Pemilik Cinta

Pemilik Cinta
Makin Dekat


__ADS_3

"Apa yang kau bicarakan? Katakan dengan jelas!" Leo mendorong pria itu dan melepaskan tangannya dari lehernya.


"Dasar! Ibu sama anak sama sama bodoh! Hidupnya penuh kepalsuan. Betapa menyedihkannya kalian itu." Ejek pria itu dengan sorot mata kebencian.


Leo tercengang, terheran dengan semua yang dikatakan pria itu. Mungkin kah ini ada hubungannya dengan adiknya itu? "Hei tunggu!" Leo berteriak memanggil dua pria yang sudah berjalan menjauh beberapa meter.


"Sampaikan itu pada ibumu!" Mereka masuk ke mobil dan pergi.


Leo masih berdiri di tempatnya dengan otak berputar memikirkan maksud peringatan itu. Apakah orang tuanya punya musuh? Atau ada hal lainnya yang tidak diketahuinya.


"Leo, ini udah hampir jam sembilan. Aku harus ke kantor."


"Iya." Jawab Leo singkat.


Dhira menyetir. Sebenarnya ia ingin pergi sendirian ke kantor naik ojek. Tapi melihat keadaan Leo yang masih linglung tidak berani mengatakan apapun.


Sepanjang perjalanan Leo hanya diam dengan kepala mengarah ke kaca di sampingnya. Pikirannya terus saja berusaha mencari masalah keluarga mereka dan menghubungkannya dengan adik juga perusahaan mereka. Sekuat apapun ia memikirkannya tidak ada sedikitpun yang di mengertinya.


"Kita sudah sampai."


Leo tersentak dari lamunannya. Setelah menarik nafas dalam dan menghembuskan dengan panjang, baru buka suara. "Terimakasih."


Dhira menatap lekat ke mata Leo. "Jika butuh sesuatu jangan sungkan. Sebisa ku akan membantumu."


Leo mengangguk dengan bibir dipaksakan tersenyum.


Dhira turun dari mobil dengan harapan tidak ada yang melihatnya. Bisa bisa geger seantero perusahaan membicarakan dirinya.


"Hufff aman..." Dhira berlari kecil ke lift dengan lega. Tidak ada siapun di loby, sehingga ia tidak perlu khawatir.


Tapi masalahnya sekarang adalah mengahadapi Faris. Ia pasti habis dimaki dan teriaki begitu muncul.


Sambil keluar dari lift ia menggosok kedua telinganya dengan telapak tangannya agar lebih tegar dan tebal mendengar suara tidak enak yang sebentar lagi akan menyambutnya.


Baru selangkah memasuki ruangan, sambutan itu sudah terdengar. "Bagus! Disaat jam istirahat tinggal sebentar lagi baru kau datang! Ini perusahaan nenek moyang mu ya?!"


Ia mengangkat wajahnya dan menatap Faris tanpa takut. "Maafkan saya Bu, tadi ada yang membuat saya harus mengurus sesuatu."


"Kamu pikir dirimu siapa? Hanya kau yang punya sesuatu untuk diurus?! Kami ini juga punya bahkan lebih banyak urusan darimu. Tapi kami bertanggung jawab untuk tepat waktu apalagi soal pekerjaan. Kau masih baru masuk sudah banyak tingkah. Kalau tidak sungguh sungguh bekerja maka kau telah kesasar ke tempat ini!" Faris sampai melemparkan kertas ditangannya ke wajah Dhira.


Rasanya Dhira ingin sekali memuntir tangan Faris. Tapi masih ditahannya mengingat ini tempat kerja.


"Begini ni model orang yang tidak bisa di kasih hati. Dimaafkan sekali mau dua kali. Benar benar tidak tahu diuntung!" Tunjuk Faris ke wajah Dhira.


Dhira menghela nafas panjang. Saraf di otaknya terasa mulai tegang dan berontak untuk bertindak melepaskan emosi.


"Ada apa ini?" Suara bariton dari belakang Dhira mengalihkan semua perhatian orang. "Kenapa ribut ribut?"


