
"Barang kali bayi ini, inginnya sama ayahnya." Suster itu dengan beraninya menempelkan bayi itu ke dadanya.
Robert mendelik mengerikan. Ia sangat marah. "Beraninya kamu!!!"
Suster itu membungkuk menghindar dari tangan Robert yang terangkat ke arahnya. Tapi kedua tangannya masih menahan bayi yang di bedong itu di dada majikannya.
Namun, seketika ruangan itu hening. Suara berisik dari tangis bayi itu hilang. Secara otomatis Robert menurunkan tangannya dan menilik sang bayi yang masih menempel di dadanya. Entah kenapa, rasanya dadanya sesak melihat bayi yang berwarna merah dan di gembul itu. Mulut dan hidung bayi itu komat-kamit seakan berusaha membaui dada Robert yang berlapis kaos. Terdengar tarikan nafas bayi itu yang pendek-pendek.
"Ampuni saya Pak." Suster itu mengangkat wajahnya dan menatap bayi yang masih ditangannya. "Dia ingin digendong oleh Bapak. Itu yang diinginkannya. Bayi ini, ingin dekat dengan Bapak."
Robert membeku. Suara berisik yang dari tadi kini berubah hening, sehening hatinya yang tidak mengerti akan perasaannya sendiri terhadap bayi itu. Kedua matanya mengerjap dengan pandangan mengabur dan hanya dalam hitungan detik matanya yang terasa panas mengeluarkan air mata. Membayangkan bayi itu adalah anaknya bersama Araysa.
"Jangan menangis terus. Bertumbuh lah dan hidup dengan baik. Kamu akan menjadi milikku. Ku namai kamu 'Araysa Rabiga' kamu akan menjadi pengendaliku agar tidak sampai melanggar keinginan kekasihku." Kata kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya dengan derai air mata. Suaranya parau dan bergetar. Bahkan kedua tangannya yang menggendong bayi itu pun bergetar.
Namun, walau pun ia menangis, tidak ada ekspresi lembut seperti seorang ayah menatap anaknya terhadap bayi itu. Hanya sorot mata tajam yang selalu mengintimidasi.
Sejak saat itu, Ara tidak lagi menangis tanpa alasan. Ia sudah menjadi bayi imut yang baik yang suka tidur. Asal kenyang minum susu formula ia akan tenang, seperti mengerti keadaannya yang harus bisa membuat emosi Robert terkendali.
Beberap kali Robert mengalami hal sulit semenjak Ara ada di hidupnya. Sering ia hampir tidak bisa mengendalikan diri terhadap anak itu. Emosinya selalu naik menyaksikan bayi yang kian hari makin bertambah besar. Apalagi setelah setahun Ara sudah bisa memanggilnya dengan 'pappah'. Rasa nyeri menyayat hatinya membayangkan putri kandungnya yang menyebutnya dengan panggilan itu. Namun semua hanya bayangan, kenyataannya itu tidak mungkin terjadi.
Ia hanya menyimpulkan yang dialaminya adalah hukuman yang harus dijalaninya karena tidak mampu melindungi kekasihnya Araysa.
Suatu hari, Ara mengacak-acak kamar Robert. Barang-barang Amelia yang disimpannya semuanya berantakan. Pakaian dan sepatu dilempar sembarangan membuat kamar itu acak-acakan.
Robert bagai kemasukan setan mendapati keadaan kamarnya. Apalagi barang barang yang selalu disayanginya bertaburan dilantai. "Dasar anak sial*n! Tidak cukupkah telah menyiksaku selama ini!!!" Tanpa sadar dihempaskan nya tangannya ke arah anak itu.
"Huaaaaa... Huaaaa..."
Anak berusia empat tahun itu meraung. Rasa sakit di bokong dan kakinya akibat membentur lantai membuatnya menangis kencang. Bahkan keningnya sudah benjol, kepentok sudut meja.
Mendengar suara tangisan, Aira sang pengasuh berlari masuk ke kamar. Ia menggendong Ara dan membawanya pergi dari sana.
Robert mengegutu kesal. Ia menjaga barang Ara dengan sangat baik. Bagaimana mungkin ia tidak marah saat melihat barang kesayangan itu sudah berantakan. Dengan tangannya sendiri ia mengumpulkan semuanya dan kembali menyusunnya. Itu adalah barang kesayangan dan kenangan dari kekasihnya.
__ADS_1
Saat ia turun dari lantai dua, suara tangisan Ara masih kencang dari kamar Aira. Ada sedikit rasa bersalah dihatinya mengingat balita itu terlempar dari tangannya. Kakinya melangkah ke arah kamar itu dan melihat Ara yang sedang di kompres.
