Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Maafkan Ayah


__ADS_3

Hasratnya untuk melumpuhkan Jhon makin menggebu. Dengan kepalan tangannya ditinjunya tepat di ulu hati Jhon beruntun tiga kali. keberuntungan pun memihak nya, setelah meninju Jhon sebuah lukisan berukuran besar jatuh menimpa kepalanya. Jhon terjatuh tergeletak dilantai bersama lukisan yang masih utuh.


Dhira berlari ke arah Robert yang sedang membelakangi dirinya. Ditariknya bahu lelaki itu dan langsung dihadiahinya pukulan.


Robert terkejut sekaligus kesakitan. Tinju Dhira sangat keras hingga membuat sudut bibirnya pecah dan berdarah.


Dada Robert terasa panas. Sangat marah dirinya diperlakukan seperti itu.


Belum sempat mulutnya bicara, Dhira sudah menyerangnya kembali.


Robert tidak bisa diam saja. Jika tidak dilawan, tubuhnya bisa hancur atau cacat. Di tendangnya kaki Dhira. Sekali tendang, Dhira terjerembab ke lantai. Satu tangannya menarik kerah bagian belakang leher Dhira hingga gadis itu terangkat.


Robert dan Dhira saling bertatapan. Sama tajamnya, mereka saling menyelami mata lawan masing masing.


Sorot penuh kebencian tergambar dari mata Dhira. Binar yang selalu bercahaya itu berubah mengerikan dan siap melenyapkan siapapun.


"Dimana ibuku!!!!" Teriak Dhira. Sedikitpun ia tidak takut degan sorot mata Robert yang bagai pisau yang siap menghujam.


Bagai tersengat listrik, Robert melepaskan cengkeramannya hingga membuat Dhira terlepas.


'Su-suara itu sama persis dengan suara Araysa. Dan ma-matanya sangat tidak asing bagiku. Kau, sungguh anak Araysa.' Masih dengan wajah terkejut, Robert menatapi Dhira sembari membandingkannya dengan Araysa. Ia baru teringat kalau Dhira adalah anak dari Amelia.


Dhira sudah tidak sabar lagi. Diterjangnya Robert bagai seekor singa. Ia menghantam perut Robert dengan lututnya sambil mengkarate lehernya.


Leher tegap nan keras itu berbunyi terkena hantaman. Tubuhnya oleng oleh tekanan Dhira yang terus berusaha memukulinya. Tidak bisa menahan lagi, tubuhnya ambruk menimpa pagar teralis sebatas pahanya. Karena makin berat, ia makin oleng dan alhasil kakinya terjungkal dan tanpa sengaja menarik tangan Dhira sehingga mereka berdua sama sama melayang dan jatuh ke lantai bawah. Beruntungnya mereka menimpa tubuh seseorang. Kalau tidak, bisa dipastikan mereka pasti patah tulang setelah mendarat ke lantai.


Dhira bergerak lebih cepat karena posisinya menimpa Robert. Diraihnya sebuah p****g yang tergeletak disamping tubuh pria yang mereka timpa.


"Katakan dimana ibuku!" Dhira mengarahkan par*ng berukuran panjang itu, ke arah leher Robert.


Dengan tenang Robert masih berusaha bangun dan berdiri. Kini mereka berdua sudah berdiri. Tapi Robert sebagai tawanan.


"Katakan!! Dimana ibuku!!" Mata Dhira berembun. Ia sudah sangat frustasi dan sangat lelah.


"Tenanglah Dhira! Kau telah salah orang." Terdengar suara Jhon yang mendekat. Ia berusaha mencegah Dhira berbuat yang fatal terhadap papinya.


"Katakan atau ku bun*h kau!!" Kedua tangan Dhira yang memegang par*ng sudah bersiap.


"Aaaaa... tidakkkkk!" Tiba tiba suara seorang wanita mengalihkan semua perhatian orang.


"Apa yang kau lakukan Dhira! Jangan lakukan itu. Dia papi ku!" Sambil menangis Ara berdiri di depan Robert, menghadang Dhira.


Ara yang dapat kabar dari bi Aira ada kekacauan di rumah, memutuskan untuk mengunjungi rumah itu. Sekalian melihat apakah Jhon baik baik saja. Jujur saja, ia merindukan lelaki itu setelah beberapa Minggu tidak melihatnya. Tapi alangkah terkejutnya dirinya melihat yang terjadi di rumahnya. Ia memberanikan diri masuk dan ia histeris melihat adegan perang do dalam rumah itu. Dan jantungnya terasa mau copot begitu melihat adegan antara papinya dengan sahabat sekaligus calon kakak iparnya itu.