"Pak Leo? Ada yang bisa kami bantu? Kenapa Anda datang ke sini?" Air muka Faris berubah manis.


"Suaramu terdengar hingga ke luar sana. Apa ada masalah?" Leo menatap Faris dengan tajam.


"Ini Pak, bawahan saya ini sangat bandel. Selalu terlambat masuk kerja. Perusahaan ini punya aturan dan semua berkewajiban mematuhi dan melaksanakannya. Bahkan dia baru sebulan masuk kerja tapi sudah menunjukkan sifat buruknya. Apakah kita bisa mempertahankan pekerja seperti ini?"


"Siapa?" Tanya Leo.


"Gadis ini."


"Oh Andhira. Dia terlambat karena membantuku tadi." Leo menatap Dhira dan Faris bergantian.


"Oh? Aaaa...begitukah? Kenapa kamu tidak bilang begitu Dhira?" Faris langsung melembutkan suaranya dengan wajah dibuat semanis mungkin.


"Saya..."


"Sudah. Mulailah bekerja! Sebelum memarahi seharusnya bertanya dulu." Suara Leo begitu tajam dan menatap Faris dengan tidak suka.


Sedangkan Vanya senyam-senyum dari kubikelnya. Dugaannya kini makin tajam tentang hubungan antara sahabatnya dengan Leo. Semenjak Leo dan Dhira berkenalan, ia sering ditinggal sendiri oleh Dhira. Ia senang terhadap sahabatnya yang kini sudah punya seseorang.

__ADS_1


"Bekerjalah yang baik. Jika memang begitu alasannya kau tidak bersalah." Faris berbicara dengan manis tapi wajahnya menunjukkan tidak suka. Matanya menyorot Dhira begitu tajam dan menyiratkan protes.


Dhira tidak peduli dengan tatapan itu. Ia berjalan ke arah meja tempatnya bekerja.


Setelah melihat keadaan sudah aman, Leo pergi. Sedangkan Faris mengekor dari belakang.


"Apakah Pak Leo saling kenal dengan Dhira?" Tanyanya ragu ragu.


"Iya."


"Sejak kapan?" Faris mengecilkan suaranya.


"Sudah lama."


"Oh. Maaf Pak. Selama ini saya suka marah marah padanya. Saya tidak tahu kalau dia dekat dengan Anda."


"Bukan karena dia dekat denganku kamu tidak boleh memarahinya jika memang salah. Tapi hari ini dia terlambat karena membantuku mengurus pekerjaan." Leo menekankan kata dekat agar Faris mengerti.


"Iya Pak." Faris berdiri dengan tertunduk. Ia sangat paham karakter Leo. Pria keras hati yang tidak sanggup di dekati siapapun.


Sepeninggal Leo, Faris langsung mengecek berkas Dhira. Membaca keseluruhan tentang biodatanya dan mencari hubungan gadis itu dengan Leo.


"Tidak mungkin mereka dekat. Dhira bukan siapa siapa. Kampungnya aja dari Lampung dan hanya keluarga biasa. Bahkan pekerjaan orang tuanya hanya petani. Ada yang tak beres dengan gadis ini. Apa dia berusaha menggoda Leo? Huh dasar gadis kampung. Modal cuma wajah doang udah belagu." Faris tidak terima Dhira bisa dekat dengan Leo.


Sore harinya di loby


"Dhi...tunggu. kamu semenjak kenal Leo menghilang terus. Makin langgeng kayaknya ya..." Vanya mencubit pelan pinggang Dhira.


"Langgeng langgeng! Emang langganan!" Dhira membentak Vanya.


"Buktinya kamu sama dia bisa bersama terus. Udah nggak ingat sama aku. Cieeee...yang punya pacar."


"Husss mulutmu bocor banget. Orang bisa salah paham." Dhira menutup mulut Vanya dengan telapak tangannya.


"Lalu ngapain kalian bersama terus?" Ternyata meski sudah di tutup, mulut Vanya masih bisa berbicara.


"Pelatih? Maksudmu..."


"Iya. Aku cari pekerjaan sampingan."


