
Pecahan kaca merobek pangkal lengan Dhira. Darah langsung mengucur dari balik kain yang robek. Ia meringis merasa perih dan dingin dari luka itu.
Kesempatan itu, digunakan Meli meloloskan diri dari cengkraman Dhira. Didorongnya Dhira dengan kuat membuat gadis itu mundur. Lalu Meli maju dan menodongkan pecahan cermin ke leher Dhira.
"Jangan macem macem kau! Jangan bangkitkan amarah ku! Kalau aku mau, paling mudah bagiku melenyapkan mu! Coba ulangi sekali lagi perbuatan mu ini, maka habislah kau!" Ia menekan ujung cermin hingga menusuk kulit leher Dhira.
Terasa perih dan sedikit panas di leher Dhira.
Ia sungguh tidak menyangka Meli bernyali menyakiti dirinya. Bahkan menurutnya gaya bicara dan mata wanita itu begitu mendominasi sebagai penjahat.
Dhira tidak mau dianggap lemah dan takut, dihantamnya perut Meli dengan lututnya. Tidak terlalu kuat tapi itu cukup membuat Meli meringis. Ditambahkannya sebuah pukulan di lengannya dan membuat pecahan cermin ditangannya terjatuh.
Dicengkeramnya leher Meli "Bukan hanya kau yang bisa melenyapkan orang!! Aku juga bisa membunuhmu!" Tantang Dhira.
Tidak ada sedikitpun rasa takut dimatanya. "Ku tunggu hingga malam, antarkan ibuku kembali ke rumah dengan selamat. Kalau tidak, lihatlah bagaimana dunia ini menghujat kalian telah menjual darah daging kalian sendiri. Bisa kau bayangkan bagaimana raut wajah Ara saat tahu kalian adalah keluarganya yang sesungguhnya?"
Ancaman Dhira makin membuat Meli marah.
"Aaaahhh...!!! Mulutmu harimau mu!" Tunjuk Meli ke mulut Dhira ujung jarinya berlumur darah. Darah Dhira mengenai jarinya. "Pernah kau dengar pepatah itu? Jaga mulutmu itu! Kalau tidak kau bisa mati!!!"
"Kaulah yang mati bila ibuku tidak kembali hingga pukul sembilan belas! Jangan ragukan aku soal merusak nama dan wajahmu itu!" Dhira berbisik sembari membelokkan tangan Meli dan memutarnya.
Meli menggeliat kesakitan dengan wajah tertahan. Setelah ia meringis barulah tangannya dilepas oleh Dhira.
Dhira meninggalkan Meli yang masih deg degan. Dadanya turun naik seiring hembusan nafasnya. "Sialan! Berani sekali kau!" Meli berteriak.
***
Sesudah pulang, Meli menghubungi Leo menyuruhnya pulang. Ia tidak akan membiarkan Dhira melakukan apapun. Bukan tipenya kalah dan mengalah.
"Ada apa Mi?" Belum duduk Leo sudah bertanya.
"Makin lama kamu ini makin kelihatan urakan. Sudah dua Minggu kita tidak bertemu, pertanyaan mu membuatku serasa orang lain!" Suara Meli tegang. Hingga sekarang amarahnya belum reda.
Leo menggaruk kepalanya. Sebenarnya hatinya belum mencair dari situasi tegang. Membuat dirinya tidak bisa mengucapkan basi-basi meski pada maminya. Ketegangan hilangnya Amelia sangat menggangu pikirannya.
"Duduklah dulu. Ada yang mau Mami bicarakan."
Leo duduk di sofa tepat di samping maminya.
Meli mengambil tangan Leo dan menggenggamnya. "Benarkah kau sungguh sungguh pada Dhira? Sudah tidak ada niatmu mencari gadis lain?" Dalam sekejap, mimik dan intonasi Meli bisa berubah enak.
"Iya. Tak ada gadis lain. Hanya Andhira seorang."
Meli menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan. "Baiklah. Mami tidak punya kekuatan lagi untuk menentang mu. Demi kebahagiaan mu."
Leo mengangkat kepalanya dan menatap maminya dengan tidak percaya. "Kenapa Mami tiba tiba berubah?"