"Papiiiii...atu mau sama papi..." Tangis Ara makin keras saat melihat Robert. Ia sudah lancar berbicara tapi masih ada beberapa huruf yang belum bisa diucapkannya. Seperti K menjadi T, R menjadi N.
"Mauu...sama Papiii..." Ia terus saja menangis.
Robert bergeming. Hanya matanya menatap ke kening Ara yang benjol dan membiru. Hatinya mencelos melihat wajah mungil Ara banjir air mata dan penampilan keningnya.
"Papi..." Ara berontak dari tangan Aira. Kaki kecilnya berlari cepat ke arah kaki Robert. Langsung memeluk erat kedua kaki panjang lelaki itu.
Robert bagai tertarik ke dunia lain. Ia menunduk dan mengulurkan kedua tangannya menggendong Ara. Untuk pertama kalinya ia melakukannya. Selama ini ia selalu menghindar setiap Ara ingin mendekatinya.
"Papiiii...atu sayanggg Papi..." Begitu Ara naik karena telah diangkat Robert, tangisnya langsung reda. Bahkan ia mengelus pipi Robert dengan ketulusan seorang balita polos.
Robert tidak bisa berkata-kata. Ia masih gamang dan tidak tahu apa yang dilakukannya. Meski ada Ara tepat di hadapannya, ia merasa kosong alias tidak sadar.
Tapi tiba tiba kesadarannya datang dan saat itu juga ia terkejut dengan yang dilakukannya. Sekali lagi ia menjatuhkan Ara.
Tangis anak perempuan itu pun kembali memenuhi ruangan. Untung Aira sudah bisa melompat dan langsung berlari menangkapnya sehingga tubuh kecil Ara masih menempel di kakinya.
Tidak ingin makin terseret lebih dalam lagi, Robert memilih pergi meninggalkan rumah itu. Masih terbawa perasaan sehingga tanpa sadar mengendarai mobil dengan mengebut. Ia akan menginap di apartemen untuk menenangkan diri. Berada di rumah yang sama dengan Ara membuatnya seperti orang gila.
Entah karena mengebut atau memang sudah suratan takdir, mobil Robert bertabrakan dengan sebuah truk bermuatan berat. Suasana tiba tiba mencekam. Suara decitan dan hantaman terdengar mengerikan. Kekuatan mobil Robert kalah jauh dengan truk. Mobil putih itu terpental melewati pembatas jalan setelah berputar haluan karena hantaman di bagian kepala. Saat bersamaan sebuah bus menabraknya lagi hingga terpental berakhir menghantam sebuah tiang listrik.
Badan mobil ringsek dengan kebulan asap hitam. Jika mobilnya saja sampai reyot apalagi lah orang yang didalam.
Warga sekitar bekerja sama menyelamatkan Robert. Lelaki itu mengalami luka parah. Bukan hanya patah tulang dan lecet tapi wajahnya robek dengan parah dari dahi hingga dagu. Darahnya mengalir sangat banyak. Tapi fisik lelaki itu sungguh luar biasa kuat. Dalam keadaanya seperti itu, ia masih sadar dan bisa berbicara.
"Biarkan aja begini. Tidak usah membawaku ke rumah sakit. Aku ingin menyusul kekasihku. Aku ingin mati." Ucapnya dengan suara lirih. Matanya dipenuhi genangan air mata. Air mata yang sangat menginginkan kematian agar bisa bertemu Araysa nya yang sangat dirindukannya hingga rasanya sungguh ingin pergi ke alam baka untuk menyusul sang kekasih.
Lalu penglihatan Robert gelap dan ia pingsan. Selama pingsan itu, ia melihat Ara melambai padanya. Bocah itu memanggilnya, "Papi...jangan pennngi...atu atuttt. Jangan penngi Papiii...atu mau ituttt..." Tak henti-hentinya suara itu memanggilnya. "Atu sayang Papi...atu hanya punya Papi..." lalu tiba tiba Ara si balita kecil itu berubah menjadi Araysa.
"Araysa... kamu...oh Araysa aku sangat merindukanmu." Tangis Robert tidak terbendung lagi. Ia berlari menyongsong Araysa dan memeluknya.
__ADS_1
"Tetaplah hidup. Anak kita membutuhkanmu. Urus dia dengan baik. Jangan pergi kemana-mana. Dia membutuhkanmu."
"Aku ingin ikut kamu. Aku tidak bisa hidup sendirian. Aku kesepian dan menderita." Robert memegang tangan Araysa sangat erat takut kekasihnya itu pergi lagi.