"Modus ituuuu...dia itu suka padamu." Bisik Vanya. Mata dan bibirnya terlihat merekah menggoda Dhira.


"Terserah mau bilangan apa. Kamu kan ahli nujum. Tahu segalanya. Untuk apa tanya tanya lagi."


"Hahaha...iya ya...aku memang sudah menerawang kalau kalian berdua itu berjodoh. Kalian akan hidup bersama dan membangun rumah tangga yang harmonis. Tapi akan ada rintangan yang akan kalian lalui. Tapi tidak usah takut. Cinta kalian sendirilah yang akan membuat semuanya baik pada akhirnya." Vanya meniru gaya bicara orang 'pintar' yang sering ia tonton di televisi.


"Huh, sayang aku nggak punya uang receh. Terimakasih sudah meramal untukku. Sekarang aku mau pulang. Itu ojekku sudah datang."


"Heh tunggu dulu. Kamu ngilang terus. Ara nanyain kamu terus. Dia ngajak kita ke pantai hari Minggu."


Dhira berpikir sebentar. "Sorry ya. Aku tidak bisa ikut. Lagi ngejar target."


"Ck kamu ini membosankan. Hari Minggu, Minggu Dhi. Hari libur masa kamu kerja terus?"


"Leo sedang masa berkabung. Aku berencana menemaninya. Setidaknya sampai dia terlihat pulih seperti biasanya."


"Oh iya. Ku dengar, ada anggota keluarganya yang meninggal. Siapa yang meninggal?"


"Kamu ingat nama Nayla yang dibicarakan Rendra dan Leo malam itu?"


"Oh waktu Rendra menyerang kita?"


"He em. Wanita itu yang meninggal. Dia tidak bertahan setelah selesai operasi."


"Kasihan sekali. Okelah. Dia lebih membutuhkanmu. Kapan kapan deh kita pergi ke pantai."


"Oke. Aku pulang ya..." Dhira melambai sambil naik ke motor milik mang ojek.

__ADS_1


Setengah jam kemudian, Dhira sudah berada di rumah Leo. Pemuda itu sedang duduk santai di tepi kolam sambil termenung.


"Khem! Sudah santai begini? Sudah lama pulang kantor?"


"Tengah hari. Masih malas ngapa-ngapain. Kamu juga nggak usah datang harusnya. Aku belum siap latihan."


"Nggak apa-apa. Nggak latihan nggak masalah. Aku ingin menemanimu." Dhira duduk di tepi kolam dengan menggantung ke dua kakinya, meniru Leo.


Leo menoleh. Terimakasih."


"Ini aku bawa batagor. Batagor di perumahan ku sangat terkenal. Enak dan harum." Dhira membuka kotak batagor yang dipesannya. "Ayo cicip. Aaaaa..." Dhira menusuk bulatan batagor dengan garpu dan menyodorkannya ke mulut Leo.


Leo menatap Dhira tapi tidak membuka mulut.


"Coba dulu. Siapa tahu kamu suka."


"Taruhlah. Aku akan makan sendiri."


"Nggak. Coba dulu geh. Mumpung aku baik. Mau menyuapi mu."


Leo masih tidak membuka mulutnya. "Kenapa kamu baik padaku?" Justru bertanya soal Dhira yang lagi baik.


"Aku memang selalu baik kok pada siapapun. Apa harus ada alasan untuk berbuat baik?" Dhira menurunkan tangannya. Pegal karena Leo tak kunjung memakan batagor yang dari tangannya.


Tapi Leo menahan tangan Dhira. Dengan perlahan ia mengarahkan tangan Dhira ke mulutnya dan memakan batagor itu. "Ku kira ada alasan tertentu kenapa kamu baik padaku." Ucapnya sembari mengunyah.


"Hehe...aku memang baik pada orang yang sudah ku kenal." Ia tertawa kecil "selama orang itu baik tidak rugi kan kita berbuat baik juga."


"Lagi." Leo menunjuk batagor di lantai dengan dagunya.


"Tuh kan enak. Ini makanan favoritku. Kalau lagi kangen pada ibu, aku langsung mencari batagor. Kamu tahu kenapa?"