"Bukan tiba tiba berubah. Ini sudah kupikirkan baik baik. Kalau memang itu pilihanmu ya udah. Tidak ada artinya menolak. Toh kamu tetap memilihnya."
"Jadi Mami menerima Dhira?" Wajah dan mata Leo berbinar.
"Hm. Bukankah harusnya begitu?" Meli menepuk punggung tangan Leo pelan pelan.
"Oh terimakasih Mi. Akhirnya persolan ini selesai." Leo lebih lega, salah satu permasalahan selasai.
"Iya. Tapi Mami dengar dengar, ibunya Dhira menghilang. Apakah benar?"
"Mami tahu dari mana?" Tidak banyak orang yang tahu soal hilangnya Amelia. Hanya orang terdekat Dhira.
"Mami hanya dengar isu. Tapi tidak terlalu jelas. Apa benar begitu?"
Leo terdiam sebentar. "Iya. Ibu Amelia menghilang dari rumah sakit."
"Dari rumah sakit?" Wajah Meli terlihat terkejut.
"Iya. Beliau baru menjalani operasi donor ginjal."
"Hah?" Meli menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Matanya melebar karena terkejut.
__ADS_1
"Sebenarnya, beliau baru di kota ini. Karena sakit, harus ke sini untuk menjalani perobatan. Tapi sepertinya kota ini adalah tempat masa lalunya. Ada orang yang menguntitnya bahkan kini beliau hilang."
"Astaga. Kasihan sekali. Lalu apakah kondisi nya sudah baik? Maksud Mami soal ginjalnya?"
"Sudah tapi masih harus dalam pantauan dokter. Entah bagaimana saat ini kondisinya. Semoga orang yang menculiknya tidak membuatnya kesulitan. Setidaknya menyadari kondisinya." Terlihat wajah Leo yang sedih.
Meli menatap lama wajah putranya. Hatinya terluka dan sakit luar biasa. Putranya begitu menghawatirkan orang lain. Bahkan kini ingatannya melayang ke soal uang dua M yang dikeluarkan Leo demi wanita itu.
"Ajaklah Mami mengunjungi Dhira. Setidaknya Mami bisa memberinya keringanan pikiran. Mami akan bicara padanya dan membantunya mencari Amelia."
"Benarkah Mi?"
Meli mengangguk pasti. "Iya. Sekarang juga bisa. Mami pengen menemuinya."
"Sekarang?" Tanya Leo.
Meli mengangguk mengiyakan. "Ayolah. Sekalian kita makan malam bersama." Meli begitu senang, usahanya membuat Dhira tidak sesukanya terhadapnya ternyata tidak sulit. Sengaja mendekatkan diri, setidaknya dengan adanya Leo, Dhira akan berpikir dua kali melancarkan ancamnya.
***
Dhira merasa sangat lelah. Bahkan rasanya tenaganya seperti hilang dan membuat tubuhnya tidak berdaya. Sudah beberapa malam ia tidak tidur dan tidak teratur makan. Seleranya hilang meski perutnya terasa kosong bahkan perih.
"Oh Tuhan, tolong lindungi ibuku. Jangan biarkan terjadi hal buruk padanya. Berikan petunjuk keberadaan ibu..." Ia menangis sambil memeluk lututnya di atas ranjang.
Ia sungguh kehabisan akal cara mencari Amelia. Kemana lagi harus memeriksa. Meski barusan ia berusaha mengancam Meli dan berharap yang dipikirkannya adalah benar, tetap saja tidak membuatnya tenang. Memaksa wanita itu tanpa bukti tidak akan berhasil. Soal ancamannya juga sebenarnya berat melakukannya.
Bagiamana perasaannya terhadap Leo?
Bagaimana ternyata dugaannya salah, ternyata bukan Meli pelakunya?
Bila Leo sampai menderita, itu juga merupakan penderitaannya. Pria baik itu tidak pantas dibalas dengan penderitaan. Semua kebaikannya sungguh tak akan terbalas olehnya. Mana mungkin dirinya tega pada Leo.
Pikirannya berkecamuk, berperang bagaimana memastikan Meli pelakunya atau bukan.
