
Setelah ia selesai berbicara dengan bayinya, ia melanjutkan kembali belajar. Ia tidak mau sampai tidak lulus. Sudah direncanakannya setelah lulus, setahun ia akan mengurus bayinya. Sambil membuat usaha apa saja di rumah. Setelah bayinya setahun, ia akan lanjut kuliah dan bayinya akan dijaga oleh ayahnya sekalian jualan di rumah. Itulah rancangannya kedepannya.
Ia juga akan jujur pada ayahnya setelah ujian selesai. Ia tahu ayahnya pasti marah, tapi bagaimanapun, keadaannya tidak bisa disembunyikannya selamanya. Ia akan menanggung kemarahan Abi seperti apapun itu.
***
Di dalam kamar, Meli uring-uringan dengan wajah yang sangat kesal. Sejak tadi begitu ia tiba di rumah, ia langsung mengamuk dan membanting semua barang barang di dalam kamarnya.
"Tidak mungkin! Itu pasti salah!" Teriaknya. "Tapi dia berbicara begitu jelas. Sambil menyebut anak ia mengelus perutnya. Dan perutnya terlihat buncit! Dia pasti hamil! Ahhhkk...! Kenapa harus hamil? Oh tidak tidak!!! Aku tidak akan biarkan kalian bersatu. Aku hampir berhasil meraih hati Robert. Dia sudah mulai dekat dan terbuka padaku. Dia sudah perhatian dan selalu ada untukku. Baru seminggu yang lalu dia membelaku dari seorang pria. Artinya Robert dia tidak suka aku dekat dengan pria lain. Dia sudah jatuh cinta padaku. Aku tidak akan biarkan perhatian Robert teralih karena munculnya kamu Araysa!!"
Meli melihat Araysa saat minum es campur dan mengelus perutnya. Awalnya ia tidak tertarik tapi saat melihat perut Araysa yang buncit, ia menjadi curiga dan mengikutinya saat kembali ke taman. Semua di dengarnya yang diucapkan Araysa. Ia mengintip di balik bunga yang tidak jauh dari bangku Araysa.
"Kenapa dia tidak memberitahu Robert? Ataukah sudah, tapi Robert tidak mau bertanggung jawab? Ahhh Robert pasti belum tahu. Robert pasti akan segera menikahi Araysa bila tahu tentang kehamilannya. Aku tahu betul, Robert masih sangat mencintai Araysa."
"Iya...aku yakin, Araysa belum mengungkapnya. Aaaa...aku ingat. Pasti karena omonganku waktu itu. Dia marah atau tidak berani mengaku pada Robert." Meli berteriak kegirangan dengan semua hasil pikirannya.
"Okeee...aku harus makin menjauhkan gadis itu dari hadapan Robert. Tidak kubiarkan mereka bertemu. Aku tidak akan kehilangan pria yang kucintai lagi." Ia tersenyum penuh kemenangan.
Sejak saat itu, Meli selalu menjaga Robert setiap keluar dari rumah. Seribu alasan dibuatnya agar ia selalu ikut untuk menjaga Robert dari Araysa.
Meli semakin berani manja pada Robert. Minta ini itu, selalu dituruti lelaki itu. Walau ia menjadi semakin pendiam dan makin galak, tapi terhadap Meli ia sedikit lunak. Mungkin karena mereka sudah kenal sejak dari kecil.
Keinginan Meli makan makan terwujud setelah membujuk Robert selama tiga hari. Setiap bertemu ia merengek dengan manja. Akhirnya Robert luluh menurutinya. Karena kebetulan ia dan teman temannya akan merayakan atas keberhasilannya menjadi seorang direktur di perusahaan yang telah dirintis orang tuanya. Meski masih muda ia sudah mapan dan mampu bersaing dengan para pejabat lainnya di bank itu.
Sebenarnya perayaan resminya sudah dilaksanakan minggu yang lalu. Tapi Meli menyarankan ini khusus untuk anak muda.
Kemeriahan memenuhi cafe. Makanan dan minuman tersedia begitu banyak. Semua orang menikmatinya. Meli begitu menonjol karena tak sedikitpun merenggang dari sisi Robert. Ia bergelayut manja di lengan lelaki itu dengan senyum indah. Banyak yang mengira mereka adalah sepasang kekasih. Pujian berdatangan padanya mengatakan dirinya sangat beruntung.
Wajah Meli berseri-seri. Kebahagiaan menjadi miliknya. Sedikitpun Robert tidak menyangkal pendapat orang tentang dirinya dan Robert. Ia hanya tersenyum dan terkadang mengangguk.
Robert duduk setelah acara salam-salaman selesai. "
"Huhhh...sungguh keram mulutku tersenyum terus. Kalau bukan karena mengingat diriku seorang pemimpin, malas aku berdiri di sini jadi bahan perhatian mereka semua." Keluh Robert.
"Yang sabar. Toh ini demi kedudukan mu. Jangan sampai digosipin orang kamu itu angkuh dan dingin. Mereka bisa menyesal padamu." Meli membujuk Robert.