"Dia bukan pria baik, dia penjahat! Kau aja diculik dari lahir! Untuk apa kau melindunginya!" Mata Dhira sangat merah. Terdapat kekecewaan dari mata itu.


Sementara yang lain sudah berkumpul menonton. Leo juga sudah berdiri tidak jauh dari Dhira.


"Papi punya alasannya sendiri melakukan itu!" Teriak Ara.


"Ara! Apa yang kamu lakukan! Menyingkir lah! Dia telah menculik ibunya Andhira!" Teriak Leo. Ia sakit hati Ara adiknya masih memanggil Robert sebagai ayahnya. Dan membela lelaki itu.


"Tidak! Bun*h aku lebih dahulu! Kalian tidak mengerti apapun!!!" Teriak Ara.


"Ara, Pergi! Papi akan hadapi ini. Percayalah papi akan baik baik saja." Dengan tenang Robert menyuruh Ara menyingkir. Di dorongnya pelan gadis itu agar tidak jadi penghalang antara dirinya dan Dhira. Entah kenapa ia sangat suka memandangi wajah dan mata gadis itu. Seperti merasakan sesuatu yang membuat dirinya lebih tenang dan nyaman. Berbanding terbalik dengan keinginannya sebelumnya, enggan buat sekedar melihatnya rupanya saja.


Doorrr....


"Akhhh...." Dhira terhempas. Sebuah pelu*u menebus perutnya.


"Tidakkkkk!"

__ADS_1


"Jangannnnn!"


Teriakan itu bukan hanya dari satu orang. Tapi serentak Amelia, Leo, jhon, Ara, dan Robert berteriak dan berlari ke arah Dhira. Mereka berebutan menangkap Dhira yang terhuyung dan hampir ambruk.


Zaky yang melihat kenekatan gadis tangguh yang dari tadi diperhatikannya sudah dikuasai keinginan membun*h bosnya. Tanpa ragu ia melepaskan pelu*unya untuk menjaga keselamatan bosnya.


"Anakku...ini ibu sayanggg...ini ibu." Amelia memeluk Dhira sambil menangis.


"Dhiraaaa...aaaa..." Ara juga histeris.


Sedangkan Leo berusaha merebut Andhira nya untuk segera dibawa ke rumah sakit.


"I-ibuuu..." Air mata Dhira luruh begitu banyak. Bibirnya masih bisa tersenyum dan memeluk ibunya dengan sangat erat.


Jhon sendiri seperti orang linglung. Ia berteriak dan menggusak kepalanya frustasi melihat kondisi Dhira. Serasa luka yang diperut Dhira bisa dirasakannya. Bahkan dadanya terasa sesak.


Jangan tanya bagaimana wajah Robert. Ia berdiri tepat dibelakang Araysa. Mulutnya tidak bisa berkata-kata dan matanya sudah banjir air mata. Hatinya begitu sakit melihat keadaan dua wanita yang saling berpelukan itu.


"Araysa, sebaiknya dia dibawa ke rumah sakit!" Serunya tanpa sadar.


"Harusnya kau membun*h ku saja! Teganya kau membun*h anakmu sendiri! Kau bilang kau tidak melakukannya dulu, tapi sekarang kau telah membuktikannya!! Kau merenggutnya lagi dariku!!!!" Teriak Amelia disela-sela tangisnya.


Sementara Dhira yang setengah sadar membelalakkan matanya dan menatap Robert dengan tatapan sendu. Mata itu tidak kuat lagi menunjukkan keberaniannya. Meredup sambil meringis menahan sakit.


"Minggir kalian semua!!" Suara Robert bergetar hebat. Ia mendorong Leo hingga terpental. Lalu mengambil Dhira dari pelukan Amelia. Sambil bercucuran air mata, diangkatnya gadis itu ke dadanya dan dibawanya berlari.


"Jhonnnn siapkan mobil!!!" Teriakan Robert bagai guntur bergemuruh di rumah itu. Semua orang yang sudah berhenti berkelahi, tiba tiba berlari keluar dan menyiapkan jalan bagi Robert.


Mereka semua mendorong apa saja yang menghalangi jalan Robert.


