benar terkejut. Berhasil berhasil..." Seorang gadis cantik bersorak kesenangan. ia berjingkrak sambil maju ke arah Vanya.


Lagi lagi Vanya melotot hingga bola matanya hampir keluar. Ia bengong dengan mata berkaca kaca dan berubah menjadi isak tangis.

__ADS_1


Semua yang ada di sana berdiam dan suasana menjadi hening. Mereka saling memandang terheran. Biasanya Vanya tidak mudah tersentuh dan paling susah menangis.


"Selamat ulang tahun my friend..."


"Ara?" Vanya hanya bisa menyebut nama Araysa Rabiga. Sahabat Vanya dan Dhira.


"He'em...kejutan..." Ara melebarkan tangannya untuk memeluk Vanya. "Gimana suprise nya? Sampe nangis segala...hahaha...cup cup cup baby..." Ara menepuk punggung Vanya pelan seperti seorang ibu yang berusaha menenangkan bayinya.


Vanya menyusut air matanya yang sempat jatuh. "kalian hampir bikin aku mati. Kaget tahu!!!"


Hahaha...


Semua orang yang disana tertawa. Ternyata mereka lumayan banyak. Semua teman kuliahnya datang dan beberapa orang teman sekantornya.


Ruangan pun terang berderang dengan iringan musik. Semua bernyanyi melanjutkan lagu yang sempat terhenti dengan ceria.


Vanya tersipu dengan kejutan yang telah disiapkan pada sahabatnya. Ia sendiri tidak mengingat kalau dirinya sedang berulang tahun. Mungkin karena tidak ada Arga didekatnya membuatnya tidak memikirkan tentang dirinya.


"Oke friend semuanya, kita sudah selesai bernyanyi sekarang saatnya seseorang akan memberikan hadiah teristimewa pada teman kita Vanya...!" Salah satu pria teman kuliah Vanya memberi instruksi.


Semua terdiam. Mereka saling melirik siapa gerangan yang ingin memberi hadiah itu.


Tuk tuk tuk...


Suara sepatu di lantai terdengar keras karena ruangan mendadak hening. Seorang berpakaian rapi dengan kemeja putih dengan celana jeans biru datang ke tengah kumpulan.


"Arga?" Vanya terkejut melihat yang datang padanya. Setahunya Arga sedang di Surabaya melakukan pekerjaan hingga dua Minggu lagi.


"Selamat ulang tahun...panjang umur dan selalu banyak cinta untukmu." Arga memberi seikat bunga mawar berwarna warni ke hadapan."


Vanya tidak bisa bersuara. Ia hanya mengangguk dan menerima bunga dengan wajah bersemu merah.


Arga menarik pinggang Vanya setalah memberikan bunga dan memeluknya dengan erat. Sedangkan semua yang di ruangan bertepuk tangan ikut berbahagia dengan pasangan kekasih itu.


Acara pun berlanjut terus. Nampak semua orang menikmati pesta. Mereka berkelompok dengan topik pembicaraan masing masing. Ada yang berpasangan, ada yang hanya wanita ada juga yang hanya pria.


Di meja paling lebar di sanalah Vanya dan yang lainnya berkecimpung membahas kembalinya Ara dari Belanda.


Gadis berusia dua puluh tahun itu sedang liburan semester ke Belanda.


"Woiii yang baru pulang dari Belanda, bawa apa? Bagi oleh olehnya." Celoteh Dina teman sekantor Vanya.


"Ini. Paras makin cantik dan budi makin baik." Ara menunjuk dirinya dengan tawa memegahkan diri.


Hahaha


Mereka tertawa. Ara memang gadis ceria yang selalu ada cara untuk melawak. Ia adalah gadis paling beruntung di dunia ini. Selain cantik, ia adalah putri pengusaha sukses di tanah air bahkan diluar negeri. Itu sebabnya ia sudah menjelajah negara negara luar sejak dari kecil. Tapi ia tidak pernah sombong dan angkuh meski dirinya memiliki segalanya. Ia sudah berteman dengan Vanya dan Dhira sejak tiga tahun lalu.


"Ini pesta idenya dia." Dhira menunjuk Ara. "Sebenarnya dia sudah pulang tiga hari yang lalu. Tapi sengaja bersembunyi dan merencanakan perayaan ultahmu."


"Trim's sobat. Kamu memang selalu baik dan semoga seterusnya juga baik." Ucap Vanya.


"Santai...yang penting kita happy." Ara mengangkat gelas melakukan chirs. Dan semua menyambut ulurannya.


"Hari hari kita pasti seru! Karena bandar kita sudah tiba. Benarkan Dhi?" Vanya berdiri dan mengajak Dhira dan Ara berjoget mengikuti musik.


Malam itu mereka melakukan pesta seru-seruan. Ara telah mempersiapkan semuanya agar pesta lebih hidup dan meriah. Bahkan untuk satu malam ia telah mengosongkan cafe dengan menyewanya agar mereka tidak terganggu.


Vanya juga begitu bahagia. Selain sahabatnya sudah pulang, ia bertemu dengan kekasih setelah dua Minggu berjauhan. Juga dapat hadiah jam tangan mewah dari Arga.


Jam satu mereka baru bubar. Suasana malam menghantar mereka pulang. Dhira menyetop taksi dipinggir jalan untuk pulang. Sebenarnya Ara berniat mengantarnya. Namun, tiba tiba papinya menelepon mengatakan harus segera pulang. Sedangkan Vanya masih ingin berduaan dengan Arga.


Begitu taksi datang Dhira masuk. Ia sudah merasa mengantuk berat dan kepalanya terasa sedikit melayang. Mungkin karena minuman yang mereka minum tadi. Ara memesan minuman beralkohol untuk memeriahkan pesta.

__ADS_1


Sebuah mobil Avanza hitam berhenti didekatnya. Lalu dua orang pria turun dan secara cepat memukul kepala Dhira. Pria satunya mengangkat tubunya dan membawanya masuk ke mobil.


__ADS_2