"Ya iya. Ku bilang juga apa? Kalau bukan demi perusahaan malas aku berada di sini." Ulang Robert dengan nada kesal.
"Sudah, nanti wajahmu kembali ke mode cuek setelah pulang. Sekarang pasang wajah lembut dan bersahabat. Jaga image..." Meli melebarkan senyumnya ke depan wajah Robert.
Robert tidak banyak protes lagi. Ia memilih menikmati makanannya.
"Hoi...berduaan terusss..." Angkasa datang.
"Ya iyalah, emang situ jomblo abadi." Sambar Meli dengan bibir monyong.
Angkasa hanya mencibir. Ia selalu di juluki jomblo abadi karena belum pernah punya pacar.
"Ada apa? Gangguin aja..." Tanya Meli. Sementara Robert berdiri hendak ke toilet.
"Robert...mau kemana? Ada yang nanyain kamu."
Tapi Robert tidak sempat dengar karena ia sudah menjauh.
"Siapa?" Tanya Meli.
"Itu, Araysa. Dia ada di luar. Katanya mau bertemu Robert. Ku ajak masuk, tapi dia tidak mau."
"Apa???"
"Hei kenapa kamu terkejut begitu?" Tatap Angkasa heran.
__ADS_1
"E...bukan. Benar dia ada di luar?" Bola mata Meli hampir keluar karena masih terkejut.
"Iya." Mata Angkasa masih memeriksa mimik Meli.
"Itu, aku kaget. Bukankah menurutmu, akhir akhir ini mereka sedikit renggang?" Meli cepat-cepat
"Sepertinya sih begitu, Araysa terlihat sangat frustasi dan sedih. Dan Robert juga begitu. Entah apa yang terjadi. Ku tanya pada Araysa, dia tidak mau cerita. Sama dengan Robert."
"Yah udah. Sana lah. Cari cewek untukmu. Biar aku yang menyampaikan pada Robert."
"Yap, aku yakin akan dapat malam ini. Besok aku akan pamerin sama kamu." Angkasa pergi berbaur dengan temanya. Meski ia dan Robert bersahabat dekat, tapi soal urusan pribadi mereka tidaklah terbuka. Semua terjadi dari Robert. Lelaki itu sangat tertutup sehingga Angkasa pun begitu juga.
Begitu Angkasa pergi, Meli segera keluar dengan tergesa-gesa. Ia harus membawa Araysa pergi. Kalau tidak bisa berantakan semua rencananya.
"Araysa, kamu di sini?"
"Meli..."
"Sedang apa kamu di luar. Ini gerimis." Meli memasang wajah ramah.
"Aku sedang menunggu Robert. Katanya dia ada di sini." Ia dapat kabar kalau Robert sedang mengadakan pesta di cafe. Setelah dipikir-pikirnya lagi, ia memutuskan untuk memberitahukan pada Robert tentang kehamilannya. Bagiamana pun, anaknya butuh pertanggung jawaban.
"Ohh. Kenapa kamu tidak masuk?"
"Aku malu. Banyak teman-temannya yang tidak ku kenal. Biarlah aku tunggu di sini aja."
" Heum, memangnya ada apa? Dia masih sibuk di dalam. Kayaknya bakal lama ini acaranya."
"Ada yang penting." Jawab Araysa singkat.
Meli memutar otaknya. Ia tidak akan membiarkan mereka bertemu. Apapun akan dilakukannya.
"Nggak enak lah ninggalin kamu sendirian. Aku temani ya."
"Kamu makin baik Mel. Dulu kamu suka ketus dan galak. Tapi sekarang kamu sudah lebih ramah ." Dengan polosnya Araysa memuji Meli.
"Maaf dulu aku mungkin kekanak-kanakan. Sekarang aku sudah lebih dewasa." Dengan hangat Meli memegang tangan Araysa. Padahal dalam hati ia setengah mati mencari cara agar Araysa pergi.
Araysa tertawa pelan.
"Auhhh...ah...astaga! Kenapa ini perut ku tiba tiba sakit?" Tiba tiba Meli mengerang kesakitan. Ia menekan perutnya dengan wajah meringis.
"Meli, kamu kenapa?"
"Nggak tahu ini, perutku tiba-tiba sakittt.." Meli menekan perutnya sambil membungkuk.
"Aduhhh, terus gimana? Apa aku perlu panggilan Robert dari dalam?"
"Nggak usah. Dia masih ada hal penting bersama teman-temannya. Apalagi ada ceweknya di dalam. Nggak enak."
"Lalu bagiamana? Apa kamu masih tahan? Sepertinya kamu kesakitan bangat itu."
"Tolong bawa aku ke rumah sakit."
Araysa nampak berpikir. Kalau ia menuruti membantu Meli, bagaimana dengan rencananya menemui Robert? Tapi membiarkan Meli, ia tidak tega.
"Ya udah, ayo kita ke rumah sakit." Ia membantu Meli berdiri tegak.
Saat itulah tangan Meli menyusup ke perut Araysa. 'Dia benar hamil! Perutnya besar dan padat.'
