
Sedangkan Meli semakin geram melihat kemampuan Abi. Dua lelaki sewaannya belum juga berhasil membuat Abi babak belur seperti yang diinginkannya.
Di dalam rumah, Araysa terkurung di sebuah kamar. Ia menangis hebat. Hatinya sakit melihat rekaman video kemesraan Meli dan Robert. Beberapa foto dan video mereka saat bercum*bu.
Meli bahkan mengaku sudah tidur dengan Robert dan akan segera melangsungkan pernikahan. Kini sakit hatinya makin bertambah. Anak dikandungan nya tidak diakui Robert, dan kini akan menikah dengan Meli. Apalagi yang lebih sakit dari itu? Penderitaannya sungguh berat.
Setelah bisa menguasai dirinya, ia bangkit dan membuat janji tidak akan manatap Robert apapun yang terjadi. Ia akan membawa anaknya pergi dan juga ayahnya. Mengharapkan Robert hanya bagai kebodohan saja. Lebih baik ia bangkit dan hidup dengan semangat baru. Ia akan menghidupi anaknya dengan Sagala kemampuan yang dimilikinya.
"Buka pintu!!! Meli tolong buka pintu! Kami akan pergi! Aku tidak butuh Robert. Aku berjanji, kami akan pergi yang jauh. Kami tidak akan pernah bertemu dengan mu dan Robert lagi!" Araysa berteriak memanggil Meli.
Lalu ia mendengar suara ayahnya dari luar. Pertengkaran terdengar makin panas dan juga suara Meli yang keras.
Ia makin panik saat mendengar suara hantaman, seperti orang baku hantam.
"Meli!! Buka pintu ini! Mari kita bicara. Tolong jangan sakiti ayahku!!!" Araysa memukul pintu berharap Meli segara membukanya.
Sepak terjang orang berantam makin terdengar jelas. Ia bisa mendengar suara ayahnya diantara suara hantaman itu. Ia kebingungan bagiamana caranya keluar dari kamar itu, untuk menghentikan perkelahian itu. Ia akan membuat Meli menjadi pemenangnya agar perkelahian itu berhenti.
Melihat ada jendela yang terbuat dari kayu, Araysa berusaha membukanya. Dan jendela itupun terbuka. Ia nekad naik ke jendela dan turun pelan-pelan. Ia bernafas lega saat kakinya sudah menapak di tanah. Tanpa memikirkan apapun, ia berjalan cepat bahkan setengah berlari ke arah suara terjadinya perkelahian.
Di halaman rumah, ia melihat ayahnya sedang dikeroyok dua orang laki-laki, dan Meli sebagai penonton.
"Ayahhh...huuuhuuu...lepaskan ayahku!" Tangis Araysa meledak saat melihat ayahnya digilir pukulan oleh dua lelaki itu. Dan matanya terbelalak saat melihat Meli mengambil sepotong kayu dari tanah dan mengarahkannya pada ayahnya yang sedang berusaha membalas lawannya.
Karena takut ayahnya mati, tanpa memikirkan apapun, Araysa berlari ke arah ayahnya, berniat mendorong Meli agar pukulannya tidak mengenai ayahnya. Dan ia berhasil, tapi justru pukulan dari Jac mengenai kepalanya. Sebuah balok menghantam tepat di bagian atas kepalanya hingga ia terjatuh ke tanah dengan darah mengucur dari dahinya.
"Araysa!!! Anakku!!" Teriak Abi. Ia tidak menyangka kalau putrinya ada di sana. Ia menatap ke tiga anak muda itu dengan mata berkilat.
"Aaaaa...!! Kalian pembun*h! Matilah kalian!!" Ia menarik rambut Meli dan menghantamnya ke tanah. Ia sudah kalap dan gelap mata. Ia tidak akan mengampuni ketiga manusia jahat itu.
Dengan mata berkunang-kunang diambilnya kayu itu dan menghantamnya ke kepala Meli. Tapi pukulan dari Jac, membuatnya tidak berdaya. Lelaki itu memukul kepalanya dengan kayu hingga ia terjatuh ke tanah.
Meli bagai kerasukan, ia mengambil balok dari tangan Jac dan memukul Abi yang sudah tak berdaya. "Beraninya kamu menyakitiku! Akan ku buat tulang-tulang mu ini hancur. Aku akan melenyapkan mu!" Ia berteriak sambil terus memukuli Abi.
"Nona, stop!" Teriak Omeng. Ia menarik tangan Meli agar berhenti memukul. "Dia sudah mati! Berhenti!"
"Aaarrgghhh... lepaskan! Dia ini harus mati. Dia adalah ancaman bagiku. Dan beraninya dia menyakitiku!" Meli belum puas. Ia masih ingin melampiaskan amarahnya dengan memukuli Abi. "Dia tahu rahasiaku! Dia tidak bisa hidup lagi!"
"Kamu bisa dipenjara! Lihat dia sudah meninggal!" Omeng merampas kayu dari tangan Meli.