"Mobil yang paling ujung Pi, biar bisa lewat." Ujar Jhon sambil berlari mengikuti Robert.


Sedangkan yang lainnya mengikuti dari belakang. Ikut berlari ingin membantu agar Dhira selamat.


'hah, inikah ayahku? Bagiamana bisa?' masih sempat ia berbicara dalam hati sebelum terkulai lemas. Matanya pun sudah rapat dengan bibir sudah membiru.


"Anakku...aku mohon bertahan lah! Ini ayah Nak, ini ayahhhh....ku mohon jangan pergi! Jangan lagi tinggalkan ayah! Ayah ingin kamu Nak!! Ayah ingin kamuuu...uuuu...huuuuuhhuuu..." Robert menangis. Ia sudah tidak memperdulikan dirinya yang sudah tua masih menangis hebat.


Semua orang yang mengikuti dari belakang menangis mendengar rengekan Robert. Amelia bahkan sampai menekan dadanya yang sesak. Kakinya sudah lemas dan tidak kuat lagi berlari.


Leo dengan sigap menggedong Amelia. Tidak ada kata kata diantara mereka semua, tapi pada mengerti dan membantu Amelia naik ke punggung Leo.


Di mobil, Robert memeluk Dhira di pangkuannya sambil terus menangis. Di samping ada Amelia yang juga tak henti henti menangis. Di depan ada Leo dan Jhon. Mereka semua tak henti hentinya meminta keselamatan bagi Dhira.


Kerisauan melanda mereka. Menunggu operasi Dhira berjalan. Robert terus saja berdiri di depan pintu ruang operasi dengan segala doa-doanya. Tak ada kata yang mampu menggambarkan isi hatinya saat ini. Kebahagiaan dihatinya terselubung ketakutan hebat. Bahagia, ternyata anaknya masih hidup dan sudah berada didekatnya. Takut, akan keadaan Dhira yang terluka. Takut waktu bukan miliknya. Takut putrinya meninggalkan dirinya.


Sedangkan Leo, Ara dan Jhon duduk berdampingan di kursi tunggu dengan wajah risau. Tidak ada kata kata yang terucap dari mereka. Hanya diam dengan hati yang berdebar menanti kabar dari sang dokter.


Amelia duduk dengan sendirian sambil memeluk dirinya sendiri. Dari tadi ia tak henti henti menangis. Ara baik Leo sebelumnya berusaha menenangkan Amelia. Tapi Amelia menatap mereka dengan tatapan tidak suka.


Ara menyadari tatapan itu. Ia sudah bisa menduga siapa wanita itu. Tidak ada keberanian lagi di dirinya untuk mendekati Amelia. Ada rasa bersalah yang sangat dalam mengingat bagaimana kelakuan Meli ibunya, pada wanita itu.


"Bagaimana keadaan putriku?" Sentak Robert. Tanpa sadar ia membentak dokter itu saking khawatirnya.


"Sudah selesai dioperasi, tapi dia kekurangan darah. Terlalu banyak darah yang keluar selama terluka ditambah saat operasi."


"Ambil darahku!" Robert langsung menyodorkan diri.


"Darahku aja dok, anakku takkan sudi menerima darahnya." Amelia menyerobot.


Dokter itu menatap Amelia. Mungkin curiga dengan wajahnya yang pucat pasi.

__ADS_1


"Ibu tidak bisa melakukannya. Ibu belum lama menjalani operasi besar." Ujar Leo.


"Aku tidak peduli dengan nyawaku! Aku hanya mau anakku selamat!" Sentak Amelia.


"Dhira pasti lebih tersiksa bila terjadi sesuatu yang bahaya padamu." Robert menatap Amelia dengan tatapan memohon.


"Ambil darahku! Aku ayahnya!" Seru Robert pada dokter itu.


"Baik. Kita lakukan beberapa cek terlebih dahulu."


Setelah selesai melakukan serangkaian tes, akhirnya Dhira menerima darah dari Robert.


Dengan sangat bangga dan bahagia, Robert menatap wajah Dhira yang berbaring di sampingnya. Bibirnya tersenyum melihat wajah tenang putrinya itu. Siapa sangka gadis yang selalu dihindarinya dan ditolaknya jadi sahabat putri angkatnya adalah darah dagingnya sendiri. Sungguh diluar dugaan.