"Auhhh...singkirkan tanganmu Meli!" Araysa menarik tangan Meli dari perutnya sekalian mendorongnya. Ia menjadi marah karena perutnya di raba oleh Meli.
__ADS_1
Meli ambruk ke tanah. Terdengar keluhan kesakitan dari mulutnya.
Rasa bersalah sedikit menghinggapi Araysa. Apalagi melihat gadis itu tidak juga bangun dari tanah.
"Sakitttt! Tolong bawa aku pulang. Tolong..." Meli merintih kesakitan.
"I-iya. Aku akan panggilkan orang dari dalam." Rasa bersalah menghinggapinya. Tapi karena sudah tersinggung ia berubah pikiran tidak mau mengantar Meli.
"Aku tidak kuat lagi. Mari pergi sekarang! Ini sakit sekali..."
"Tapi, aku sedang ada kepentingan di sini." Araysa tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
"Ahhhh...tolong aku. Ini sakit banget." Meli mengesot kearah kaki Araysa dan memegangi kedua kakinya.
"Eh? I-iya. Bangunlah. Jangan seperti ini." Araysa merasa tidak enak apalagi pandangan orang orang yang sedang lewat begitu sinis terhadapnya. Akhirnya ia membungkuk dan membantu Meli berdiri.
"Tolong Araysa. Aku tidak tahan lagi. Ini sakit banget..." Suara Meli terdengar berat dan nafasnya menjadi lebih cepat. Wajahnya begitu memelas.
"Iya. Mau ke rumah sakit mana?"
"Panggil taksi. Nanti ku beri tahu sopirnya."
Akhirnya Araysa memanggil taksi dan menemani Meli. Ia takut dengan kondisi gadis itu.
Sepanjang perjalanan, Meli tak berhenti meringis sambil menekan perutnya. Sementara Araysa di sampingnya duduk dengan cuek. Tidak seberapa memperdulikan Meli. Selain masih kesal karena perutnya yang dipegang Meli, ia juga kesal karena tidak bisa bertemu Robert.
'Kenapa dia sangat cuek? Apa dia sangat marah saat perutnya ku pegang tadi ya?' Meli melirik ke samping kanannya ingin melihat ekspresi Araysa.
'Dia terlihat makin dewasa dengan dahi pemikirnya.'
'Hoh untunglah aku sempat membawanya pergi. Kalau tidak Robert bisa melihatnya. Bisa gagal semua rencanaku.'
'Sekarang apa yang harus ku lakukan? Bagaimana setelah mengantarku ke rumah sakit, dia pergi ke cafe lagi? Oh tidak! Itu tidak akan ku biarkan! Sedikit lagi Robert luluh padaku. Hanya sedikit lagi.'
'Kamu harus pergi Araysa! Harus pergi. Robert adalah milikku.'
Meli memutar otaknya bagaimana menangani Araysa. Apalagi dengan perutnya yang sudah berisi itu sangat menakutkan baginya. Bila Robert tahu bahwa kekasihnya mengandung anaknya hancurlah sudah harapannya.
Itu tidak akan dibiarkannya. Apapun itu harus di cegahnya.
Lalu ia teringat, dua Minggu yang lalu Robert masih menanyai Araysa padanya. Karena kesal, lelaki itu tidak juga lupa akan Araysa, ia mengatakan kalau gadis kampung itu mungkin sudah punya pacar baru sehingga bersembunyi karena takut. Robert sangat murka. Ia mengamuk tidak terima perkataan Meli.
Lalu tiba tiba ia ada ide. Mulutnya tersenyum samar memikirkan rencananya. 'Tunggu aja Araysa. Kali ini kamu tidak akan berani menampakkan wajahmu dihadapannya lagi.'
"Kita ke rumah Tante ku saja. Biar lebih dekat. Beliau seorang dokter dan bisa mengobati ku."
"Ya udah." Jawab Araysa.
Meli menyuruh sopir menuju sebuah alamat. Dan sepuluh menit kemudian mereka sudah tiba. Namun ternyata keluarga Tante nya itu sedang berada di luar. Hanya ada seorang pelayan.
Meli menyuruh Araysa mampir untuk minum. Ia beralasan ingin di temani karena hanya sendirian.
Araysa menolak Meli. Tapi akting Meli yang sangat kesakitan membuat Araysa luluh. Ia menuntun Meli masuk. Dengan berbaik hati ia membantu meminumkan air hangat pada gadis itu.
Setelah meminum air, Meli pamit ke kamar mandi. "Tunggu ya Araysa, jangan pergi dulu. Aku masih butuh bantuan mu. Aku tidak akan lama. Hanya ingin buang air sebentar."
Araysa mengangguk malas.
Cepat cepat Meli pergi ke kamar mandi. Ia masuk dengan ponsel digenggamnya. Dihidupkannya keran air dengan kuat. Ia menghubungi seseorang. Menyuruhnya melakukan sesuatu dengan upah yang besar.
"Kali ini kamu akan mampus Araysa. Sekali kamu menampakkan diri dihadapan Robert, kamu akan dibun*hnya." Ucap Meli dengan wajah penuh kemenangan.
__ADS_1