Meli bagai tersadar dari alam emosi yang membuatnya lupa diri. Bahkan ia sudah lupa dari rencana awalnya hanya ingin menakuti Abi dan Araysa. Ia terbelalak dan menjerit saat melihat Abi yang sudah berlumuran darah bahkan hingga ke kaki dan bajunya. "Hah! Apakah dia mati?" Tanyanya dengan kedua kaki juga tangan bergetar.
Jac maju, ia berjongkok dan memeriksa nadi ditangan Abi. "Dia sudah tewas."
"Apa??" Meli mundur beberapa langkah dengan wajah pucat. Ia menutupi mukanya dengan ke dua tangannya. Syok saat Jac mengatakan Abi sudah meninggal.
"Bagaimana ini? Aku, aku, hahh...tidak...aku tidak melakukannya. Kaulah yang membuatnya pertama terluka. Kau yang memukul kepalanya. Mungkin, mungkin dia sudah mati saat itu. Di-dia sudah tidak bernyawa saat aku memukulinya." Meli ternyata takut juga. Ia bahkan melimpahkan kesalahan pada orang sewaannya.
"Dengar, kamu tidak usah takut. Soal ini gampang diatasi."Jac menenangkan Meli.
"Ta-tapi, dia bagaimana? Bagiamana cara menghidupkannya lagi?" Meli makin panik.
__ADS_1
"Tentu saja dia tidak akan hidup lagi. Manusia yang mati tidak akan bisa hidup."
"L-la-lalu bagaimana ini?"
"Yah tinggal kita kubur mayat! bereskan!"
"I-iya. Tapi kita bagaimana? Kita akan jadi pembun*h!"
"Dengar, masalah ini gampang diatasi. Kamu hanya perlu membayar kami dengan harga yang pantas maka semua akan aman." Jac malah membuat penawaran.
"Iya aku akan membayar kalian berdua asal mulut kalian itu bisa ditutup. Dan jangan coba-coba membuat rahasia ini bocor, atau Kakan juga akan ikut ke penjara bersama ku!"
"Iya. Kami tahu itu. Tentu saja kami tidak akan mau masuk penjara. Ini akan menjadi rahasia kita selamanya." Sahut Jac.
Lalu Meli melihat Araysa yang juga tergeletak di tanah. "Kau, periksa wanita itu. Bila dia belum mati, buatlah dia mati juga. Tidak boleh ada yang hidup lagi. Atau masalah ini akan terungkap."
Omeng yang dari tadi sudah bergetar karena ketakutan, mendekati Araysa. Diperiksanya leher dan lengannya. "Dia juga sudah tidak bernyawa lagi."
"Baguslah." Meli berjalan kesana-kemari memikirkan cara menyingkirkan mayat Abi dan Araysa.
Jac berlari ke dalam rumah dan tidak lama kemudian ia keluar membawa peralatan cangkul dan pengali. Ia mengajak Omeng untuk menggali.
"Tunggu!" Meli menghentikan dua pria yang bersiap menggali tanah. "Buang ke laut aja. Akan lebih aman."
"Iya juga. itu benar." Sahut Jac.
Akhirnya mereka menggotong tubuh Abi dan Araysa membungkus dengan kain kain yang ada di rumah kosong itu. Dan langsung berangkat membawa Abi dan Araysa ke laut yang sudah disebut oleh Meli.
Sedangkan Meli sudah pulang duluan setelah sepakat akan menambah lima kali lipat upah dua lelaki itu. Ia langsung mentransfer uang dua puluh juta masing-masing dua nomor rekening dua pria itu. Ia bisa tenang karena Abi dan Araysa tidak akan ada yang mencari karena mereka tidak punya sanak keluarga lainnya.
Jac menyetir dengan pelan-pelan karena lebatnya hujan. Baru sekitar lima belas menit turun hujan, tapi jalan sudah banjir. Keadaan air yang begitu banyak membuat mobil melaju pelan.
"Ahkk!!" Jac tiba tiba meringis. Dipegangnya bagian dadanya yang terasa sakit.
"Kenapa?" Tanya Omeng. Ia kaget melihat Jac yang kesakitan.
"Auh...dadaku sakit. Akhh aduhhh...gimana ini?" Keluhnya. Ia sampai berhenti menyetir setelah meminggirkan mobil ke tepi jalan.
"Kamu terluka paling dibagian itu. Terus gimana ini?" Tanya Omeng dengan wajah tegang.
"Akhhhh...aku gak kuat lagi Bro." Jac menggelengkan kepalanya untuk mengusir rasa sakitnya.
"Sini biar aku yang bawa mobil."
"Sepertinya aku harus segera dapat penangan. Ini sakitnya luar biasa. Aku takut gak kuat hingga ke sana."
"Tapi, ini harus segera kita singkirkan. Menunda lebih lama akan beresiko. Mumpung hujan lebat gini kita bisa aman melewati jala."
"Tapi aku gak kuat lagi. Kamu sendirian aja ya. Aku harus mengobati luka ku."
"Tapi, aku takut."
__ADS_1
"Ck, kenapa takut? Tinggal jalan aja sampai di sana. Lalu buatlah mobil ini terjun sendiri bereskan?!"