"Jangan begitu. Apa kamu tidak mau aku bahagia? Percayalah kita pasti akan bersama."
Tiba tiba Araysa menghilang dari pelukannya. Wanita itu entah kemana dan kenapa bisa menghilang. Robert berteriak memanggil Araysa agar kembali datang, namun sekuat apapun ia berteriak Araysa tidak pernah datang lagi. Malah yang terdengar adalah suara tangisan Ara yang sangat dalam hingga gadis cilik itu sesegukan.
Tiba tiba ia terjaga. Kedua matanya terbuka dan melihat beberapa orang mengelilinginya. Ada dokter, suster, Jhon, Aira dan satu lagi, Ara yang memanggilnya dengan suara serak.
Robert menatap satu persatu orang itu. Merasa aneh, barusan ia merasakan berpelukan dengan Araysa lalu tiba tiba berganti dengan pemandangan yang berbeda. Apakah barusan dirinya berada di dua alam berbeda. Ia sangat yakin, pertemuannya dengan Araysa adalah nyata. Bukan mimpi.
"Anda sudah sadar. Anda begitu kuat. Setelah mengalami koma sepuluh jam, sekarang semua baik-baik saja." Ujar dokter sambil memeriksa mata dan detak jantungnya.
"Koma?" Tanya Robert.
"Iya. Sepertinya Anda cepat sadar karena penggilan dan doa putri Anda. Dia gadis manis yang sangat baik. Ia tak pernah meninggalkan ruangan ini, selalu mengajak Anda berbicara." Dokter itu menjelaskan.
Robert mengalihkan pandangannya ke samping dimana Ara duduk. Ia menatap gadis cilik itu dengan dalam dalam. 'kenapa aku bermimpi tentang Araysa dan Ara? Benarkah Araysa ingin aku hidup dan menjaganya? Benarkan itu yang diinginkannya? Benarkah ia bahagia dengan yang kulakukan?' dalam hati ia bertanya-tanya.
"Papi sembuh ya...maaftan atu...Papi jadi satit...kalena atu." Ara mengelus punggung telapak tangan Robert dengan tangisan, ia menciumi tangan itu hingga basah terkena air matanya yang bening sebening perasaanya dan hatinya terhadap lelaki itu.
Robert masih terus menatap Ara. Menatap terus sehingga ia menyadari Ara tidak mirip sedikitpun dengan Meli atau Rudy. Selama ini ia tidak pernah memperhatikan itu. Tanpa sadar ia mengangkat tangannya dan mengelus kepala mungil Ara.
Ara seperti orang dewasa saja, ia memeluk tangan Robert dengan tangis haru. "Hiks hiks Papi jangan tinggalin atuuuu..."
"Cupp...cuppp...Papi tidak akan pergi." Jawaban yang sama sekali tidak direncanakannya. Tahu-tahu mulutnya berbicara seperti itu.
Ara semakin erat memeluk lengannya dan menciumi tangannya itu. Bocah itu seperti mendapatkan nyawa baru, setelah tahu papinya baik-baik saja.
Sejak saat itulah Robert tidak lagi dingin pada Ara. Perlahan ia bisa melupakan kegetiran yang dialaminya dengan sosok Ara yang ceria dan selalu bisa membuatnya bersemangat. Seluruh kebenciannya teralih menjadi kasih sayang. Ia mencurahkan segala perhatian dan kasihnya pada Ara. Setelah itulah ia mendapat kedamaian. Tidak lagi berada dalam kungkungan amarah yang sangat membuat dirinya frustasi.
Sejak saat itu juga ia melakukan operasi plastik di bagian wajahnya karena luka yang didapatnya saat kecelakaan. Luka itu berbekas dan sangat mengganggu penampilannya.
__ADS_1
Meski menjalani operasi plastik, wajahnya tidak berubah seutuhnya. Hanya sedikit dibagian dahi dan hidung. Tapi karena ia sering membiarkan janggut dan brewok mengelilingi wajahnya membuatnya terlihat berubah. Apalagi jika ia menggunakan kaca mata hitam orang tidak akan menyangka bahwa pemilik wajah itu adalah Robert Rabiga.
Sungguh tidak bisa dipikirkan oleh manusia. Sejak saat hubungannya dengan Ara baik, aliran rejeki pun terus menghampirinya. Perusahaannya kini berkembang lebih pesat. Seorang investor dari Belanda mengajaknya bekerja sama dan membuka cabang di negara itu. Karena itulah ia menjadi pindah ke Belanda. Sementara Ara ia tinggalkan bersama Aira dan Jhon.