Amelia menunggu dengan was-was di depan pintu. Begitu Robert keluar ia langsung menyerbu lelaki itu dan bertanya kondisi Dhira.


"Dia sudah aman. Sebentar lagi dia akan dipindahkan ke ruang perawatan."


"Hiksss...hiks...huks..." Amelia menangis lagi.


"Sudah...kamu pasti sangat lelah." Robert menarik Amelia ke dalam pelukannya. Diusapnya punggung wanita itu dengan penuh kasih sayang. "Kita sudah melewati masa sulit ini. Aku berharap kita hidup bersama menjaga dan menyayangi putri kita." Telaga milik Robert digenangi air.


Untungnya peluru itu tidak mengenai hati Dhira. Sehingga tidak sampai membuatnya kritis. Mungkin menunggu beberapa hari jahitan di usus dan bagian lapisan perutnya sudah membaik.


Perlahan Dhira membuka matanya. Sudah lima jam baru ia sadar dari pengaruh bius. Setelah mengerjap beberapa kali, ia menyadari dirinya berada di rumah sakit.


"Dhira anakku kau sudah sadar?" Amelia langsung bangkit dari pembaringannya melihat kepala Dhira bergerak.


"Ibu..." Kedua mata Dhira sudah basah.


Begitu juga dengan Amelia. Ia bahkan sudah terisak-isak sambil mengusap matanya. "Cepat sehat Nak. Ibu tidak sanggup hidup tanpamu."


Dhira tersenyum. Digenggamnya jemari ibunya erat-erat. Setelah melalui banyak hal akhirnya ia menemukan ibunya. Segala macam dugaan sudah memenuhi pikirannya selama hampir tiga bulan ini. Takut tidak lagi bisa bertemu dengan sang ibunya tercinta.


Robert keluar dari kamar mandi. Ia baru saja mandi membersihkan dirinya dari darah Dhira. Begitu melihat Amelia sedang berpegangan dengan Dhira, dadanya berdetak hebat. Apalagi saat matanya bertemu dengan mata jernih Dhira.


Dhira langsung mengernyit melihat lelaki yang sedang ada di ruangannya.


Robert berhambur ke samping Amelia. Ia mengulurkan tangan untuk ikut memegang tangan Amelia dan Dhira.


Wajah Dhira berubah tegang. Ditariknya tangannya dari genggaman Robert.


"Ini ayah sayang, ini ayahhhh..." Robert menangis. "Anakku...maafkan ayah tidak bisa mengenalimu selama ini. Maafkan ayah..."


Dhira membuang muka. Rasanya sangat sulit menerima pengakuan Robert. Langsung terlintas dipikirannya tentang cerita paman Bali. Ibunya pernah hampir meninggal karena tidak diinginkan oleh kekasihnya.


"Untuk apa kau mengaku? Pergilah. Aku dan ibu tidak menginginkan mu!"


Robert terdiam. Diambilnya lagi tangan Dhira dan kini diciuminya tangan itu dengan tangis keras. "Huhuhuuu...ayah menyayangimu. Ayah milikmu! Ayah tidak akan pergi lagi."


"Araysa, aku mohon katakan pada putri kita...aku telah melalui banyak hal demi menemukan kalian." Pinta Robert pada Amelia.


Mendengar panggilan Robert terhadap ibunya, Dhira melotot pada ibunya. "Kau menyebut ibuku apa?" Ia setengah berteriak pada Robert. Ia meringis menahan sakit dibagian perutnya.


"Itulah nama ibumu yang sebenarnya. Makanya saat kamu menyebut nama ibumu Amelia aku tidak mengenalnya. Karena memang namanya adalah Araysa." Jawab Robert.


Dhira masih menatap ibunya yang tertunduk.


"Ibumu punya alasan kenapa mengganti namanya. Sekarang kamu istirahat aja dulu. Nanti setelah sehat kami akan menceritakan semuanya padamu."


"Kenapa mengatur-atur ku. Sebaiknya kau pergi. Kami berdua tidak biasa denganmu!"

__ADS_1


Robert menelan ludahnya beberapa kali. Sungguh ia memang sudah tahu kalau putrinya keras kepala seperti dirinya dari Amelia. Selama menunggu Dhira sadar mereka berbincang tentang Dhira, juga tentang semua yang dilalui Robert demi bertahan agar bisa menahan diri tidak jadi seorang pembun*h demi membalas dendam pada Meli.


__ADS_2