Leo menggeleng dengan mata berbinar. Ia sangat tertarik dengan cerita Dhira. Semenjak saling kenal baru inilah Dhira mau membicarakan hal pribadi. Meski sering ia pancing, Dhira selalu membatasi diri. "Kenapa?"


"Ibuku sangat ahli membuat makanan. Ini salah satunya, batagor. Kamu tidak percaya, waktu aku lima tahun aku ini gadis cilik yang sangat gembul, bulat seperti bakpao. Karena kerjaan ku makan dan makan terus." Dhira mengenggbungkan kedua pipinya meniru orang tembem.


Leo tersenyum. "Ku kira kamu waktu kecil sangat kurus dan kecil karena susah makan. Soalnya kamu tidak seperti gadis lain yang suka makan atau ngemil."


"Yah nggak percaya. Nih lihat!" Dhira mengambil ponselnya dan duduk lebih dekat pada Leo. Kemudian membuka ponselnya dan menunjukkan foto dirinya. "Aaaaa...aku jadi malu." Dhira tertawa melihat foto dirinya yang sangat gemuk.


Leo tertawa pelan. Apalagi saat melihat Dhira berteriak kecil sambil tertawa. Di matanya itu terlihat sangat manis dan imut. Wajah putih gadis itu terlihat sedikit memerah dengan bibir merekah karena tertawa.


"Kamu terlihat seperti orang lain dibandingkan foto ini. Semua berubah. Hanya mata hidung dan mulut yang sama."


"Untunglah berubah. Coba kalau berat badanku nggak bisa berubah, entah seperti apa aku sekarang. Pasti tidak diterima bekerja di perusahaan. Dan tentunya mungkin kita tidak akan saling kenal."


"Bisa jadi. Tapi ada yang mengatakan, tidak ada yang tahu di masa depan. Jika memang kita sudah ditakdirkan bertemu, maka pasti bertemu."


"Mungkin." Dhira kelihatan muram.


"Kenapa? Kok murung begitu?" Leo menyadarinya.


"Ah nggak. Aaaa ini lagi." Dhira menyuapi Leo lagi. "Besok besok belum tentu aku mau menyuapi mu."


"Ini ibu kamu?" Tanya Leo. Ternyata ponsel Dhira masih ditangannya.


"Iya. Ibuku yang paling cantik dan baik. Usia ibuku masih muda. Umurnya masih tiga puluh tujuh tahun. Usia ibuku masih belia saat melahirkan ku. Makanya kalau aku jalan bersama ibu di kira orang kami kakak beradik."


"Oh." Tangan Leo begitu gatal mencari dan melihat foto lainnya.


"Aku tidak punya ayah."


Leo tertegun. Sebenarnya itulah yang dicarinya. Jika dilihat dari wajah dan aura Dhira ia menduga ayah Dhira bukan orang biasa. Soalnya dari garis wajah ibunya Dhira tidak mirip dengan ibunya. Hanya bagian mata yang sangat mirip dengan ibunya. Bisa jadi Dhira mirip ayahnya.


"Aku tidak tahu siapa ayahku." Dhira menatap jauh ke dalam air. "Katamu yang ditakdirkan bertemu pasti bertemu. Selama dua puluh tahun aku menunggu kejadian itu, tapi hingga hari ini belum terjadi. Kadang aku ragu dengan kalimat itu. Akankah ada kesempatan itu datang padaku."


Leo menghela nafas. Diangkatnya tangannya dan menepuk lembut punggung Dhira. "Kisah tiap orang berbeda. Dan doaku semoga segala yang baik terjadi padamu."

__ADS_1


"Hahhhh...padahal niatku aku ke sini mau menghiburmu. Malah kebalik. Justru kamu yang menghiburku." Dhira menghilangkan gurat sedih dari wajahnya. "Aku juga berdoa untuk Nayla. Semoga dia diterima di sisisNya. Dan keluarga yang ditinggal bisa tabah dan kuat. Aku melihatmu sangat sedih dan bahkan kehilangan semangat."


__ADS_2