Salah satu cara mengetahuinya adalah menemukan Rendra. Semenjak Amelia hilang, ia sudah menyewa tiga orang preman untuk menemukan Rendra. Bahkan dengan upah lumayan besar.
Ada untungnya juga Meli memberikan uang dua ratus juta itu. Sehingga bisa membayar biaya yang diperlukannya. Namun, hingga kini belum ada kabar dari ketiganya.
Tiba tiba pikiran Dhira terputus karena suara Leo dan ketukan di pintu. Dengan malas ia bangun dari ranjang. Membuka pintu. Ia sampai tidak menyadari Leo saat masuk ke rumahnya.
"Hai, belum tidurkan?!"
"Hampir." Jawab Dhira singkat.
"Kamu pasti lapar, kita makan." Leo mengangkat tangannya untuk meraba kening Dhira.
Kekasihnya itu, terlihat sangat lemas dan matanya sangat sayu. Bahkan masih terlihat bulu matanya yang basah karena habis menangis.
Dhira menggeleng. "Kamu aja. Perutku nggak enak."
"Cobalah walau sedikit. Kita makan bareng Mami."
Dhira mengangkat kepalanya yang tertunduk begitu mendengar Leo menyebut maminya. Kedua matanya tiba tiba menyala terang. Menatap Leo antara percaya tidak percaya.
Leo tersenyum "Mami mau bertemu denganmu."
"Haaa..." Dhira tidak tahu mau bicara apa. Ia mendorong Leo dan keluar dari kamar. Dadanya terasa berdetak lebih keras. 'Benarkah Meli membawa pulang ibuku?'
Ia berdiri dengan lemas ketika melihat yang duduk di ruang tamu hanya Meli seorang. Tidak ada ibunya bersama wanita itu.
"Ah Andhira, bagaimana kabarmu?" Meli menyapanya dengan senyum paling manis. Tapi di matanya itu sungguh palsu. Ada percik percik kelicikan dari sorot mata yang ikut tersenyum itu.
Dhira bisa membaca sorot mata itu.
Dhira bergeming. Otaknya terasa buntu. Ia berdiri dengan menggenggam ponselnya kuat kuat.
"Kenapa berdiri? Duduk dan kita makan." Leo menarik pelan pangkal lengan Dhira agar maju lagi.
"Hhhssss...sakit." keluh Dhira saat luka di lengannya terpegang Leo.
__ADS_1
"Hah, kenapa? Apa kamu terluka?" Wajah Leo panik dan memeriksa lengan Dhira.
"Iya. Ini robek akibat tusukan seseorang." Jawab Dhira degan suara tajam disertai lirikan ke arah Meli.
"Siapa? Kenapa? Siapa yang menyerang mu? Kenapa tidak mengatakannya padaku?" Tanya Leo sambil memeriksa kulit Dhira yang robek.
"Sungguh kamu ingin tahu siapa pelakunya?" Tanya Dhira dengan nada menyindir.
"Pertanyaan macam apa itu? Katakan siapa orangnya?" Leo terlihat emosi.
Sementara Dhira melihat ke arah Meli yang pura pura sibuk dengan makanan di meja. Dalam hati mengumpat pada wanita itu. Ingin sekali ia mengatakan pada Leo kalau ibunya menjadi tersangka hilangnya ibunya. Tapi ia tidak mungkin mengatakan itu, jika tidak memiliki bukti yang kuat.
"Sudahlah. Ini tidak seberapa sakit. Aku tidak tahu siapa dia. Dia berbalut topeng. Jadi aku tidak mengenalnya." Sahut Dhira.
"Sekali lagi kalau ada sesuatu yang mengancam mu, hubungi aku segera."
"Iya. Tenang aja. Kamu tahu kan aku masih bisa mengatasi orang jahat kelas teri. Akan ku pastikan orangnya datang sendiri padaku menjelaskan duduk persoalannya." Dhira duduk persis dihadapan Meli.
Mata mereka bersitatap beberapa detik menyatakan perang. Sama sama memiliki sorot mata tajam menyeramkan membuat siapa saja yang melihat itu merinding.