"Tapi..." Omeng ragu.
"Auhhh...ahhh...sakit banget. Tolong Meng. Turunkan aku! Kamu pergi sendiri ya." Jac menekan dadanya yang memang mengeluarkan darah.
"Ya, udah. Tapi bagaimana kalau terjadi sesuatu?"
"Tidak akan terjadi apapun. Aku turun ya, aku akan naik taksi ke ruang sakit." Begitu selesai berbicara, Jac langsung turun meninggalkan Omeng yang kebingungan.
Akhirnya mau tak mau, Omeng membawa mobil itu sendirian.
Sementara Jac langsung tertawa terbahak-bahak begitu Omeng sudah jauh. Ia hanya berakting kesakitan, karena merasa perjalanan akan sangat lama. Belum lagi cuaca ektrim yang membuat perjalanan lama. Ada Omeng buat melaksanakan tugas, kenapa dirinya harus repot? Yang penting bayaran sudah diterima. Biarlah Omeng yang berjuang hingga akhir.
Hari sudah gelap. Namun hujan masih sangat deras. Omeng beberapa kali berteriak kesal dan mendesis karena sulitnya melewati jalan yang kadang kadang berlobang dan dipenuhi air.
Di belakang, Dibagian tengah mobil, Araysa yang di balut kain merasa sesak dan lemas. Ia pingsan entah berapa lama. Ia bergerak dengan lemah berusaha menyingkirkan kain kain yang menutupi kepalanya.
"Hiks...hiks...Ayahhhh!" Araysa menangis begitu berhasil menyingkap kain. "Ayahhh..." Erangnya berusaha mengumpulkan kesadarannya.
"Akkkk!!!!" Omeng berteriak keras menyadari suara tangisan di belakanganya. Ia menoleh dan melihat Araysa yang sudah duduk tapi sepertinya masih setengah sadar.
"Matilah aku! I-itu hantuuuu..." Omeng berteriak.
"Tolong...! Tolong aku!!!" Araysa memohon.
Omeng menghentikan mobil, lalu dengan hati-hati ia memeriksa ke belakang. Setelah melihat wajah Araysa ia baru mengerti, gadis itu bukan hantu.
"Hei! Apakah kamu mendengar ku?"
"Tolong. Dimana ayahku?"
"Dengar, Ayahmu sudah meninggal. dan kamu kenapa bisa hidup lagi?"
"Haaahha..." Tangis Araysa begitu lemah. "Ayah...Ayahhhh..." Panggilnya. berharap yang dikatakan pria itu tidaklah benar.
"Itu Ayahmu ada di sampingmu. Dia sudah tiada."
Araysa memeriksa balutan kain dengan sisa-sisa tenaganya. Dan tangisnya kembali meledak melihat betapa hancurnya kondisi ayahnya. Tidak kuat lagi, Araysa melemas dan lunglai.
Omeng memeriksa leher Araysa. "Wanita ini ternyata sangat kuat. Dia belum juga mati."
Ia berpikir sejenak. Dan tiba-tiba ia menggendong Araysa yang masih sadar tapi tidak lagi berdaya. Dibawanya keluar wanita itu dan menaruhnya di pinggir jalan. Untung hujan deras sehingga jalan sangat sepi. Ia kembali berlari ke mobil dan kali ini ia melaju lebih cepat. Ia harus menyelesaikan tugasnya.
Ia tidak tega melihat kondisi Araysa sehingga memilih meninggalkan wanita itu di pinggir jalan. Ia berpikir, wanita itu sangat berkeinginan untuk hidup. Belum lagi kondisinya yang sedang mengandung. Ia takut wanita itu menjadi hantu dan menuntut balas padanya. Ia berencana akan melarikan diri ke tempat yang sangat jauh setelah pekerjaannya selesai. Ia tak akan mau bertemu Jac dan Meli lagi. Ia tidak pernah berniat menjadi seorang pembun*h. Memang ia dan Jac adalah komplotan pencuri untuk mencari uang. Itulah pekerjaan nya dan Jac. Mencuri, menipu itulah kesibukan mereka. Dan mobil yang di bawanya adalah hasil curian, sehingga tidak sayang untuk dibuang ke laut bersama jasad Abi.
Saat itulah, seorang wanita paruh baya lewat dengan sepeda miliknya. Di bawah guyuran hujan ia bisa melihat seseorang di pinggir jalan. Dengan baik hati ia turun dan menghampirinya.
"Hei Bu, kenapa rebahan di sini? Apakah kamu mabuk?" Ia mengguncang bahu Araysa.
"Hhhh...i-ibu...tol..." Suara Araysa tidak sanggup keluar.
__ADS_1
"Hah? Ngomong apa? Tidak kedengaran. Hujannya lebat banget!" Teriak ibu itu. Ia mendekatkan telinganya ke mulut Araysa agar bisa mendengar lebih jelas.
"Ahhhh...kamu rupanya habis kecelakaan. Ini wajah mu berdarah!" Ibu itu terkejut melihat