"Nak Dhira, kamu harus makan. Agar kamu tetap sehat terlebih masa pencarian ibumu. Kalau tubuh dan pikiran mu kurang sehat bagaimana kamu bisa bertahan. Kami akan menemanimu makan agar membantumu berselera."
Dhira tidak menyahut. Ia hanya duduk dengan tubuh kaku.
"Jangan tegang begitu. Mami menyesal telah bersikap kurang ramah padamu hari itu. Setelah mendengar kabar hilangnya ibu, mami berubah pikiran. Mungkin bisa merasakan yang kamu rasakan." Leo berusaha membuat suasana cair.
"Iya. Terimakasih telah perhatian padaku. Kalian benar, aku harus tetap sehat agar kuat dan bisa menemukan ibuku." Dhira mengambil makanan dan memakannya dengan lahap. Ucapan Meli benar benar membuatnya lapar.
"Kami akan membantumu menemukan ibu mu. Siapa namanya, ah Amelia ya? Untuk itu, bisakah kamu memberikan fotonya padaku. Agar aku mengenali ibumu." Pinta Meli.
Wajah Dhira mengkerut "Maaf saya sungguh tidak punya fotonya." Jawab Dhira pelan. Ia berharap Leo menepati janjinya tidak akan memberikan foto ibunya kepada siapapun.
Alasan kenapa ia tidak mau menyebar foto ibunya adalah karena belum tahu pasti siapa yang mengincar ibunya dan siapa yang telah menculik ibunya. Ia tidak mau dengan foto itu, orang yang menginginkan ibunya justru semakin ada jalan untuk menemukan Amelia. Sesuai dengan yang diakui Rendra, ada orang yang memastikan wajah ibunya.
"Hm?" Meli bertanya tidak percaya. Matanya berkeliling ke seluruh ruangan mencari foto Amelia.
"Karena terlalu sibuk dengan keadaan kami tidak sempat berpikir untuk berfoto." Jawab Dhira lagi.
"Tapi, masak di KTP nya juga tidak ada foto?" Tanya Meli seperti ngotot ingin tahu foto ibunya Dhira.
"KTP ibu terbawa bersamanya." Jawab Dhira.
"Mi, sudahlah. Biar aku dan Andhira yang menangani ini. Mami menjadi ramah dan perhatian begini sudah merupakan dukungan dan bantuan bagi kami." Leo memutus pembicaraan antara dua wanita di sisinya.
Dalam hati Dhira bernafas lega ternyata Leo mengingat permintaannya.
Setelah merasa kenyang, Dhira mengambil air dan meminumnya. Ia benar benar kenyang dan merasa lebih bersemangat kembali. Terasa tubuh dan otaknya mulai segar dan siap melanjutkan yang harus dilakukannya.
Kriinggg kringg
Ponsel Dhira berdering. Diambil oleh Leo dan melihat si penelepon.
"Nomor baru?" Gumamnya, melihat Dhira di sampingnya.
"Sini biar aku bicara. Siapa tahu penting." Dhira mengambil ponselnya. Berbicara beberapa detik dengan orang di sebarang.
"Leo aku harus pergi ke suatu tempat. Tolong kamu di rumah." Setelah bicara ditelepon, Dhira ingin pergi.
"Aku ikut." Leo bangkit mengikuti Dhira.
Meli juga ikut berdiri dengan wajah penuh tanda tanya dan tersirat ada kecemasan di sana.
Dhira melihat kecemasan itu. Membuat kecurigaannya terhadap Meli makin kuat.
'Wajahmu begitu pucat! Dari mimik mu itu, sudah jelas mengatakan kau terlibat Meli Fatin! Dasar wanita ular! Lihatlah bagaimana aku membuatmu tidak bisa berkutik!'
"Jangan. Ini bisa ku atasi sendiri. Kamu di rumah aja. Siapa tahu ibu pulang, maka harus ada orang di rumah ini."
"Katakan saja kamu ada urusan dimana. Biar aku yang berangkat." Tawar Leo.
__ADS_1
"Tidak. Ketika benar benar aku membutuhkanmu turun tangan baru aku akan menyuruhmu. Kamu satu satunya andalanku. Jadi, tolong turuti kata kataku. Kamu dan Ibu Meli menunggu di sini aja!" Pinta Dhira.